
Sambil menunggu dirinya dan wanita yang bernama mbak Bun diijinkan masuk ke dalam ruang rawat inap VVIP, Aurora menoleh ke mbak Bun dan bertanya, "Di mana suaminya Kak Meda?"
"Tuan muda ada masalah di kantor cabangnya yang berada di luar kota"
"Apakah Kakakku bahagia hidup di rumah keluarga Zayyan? Aku mohon kamu jujur padaku. Maaf, aku nggak seperti Kak Meda yang anggun, lembut, feminin, dan sopan. Aku, ya, seperti ini. Tapi, aku orang baik dan aku nggak akan jahatin kamu, Mbak Bun, hehehehehe" Aurora tersenyum lebar ke mbak Bun.
Mbak Bun terkekeh geli kemudian berkata, "Saya tahu, Nona. Mbak Meda sering cerita soal Anda"
"Wah! Jangan panggil Nona! Panggil saja namaku. Rora. Aku lebih muda dari Mbak Bun, kan?"
"Mana berani saya........"
"Kalau gitu panggil Dek aja, hehehehehe" Aurora kembali mengulas senyum lebar di wajah cantiknya.
"Baiklah. Saya akan memanggil Anda, Dek Rora"
"Sekarang ceritakan semuanya ke aku. Semuanya. Aku mencium ada kejanggalan di insiden ini. Aku mencium ada kejanggalan saat dokter tadi berkata kalau di dalam tubuh Kak Meda ada kandungan jamu yang asing dan menyebabkan ari-ari Kak Meda lengket.
Mbak Meda melarang saya cerita sama Tuan muda. Tapi, tidak melarang saya cerita ke adiknya, kan? Batin mbak Bun.
"Mbak? Kok, malah bengong?"
Suara Aurora menarik mbak Bun dari lamunan sesaatnya. Kemudian Mbak Bun berkata, "Baiklah. Saya akan ceritakan semuanya. Dari awal Mbak Meda masuk ke kediaman megahnya keluarga Zayyan"
Dua jam lebih Aurora mendengarkan ceritanya mbak Bun yang apa adanya dan tidak ditambah-tambahi. Gadis cantik itu langsung mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas pangkuannya sambil menggeram penuh amarah, "Kurang ajar! Berani benar mereka lakukan itu semua ke Kakakku yang cantik dan baik hati. Lalu, apakah Paman dan Bibiku diam saja? Dan kenapa saat ini Paman dan Bibiku tidak ada di sini?"
"Ah! Iya, benar. Anda belum mendengar mengenai insiden yang terjadi pada Paman dan Bibi Anda yang ada di sini. Itu karena Mbak Meda menyuruh Tuan muda untuk menyembunyikan insiden itu sampai Anda pulang ke sini"
Grab! Aurora langsung menggenggam tangan mbak Bun dan dengan wajah panik ia bertanya, "Ada apa, Mbak? Apa yang terjadi sama Paman dan Bibiku? Sial! Aku langsung ke sini tadi dan belum sempat ke rumah Paman"
"Paman Anda dituduh korupsi lalu dipenjara"
"Hah?! Kenapa itu bisa terjadi? Pamanku orang baik, Mbak. Dia jujur dan ......."
"Itulah yang membuat Bibi Anda tidak terima. Bibi Anda langsung terkena serangan jantung dan tidak lama kemudian meninggal dunia di hari itu juga"
Aurora langsung melepaskan tangan mbak Bun dan dia terhenyak lemas di bangku yang ada di ruang tunggu.
"Lalu, Paman Anda ditemukan bunuh diri di dalam penjara"
Aurora sontak menoleh tajam ke mbak Bun dan berkata, "Sial! Pamanku nggak mungkin bunuh diri. Pasti dia dibunuh. Lalu, kenapa Kak Meda bisa dilarikan ke rumah sakit dan melahirkan prematur seperti ini?"
"Ka......karena Mbak Meda didorong oleh Nyonya besar tadi" Sahut Mbak Bun.
__ADS_1
"Kurang ajar benar wanita itu! Sial!!!!!!Kenapa aku datang terlambat? Dasar brengsek!!!!!! Demi gelar kedokteran aku datang sangat terlambat, arrrghhhhhhh!!!!!!!! Paman dan Bibi sudah meninggal dunia dan Kak Meda menderita selama ini sampai ada akhirnya harus masuk ke rumah sakit dalam kondisi parah seperti ini. Brengsek!!!!!" Aurora langung meninju tembok yang ada di sebelahnya beberapa kali.
Mbak Bun langsung menghentikan Aurora sambil berkata, "Jangan sakiti diri Anda sendiri, Dek Rora. Kakak dan keponakan Anda membutuhkan Anda. Lagipula semua yang sudah terjadi bukan kesalahan Anda"
"Aku akan menyelidiki kematian Paman dan Bibiku. Aku juga akan menemui mertua dan adik iparnya Kak Meda untuk bikin perhitungan" Aurora kembali mengepalkan kedua tinjunya.
