Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
First Kiss


__ADS_3

Galaksi lalu masuk ke kamarnya dan langsung duduk di tepi ranjang untuk meraih bingkai foto yang ada di atas nakas. Pria tampan itu mengusap foto Andromeda dan bergumam, "Maafkan aku, Meda. Aku ingin merukunkan keluarga kita dengan cara menikahi adik kamu. Tapi, aku janji sama kamu, aku nggak akan mempermainkan adik kamu. Doakan kami dari Surga sana, ya, Sayang, semoga keluarga kita bisa rukun dan saling menyayangi satu sama lain" Galaksi lalu, mencium foto Andromeda dan berkata, "Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu"


Sementara itu, Aurora duduk di tepi ranjang memandangi layar telepon genggamnya yang menampakkan wajah ayu kakak perempuannya. Aurora bergumam, "Kak, maafkan aku kalau aku menikahi Suami Kakak. Tapi, jangan khawatir, Kak! Aku tidak akan jatuh cinta sama pria kolot itu. Di dalam hatiku cuma ada Kak Kibar. Aku menikahinya, terpaksa menikahinya karena dia, meragukan omonganku soal kejahatan yang sudah Mama dan adik perempuannya lakukan pada Kakak. Aku akan buktikan kalau omonganku benar dan setelah itu aku akan bercerai. Doakan aku dari surga sana, ya, Kak, biar aku bisa membuka topeng si Mawar dan Bintang itu" Aurora lalu mencium foto kakaknya yang ada di layar telepon genggamnya dan berkata, "Aku sangat mencintai dan merindukanmu, Kak"


Beberapa jam kemudian, Galaksi dan Aurora yang menggendong Awan berdiri di depan Mawar. Mawar yang tengah bersantai di halaman belakang paviliunnya, sontak bangkit berdiri dan menyemburkan, "Kenapa dia ada di sini?"


Galaksi langsung merangkul bahu Aurora dan gadis itu menoleh kaget ke Galaksi. Pria itu kemudian berbisik singkat, "Kau harus nurut denganku kali ini agar Mamaku percaya kalau kita menikah karena cinta"


Aurora mengangguk pelan dan memeluk Awan yang ada di dalam dekapannya lebih erat lagi.


"Gala! Kenapa dia ada di sini dan kenapa kau merangkul dia dan berbisik di telinga gadis liar ini, hah?! Jawab Mama, cepat!"


Teriakannya Mawar, membuat Bintang yang baru saja melangkah masuk ke dalam paviliun mamanya, langsung berlari kencang ke halaman belakang.


Galaksi menegakkan kepala dan menatap ke depan lalu berkata dengan masih merangkul bahunya Aurora, "Dia adalah istriku, Ma. Kami baru saja menikah"


Bintang yang baru sampai di sebelah mamanya, sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.


"Bohong! Kau bohong, kan?! Kau sangat mencintai Meda dan Meda baru saja meninggal dunia. Nggak mungkin kamu menikahi gadis liar ini! Nggak mungkin!" Mawar berteriak sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu ia mundur beberapa langkah ke belakang dan Bintang langsung merangkul bahu mamanya.


"Tentu saja kami menikah karena kami saling mencintai. Kami jatuh cinta pada pandangan pertama dan karena takut dosa makanya kami langsung menikah. Iya, kan, Kak" Sahut Aurora sambil menatap Galaksi.


"Diam kamu! Aku nggak butuh jawaban kamu!" Mawar melotot ke Aurora.

__ADS_1


Galaksi berkata, "Maafkan aku, Ma. Aku menikahi Rora demi kebaikan kita bersama. Awan memiliki Mama lagi. Awan memiliki Mama yang tulus menyayangi Awan. Ini anakku dan Meda, Ma. Namanya Awan..........." Melihat mamanya bergeming, Galaksi kembali berkata, "Selain itu, Mama juga ada yang merawat kalau aku tinggal untuk perjalanan bisnis ke luar negri, nanti.


"Hanya karena itu, hah?! Mama nggak butuh dirawat oleh gadis liar ini. Kalau cuma karena itu maka ceraikan dia! kamu tidak mencintainya, kan?" Mawar menatap Galaksi dengan wajah kesal.


"Aku tidak akan menceraikan wanita yang sudah aku nikahi, Ma karena apa yang dikatakan oleh Rora benar. Kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama" Jawab Galaksi.


Galaksi sungguh-sungguh saat ia berkata kalau dia tidak akan menceraikan wanita yang sudah ia nikahi. Namun, Aurora mengganggap itu adalah sandiwara saja.


