Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Bertemu Awan


__ADS_3

"Rora adalah seorang dokter. Dia mendapatkan beasiswa dan karena kecerdasan dan kerja kerasnya yang ia warisi dariku, dia lulus dengan cepat. Mana ada dokter yang seumuran dengan dia di sini? Nggak ada. Meda sebenarnya juga cerdas cuma sayangnya dia lebih memilih D3 sekeretaris biar cepat kerja" Pamannya Aurora yang memang ceriwis, terus saja nyerocos.


Galaksi menoleh ke jok belakang dan menatap Aurora untuk berkata, "Selamat ya. Selamat sudah jadi dokter sekarang ini. Meda pasti bangga dengan kamu" Galaksi lalu tersenyum ke Aurora dan kembali menatap ke arah depan.


"Terima kasih. Kak Meda sudah tahu kalau aku lulus. Kami sempat berpelukan. Aku bersyukur masih bisa bertemu dengan Kak Meda walaupun itu ternyata untuk yang terakhir kalinya" Sahut Aurora sambil menghapus tetesan air mata dengan punggung tangannya.


Galaksi menyahut tanpa menoleh ke jok belakang, "Iya. Kamu sangat beruntung bisa bertemu dengan Meda"


"Makanya jadi laki, tuh, jangan pergi-pergi terus. Kalau pekerjaan kamu mengharuskan kamu pergi-pergi terus, maka kamu jangan nikah!" Sahut pamannya Aurora dengan nada suara penuh kebencian.


Galaksi hanya menghela napas panjang.


Dia memang pria yang baik dan sopan. Sangat sopan. Dia tidak pernah menanggapi omongan Paman. Padahal Paman kalau sudah nggak suka sama orang, ya, gini, nih. Selalu ceplas-ceplos dan kata-katanya sangat pedas. Batin Aurora sambil melirik pamannya.


"Kenapa kau melirik Paman?" Bisik Hernowo di telinganya Aurora.


Aurora balas berbisik di telinganya Hernowo, "Paman tampan banget pakai setelan hitam-hitam begini"


"Iya, dong. Paman harus keren karena Paman punya keponakan yang cantik-cantik. Sayangnya Kakak kamu sudah nggak ada saat ini. Huhuhuhuhuhu" Pamannya Aurora menangis tergugu.


Aurora memeluk bahu pamannya dan berkata, "Jangan menangis lagi, Paman! Kakak sudah tenang di Surga sana. Jangan usik ketenagaan Kak Meda dengan suara tangisannya Paman"


Pamannya Aurora langsung menoleh tajam ke Aurora dan setelah mengusap air mata dan ingusnya dengan punggung tangan, pria tampan berwajah santai itu berkata, "Jadi, kau mau bilang kalau suara Paman nggak bagus didengar pas nangis, begitu?"


Aurora terkekeh geli dan berkata, "Iya"


"Huh! Dasar anak bandel" Pamannya Aurora langsung mencubit pelan pipi Aurora.


Aurora sontak tersenyum lebar.


Galaksi menoleh ke jok belakang dan dia secara tidak sadar ikutan tersenyum lebar melihat wajah Aurora mengulas senyum lebar.


Dia cantik sama seperti Meda. Cuma dia lebih tomboy. Batin Galaksi.


Sebelum Aurora dan pamannya Aurora menyadari bahwa dirinya menoleh ke jok belakang, Galaksi cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke depan.

__ADS_1


Sesampainya di rumah paman dan bIbinya Andormeda yang sudah meninggal terlebih dahulu sebelum Andromeda, Galaksi langsung turun dari mobil sportnya.


Pamannya Aurora langsung menghadang langkahnya Galaksi, "Jangan masuk ke dalam rumah adikku!" Hernowo mendelik ke Galaksi.


"Paman, kalau dia tidak masuk, dia nggak bisa lihat putranya Kak Meda, dong"


"Lho kenapa?"


"Putranya Kak Meda terlahir prematur dan tidak boleh berada di luar. Biarkan dia masuk sebentar!" Sahut Aurora.


"Ah! Begitu, ya. Ya sudah masuk sana! Tapi, jangan lama-lama! Eneg aku lihat wajah kamu" Pamannya Aurora mendelik kesal ke Galaksi.


Galaksi menganggukan kepala dan berjalan melintas pria tampan yang bernama Hernowo Herlambang itu sambil mengatupkan dua tangan di depan dada dan berkata, "Saya masuk dulu, Paman"


Hernowo bersedekap, menatap Galaksi dengan kesal, dan tidak menyahut ucapannya Galaksi. Pria itu memilih duduk di lincak yang ada di halaman depan rumah adiknya dan mengaso di bawah pohon alpukat madu yang berdaun rimbun, tapi tidak tampak buahnya satu pun.


Hernowo menengadah ke atas setelah duduk di atas lincak dan bergumam, "Ini pohon laki, ya, kenapa ia sama sekali tidak bisa berbuah" Lalu, Hernowo terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Lalu, pria bermarga Hernowo itu merebahkan diri di atas lincak dan memakai kedua telapak tangannya menjadi bantal. Tidak begitu lama, Hernowo mengorok di atas lincak itu.


