
"Saya mau memberikan laporan, Nyonya" Ucap pelayan di kediamannya keluarga Zayyan yang Maria suruh untuk memata-matai Galaksi dan Aurora.
"Apa? Apa yang mau kau laporkan? Mereka nggak saling mencintai, kan? Mereka hanya berpura-pura saling mencintai, kan?" Mawar bertanya dengan penuh antusias.
"Maafkan saya, Nyonya besar. Tapi, dari pengamatan saya, Tuan muda dan Nona Aurora benar-benar sedang dimabuk asmara. Saya tadi melihat mereka berciuman dengan sangat mesra dan saling memeluk dengan alami dan tidak dibuat-buat"
"Aaaaaa!!!!!! Sial!!!!!!! Kenapa begitu?!" Mawar berteriak kesal sambil mengacak-acak rambutnya yang baru saja ia keriting di salon. Kemudian wanita paruh baya itu kembali berkata, "Tapi, terus awasi mereka sampai aku bilang stop!"
"Baik, Nyonya besar"
"Sekarang pergilah!"
"Baik, Nyonya besar"
"Kenapa kau berdiri di depan pintu kamar ini dan tidak masuk ke dalam?" Tanya Rio setelah Galaksi melepaskan pelukannya.
"Ini kamar Istriku dan kamarku di sana" Sahut Galaksi.
Rio sontak menepuk bahu Galaksi sambil berkata, "Wah! Kamu ini sulit untuk jatuh cinta, tapi nggak nyangka belum ada seminggu Kakak ipar meninggal dunia, kamu sudah menikah lagi"
"Bukan begitu!" Galaksi mendelik kesal ke Rio.
"Bukan begitu bagaiman? Kenyataannya ini apa? Kamu sudah menikah lagi, kan?" Rio tersenyum geli.
"Ayo ke kamarku. Aku akan ceritakan semuanya" Galaksi menarik Rio masuk ke dalam kamarnya.
Satu jam kemudian, Rio berkata, "Wah! Hebat juga hidup kamu, ya! Nikah dua kali dan kali ini dapat daun muda"
Plak! Galaksi langsung menepuk keras bahu Rio dan mendelik.
"Hahahaha! Sori! Bercanda, Gue. Oke! Mulai besok, aku akan jaga adik ipar Gue. Dia akan bekerja di hotel jadi anak buahku di dapur, kan?"
"Iya. Tolong jaga dia! Dia adiknya Meda dan dia adalah Istriku"
"Oke! Aku akan jaga dia dengan sangat baik. Percayalah padaku!" Rio menepuk pundak Galaksi. Kemudian pria tampan itu bangkit berdiri dan berkata, "Tidurlah! Aku akan ke kamarku"
"Hmm" Sahut Galaksi.
Galaksi terbangun jam empat pagi dan dia terpaksa turun dari ranjangnya untuk melangkah keluar dari dalam kamar saat ia melihat teko air minumnya kosong. Saat pria itu hendak belok ke tangga, dia melihat pintu kamarnya Aurora sedikit terbuka. Galaksi menghela napas panjang dan bergumam, "Anak ini benar-benar, hmm, istimewa. Dia anak gadis, tapi selalu lupa menutup dan mengunci pintu kamarnya"
Galaksi kemudian melangkah ke kamar Aurora dan bukannya menutup pintu kamar itu, Galaksi justru mendorongnya pelan dan melangkah masuk tanpa mengeluarkan suara. Pria itu meletakkan teko air yang kosong di meja yang ada di dekat pintu, kemudian ia melangkah semakin masuk ke dalam.
Galaksi kemudian menghentikan langkahnya di atas ranjang dan tertegun saat ia melihat Aurora tertidur dengan selimut tersibak, tangan kanan memeluk tubuh mungilnya Awan, dan tangan kiri yang masih memegang dot susu yang sudah kosong berada di atas kepala.
Galaksi mengulas senyum dan bergumam lirih, "Dia sangat mencintai Awan. Dia sampai ketiduran begitu demi Awan" Kemudian menyelimuti Aurora dengan pelan, lalu ia mengambil dot susu yang telah kosong dan meletakkannya di atas nakas, setelah itu ia merengkuh Awan dengan hati-hati ke dalam pelukannya dan ia tidurkan Awan ke dalam box bayi.
Setelah puas menciumi wajah putra tampannya, Galaksi mencuci empat buah botol susu yang sudah kosong dan kotor, kemudian ia masukkan keempat botol itu ke dalam alat sterilisasi.
Saat Galaksi hendak melangkah keluar, ia mendengar Aureoa mengigau, "Jangan tinggalkan aku! Tolong Mama dan Papaku! Jangan pergi! Hiks,hiks,hiks"
Galaksi tertegun menatap Aureoa. Lalu, ia duduk di tepi ranjang dan mencoba untuk menenangkan Aurora dengan mengelus pelan kening Aurora sambil berkata lirih, "Jangan takut ada Kakak ipar kamu di sini, Rora! Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Ssstttt! Tidurlah dengan tenang!" Galaksi terus mengelus kening Aureoa sampai gadis itu menghentikan igauannya dan bernapas dengan tenang.