"Kak! Kenapa harus dia, hah?! Kenapa kakak nggak menikahi Kak Silvia saja?" Bintang melotot ke Galaksi.


"Kakak tidak pernah mencintai Silvia dan selamanya nggak akan pernah menikahi Silvia" Sahut Galaksi dengan wajah serius.


Aurora menatap Galaksi dari samping dengan senyum manisnya. Dia senang mendengar ucapannya Galaksi yang menegaskan kalau Galaksi tidak akan pernah menikahi wanita yang bernama Silvia.


"Mama tetap tidak percaya kalau kalian menikah karena cinta. Aku akan........." Mawar menghentikan ucapannya saat ia melihat Galaksi membelakanginya dan menundukkan wajahnya.


Mawar langung menjejakkan kaki kanannya ke lantai, kemudian ia berbalik badan sambil berucap dengan suara keras, "Ayo kita pergi Bintang!"


Aurora mengerjapkan matanya dan saat Galaksi menarik wajahnya dan berkata, "Mama dan Bintang sudah pergi. Sandiwara kita berhasil"


Plak! Tamparan kerasnya Aurora mendarat di pipi kanan Galaksi.


Galaksi mengernyit kaget, "Kenapa kau menamparku?"

__ADS_1


"Karena kau sudah lancang mencuri ciuman pertamaku! Kau baru saja menciumku" Aurora berteriak kesal dan langung berkata, "Cup, cup, cup, Sayang! Maafkan Tante teriak-teriak barusan" Saat Awan menangis kaget.


"Aku tidak mencium kamu. Aku mengikuti cara kamu waktu kamu menyelamtakan aku di Jepang dulu. Aku mencium jempolku yang aku taruh di bibir kamu dan ........" Galaksi sontak menarik ibu jarinya yang ada di sudut bibir Aurora sambil bertanya kaget, "Kenapa jempolku bisa bergeser ke sudut bibir kamu?"


"Dasar bodoh!" Aurora mendelik kesal ke Galaksi. Lalu, gadis cantik itu meninggalkan Galaksi sambil menimang-nimang Awan. Aurora melangkah lebar untuk kembali ke paviliunnya Galaksi dan dia ingin segera masuk ke kamarnya.


"Sial! Kenapa wajahku tiba-tiba terasa panas begini" Ucap Aurora sambil duduk di tepi ranjang menunggu mbak Bun membawakan susu untuk Awan.


Galaksi mengacak-acak rambutnya dan bergumam, "Kenapa aku bodoh banget? Kenapa jempolku bisa bergeser dengan sendirinya tadi? Sial! Aku sudah membuat gadis yang belum pernah berciuman sebelumnya, belum pernah mendapatkan first kiss, merasa kesal. Sial! Kenapa juga jantungku berdetak kencang begini. Aku harus ke kamarnya Rora dan minta maaf. Ya! Aku harus segera meminta maaf ke Rora" Galaksi kemudian berlari kencang menuju ke paviliunnya.


Galaksi memutuskan untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk meredakan detak jantungnya yang masih berdegup abnormal. Lalu, ia meraih fotonya Andromeda dan berkata, "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak sengaja mencium gadis lain selain kamu dan gadis itu adalah adik kamu. Maafkan aku, Sayang. Aku harus bagaimana sekarang? Apa Rora akan memaafkan aku, Sayang?"


Sementara itu, Aurora terus menyadap bibirnya dengan punggung tangan dan bergumam, "Dasar pria kolot, pria tua, pria mesum! Berani benar dia mencium bibirku. Dasar pria bodoh!" Aurora menggeram kesal tepat di saat mbak Bun masuk dengan membawa botol susu.


Mbak Bun berkata, "Kenapa wajah Anda memerah, Nona? Apa Anda demam? Anda sakit?"


"Nggak, mbak. Aku baik-baik saja. Cuma terkena sengatan listrik barusan" Ucap Aurora dengan wajah meringis.


"Sengatan listrik? Astaga! Anda nggak papa, kan?" Mbak Bun langsung memeriksa badan Aurora.


Aurora terkekeh geli dan berkata, "Aku baik-baik saja, Mbak. Nggak ada luka di badan tapi ada luka di hati"


"Hah?! Sejak kapan sengatan listrik bisa melukai hati dan tidak menimbulkan luka di badan?"

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyannya mbak Bun, Aurora meletakkan Awan dengan hati-hati ke dekapannya mbak Bun dan sambil bangkit berdiri dia berkata, "Titip Awan sebentar. Aku ada urusan sebentar sama Suamiku"


"Baik, Non"


__ADS_2