Terpaksa Menikah Karena Hutang

Terpaksa Menikah Karena Hutang
Bab 33


__ADS_3

Sore harinya Almeta duduk di balkon, dia sedang melamun. Dia masih merasa bersalah karena dia tidak bisa menjaga anak yang ada di kandungannya, dia masih merasa terpukul dengan apa yang telah terjadi. Mungkin jika dia tahu lebih awal maka dia tidak akan pernah bisa kehilangan anaknya dan bisa jadi Danny nanti akan berubah lebih baik seperti beberapa hari ini. Almeta menghela nafas panjangnya, dia menatap langit sore yang berwarna orange dan terlihat sangat cantik.


“Mungkinkah ini coba yang harus aku terima dan mungkinkah aku harus bersabar lebih lama lagi,” ucapnya pelan. Jika memang kebaikan Danny selama beberapa hari ini hanya kepalsuan maka dirinya merasa bodoh dan sudah terlena dengan apa yang sudah dilakukan Danny, akan tetapi dia tidak pernah menyesali semuanya, dia sangat senang.


“Nona,” panggil seorang pelayan.


Almeta pun membalikkan tubuhnya, dia tersenyum pada pelayan itu, “Ya, ada apa Lea. Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Almeta.


“I-itu nona, bahan-bahan masak di kulkas sudah habis dan saya akan pergi belanja ke supermarket bawah,” ucap Lea.

__ADS_1


Lagi-lagi Almeta hanya mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah, kalau begitu aku akan ikut denganmu, aku juga akan membeli sesuatu.”


“A-apa nanti tuan tidak akan marah jika nona ikut belanja saya ke bawah, biarkan saya saja nona yang membelikannya untuk nona,” ucap Lea, dia hanya takut jika nanti tuannya marah besar dan dia juga bisa kena imbasnya.


Almeta menggelengkan kepalanya, “Kamu tidak perlu takut Lea, karena aku yang akan bicara dengan tuan nanti dan dia juga akan mengerti diriku lagi pula aku juga sangat bosan di dalam apartemen terus, aku juga ingin melihat luar dan kelihatannya sangat menyenangkan,” ucap Almeta tersenyum.


“Tapi, apa nona sudah baikkan?” tanya Lea kembali.


Di supermarket Almeta memilih sayuran segar untuk memenuhi isi kulkasnya, dia juga membeli daging dan yang lainnya. Almeta juga tidak lupa membeli peralatan dapur yang menurutnya lucu, walau sebenarnya di apartemennya sudah ada. Almeta juga tidak lupa membeli keperluannya berserta keperluan Danny selama satu bulan, hari ini Almeta belanja sangat banyak. Lagi pula dia juga mendapatkan black card dari Danny jadi dia tidak perlu takut tidak bisa membayarnya.

__ADS_1


Mungkin sudah ada satu jam mereka belanja, kini Almeta berbaris di kasir untuk membayar barang belanjaannya dan dia juga akan meminta izin pekerja toko untuk meminjam dua trolynya di bawa ke apartemennya, dia juga akan mengembalikannya nanti. Almeta memberikan kartu balck card pada kasir, dia juga memasukkan pin dengan baik setelah itu mengajak Lea untuk membawa barang belanjaannya.


Mereka berdua keluar dari lift, dan saat itu juga berpapasan dengan Danny. Ya, dia baru pulang dari kantornya, dan kini dia melihat Almeta membawa barang belanjaan yang begitu banyak. Dia mengepalkan kedua tangannya karena apa yang dilakukan Almeta? Kenapa dia membawa barang sebanyak itu dan bisa saja itu menganggu pemulihannya.


“Apa yang kamu lakukan Almeta,” ucap Danny dingin.


“A-aku membantu Lea belanja ke supermarket bawah,” ucap Almeta.


Danny segera menarik tangan Almeta menjauh dari barang belanjaannya, bahkan dia juga menatap Lea tajam sehingga membuat pelayannya itu takut dan menundukkan kepalanya. “Lain kali kamu tidak perlu lakukan ini lagi dan ini pekerjaan Lea,” ucap Danny, setelahnya Danny menarik tangan Almeta masuk ke dalam apartemennya.

__ADS_1


Danny menjatuhkan tubuh Almeta ke atas ranjang, dia bahkan juga menatap tajam Almeta. Moodnya hari ini sudah jelek namun sampai di apartemennya moodnya bertambah buruk karena Almeta. “Bisa tidak kamu tidam melakukan hal apa pun Almeta dan kamu hanya cukup diam karena aku membayar Lea untuk melakukannya, apa kamu paham!” teriak Danny.


Sedang Almeta hanya mengangguk, dia menundukkan wajahnya. Dia sangat takut karena Danny kembali pada awalnya, dia kembali marah-marah padanya dan nantinya berakhir dengan Danny yang menyiksanya, Almeta sangat takut jika itu kembali terjadi saat ini.


__ADS_2