Terpaksa Menikah Karena Hutang

Terpaksa Menikah Karena Hutang
Bab 48


__ADS_3

Almeta menjalani hari-harinya sendirian dan hanya ditemani oleh Lea jika wanita itu tidak izin pulang ke rumah. Bahkan sudah dua bulan Danny tidak kembali ke apartemen, Danny berkata jika dia sibuk dan harus menyelesaikan masalahnya di kantor. Almeta yang terkadang ingin pergi ke kantor pun selalu mencegahnya, lagi dan lagi Almeta hanya menurutinya.


Sampai suatu hari Almeta datang ke kantor Danny tanpa memberi tahunya, saat dia turun dari taksi yang dia tumpangi Almeta melihat Danny bersama dengan seorang wanita dan bahkan mereka terlihat sangat romantis. Senyum di bibir Danny juga terlihat bahagia, Almeta yang melihat dari kejauhan pun hanya bisa tersenyum kecut. Almeta melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat akan tetapi kini dia melihatnya di depan matanya, suaminya berjalan dengan wanita lain dibelakangnya.


“Kamu bodoh Almeta,” Almeta memukul dadanya berkali-kali hanya untuk mengurangi rasa sakit yang menhimpit dadanya. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya namun semuanya terjadi secara nyata dan bukanlah sekedar halusinasinya.


Almeta sudah mengeluarkan air matanya, lalu dia mengusapnya dengan kasar. Dia harus kuat dan tidak boleh lemah, Almeta harus menganggap jika apa yang dia lihat barusan tidak pernah lihat. Almeta mengeluarkan hp miliknya dari dalam tas, dia mencari nomor hp Danny dan menekan tombol panggil.


“Hallo Danny, apa kamu di kantor? Aku sudah berada di lobby, aku mengantarkan makan siang untukmu,” ucap Almeta.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak memberiku kabar lebih dulu Almeta!” Danny berteriak di seberang telepon.


Almeta sedikit menjauhkan hp miliknya dari telinganya karena kupingnya sakit mendengar suara teriakan Danny. “Karena kamu selalu mencegahku Danny padahal aku hanya ingin bertemu denganmu dan kita bisa makan siang bersama.”


“Sudahlah, kamu tinggalkan saja pada resepsionis bekal makannya dan kamu kembali pulang karena aku tidak bisa menemui atau bahkan untuk makan siang bersama denganmu. Kamu tahu aku sibuk, jadi kamu tidak perlu repot-repot menungguku,” ucap Danny.


“Baiklah, aku harap kamu makan bekalnya,” ucap Almeta, lalu setelahnya dia memutuskan panggilan teleponnya tanpa menunggu Danny bicara lagi. Almeta memasukkan kembali hp miliknya ke dalam tas, lalu setelah itu menyerahkan bekal makanannya ke resepsionis agar nanti memberikannya pada Danny.


Duduk di tepi jalan sendirian tanpa ada satu orang pun itulah yang dilakukan oleh Almeta, dia memeluk kakinya sambil membenamkan wajahnya. Entah sudah berapa lama dia berdiam diri di sana, Almeta hanya ingin ketenangan seperti saat ini tanpa ada yang menganggunya.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Danny berjalan mendekati Almeta yang sama sekali tidak bergerak sedikit pun.


“Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang kenapa kamu ada di sini Almeta!” sentaknya, Danny juga menarik tangan Almeta dengan kasar agar Almeta berdiri, Danny menyeret Almeta untuk masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Almeta meringis kesakitan karena perbuatan Danny, dia mengusap pergelangan tangannya yang bahkan memerah.


“Kenapa kamu begitu menyusahkan dan juga mempersulitku Almeta, tidak bisakah kamu menuruti perkataanku. Aku menyukai wanita penurut Almeta bukan pembangkang,” ucap Danny yang bahkan tatapan fokus ke depan dan tidak menoleh sedikit pun ke Almeta.


“Maafkan aku, lain kali aku tidak akan mengulanginya,” ucap Almeta menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Bagus karena memang itu yang aku inginkan Almeta, jika sekali lagi kamu melakukannya maka kamu akan mendapatkan hukumannya yang setimpal,” ucap Danny, dan kini Danny juga melajukan mobilnya semakin kencang hingga membuat Almeta ketakutab namun Danny juga tidak peduli padanya karena Almeta sudah membuatnya marah, selama ini dia salah berbaik hati pada Almeta jika akhirnya hanya akan jadi wanita pembangkang.


__ADS_2