
Melihat Aurora memejamkan kedua kata dan tampak rapuh menyerah, Galaksi terus mencium Aurora dengan liar dan tanpa sadar ia membenturkan punggung Aurora di dinding lift. Kemudian dengan masih terus mengajak Aurora berciuman, Galaksi memencet tombol hold dan lift pribadinya tertahan di lantai delapan.
Galaksi nekat menyusupkan bibirnya di leher Aurora dan berbisik di sana, "Lupakan semua kebencian kamu, lepaskan semua amarah kamu, dan bebaskan dendam kamu Rora! Aku akan melindungimu dan..........."
Aurora langsung mendorong dada Galaksi dan langsung menghunus tatapan tajam.
Melihat ada genangan air mata di kedua pelupuk mata Aurora Galaksi melangkah mendekat dan gadis itu langsung berteriak, "Jangan mendekat!"
Galaksi seketika menyesali tindakan impulsifnya. Entah kenapa makin ke sini dia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mencium Aurora.
Aurora mengusap air mata yang menetes di Keuda pipinya dengan kasar dan dia mendesiskan kata, "Kematian Kak Meda tidak wajar. Aku akan tetap mencari keadilan untuk Kak Meda dan berhentilah menciumku! Kau seenaknya menciumku, lalu bilang kalau kau hanya mencintai Kamu Meda, lalu kau membentakku, dan menciumku lagi. Kau pikir aku ini apa, hah?!"
"Maafkan aku! Aku bingung harus bagaimana membungkam kamu saat kamu marah-marah tadi"
"Apa kamu juga selalu begini sama Kak Meda?"
Sial? Kenapa aku menanyakan hal ini? Apa aku sedang cemburu pada Kak Meda? Batin Aurora.
"Meda tidak pernah marah dan tidak pernah protes. Meda wanita yang lembut dan........"
"Yeeaahhhh! Kak Meda memang wanita paling baik di dunia ini" Sahut Aurora dengan nada kesal.
Kenapa aku kesal mendengar dia terus memuji Kak Meda? Batin Aurora.
"Aku menarikmu karena aku ingin meminta maaf dan berterima kasih padamu Tapi, aku justru mencium kamu. Maafkan aku. Maafkan aku telah membentakmu tadi di tepi kolam renang, maafkan aku telah meragukan kamu, dan terima kasih kamu sudah menyelamatkan Mama Lalu, soal Meda, aku memang mencintai Meda, sangat dan........."
Aurora langsung memencet tombol hold dan membuka pintu lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai delapan, Aurora langsung berlari keluar dari dalam lift meninggalkan Galaksi sambil berteiak, "Jangan ikuti aku!"
Galaksi mengerem langkahnya di depan pintu lift dan menatap Aurora yang semakin menjauh dengan perasan kacau balau. Galaksi mengacak-acak rambutnya, lalu meraup kasar wajah tampannya, kemudian memukul pintu lift dengan gusar.
__ADS_1
Aurora terus berlari kencang hingga tanpa sengaja ia menabrak Bintang. Bintang dan Aurora sama-sama jatuh terduduk di atas lantai saking kerasnya tubuh mereka berbenturan.
Bintang langsung melangkah mendekati Aurora yang lebih dulu bangkit berdiri. "Kau! Berani benar kau menabrakku, hah?!"
Aurora menahan acuh tak acuh, "Maaf aku tidak sengaja menabrakmu"
Bintang langsung mengangkat tangan untuk menampar Aurora, tapi dengan sigap ia berhasil menangkap tangan Bintang dan dia hempaskan tangan Bintang sambil menggeram, "Kau ingin melawanku? Oke! Mumpung hati dan pikiranku lagi kacau, ayo aku ladeni kamu, kita duel"
Bintang mundur ke belakang beberapa langkah dan sontak tertawa, lalu berkata, "Aku akan ada pemotretan sebentar lagi. Aku nggak bodoh dan konyol kayak kamu yang selalu saja memakai kekerasan. Dasar monyet liar bodoh!"
Aurora sontak berteriak, "Kau yang monyet bodoh! Kita seumuran, kan, tapi kau hanya jadi monyet yang berpose di depan kamera, sementara aku sudah meraih gelar dokter, cih!"
"Kau! Berani kau menghinaku, hah?!"
Aurora kemudian berbalik badan dengan cepat sambil berteriak, "Itu bukan hinaan, itu kenyataannya"
"Kau! Lihat saja nanti! Aku aka membalasmu!!!!" Bintang berteriak dengan sangat kesal.
Aurora menarik tangannya lalu meneruskan langkahnya.
"Tunggu! Aku ingin memberikan ini ke kamu tadi. Tapi, aku malah membuatmu marah dan pergi meninggalkan aku"
Aurora berputar badan dengan pelan lalu menatap amplop cokelat yang ada di tangan Galaksi.