Setelah menaikkan selimut sampai ke leher Aurora, Galaksi bangkit berdiri dan melangkah keluar dari dalam kamar tanpa mengeluarkan suara dan tak lupa membawa kembali teko air yang sudah kosong, lalu ia menutup rapat pintu kamarnya Aurora. dengan tanpa mengeluarkan suara pula.
__ADS_1
Tepat jam enam pagi, Aureoa membuka mata dan terkejut melihat dirinya berada di balik selimut, lalu saat ia menoleh ke kiri, Awan tidak ada di sana. Aurora sontak melompat turun dan berlari ke box bayi, "Ahhhh, syukurlah kamu ada di box bayi, Sayang! Eh! Tapi, apa Awan bisa jalan sendiri dan masuk ke box bayi? Siapa yang mindahin Awan ke box bayi? Apa Mbak Bun? Ah, iya! Pasti Mbak Bun"
Melihat Awan masih pulas tertidur, Aurora berlari ke kamar mandi dan mandi dengan kilat, pas ia keluar dari dalam kamar mandi, pas mbak Bun masuk ke dalam kamar dan menyapanya, "Selamat pagi, Non. Sarapan sudah siap. Tuan dan temannya menunggu di meja makan. Saya akan menjaga Tuan muda"
"Mbak Bun tadi pagi mindahin Awan dan mencuci sekaligus mensterilkan botol susu, ya? Makasih, ya, Mbak" Aureoa tersenyum lebar ke mbak Bun.
Mbak Bun sontak menautkan kedua alisnya dan sambil menggelengkan kepala, ia berkata, "Saya tadi pagi bangun terus masak, Non. Saya baru aja masuk ke sini"
"Hah?! Lalu, siapa yang ........"
"Pasti Tuan yang melakukannya" Sahut mbak Bun sembari melangkah ke box bayi.
Mendengar hal itu, Aurora langsung berlari keluar dari dalam kamar untuk mencari Galaksi dan bertanya langsung sekaligus mendampratnya karena pria itu kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin darinya.
Saat Galaksi tengah bercakap-cakap di meja makan dengan Rio, tiba-tiba terdengar suara menggelegar bak petir di siang bolong, "Kenapa kau masuk lagi ke kamarku tanpa ijin dariku, hah?!"
Rio dan Galaksi sontak bangkit berdiri dan Galaksi langsung berbalik badan lalu tersenyum ke Aurora dan berkata, "Selamat pagi. Kenalkan ini Rio Fabian. Dia sahabatku yang jauh-jauh datang dari Italy dan dia akan bekerja di hotelku menjadi kepala chef. Kamu nanti bisa........."
Plak! Aurora menepuk keras bahu Galaksi dan sambil melotot dia menggerakkan kata, "Kau belum menjawab pertanyaanku"
Galaksi langsung menarik Aurora masuk ke dalam dekapannya dan berbisik di telinga Aurora, "Makanya biasakan menutup pintu kamar dengan rapat dan menguncinya. Tadi pagi aku hanya menyelimuti kamu, tapi kalau besok pagi pintu kamu tidak tertutup rapat lagi, maka aku bisa tergoda untuk melakukan lebih dari sekadar menyelimuti kamu"
Aurora langung mendorong dada Galaksi dengan kedua telapak tangannya, lalu sambil mendelik, ia melangkah ke kursi yang ada di ujung meja.
"Hei! Halo! Aku Rio Fabian. Kita belum berkenalan. Kamu siapa?" Rio melambaikan tangannya ke Aurroa sambil tersenyum dan duduk kembali.
Aurora menoleh tajam ke pria yang bernama Rio Fabian dan sambil mengunyah roti, ia berucap acuh tak acuh, "Aku Rora"
Rio kemudian menoleh ke Galaksi dan dia berkata tanpa mengeluarkan. suara, "Dia galak"
Aurroa yang berada di ujung meja sontak berteiak, "Kalian membicarakan aku, ya?! Aku lihat dia mengulum bibir menahan tawa" Aurora menunjuk Galaksi.
Galaksi dan Rio bersitatap kemudian kedua pria tampan itu menggelengkan kepala mereka secara bersamaan dan menoleh ke Aureoa secara bersamaan pula sambil berkata, "Nggak! Kami nggak membicarakan kamu"
Aurora mendengus kesal dan kembali melanjutkan sarapannya.
Mawar dan Bintang saling pandang saat mereka tidak menemukan Galaksi dan Aureoa di meja makan yang ada di rumah utama. "Kakak kamu mana?" Tanya Mawar.
"Entahlah. Mungkin kesiangan.Biasa, kan, pengantin baru" Sahut Bintang.
"Hush! Pengantin baru apa? Mereka hanya berpura-pura" Sahut Mawar.
