
"Ayah, Kiba mau jujur sama Ayah" Ucap Kibar saat pemuda itu tiba di rumah baru ayahnya yang besar dan mewah.
"Apa? Katakan saja!" Sahut Hernowo sambil memakan kacang kulit rebus yang dia beli di ujung jalan.
"Aku mencintai Rora. Sudah sejak lama" Ucap Kibar dengan menundukkan wajahnya.
"Uhuk-uhuk!" Hernowo sontak tersedak kacang yang belum sempurna ia kunyah di dalam mulutnya. Kemudian, pria paruh baya itu meminum air putih dan berkata, "Kamu serius?"
"Iya" Sahut Kibar dengan masih menundukkan wajahnya.
"Apa Rora tahu soal perasaan kamu ini?" Tanya Hernowo.
Kibar yang masih belum berani mengangkat wajahnya berkata, "Belum, Ayah. Aku belum berani nembak Rora sebelum bilang sama Ayah dan sebelum Ayah menyetujuinya"
"Baiklah. Aku setuju. Aku akan dukung hubungan kalian. Toh, kalian berdua bukan saudara sekandung, kan?" Ucap Hernowo.
Kibar langsung mengangkat wajahnya dan melompat memeluk ayah angkatnya sambil berkata, "Terima kasih, Ayah. Aku akan nebak Rora besok"
"Kamu mata-matai paviliunnya Galaksi mulai detik ini dan kalau kau temukan satu tanda sekecil apapun yang menunjukkan kalau Galaksi tidak mencintai Aurora, langsung laporkan padaku!" Ucap Mawar ke salah satu pelayan yang ada di paviliunnya.
"Baik, Nyonya" Sahut pelayan itu.
"Mama memang cerdas" Sahut Bintang sambil mengacungkan ibu jarinya.
Mawar menoleh ke Bintang dengan senyum lebar lalu berkata, "Iya, dong. Mama kamu memang selalu cerdas"
Melihat tuan mudanya melongo, mbak Bun yang baru saja masuk ke dalam kamarnya Aurora dan membawa botol susu, sontak mengulum bibir menahan geli.
"Nah! Mbak Bun sudah datang. Ayo! Cepat kremasi rambutku!" Aurora langung bangkit berdiri menuju ke kamar mandi dengan wajah penuh antusias. Gadis itu mengabaikan wajah melongonya Galaksi.
"Oke! Tapi, tidak di kamar mandi" Sahut Galaksi.
"Lalu, di mana?" Aurora menoleh kaget dan seketika mengerutkan keningnya.
"Di teras belakang. Aku beli bak keramas seperti yang ada di salon. Kamu bisa nyaman di sana. Kamu bisa tiduran dan aku bisa mengeramasi kepala kamu dengan nyaman pula dan Mbak Bun, tolong jaga Awan sebentar, ya?!"
"Baik, Tuan" Sahut Mbak Bun dengan senyum ramahnya.
Oke! ayo buruan ke sana. Kepalaku sudah terasa sangat gatal dan gerah. aureoa berucap sembari melepas kucir rambutnya lalu menggoyangkan kepalanya.
Rambut Aurora terurai indah di depan matanya Galaksi dan pria tampan itu seketika mengalihkan pandangannya saat hatinya berkata, astaga! Dia cantik banget kalau rambutnya digerai bebas seperti itu.
Galaksi kemudian melangkah lebar mendahului Aurora tanpa mengucapkan kata apa pun. Pria tampan itu terus melangkah lebar untuk mengusir keresahan di hatinya gara-gara rambut hitam panjang dan indahnya Aurora yang tergerai bebas di depannya.
__ADS_1
Aurora sontak berlari menyusul langkah lebarnya Galaksi sambil berteriak, "Tunggu!"
Saat mereka sudah sampai di depan bak keramas yang dilengkapi kursi nyaman yang bisa dipakai tiduran dan selonjor, Galaksi berkata, "Tidurlah dan buat dirimu nyaman senyamannya-nyamannya!"
Galaksi kemudian memakaikan handuk di atas pundak Aurora dan menaruh kepala gadis itu tepat di bak keramas dengan lembut
Galaksi kemudian membasahi rambut dan mengoleskan sampo dengan rata pada seluruh rambut Aurora yang lebih tebal dan lembut daripada rambutnya Andromeda. Rambut kedua kakak beradik itu sama-sama hitam, lurus, dan indah. Tapi, rambut Andromeda tipis dan rapuh sedangkan rambut Aurora tebal dan lembut.
