
Danny saat ini sudah kembali ke apartemen, saat ini dia bersama dengan Almeta duduk di sofa. Almeta yang sedari tadi menempel pada Danny semenjak lelaki itu datang dan hanya berpisah saat Danny membersihkan dirinya. Almeta memang sangat merindukan suaminya karena Danny memang sudah sangat lama meninggalkannya sendirian.
“Sebaiknya kita makan malam lebih dulu, apa kamu mau kita makan malam di luar?” tanya Danny.
“Benarkah? Apa kamu tidak lelah? Aku bisa memasak makan malam untuk kita,” tawar Almeta yang kini menatap wajah tampan suaminya yang tidak pernah pudar sekaligus.
Danny menggelengkan kepalanya, dia juga tersenyum pada Almeta, “Aku sama sekali tidak lelah, aku ingin makan malam bersamamu di luar,” Danny pun langsung beranjak dari tempat duduknya dengan menarik tangan Almeta.
Walau saat ini Danny banyak pikiran yang membebaninya namun dia sebisa mungkin agar tidak terlihat oleh Almeta, Danny mencoba menghilang pikiran itu sejenak. Dia hanya ingin malam ini makan malam dengan tenang bersama dengan Almeta, beberapa waktu meninggalkan Almeta, dia jadi menjadi merindukan wanita yang saat ini menjadi istrinya namun dia tidak ingin mengungkapkannya karena terlalu gengsi, dan bisa saja nantinya Almeta jadi besar kepala.
__ADS_1
Mereka makan malam di restoran Jepang karena memang baik Almeta dan Danny ingin makan sushi dan teman-temannya. Bahkan saat tadi mereka masuk ke dalam restoran banyak pasang mata menatap mereka, mungkin sebagian wanita iri dengan Almeta bisa ada di samping seorang Danny Addison seorang pengusaha muda dan banyak orang mengenalnya karena memang Danny sering muncul di media dan surat kabar.
“Terima kasih,” ucap Almeta tersenyum.
“Hm, sudahlah. Ayo kita makan lebih dulu,” ucap Danny.
Danny juga menyuapi sushi pada Almeta, bahkan Danny juga memesan ruangan vip agar tidak banyak melihatnya atau menganggu makan malam mereka walau terbilang mendadak hanya dengan mengeluarkan sedikit uang maka semuanya akan beres tanpa harus membuang waktu dan tenaga.
“M-maksud k-kamu apa Dann?” tanya Almeta kembali karena memang dia tidak mengerti maksud perkataan suaminya.
__ADS_1
“Apa kamu ingat saat kita menikah, bahkan aku pernah bilang ke kamu. Apa saat ini kamu merasakannya? Apa kamu juga berharap lebih kepadaku?” Lagi-lagi Danny mengatakannya, bahkan saat ini tatapan mereka bertemu.
“Apa kamu akan meninggalkanku,” ucap Almeta pelan, di dalam lubuk hatinya juga gelisah dan campur aduk, perasaannya sulit untuk di jelaskan saat ini.
Danny bangun dari tidurnya, dia berjalan mendekati Almeta. Danny menghembuskan napas panjangnya, “Al, jangan menaruh perasaan padaku, aku bukanlah lelaki baik. Kamu juga ingatkan pernikahan kita terjadi karena apa?” Danny menoleh pada Almeta, matanya terlihat sendu dan mungkin air matanya sebentar lagi akan keluar.
“A-apa a-aku salah Dann jika aku mengharapkan kamu lebih. Kita bahkan sudah menikah dan aku juga berhak memiliki perasaan itu padamu bukan, aku tahu Dann jika aku bukanlah wanita sempurna yang kamu inginkan. Memang pernikahan ini terjadi karena apa, aku sangat ingat Dann,” ucap Almeta dengan menundukkan kepalanya, bahkan kedua jarinya yang meremas bajunya dengan kuat. Sakit? Ya, jelas sakit karena dengan tiba-tiba Danny berkata seperti itu, seakan Danny akan pergi meninggalkannya atau bahkan memang Danny akan menceraikannya.
“Maafkan aku, Almeta. Seharusnya aku tidak pernah membahas ini,” ucap Danny, lalu setelahnya Danny melangkahkan kakinya meninggalkan Almeta di kamar sendirian. Almeta yang saat ini sudah mengeluarkan air matanya dengan deras karena memang sudah tidak bisa ditahan lagi.
__ADS_1
Di sisi lain Danny duduk di ruang tamu sambil menghidupkan tv, namun dia tidak fokus melihat tv, dia sedang bergelut dengan pikirannya. Dia masih belum siap untuk memberi tahukan semua pada Almeta, dia bahkan tidak rela melihat Almeta menangis. Entah kenapa sekarang dia menjadi lemah bukan Danny seperti dulu yang berani melakukan kekerasan pada Almeta, bahkan untuk saat ini Danny tidak sanggup untuk melukai Almeta walau hanya sedikit goresan.