"Duduklah di sini sebentar!" Aurora kemudian berbalik badan dan masuk ke dalam kamar.


Aurora keluar dari dalam kamar dan menyerahkan kaos, celana pendek, dan handuk bersih ke Galaksi sambil berkata, "Mandilah dulu! Kita dari luar dan dari tempat kremasi. Penuh debu badan kita dan kotor. Sebelum menemui putranya Kak Meda, kita berdua harus mandi. Pakailah kamar mandi di dalam kamar itu dan aku akan pakai kamar mandi di kamar ini"


Galaksi menerima setelan baju bersih dan handuk bersih itu sambil berkata, "Terima kasih"


Lima belas menit kemudian, Galaksi dan Aurora keluar dari pintu kamar yang saling berhadapan secara bersamaan.


Dia tidak seperti Meda. Meda kalau mandi sangat lama. Ah! Meda, aku sangat merindukan kamu, Sayang. Batin Galaksi kembali merintih pilu.


Aurora melangkah mendahului Galaksi sambil berkata, "Ayo kita temui putranya Kak Meda. Kak Meda memberikan nama.........."


"Awan Zayyan. Nama itu nama pilihanku. Kami tidak pernah melakukan USG biar jadi kejutan anak bagi kami nanti. Anak kami lahirnya cowok atau cewek. Makanya Meda yang kebaikan tugas mencari nama kalau anak kami nanti cewek. Kalau cewek, Meda ingin memberi nama Cinta Zayyan" Sahut Galaksi sambil menghapus air mata yang kembali menetes di pipinya.


"Kakakku memang orang yang suka hal-hal melow kayak gitu" Sahut Aurora.


"Iya, Meda memang sangat lemah lembut orangnya dan dia suka banget dengan hal-hal yang berbau romantis" Sahut Galaksi.

__ADS_1


Aurora membuka pintu kamar dan menemukan Kibar tengah memberikan susu ke Awan Zayyan.


"Dia siapa? Apa dia Kibar?" Galaksi menoleh ke Aurora.


"Iya. Dia Kakak sepupuku yang sangat ganteng, jagoan tapi berhati melow" Sahut Aurora.


Kibar langsung melotot ke Aurora dan Aurora langsung memamerkan deretan gigi putih bersihnya ke Kibar.


Galaksi tersenyum penuh dengan kesedihan dan berkata dengan suara bergetar menahan tangis, "Kita akhirnya bisa bertemu, tapi kenapa Andromeda justru meninggalkan kita" Air mata kembali menggenangi kedua pelupuk mata Galaksi.


Aurora langsung menepuk lalu mendorong punggung Galaksi sambil berkata, "Temui Putra kamu. Aku akan bikin air minum" Aurora berbalik badan dengan cepat.


Galaksi memutar badan untuk melihat arah perginya Aurora.


"Dia memang seperti itu. Dia tidak suka menangis di depan orang. Dia itu sok tangguh, tapi sebenernya cengeng" Sahut Kibar.


Galaksi sontak mengarahkan kembali badannya ke depan dan langsung berkata, "Aku sudah mandi dan pakai baju bersih. Apa aku boleh memangku putraku?"


"Boleh. Dot susunya juga sudah kosong" Sahut Kibar.


Lalu, dengan perlahan dan sangat hati-hati, Kibar meletakkan Awan Zayyan ke dalam pelukan Galaksi.


Lalu, Kibar bangkit berdiri dan berkata, "Aku keluar dulu, mau mencuci botol ini sekalian mandi"


Galaksi tersenyum, menganggukkan kepala, dan berkata, "Terima kasih banyak sudah mengurus putraku dengan sangat baik"


"Sama-sama. Lagian Awan adalah keponakanku. Tentu saja aku akan mengurusnya dengan baik" Sahut Kibar.


"Terima kasih" Galaksi kembali mengatakan kata itu dengan. sungguh-sungguh.


"Oke" Lalu, Kibar cepat-cepat berbalik badan dan keluar dari kamar itu. Dia bisa eneg kalau mendengar kata terima kasih terlalu banyak.


Galaksi menatap wajah putranya dan dia kembali meneteskan air mata saat ia berucap, "Meda terima kasih. Kau berikan aku anak cowok yang sangat hebat dan sangat tampan"


Galaksi kemudian menunduk dan ia mencium wajah Awan sambil berkata di sela isak tangisnya, "Maafkan Papa, Papa terlambat datang dan Papa yang sudah membuat kamu berpisah dengan Mama kamu. Andai Papa ada di sisi Mama kamu dan terus berada di sisi Mama kamu, mungkin Mama kamu tidak akan meninggalkan kita, Awan. Papa sudah ingkar janji"

__ADS_1


Galaksi kemudian menegakkan wajahnya untuk menatap kembali wajah tampan putranya dan berkata, "Papa berjanji akan selalu berada di sisi Mama kamu sampai Mama kamu melahirkan dan Papa telah ingkar janji, Nak. Maafkan aku, Meda" Galaksi kembali terisak menangis sambil memeluk erat tubuh putranya yang sangat mungil.


__ADS_2