Galaksi kemudian memijat dengan lembut bagian atas ke dua telinga sekitar 1 menit.
Seketika Aurora meremas kedua ujung kaosnya di saat ia merasakan kehangatan tangan Galaksi menyentuh belakang telinganya. Tiba-tiba Aurora merasakan jantungnya berdetak abnormal, hatinya berdesir hebat, dan ada debaran sayap kupu-kupu menggelitik perutnya.
Galaksi membeli bak keramas itu sebenarnya untuk persiapan detik-detik membesarnya kehamilan Andromeda. Karena ia ingin mengeramasi Andromeda. Namun, setelah ia membeli bak keramas itu, ia justru semakin sibuk dengan pekerjaannya dan sering pergi berdinas ke luar negri. Jadi, dia belum pernah memakai bak keramas itu untuk mengeramasi Andromeda. Dan sekarang dia memakai bak keramas itu untuk mengeramasi adiknya Andromeda.
Hati Galaksi kembali terasa perih saat ia membayangkan senyum Andromeda. Untuk mengusir kesedihan yang tiba-tiba merayap di hatinya, Galaksi berdeham dan bertanya ke Aurora, "Pijatanku segini terlalu keras apa sudah pas?"
"Sudah pas. Makasih" Sahut Aurora.
"Masih bisa mengucapkan terima kasih juga, ya, kamu. Aku kira kamu sudah lupa semua sopan santun"
"Tentu saja aku masih ingat berterima kasih pada orang yang benar-benar baik" Sahut Aurora.
"Berarti kamu sudah mengakui kalau aku ini benar-benar baik, kan?"
"Aku selalu baik sama siapa pun. Kamu boleh tanya ke orang-orang di sekitarku dan tentu saja aku pun akan selalu baik sama kamu karena kamu adalah adiknya Meda dan kamu adalah Istriku" Sahut Galaksi.
Deg! Jantung Aurora mendadak berdegup aneh. Dan Aurora langsung berdeham lalu berkata, "Jangan ceriwis! Buruan keramasi rambutku!"
"Baik, Nyonya Aurora Zayyan"
Deg! Jantung Aurora semakin berdegup aneh dan gadis itu langsung menyemburkan, "Jangan ucapkan kata-kata menggelikan seperti itu!"
"Oke! Nona Rora" Sahut Galaksi dengan senyum tampannya.
Aurora mendongak dan langsung protes, "Jangan senyum-senyum juga! Senyum kamu itu sangat menyebalkan"
"Siap delapan enam, Nona" Sahut Galaksi.
Kalau dilihat-lihat dia ini cantik. Bahkan lebih cantik kalau dibandingkan dengan Meda. Sayangnya dia ini suka semaunya, liar, dan temperamen. Gumam Galaksi di dalam hatinya tanpa ia sadari.
Galaksi kemudian memijat dan menggaruk di bagian atas kepala gadis itu kemudian melanjutkan pijatan menggaruk di bagian belakang kepala dengan lembut.
Dia pria yang lembut ternyata. Batin Aurora sambil memejamkan kedua matanya. Seketika benaknya melayang dan membayangkan Galaksi menciumnya. Di saat bayangannya menjadi semakin liar. Aurora sontak membuka kedua matanya dan menggelengkan-gelengkan kepalanya. Gerakan mendadak yang ia lakukan itu membuat air terciprat dan masuk ke matanya. Aurora mengaduh dan saat gadis itu ingin mengucek matanya, Galaksi menggenggam tangan Aurora sambil berkata, "Jangan dikucek dan buka mata kamu pelan-pelan!"
__ADS_1
Aurora menuruti perintah Galaksi dan saat kedua mata Aurora terbuka sempurna, Galaksi menunduk untuk meniup kedua mata Aurora dan mengusap pelan sudut mata gadis itu. Aurora membeku saat bibirnya menyentuh kening pria itu.
Bibir Galaksi terus meniup kedua mata Aurora dan membuat keningnya tanpa ia sadari terus menekan pelan bibir Aurora.
Aurora langsung mendorong kening Galaksi saat dadanya terasa sesak dan jantungnya berdegup semakin kencang. Aurora langsung berkata, "Sudah nggak perih. Makasih"
Galaksi menegakkan wajahnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya membilas bagian belakang kepala Aurora dengan sedikit diangkat dan membilas dengan cara memberikan pijatan dan menggaruk lembut.
