
Akhirnya bisa crazy up lagi,author minta dukungannya ya like bila kalian suka jangan lupa tekan fav untuk mendapat kelanjutan ceritanya.
Happy reading...
Pagi menjelang,namun Meli belum juga bangun dari pingsannya. Gean merasa khawatir dengan keadaan istrinya ketika dia tidak sengaja menyenggol tangan istrinya. " Panas " Gean segera beranjak dari tempat tidurnya dan berusaha keluar kamar.
" Bibi... " panggil Gean dengan suara kerasnya.
" Iya den ada apa ? " Asisten keluarga itu langsung berlari ke arah kamar Tuan mudanya.
Sambil sedikit berkeringat bibi masuk ke dalam kamar Gean dan Meli. " Tuan muda memanggil saya ? " tanyanya.
" Bi Meli badannya demam,tolong kompres dia aku akan menungguinya di sini " ujar Gean dengan memegang tangan Meli sambil sesekali membelai pipi istrinya tersebut.
" Maafkan aku Mel " akhirnya tangisan Gean pecah,semalaman dia tidak tidur. Dia masih memikirkan kedua wanitanya itu.
Saat bibi masuk ke dalam kamar dan mulai mengompres dahi Meli,dengan tiba - tiba Gadis datang dengan suara tingginya.
__ADS_1
" Ge Gean Sayang,kamu di mana ? " suara itu menggema di rumah besar tersebut.
" Hai wanita luar,suaramu sungguh membuat telingaku sakit. Kau kira rumahku ini hutan dan kau bisa berteriak semaumu ?!! " suara kencang itu mengagetkan Gadis yang sedang berteriak mencari anaknya.
" Eh Om,selamat pagi Om. Maaf karna terlalu bersemangat aku ingin sekali bertemu dengan kekasihku,di mana dia Om ?? " sambil berjalan Gadis mencari - cari Gean di beberapa tempat.
" Kau tak punya sopan santun ya,datang ke rumah orang dengan berteriak - teriak dan sekarang seenaknya saja kau masuk ke rumah orang tanpa permisi !! " Ardi mulai geram melihat tingkah Gadis yang tidak menghiraukan ucapannya.
" Jangan marah dong Om,aku ke sini dengan baik - baik ingin bertemu dengan anak om " Gadis menghampiri Ardi. " Dia di mana om,aku mau bertemu dengannya " tanya Gadis sambil melihat seluruh isi ruangan rumah tersebut.
" Kau benar - benar wanita luar,bisa - bisanya Gean begitu tergila - gila denganmu !! " Ardi sungguh tak suka dengan tingkah laku Gadis yang begitu tidak menunjukkan kesopanannya.
" Pa,siapa yang datang ? " tanya Gean setelah keluar dari kamarnya.
" Gee.. " suara Gadis terpotong.
" Jangan ganggu Gean dia sedang menemani istrinya yang sedang sakit,sebaiknya lain waktu saja kau kemari lagi " ujar Ardi sambil meninggalkan Gean dan Gadis.
__ADS_1
Ardi begitu stress melihat kelakuan Gadis " Bi siapkan bubur untuk Meli,dia sedang sakit. Pastikan kau mengurusnya dengan baik dan jangan lupa untuk memberikan dia obat,oiya setelah Ia siuman tolong hubungi saya ya Bi karna dia akan ku ajak ke rumah Ubunya " ucap Ardi sambil meminum kopinya.
" Baik Tuan,oiya Tuan ingin sarapan sekarang ? " tanya Bibi.
" Tidak Bi,saya akan sarapan di luar saja. Saya tidak berselera bila ada wanita luar itu di rumah ini " jawab Ardi dan langsung beranjak dari duduknya. Dia pergi ke kantor menggantikan Meli yang sedang sakit.
Gean mengajak Gadis untuk duduk di sofa di dalam kamarnya,karna Gean sedang menunggui Istrinya karna sakit.
" Sakit apa wanita itu ? " tanya Gadis sambil mensedekapkan tangannya,sambil mencebikkan bibirnya.
" Dia demam,semalam dia terjatuh di kamar mandi dan pingsan sampai sekarang belum siuman " ucap Gean dengan suara lirih karna tidak mau Istrinya terganggu karna suaranya.
" Semoga saja dia terus seperti itu dan aku bisa menggantikannya dan selalu jadi satu - satunya Istri kamu " jawab Gadis bersungut - sungut sambil tertawa.
" Jaga bicaramu walaupun begitu dia itu Istriku,Istri pertamaku dan kau hanya calon. Ingat calon!! " Gean menekankan kata - katanya membuat Gadis terperanjat.
" Ge apa yang kau bicarakan,aku mau kita segera menikah. Tiga hari lagi karna aku sudah menyiapkan semuanya,dan kita akan menikah bareng dengan pernikahan Kakakku George " ucap Gadis sambil melemparkan baju pengantin untuk Gean.
__ADS_1
" Pakai baju itu di pernikahan kita,ku tunggu kau di rumah kediaman orang tua Kak Diana,dan ingat jangan mengecewakanku Ge " Gadis langsung pergi meninggalkan Gean yang terkejut dengan penuturan wanitanya.
Diam - diam Meli mendengarkan semuanya,dan begitu terpukulnya dia,belum juga sakitnya sembuh kini bertambah lagi kesakitannya.