Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Roti Bakar


__ADS_3

Setelah memberikan susu ke Awan, Aurora menutup botol susu, lalu membaringkan Awan di atas ranjang dengan hati-hati saat Awan sudah tertidur lelap. Aurora kemudian menoleh ke mbak Bun, "Mbak, tolong temani Awan sebentar! Aku dan pria kaya itu akan membahas sesuatu di ruang tengah"


"Dia kakak ipar Anda, Non"


"Iya. Tapi, aku malas mengakuinya, hehehehe" Setelah memamerkan deretan gigi putihnya ke mbak Bun, Aurora bergegas keluar dari kamar lalu duduk di depan Galaksi dan Herman.


"Herman sudah mengerjakan kontrak kerja sama kita. Baca dan koreksi! Kalau ada yang perlu dicoret, coret aja, kalau ada yang perlu ditambahkan kamu tambahkan saja! Lalu tandatangani!" Ucap Galaksi.


Setelah membaca dengan teliti dari halaman awal sampai halaman kedua, Aurora langsung berkata, "Aku tambahkan satu point, kalau aku berhasil mendapatkan semua bukti kebusukan Mama dan adik perempuan kamu, aku akan tetap bercerai denganmu dan kamu tidak boleh menyentuhku. Kita tidur di kamar yang terpisah" Aurora berkata sambil menuliskan satu point tambahan berupa satu kalimat yang sangat panjang itu.


"Terserah kamu saja" Sahut Galaksi.


Setelah selesai menulis satu point tambahan tersebut, Aurora lalu mendatangani kontrak kerja sama dia dengan Galaksi Zayyan.


"Berarti mulai besok, aku, kamu, mbak Bun, dan Awan, pulang ke rumahku setelah kita mendaftarkan pernikahan kita" Ucap Galaksi.


"Hmm" Sahut Aurora sambil bangkit berdiri dan membawa satu map sambil berkata, "Kita masing-masing menyimpan satu berkas ini, kan?"


Galaksi menganggukkan kepalanya.


Aurora kemudian melangkah pergi masuk ke dalam kamar untuk menyimpan berkas itu ke dalam kopernya. Dia bahkan belum sempat menata kopernya. "Besok aku akan pergi dari sini. Jadi, nggak usah aku tetap aja koperku"


Herman kemudian menoleh ke Galaksi, "Anda yakin dengan semua ini, Tuan?"


"Aku yakin. Aku akan buktikan ke Aurora kalau keluargaku tidak seperti yang ia pikirkan. Aku juga akan buktikan kalau dia salah menuduh Mamaku yang menyebabkan Meda meninggal dunia. Aku juga ingin membuat keluarganya Meda dan keluargaku saling mengenal dengan dekat dan bisa akur" Sahut Galaksi.


"Baiklah, Tuan. Saya doakan rencana Anda berhasil. Oh, iya! Baju ganti Anda sudah saya taruh di dalam kamarnya Nyonya Andromeda. Anda bisa mandi dan ganti baju dulu. Saya juga sudah menata makanan dan minuman yang Anda pesan di meja makan" Ucap Herman.


"Terima kasih, Man. Aku mandi dulu" sahut Galaksi.

__ADS_1


"Silakan, Tuan. Saya akan menunggu saya di sini" Sahut Herman.


Aurora keluar dari kamar dan berjalan melintasi Herman tanpa menoleh dan menyapa Herman. Beberapa detik kemudian, Aurora melangkah keluar dari ruang makan dan langsung bertanya, "Ada banyak makanan dan minuman di meja makan. Siapa yang menatanya? kamu?"


Wah! Gadis ini cantik, tapi sama sekali tidak punya sopan santun. Batin Herman.


"Hei! Kamu manusia apa batu? Ditanya,kok, diam saja?!" Pekik Aurora dengan wajah kesal.


"Ah! Iya, saya manusia, Non. Emm, saya juga yang sudah membeli dan menata semua makanan dan minuman. Lalu, salah saya apa? Kenapa Anda kesal dan bicara dengan nada tinggi, Non?" Herman berkata dengan wajah lesu dan tubuh sedikit melengkung ke depan.


"Itu karena kamu asistennya orang kaya itu dan aku tidak kenal sama kamu" Aurora menyahut sewot lalu gadis cantik itu berbalik badan dengan cepat ke dapur.


Aurora memutuskan untuk tidak memakan makanan yang dibeli oleh asisten pribadinya Galaksi Zayyan. Aurora memutuskan untuk memasak roti bakar cokelat keju, nasi goreng, dan telur mata sapi untuk dirinya sendiri ksrena dia tahu paman dan Kak Kibarnya tidak pulang malam ini. Kalau mbak Bun bisa makan makanan yang dibeli oleh Galaksi Zayyan pikirnya, jadi dia tidak memasak untuk mbak Bun.