Seorang perawat yang masih muda dan lumayan cantik, keluar dari ruang rawat inap VVIP dan langsung berkata, "Anda berdua bisa masuk ke dalam. Pasien sudah sadar"
"Terima kasih, Sus" Sahut mbak Bun dan Aurora secara bersamaan.
Sementara itu di kediaman Zayyan terjadi keributan di antara Mawar dan Bintang.
"Ma! Gimana? Menantu Mama masuk rumah sakit gara-gara Mama. Bukankah Mama yang kasih saran ke Bintang kalau jangan main fisik" Ucap Bintang dengan wajah panik.
"Diam! Tidak ada yang tahu aku mendorong Meda selain Silvia dan Silvia tentu saja akan melindungi aku. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya aku mengarang cerita ke Galaksi agar Galaksi percaya sama aku"
"Salah Mama sendiri, sih. Kenapa Mama nggak bisa menahan emosi dan main fisik. Kak Galaksi nggak akan percaya apapun yang Mama katakan. Lihat saja nanti" Bintang Kemabli memekik panik lalu menggigiti kuku jarinya karena panik.
"Diam kamu! Bukannya membantu kasih solusi malah menambah beban pikiran Mama"
"Itu karena aku panik dan takut, Ma. Mama tahu sendiri bagaimana kalau Kak Galaksi marah" Sahut Bintang.
"Diam!!!!!!!!" Pekik Mawar kesal dan Bintang langsung diam mematung di depan mamanya.
Andromeda tersenyum lebar melihat adik perempuan yang sangat ia rindukan. Wanita cantik itu merentangkan kedua tangannya dengan derai air mata.
Mbak Bun ikutan menangis karena terharu.
Setelah puas melepaskan kerinduan, Aurora berkata, "Kak, aku sudah tahu semuanya. Aku tahu bagaimana Kakak hidup di keluarga Zayyan pas Suami Kakak tidak ada di rumah"
Andromeda refleks memandang mbak Bun dan mbak Bun langsung berkata, "Maafkan saya, Mbak"
"Aku yang minta Mbak Bun cerita semuanya. Karena, aku menemukan banyak kejanggalan di insiden ini" Lalu, Aurora kembali memeluk kakak perempuannya dan berkata di sela isak tangisnya, "Kenapa Kakak nggak bilang kalau Paman dan Bibi sudah meninggal dunia?"
"Maafkan Kakak. Kakak cuma nggak ingin mengganggu ujian kamu" Andromeda kembali menangis dan memeluk erat tubuh ramping adik perempuan yang sangat ia cintai.
Aurora kemudian melepaskan pelukannya dan di saat itu, Andromeda berkata, "Suster baik hati tadi memberitahukan ke Kakak kalau Kakak melahirkan seorang Putra yang sangat tampan dan sehat. Cuma karena terlahir prematur harus ditempatkan di tabung untuk sementara waktu. Untuk itulah Kakak mohon jangan bawa Putra Kakak ke rumah keluarga Zayyan! Rawatlah Putra Kakak! Jaga dan lindungi Putra Kakak, Dek! Kakak sudah menulis wasiat Kakak dan Kakak menaruh wasiat Kakak di laci meja itu. Kakak minta secarik kertas ke suster yang baru keluar tadi"
"Apa maksud Kakak? Kakak nggak papa saat ini. kakak akan pulih dan merawat sendiri Putra Kakak"
"Tolong belikan meterai dan ........."
"Aku punya meterai. Aku beli di jalan untuk penandatanganan kontrak kerja sama dengan temanku besok. Besok aku bisa beli lagi meterainya. Tapi, untuk apa, Kak?" Aurora mengeluarkan meterai dari dalam tas selempangnya.
__ADS_1
"Tolong ambil wasiat Kakak di dalam laci dan tempelkan meterai itu di sana lalu bawa ke sini biar Kakak tanda tangani"
Aurora menuruti permintaan kakaknya.
Setelah menandatangani wasiatnya, Andromeda menyerahkan surat wasiat itu ke Aurora dan berkata, "Rawatlah Putra Kakak, Awan Zayyan dengan baik dan jangan biarkan siapa pun merebutnya dari kamu termasuk suami Kakak! Jangan biarkan keluarga Zayyan membawa Putra Kakak ke rumah itu, la.......la....lalu ........." Andromeda tiba-tiba kesulitan untuk bernapas.
Aurora sontak memencet bel tanpa jeda sambil berteriak panik, "Kak! Bertahanlah! Kakak harus kuat!" Tidak begitu lama seorang dokter dan seorang perawat berlarian masuk ke kamar sambil berkata, "Kalian berdua keluar dulu!"