Salah satu pelayan memberikan jawaban atas pertanyaannya Mawar tadi, "Tuan dan istrinya sarapan di paviliun mereka karena tuan, kedatangan tamu"
"Siapa?" Tanya Mawar.
"Tuan Rio Fabian" Sahut pelayan itu.
Bintang yang sejak kecil naksir sama Rio Fabian, sontak bangkit berdiri dan Mawar langsung menarik lengan Bintang sambil berkata, "Mau ke mana kamu?"
"Mau menemui Kak Rio. Aku kangen banget sama dia, Ma"
"Makan dulu! Lagian anak cewek itu harus jaga martabat. Biar dia yang nyamperin kamu ke sini bukan malah kamu yang nyamperin dia ke sana"
__ADS_1
"Iya, Ma. Baik" Sahut Bintang dengan wajah kesal.
"Lagian kamu juga akan ketemu sama dia di hotel nanti. Kamu ada pemotretan di hotel, kan?"
"Ah, iya! Mama benar!" Kedua bola mata Bintang sontak membeliak senang.
"Yo, kamu ke hotel saja dulu. Aku akan antarkan Rora ke rumah sakit tempat ia pernah melamar di sana. Dia mau menemui HRD rumah sakit itu untuk mencabut lamarannya"
"Lho! Dia dokter?" Tanya Rio.
"Hmm. Emangnya kenapa? Aku nggak pantes jadi dokter?" Rora mendelik kesal ke Rio.
"Kalau udah tercipta secantik ini, tolong jangan galak-galak bisa nggak?" Rio menatap tajam wajah cantiknya Aurora.
Galaksi langsung menepuk bahu Rio dan berbisik di telinga Rio, "Jangan memujinya cantik! Dia Istriku"
"Oke. Sori, tapi dia memang sangat cantik" Bisik Rio.
Galaksi kembali menepuk keras bahu Rio dan kembali berisik, "Kau puji dia cantik sekali lagi, maka aku akan jitak kepala kamu"
Rio terkekeh geli dan berbisik, "Oke, oke!"
"Apa yang kalian bisikkan?!" Teriak Aurora dengan wajah kesal.
"Nggak ada. Ayo kita pergi sekarang! Keburu siang" Galaksi langsung menarik lengan Aureoa dan membantu Aurora masuk ke dalam mobil sportnya.
Di dalam mobil, Aurora diam membisu. Dia tiba-tiba merasa canggung saat ia kembali teringat akan ciumannya dengan Galaksi semalam.
Galaksi melirik tangan Aurora yang ada dia atau pangkuan dan bertanya, "Apa kamu sakit?"
"Nggak" Sahut Aurora tanpa menoleh ke Galaksi
"Kok diam saja? Biasanya ceriwis"
"Kita baru kenal beberapa hari, kok, kamu bisa tahu kalau aku biasanya ceriwis?" Sahut Aurora dengan nada datar dan tanpa menoleh ke Galaksi.
"Emang gitu, kan?" Sahut Galaksi sambil tersenyum.
Aurora diam dan mengabaikan ucapannya Galaksi.
Galaksi kemudian berkata, "Bukalah laci dashboard!"
Aurora sontak menoleh ke Galaksi, "Kenapa? Ada apa di dalam laci dashboard? Kamu mau mengejutkan aku dengan ular-ularan karet atau semacamnya, ya? Cih! Semua itu nggak mempan untuk aku"
"Bukan itu. Aku nggak akan sejahil itu. Buka aja maka kau akan tahu" Sahut Galaksi.
Aurora lalu membuka laci dashboard dan terkejut saat ia melihat topi kesayangnnya. Aurora mengambil topi itu dan mekinya sambil menutup kembali laci dashboard. Lalu, gadis cantik itu menoleh ke Galaksi untuk bertanya, "Kau masih menyimpan topi ini?"
"Iya" Sahut Galaksi singkat sambil menoleh sekilas ke Aurroa.
"Kenapa? Kau bahkan tidak tahu siapa aku saat itu"
"Karena aku ingin bertemu lagi dengan gadis cantik yang sudah menyelamatkan aku. Untung itulah aku menyimpan topi itu dan kata pepatah kuno, kalau kita bertemu lagi dengan si pemilik topi itu, maka kita nggak akan terpisahkan lagi untuk selamanya" Sahut Galaksi sambil menopangkan tangan kirinya di atas topi yang dipakai oleh Aurora.
__ADS_1
Kehangatan tangan Galaksi yang ia rasakan dan ucapannya Galaksi itu, membuat jantung Aurora kembali berdetak abnormal dan di perutnya kembali terasa ada gelitikan ribuan sayap kupu-kupu. Aurora terus menatap Galaksi dari arah samping dan bergumam di dalam harinya, Ada apa denganku? Kenapa akhir-akhir ini jantungku sering berdetak kencang tak jelas seperti ini dan perutku terasa geli seperti ini?