Terpaksa Menikah Karena Hutang

Terpaksa Menikah Karena Hutang
Bab 28


__ADS_3

Siang ini Danny pulang ke rumahnya, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Dengan penampilan yang sedikit acak-acakkan, bahkan dia juga mengacuhkan dengan keberadaan Almeta yang sedang duduk di sofa yang berada tidak jauh dari depan kamarnya. Danny juga membanting pintu kamarnya sehingga membuat Almeta kaget, dia hanya bisa mengelus dadanya, Akmeta hanya bisa menghela nafas pelannya karena dia sebenarnya takut dengan kedatangan Danny dengan penampilan acak-acakkan bahkan dia juga terlihat sangat dingin.


“Haish! Kamu memang harus banyak bersabar Al,” ucapnya pelan dengan pandangannya yang masih tertuju pada pintu kamar Danny.


Setelah itu Almeta bergegas turun ke bawah, dia akan menyiapkan makan siang, siapa tahu nanti Danny akan makan jadi dia berinisiatif untuk memasak. Sebenarnya dia juga tidak perlu repot-repot masak atau nanti Danny akan kembali memarahinya karena tahu Almeta, mungkin nanti dirinya sedikit berbohong. Almeta mulai menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dia masak, dia akan memasak makanan kesukaan Danny.


Dengan di bantu oleh Alea masakan pun kini sudah tersaji di meja makan, Almeta tersenyum kecil dan tidak lupa juga Almeta bilang ke Alea untuk jangan pernah bilang ke Danny kalau dia yang memasak semua makanan yang sudah tersaji di meja makan. Saat mereka tertawa, tiba-tiba saja Danny datang dengan penampilan yang sudah berbeda, kali ini terlihat lebih fress dan Danny yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek semakin bertampah tampan.


Almeta segera mengambil makan untuk Danny, dan setelah itu dia mengambil untuk dirinya sendiri. Almeta dan Danny memakan makananya dengan diam, bahkan sesekali Almeta juga melirik ke arah Danny, dia sedikit takut jika Danny melihatnya namun Danny hanya fokus pada makanannya. Tidak biasanya Danny hanya diam seperti ini karena biasanya Danny akan banyak bicara dan akan selalu menindasnya.

__ADS_1


“Hm! Mungkin lusa kita akan pindah dari sini,” ucap Danny yang sudah selesai makan, bahkan dia juga langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja saat aku akan bertanya pindah kemana. Entahlah apa.yang terjadi dengan Danny namun memang hari ini Danny sangatlah beda, lagi dan lagi Almeta menghela nafasnya lalu setelah itu dia membereskan bekas makan siangnya.


Almeta berjalan ke ruang tamu, di sana juga ada Danny yang sedang sibuk dengan ipadnya. Almeta memainkan handphonenya tanpa sadar jika Danny sedang memperhatikannya, Danny hanya tersenyum kecil lalu dia kembali sibuk dengan ipadnya, dia sedang mengecek pekerjaannya karena beberapa hari ini dirinya hanya sibuk dengan Cheona dan akhirnya Cheona tetap ingin putus dari Danny.


“Al,” panggil Danny sambil menaruh ipadnya di meja.


Almeta yang merasa dirinya di panggil pun menoleh ke arah Danny, “Iya, apa kamu memanggilku?” Almeta merasa orang bodoh bertanya balik seperti itu. Jelas-jelas di ruangan inu hanya ada dia dan Danny saja.


“Apa sudah puas kamu menatapku Al,” ucap Danny yang beranjak dari duduknya dan kini beralih duduk di samping Almeta.

__ADS_1


“Hah! Apa?” tanya Almeta kikuk.


“Sudahlah lupakan saja, aku akan memperjelaskan yang tadi. Lusa kita akan pindah ke Paris dan aku harap kamu tidak akan keberatan,” ucap Danny.


“Kenapa kita harus pindah?” tanya Almeta yang sebenarnya merasa tidak percaya dan ragu dengan kepindahannya yang mendadak.


Danny menghela nafasnya dan menoleh ke arah Almeta, dia menatap sejenak Almeta, bahkan dia juga mengusap wajah Almeta dengan lembut. “Karena aku ada pekerjaan penting di sana, aku juga tidak mau menerima protes dari kamu Al,” ucap Danny.


Almeta hanya diam dan tidak menjawab apa pun karena memang percuma saja dia menolaknya. Dia hanya bisa menerima dan selalu menurut pada Danny namun dia hanya takut jika Danny marah dan nanti Danny akan membuangnya di sana lalu dia harus bagaimana dan minta tolong pada siapa karena selama ini dia juga tidak pernah pergi ke luar negeri, dia sedari kecil hanya di Melbourne saja.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan Al?” tanya Danny.


Almeta segera menggelengkan kepalanya, dia juga tersenyum pada Danny, “Tidak ada, baiklah aku akan ikut denganmu,” ucap Almeta, karena hanya itu jawaban yang di inginkan dari Danny. Setelah itu Danny juga mencium kening Almeta dengan lembut, bahkan Danny juga mengucapkan terima kasih dan ini baru pertama kalinya Danny mengucapkannya.


__ADS_2