Terpaksa Menikah Karena Hutang

Terpaksa Menikah Karena Hutang
Bab 32


__ADS_3

Tengah malam Danny baru saja kembali karena memang pekerjaan hari ini menguras tenaganya, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan dia juga melihat Almeta yang sudah tertidur. Danny berjalan mendekati ranjang, dia menatap wajah Almeta yang tertidur terlihat begitu damai bahkan wajahnya yang cantik kini tidak terlihat pucat, Danny tersenyum kecil lalu mendaratkan ciuman di kening Almeta.


“Hm, Danny,” ucap Almeta pelan, saat itu juga Danny sedikit menjauh dan menatap pada Almeta yang sudah membuka matanya.


“Maafkan aku telah mengusikmu,” ucap Danny.


Dengan segera Almeta menggelengkan kepalanya, dia juga berusaha bangun. Almeta tersenyum saat Danny sudah kembali, dia sangat takut sendirian di apartemen saat pelayannya pergi sesudah jam kerjanya selesai. “Aku senang kamu sudah kembali,” ucapnya dengan tatapannya yang masih tertuju pada Danny.


Danny berjalan mendekati Almeta dan duduk di tepi ranjang, dia meraih tangan Almeta dan mengusapnya dengan lembut, “Sekali lagi maafkan aku, mungki besok-besok aku akan usahakan pulang cepat.”


Almeta menganggukan kepalanya, “Apa kamu sudah makan malam?” tanya Almeta.

__ADS_1


“Ya, aku sudah makan malam tadi, bagaimana dengan dirimu apa kamu juga sudah makan malam dan meminum obatnya,” ucap Danny, lagi dan lagi Almeta menganggukkan kepalanya jika dia sudah makan dan minum obatnya.


Danny tersenyum senang lalu dia mengusap rambut Almeta pelan, Danny juga berpamitan pada Almeta jika dia akan membersihkan badannya lebih dulu. Almeta masih duduk di atas ranjang menatap punggung tegap milik suaminya itu yang kini sudah menghilang, dia tersenyum lalu beranjak dari ranjang, dia ingin pergi ke dapur membuat minuman yang hangat karena malam ini hawanya begitu dingin walau sudah menyalakan penghangat. Almeta membuat coklat panas, dia duduk di pantry yang ada di dapurnya, dia menikmati coklat panas buatannya dan sesekali dia juga membalas pesan dari mama mertuanya.


Tidak butuh waktu lama Danny membersihkan dirinya, dia keluar kamar untuk mencari keberadaan Almeta. Di sinilah Danny menemukan Almeta, dia berjalan mendekatinya, “Apa yng kamu lakukan di sini honey?” tanya Danny.


Almeta tersenyum, “Aku sedang meminum coklat panas, apa kamu mau aku buatkan?” tanya Almeta.


“Tidak usah, biar saja aku membuat sendiri,” ucap Danny, lalu dia mengambil cangkir untuk susu coklat panas. Setelah itu Danny ikut duduk di samping Almeta, dia menatap Almeta sejenak dan membawa tubuh Almeta ke dalam pelukannya.


“Ya, honey,” ucap Danny, melepaskan pelukannya dan menatap Almeta serius.

__ADS_1


“Apa yang terjadi dengan aku kemarin? Aku sakit apa Dann?” tanya Almeta.


Danny menghela nafasnya sejenak, dia kembali menatap pada Almeta. Rasanya dia belum siap memberi tahu Almeta saat ini namun secepatnya juga Almeta harus tahu dan dia juga tidak bisa menyembunyikannya dari Almeta, “Apa kamu siap mendengarkannya? Aku harap kamu juga tidak akan terlalu sedih berkelanjutan,” ucap Danny.


Almeta mengangguk dia tidak akan sedih terlalu dalam, emtahlah dia hanya ingin mendengarkan kebenarannya saat ini juga.


“Kamu hamil tapi janin yang ada di kandungan kamu terpaksa harus diambil karena janinnya tidak bertumbuh dengan baik bahkan juga bisa membahayakan nyawa kamu,” ucap Danny.


“A-apa a-aku h-hamil?” tanya Almeta terbata-bata, sedangkan Danny hanya mengangguk dan membawa Almeta ke dalam pelukannya dan saat itu juga Almeta menangis.


“Sttts, janga menangis mungkin tuhan memiliki cara sendiri kenapa tuhan mengambil anak kita. Lagi pula kamu juga masih bisa mengandung lagi jadi kamu jangan terlalu sedih. Aku tahu jika ini sangat berat untuk kamu tapi aku juga honey, tapi bagaimana juga kita hanya bisa menerimanya dan kita juga tidak boleh berlama-lama sedih,” ucap Danny menenangkan Almeta, dia mengusap punggung Almeta lembut.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ucap Almeta sambil sesengukan.


“Kamu tidak salah honey sudah takdir dari tuhan, sudah kamu jangan menangis, bagaimana nanti kamu kembali sakit jika kamu terlalu memikirkannya,” ucap Danny, bahkan Danny berusaha lebih tenang agar Almeta tidak menangis lagi dan Danny juga mengajak Almeta untuk kembali istirahat karena sudah dini hari mereka juga belum tertidur.


__ADS_2