Galaksi kemudian memberikan aba –aba kepada Aurora untuk menaikkan sedikit kepalanya agar memudahkan Galaksi untuk membilas bagian belakang rambut indah gadis itu. Galaksi melakukan dengan penuh kelembutan saat ia membantu mengangkat kepala gadis itu.
Setelah selesai membilas bagian belakang kepala Aurora, Galaksi meremas pelan rambut Aurora agar rambut itu terbebas dari air, lalu pria itu berkata, "Angkat kepala kamu! Aku kan pakaikan handuk di kepala kamu"
Aurora menuruti perintah Galaksi. Aurora kemudian duduk di kursi santai itu dan menunggu Galaksi memakaikan handuk kering di kepalanya. Gadis itu mengira Galaksi akan memakaikan handuk dari arah belakang oleh karena itu ia tersentak kaget saat tiba-tiba Galaksi ada di depannya dan meletakkan handuk di atas kepalanya dari arah depan.
Aurora kembali meremas kedua ujung kaosnya saat Galaksi mengeringkan rambutnya dengan handuk itu dan seketika Aurora kesulitan menelan air liurnya saat ia melihat bibir Galaksi berada persis di depan kedua matanya.
Galaksi mengusap pelan kepala dan semua rambut Aurora dengan handuk sambil berkata, "Rambut kamu tebal banget, jadi keringnya cukup lama"
"Hmm" Sahut Aurora singkat karena gadis itu tidak mampu berkata-kata saat ia kembali merasakan jantungnya berdetak kencang.
Galaksi kemudian menarik handuk itu dari kepala Aurora dan setelah menghela napas panjang, pria tampan itu berkata, "Ayo ke kamarku!"
Aurora sontak mendorong dada Galaksi dengan kaki kanannya dan berteriak, "Nggak mau! Mau apa kau mengajakku ke kamarmu, hah?!"
Galaksi menepis kaki Aurora dan berbalik badan dengan cepat sambil berkata, "Aku akan ambilkan hair dryer milik kakak kamu untuk mengeringkan rambut kamu. Memangnya apa yang kau pikirkan?" Galaksi berkata dengan mengulum bibir menahan tawa.
Aurora langsung melompat turun dari kursi malas yang dibuat khusus untuk keramas dan yang dijadikan satu dengan bak keramas itu. Lalu, gadis itu berlari kecil menyusul langkah lebarnya Galaksi sambil berteriak, "Kau pasti tengah menertawakan aku saat ini. Ayo ngaku!"
"Nggak!" Sahut Galaksi sambil terus melangkah lebar ke depan dan tanpa menoleh ke belakang.
"Bohong! Kau pasti melangkah sambil mengulum bibir menertawakan aku" Aureoa langsung berlari ke depan untuk melihat ekspresi wajahnya Galaksi saat ini.
Namun, karena ceroboh kaki Aurora selip dan saat Aurora hampir jatuh terjengkang ke belakang, Galaksi langsung menarik pinggang Aurora sampai tubuh gadis itu berakhir menempel di dada bidangnya.
Kedua suami istri yang baru saja menikah itu kemudian bersitatap dengan debaran jantung abnormal.
Galaksi tersentak kaget saat tiba-tiba bibir Aurora menabrak bibirnya.Di saat Galaksi hendak mendorong kedua bahu Aurora Aurora langsung berbisik, "Ada pernah yang sedari tadi mengamati kita. Apa dia mata-mata Mama kamu?"
"Kalau ada mata-mata maka kita harus bersandiwara menunjukkan ke mata-mata itu ciuman yang benar. Untuk menunjukkan ke dia dan ke Mama nanti, kalau kita ini memang benar-benar pasangan suami istri yang saling mencintai" Ucap Galaksi sambil mempererat pelukannya dan langsung memagut bibir Aurora.
Aurora sontak meremas kedua ujung kaosnya dan bergumam di dalam hatinya, oke! Ini demi mendapatkan keadilan untuk Kak Meda. Lagipula ciuman itu, kan, hanya daging ketemu daging. Aku nggak akan baper.
Deg, deg, deg, deg! Jantung kedua suami istri itu kembali berdegup kencang abnormal.
__ADS_1