
Hari ini dimana Almeta dan Danny berangkat ke Paris, mereka diantarkan oleh orang tuanya. Sebenarnya Almerta sangatlah berat meninggalkan Melbourne dan harus berpisah jauh dari orang tuanya. Almeta memeluk orang tuanya secara bergantian.
“Danny, kamu harus jaga Almeta dengan baik dan jangan sampai kenapa-napa Almeta,” ucap Agnes, dia tidak mau jika nanti sampai terjadi apa-apa dengan menantunya yang baik ini.
“Tentu saja Ma, Danny akan menjaga Almeta dengan baik karena dia adalah istri Danny,” ucap Danny, sungguh dia sangat kesal saat mamanya bicara seperti itu sebenarnya anaknya itu aku atau Almeta?
Agnes melepaskan pelukannya pada Almeta lalu menatap menantunya sejenak, “Sayang, kamu baik-baik saja di sana, nanti kalau Danny bersikap kasar atau hal yang lainnya kamu segera hubungi kami,” ucap Agnes, bagaimana juga dia sangat khawatir dengan Almeta karena dia tidak lupa saat beberapa hari yang lalu mendengarkan pembicaraan pelayan jika Danny sering menyiksa Almeta. Agnes sendiri sedikit kurang percaya karena dia tidak tahu dengan mata kepalanya sendiri jika Danny berbuat seperti itu.
__ADS_1
“Tentu saja Ma, jika nanti terjadi apa-apa maka kami akan segera hubungi kalian,” ucap Almeta tersenyum, dia tidak boleh sedih atau nanti dia akan kena siksaan dari Danny lagi.
Setelah selesai berbincang Danny mengajak Almeta untuk segera masuk ke dalam jet pribadinya. Danny menggandeng tangan Almeta dengan sangat romantis hingga membuat kedua orang tua mereka terbuai dimana rumah tangga mereka seakan baik-baik saja, bahkan Agnes juga menghilangkan prasangka buruknya pada putra semata wayangnya itu jika berlaku kasar pada Almeta.
Di dalam jet mereka hanya saling berdiam tanpa ada pembicaraan, dan Almeta lebih memilih memejamkan matanya dan berharap jika dia bisa tidur namun sayangnya baru satu jam tertidur kini dirinya harus terbangun dan dia juga berlari ke dalam toilet, Almeta memuntahkan isi perutnya, entah kenapa dia sangat mual. Almeta hanya muntah air saja, dia juga sangat lama di dalam toilet hingga membuat Danny sedikit khawatir.
“Al, are you ok?” tanya Danny sambil mengetuk pintu toilet.
__ADS_1
Danny yang menatap Almeta yang terlihat pucat hingga membuatnya semakin khawtir, “Benarkah? Apa sebelumnya kamu sakit? Wajah kamu sangat terlihat pucat sayang,” ucap Danny, sambil membantu Almeta ke dalam tempat tidur yang ada di dalam jet pribadinya. Danny juga menyuruh Almeta untuk berbaring, bahkan Danny juga mengusap cajuput ke perut Almeta agar memgurangi rasa mualnya, bahkan Danny juga menyuruh pramugari untuk mengambilkan segelas air.
“Apa rasa mualnya masih terasa?” tanya Danny.
“Sedikit tapi ini agak lebih baik,” ucap Almeta.
Danny mengangguk, lalu setelah itu Danny juga menyuruh Almeta untuk meminum air hangat. Danny membantu Almeta dengan hati-hati, dia juga menyuruh Almeta untuk istirahat agar nanti lebih baikkan lagi. Mungkin jika mereka sudah mendarat Danny akan membawa Almeta ke rumah sakit lebih dulu, agar dia juga tahu kenapa Almeta tiba-tiba mual, sungguh baru kali ini dirinya merasa sangat khawatir pada Almeta. Pada dasarnya dirinya akan menyiksa Almeta hingga membuat wanita yang ada di depannya ini menagis terisak, dirinya juga tidak segan-segan untuk membuat tubuh Almeta luka-luka, dia tadi juga melihat luka yang masih terlihat saat mengoleskan cajuput ke perut Almeta.
__ADS_1
“Istirahatlah dengan nyaman, aku akan menunggumu,” ucap Danny pelan, bahkan Danny juga mencium kening Almeta. Danny menatap wajah cantik Almeta yang sudah menutup matanya sedari tadi, bahkan wajahnya juga terlihat jelas sangat pucat, Danny memberanikan diri untuk mengusap wajah Almeta yang lembut seperti kulit bayi, bahkan Danny juga tersenyum kecil.
“Maaf jika selama ini aku melukaimu,” ucapnya kembali, Danny menghela nafas panjangnya dia duduk bersandar dengan masih menatap wajah Almeta ada sedikit rasa bersalah dan kasihan namun kebenciannya pada Almeta masih sangat besar entah kenapa ego dalam diri Danny begitu tinggi dan tidak pernah memikirkan sama sekali perasaan Almeta.