Galaksi meraih tangan Aurora dan meletakkan amplop cokelat itu di tangan Aurora sambil berkata, "Di dalam amplop cokelat ini ada ATM, buku tabungan, dan kartu kredit unlimited. Ini tanggung jawabku sebagai seorang suami. Aku harus menafkahi kamu dan kamu tidak boleh menolaknya. Kalau kamu menolaknya kamu membawa dosa besar bagi dirimu sendiri dan bagi diriku. Bagaimana pun kita ini adalah suami istri dan aku harus tetap menjalankan kewajibanku"
Aurora tertegun dan terus menatap Galaksi dalam diam.
Galaksi lalu menopangkan tangannya di atas kepala Aurora sambil berucap, "Maafkan aku. Aku telah bertindak impulsif di dalam lift tadi" Lalu, pria tampan itu menarik tangannya dengan pelan dari atas kepala Aurora, kemudian ia berbalik badan dengan cepat dan melangkah pergi meninggalkan Aurora.
__ADS_1
Aurora masih bergeming dan terus menatap punggung Galaksi sampai punggung pria itu menghilang dari pandangannya.
Apakah dia benar-benar tidak akan menciumku lagi ke depannya? Berhentilah memikirkan dia dasar bodoh! Pria itu hanya mencintai Kak Meda. Aurora membatin sambil memukul-mukul pelipisnya.
"Meda, kenapa pikiranku kacau banget saat ini. Perasaanku gusar begini dan aku tidak tahu aku gusar kepada siapa dan untuk apa? Aku jadi linglung begini setelah aku mencium Rora tadi di lift. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku tadi? Kenapa aku bodoh banget tadi? Maafkan aku Meda. Maafkan aku" Galaksi berucap lirih di depan foto almarhum istrinya yang ada di layar telepon genggamnya.
Saat Aurora berjalan ke kolam renang untuk membantu Rio menghias kue tart untuk acara pernikahan selebritis nanti malam, Bintang melihatnya. Lalu, Bintang menyeringai penuh arti.
Saat Aurora berjalan masuk ke dalam hotel untuk kembali ke dapur, dia dikejutkan dengan guyuran tepung dari arah belakang lalu dia merasakan seseorang memecahkan telur busuk di atas kepalanya.
Aurora menggeram kesal dan dengan cepat ia berbalik badan, "Aku sudah tahu kalau kamu yang melakukan semua ini, Bintang"
Bintang tertawa puas dan langsung berkata, "Kau mirip monyet kalau kayak gitu, hahahahahaha! kotor dan bau. Hahahahaha!"
Namun, Aurora tidak memukul atau melibas habis Bintang karena ia melihat ada CCTV di pojok selasar. Aurora memilih berbalik badan dan melangkah pergi.
Namun, Bintang justru menarik tangan Aurora dan berkata, "Kau akhirnya mengaku kalah, kan? Kau sama seperti Meda bodoh itu, cih! Saudara sekandung sama lemahnya dan sama bodohnya. Meda selalu saja nurut dan pasrah waktu aku menundanya dan dia tidak berani melawanku dan kau pun sama ini, hahahahahaha!"
Aurora sontak menoleh ke samping kanannya untuk menatap wajah Bintang sambil berbisik, "Kita lihat saja nanti. Siapa yang bodoh, aku atau kamu?" Lalu, Aurora menarik tangannya dan berlari pergi meninggalkan. Bintang.
Bintang menatap laju larinya Aurora dengan menautkan kedua alisnya dan bergumam, "Apa maksudnya?"
Tanpa Bintang dan Aurora sadari Galaksi berada di balik tembok di ujung selasar itu. Galaksi bisa melihat semuanya dan dia bisa mendengar semuanya.
Galaksi menyandarkan kepalanya di tembok dan bergumam lirih, "Jadi, kecurigaan Rora benar. Selama ini, BIntang selalu menindas Meda. Lalu, Mama? Apa Mama juga meni das Meda?"
Aurora membersihkan dirinya dan kembali berganti dengan seragam chef yang baru dengan helaan napas panjang dan gadis cantik itu kemudian berikan, "Belum ada sehari aku sudah dua kali keramas dan ganti baju. Kegilaan macam apa ini, cih!'
Lalu, Aurora keluar dari ruang ganti dapur menuju ke lift khusus CEO untuk menarik Galaksi ke ruang CCTV dia akan kasih lihat Galaksi kejahatannya Bintang. Aurora masuk ke dalam lift sambil memakan sandwich untuk mengganjal perutnya yang lapar karena dia tidak sempat duduk tenang untuk menikmati makan siangnya.
__ADS_1
Galaksi duduk di kursi kerjanya dan sambil bertopang dagu di atas meja, pria tampan itu terus memikirkan perbuatan Bintang dan ucapannya Bintang ke Aurora.