"Selamatkan Kakak saya, Dok! Selamatkan dia!" Teriak Aurora panik dan mbak Bun terus menarik Aurora keluar dari dalam kamar rawat inapnya Andromeda dengan derai air mata.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dan dengan wajah menunduk dia berkata, "Maaf, kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Tuhan berkehendak lain. Kakak Anda sudah menghadap Sang Khalik"
Aurora langung mencekal Keuda kerah jas dokter perempuan itu dan dengan derai air mata ia mengguncang tubuh dokter perempuan itu sambil berkata, "Hidupkan Kakak saya, Dok! Tolong, hidupkan kembali Kakak saya! Saya akan lakukan apapun asal Kakak saya bisa hidup lagi, Dok. Saya mohon!"
"Maafkan saya" Dokter tersebut menyahut dengan nada sedih dan prihatin.
Aurora lalu melepaskan kerah jas dokter perempuan itu kemudian gadai cantik itu jatuh bersimpuh di depan dokter perempuan itu dan langsung berteriak sambil menjambak rambut indahnya, "Tidaakkkkkkk!!!!!!!!! Kenapa Tuhan tidak ambil aku yang bandel ini?! Kenapa Tuhan justru mengambil Kak Meda?! Kenapa?! Hiks,hiks, hiks, hiks" Aurora kemudian membungkukkan badan dan menangis sejadi-jadinya di sana.
Satu jam kemudian, sambil menunggu jenazah kakaknya dibawa ambulans menuju ke rumah peristirahatan terakhir, Aurora menelepon suami kakaknya.
"Halo, Meda? Aku akan pulang lusa. Kamu jaga baik-baik kandungan kamu, ya dan .........."
"Kak Meda sudah meninggal dan itu karena kamu nggak becus jadi Suami"
"Apa?! Pas aku tinggalkan tadi, Meda baik-baik saja? Apakah kamu Aurora?"
"Kak Meda sudah meninggal dan cepat pulang! Aku akan bikin perhitungan denganmu" Aurora menggeram penuh amarah dan klik! Dia langsung mematikan teleponnya.
Telepon genggamnya Galaksi langsung meluncur turun begitu saja dari genggaman tangannya dan hancur berkeping-keping sama seperti hatinya yang hancur berkeping-keping mendengar kabar bahwa istri tercintanya sudah meninggal dunia. Pria tampan itu langsung jatuh bersimpuh di atas rumput lalu membungkukkan badan dan menangis sejadi-jadinya di sana.
Tiga hari kemudian, Kakaknya yang masih disemayamkan di rumah peristirahatan terakhir karena sebelum dikremasi masih harus menunggu kedatangannya Galaksi Zayyan, membuat Aurora nekat pergi ke hotel tempat diselenggarakannya pesta ulang tahun mamanya Galaksi Zayyan.
Aurora meradang penuh amarah karena Mawar Zayyan dan bintang Zayyan tidak pernah datang ke rumah sakit dan tidak pernah datang ke rumah peristirahatan terakhir kakaknya dengan alasan masih sibuk. Namun, Mawar Zayyan bisa mengadakan pesta ulang tahun di hotel berbintang lima.
Meskipun dirinya wanita tangguh tetaplah Aurora merasa gugup.
"Kenapa kau gugup dan bersikap konyol seperti ini? Kau hanya akan bertemu dengan dua wanita Iblis. Kenapa harus gugup, sial?!"" Kata gadis cantik itu pada dirinya sendiri. Namun, tetap saja bisikan lirih untuk dirinya sendiri itu tidak membantu membuat rasa gugup itu hilang.
Aurora menghela napas dalam-dalam, ia menyusuri pinggir jalan menuju ke hotel berbintang lima tempat di mana pesta ulang tahun mertua kakak perempuannya diselenggarakan. Gadis cantik itu berjalan dengan sesekali menengadahkan wajahnya ke langit untuk mengusir air mata yang terus mendesak ingin berderai sebebas-bebasnya.
Musik pop jaman doeloe membahana dari aula besar yang ada di ujung selasar lantai satu hotel berbintang lima itu. Gadis cantik adik kandungnya Andromeda kemudian masuk ke dalam melalui pintu yang terbuka lebar dengan tujuan agar para tamu undangan tidak berdesakan saat masuk ke dalam aula besar itu.
Perkusi bas dari musik yang terdengar menimbulkan entakan lembut dan hangat di dada mengiringi kibasan rambut indah yang tergerai rapi dan bergoyang pelan.
__ADS_1
Cahaya lampu yang terang menyambut kecantikan alami di wajah Aurora. Suasana orang tertawa dan bercakap-cakap menusuk telinganya.
Semua indranya menikmati getaran pesta di aula besar itu, tetapi ia cuma bisa berdiri bingung tepat di depan pintu sambil mengedarkan pandangan mencari sosok dua wanita kejam dengan sudah berani menindas kakaknya selama ini hingga pada akhirnya kakaknya berkahir di rumah sakit dan meninggal dunia.