Aurora meletakkan roti dua potong roti bakar cokelat keju di atas meja makan bersama dengan susu cokelat panas kesukaannya. Lalu, ia kembali ke dapur untuk memasak nasi goreng dan telur mata sapi.


Dengan santainya, Galaksi duduk di meja makan, mengambil roti bakar cokelat keju, menggigitnya, lalu menyeruput susu cokelat panas. "Nggak salah aku mengandalkan Herman. Dia tahu betul makanan dan minuman kesukaanku" Gumam Galaksi sambil mengunyah gigitan kedua roti bakar cokelat keju itu.


Aurora yang muncul dari dapur dengan membawa sepiring nasi goreng telur mata sapi sontak melotot kesal saat ia melihat Galaksi Zayyan menghabiskan roti bakar cokelat keju miliknya dan tengah menyeruput susu cokelat panas kesukaannya.


Aurora melangkah pelan mendekati Galaksi Zayyan dengan menggeram lirih. Kemudian, ia menginjak kaki Galaksi Zayyan cukup keras sambil berteriak, "Kenapa kau makan roti bakar dan meminum susu cokelat panas ku, Hah?!"


Otomatis Galaksi menyemburkan susu cokelat yang ada di dalam mulutnya ke wajah Aurora.


Aurora mendelik kaget dan langsung berucap, "Kamu itu Mbah dukun, ya?! Kenapa main sembur aja, hah?!"


Galaksi refleks melepas kaosnya dan langsung mengelap wajah Aurora dengan kaos itu sambil berkata, "Maaf, maafkan aku!"


Blush! Aroma sabun bercampur parfum beraroma maskulin membuat wajah Aurora sontak merona nggak jelas dan dia tertegun saat melirik ke bawah. Dada bidang dan tubuh bagusnya Galaksi membuat matanya tidak mau bergerak ke arah lain.

__ADS_1


Sial! Ada apa denganku? Aoa aku demam? Kenapa wajahku terasa panas dan dadaku berdebar abnormal kayak begini? Batin Aurora.


Dan ketika ia merasakan dadanya semakin sesak dan wajahnya semakin terasa panas, Aurora menepis tangan Galaksi sambil bertanya dengan mata melotot, "Kenapa kau lap wajahku dengan kaos kamu, hah?! Wajahku bukan dashboard mobil!" Lalu, gadis cantik itu berlalu pergi dari hadapan Galaksi dengan cepat.


Galaksi menatap punggung Aurora sambil berteriak, "Maafkan aku! Aku tidak sengaja memakan roti dan susu cokelat panas kamu. Aku juga tidak sengaja menyembur wajah kamu"


"Bodo amat!" Teriak Aurora tanpa.menghentikan langkahnya dan tanpa menoleh ke belakang.


Herman muncul di ruang makan setelah ia menyelesaikan urusan kantor. "Lho, Anda,.kok, melepas kaos, Tuan?"


"Iya. Aku jadi Mbah dukun sekaligus jadi tukang cuci mobil barusan" Sahut Galaksi asal-asalan sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Herman sambil memakai kembali kaosnya. Lalu, pria tampan itu berjalan ke dapur untuk memasak roti bakar cokelat keju dan membuat susu cokelat panas.


Herman mengikuti arah pergi tuannya dengan wajah melongo.


Setelah selesai memasak, Galaksi membawa sepiring roti bakar keju cokelat dan segelas susu cokelat panas ke kamarnya Aurora. Dia mengetuk pintu Aurora sebanyak dua kali.


Aurora membuka pintu kamar dan Galaksi langsung menyerahkan roti bakar dan susu cokelat panas bikinannya ke Aurora sambil berkata, "Maafkan aku" Lalu, Galaksi bertanya, "Apa aku boleh membawa Awan ke kamarnya Meda? Aku ingin tidur dengan Awan malam ini"


Aurora hanya diam membisu dan dengan masih menyangga nampan pemberiannya Galaksi, ia menganggukkan kepalanya.


Mbak Bun kemudia. muncul dan meletakkan Awan dengan pelan ke dalam dekapannya Galaksi.


Galaksi berkata, "Terima kasih. Makanlah, Mbak! Herman akan menemani Mbak Bun makan di meja makan"


"Baik, Tuan"


Galaksi kemudian pergi meninggalkan Aurora untuk masuk ke kamarnya Andormeda sambil menciumi wajah tampan putranya yang masih sangat mungil.


Aurora diam membeku di tempatnya berdiri dan dia menatap punggung Galaksi Zayyan dengan bergumam lirih, "Dia pria yang bertanggung jawab, sopan, dan baik. Tapi, kenapa aku masih saja membencinya Aku nggak boleh termakan tipu dayanya. Aku harus mewaspadai semua penghuni istana milik keluarga Zayyan kecuali Mbak Bun" Lalu, Aurora menutup pintu kamarnya dan masuk untuk menikmati roti bakar dan susu cokelat panas kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2