Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Melongo


__ADS_3

Tok, tok, tok! Aurora mengetuk pintu kamar Galaksi dengan keras.


Galaksi terlonjak kaget dan spontan menyahut dengan suara cukup keras, "Siapa?!"


"Ini aku! Keluarlah! Jangan jadi pengecut! Setelah mencuri ciuman pertamaku, lalu kau menyembunyikan diri di kamar, hah?! Sampai berapa lama kau mau menyembunyikan diri di kamar, hah?!" Aurora berteriak dengan napas terengah-engah dan wajah merah padam penuh amarah.


Galaksi refleks meraup kasar wajah tampannya lalu bergumam lirih, "Kenapa dia bisa tahu kalau aku udah ada di dalam kamar? Sial! Kenapa juga aku menyahut tadi. Meda, apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap menghadapi adik kamu" Galaksi spontan menoleh ke fotonya Andromeda yang ada di dalam bingkai berbentuk love. Lalu, pria tampan itu mewek di depan fotonya Andromeda dan berkata, "Aku akan meminta maaf sama Rora dan harus meminta maaf soal ciumanku tadi. Tapi, nggak sekarang juga, Meda. Aduh! Gimana, nih"


"Keluar! Kau keluar atau akan aku dobrak pintu ini!" Teriak Aurora dengan telapak tangan yang terus menggebrak-gebrak pintu dan napas terengah-engah.


Ceklek! Galaksi terpaksa membuka pintu kamarnya karena dia terlanjur menyahut tadi. Dan untuk menutupi rasa canggungnya, Galaksi langsung menyemburkan, "Kenapa kamu teriak-teriak?! Gimana kalau mbak Bun dengar?"


"Mbak Bun nggak bakalan dengar. Kan, ada peredam suara di kamar" Ucap Aurora dengan bersedekap.


Wah! Jeli juga anak ini. Ia tahu kalau semua kamar ada peredam suaranya. Jadi, kebisingan dari luar maupun dari dalam kamar tidak akan terdengar. Padahal Meda aja nggak tahu soal ini. Batin Galaksi.


Galaksi langsung menundukkan kepala dan berkata, "Maafkan aku! Aku tidak sengaja mencium kamu tadi. Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh menyesal telah memberikan pengalaman first kiss ke kamu yang.......emm, yang..........."


"Yang aneh, menyebalkan, dan sama sekali bukan first kiss romantis yang selama ini aku impikan" Sahut Aurora dengan napas menderu penuh kekesalan.


Galaksi yang masih menundukkan kepala berkata, "Iya. First kiss yang tidak sesuai dengan ekspektasi kamu. Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh menyesalinya"


"Karena kau sudah minta maaf. Maka aku maafkan"


Galaksi langsung mengangkat kepala dan mengulas senyum di wajah tampannya lalu berkata, "Terima kasih sudah memaafkan aku. Aku janji kalau aku tidak akan mengulanginya lagi"


"Oke! Aku pegang janji kamu.Lalu, aku ingin bahas soal sikap Mama kamu tadi. Mama kamu sama sekali tidak tertarik sama cucunya. Kamu lihat sendiri, kan, tadi, Mama kamu tidak ingin melihat Awan saat kau mengenalkan Awan sama Mama kamu dan ......"


"Biasakan pakai kata Kak atau kamu, bisa nggak? Kenapa kamu selalu memakai kata Kau, kau, dan kau? Itu tidak sopan" Galaksi menatap Aurora dengan wajah serius.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Mau pakai kata apapun terserah aku. Ini mulutku! Sekarang fokus ke masalah Mama kamu. Sudah terbukti, kan, kalau Mama kamu tidak menyukai Kak Meda. Dia tidak tertarik pada Awan. Dia bahkan tidak ingin melihat Awan. Mana ada Nenek yang seperti itu sama cucunya. Sudah terbukti kalau Mama kamu itu jahat. Adik perempuan kamu juga sama" Aurora menghela napas panjang untuk meredakan amarahnya.

__ADS_1


"Jangan marah-marah dulu. Kenapa kamu ini gampang sekali marah? Mamaku tadi kaget sama pernikahan kita. Dia sangat menyayangi Meda dan belum siap punya menantu baru. Makanya Mamaku tadi tidak sempat mencerna soal Awan dan tidak sempat melihat Awan. Mama pergi saat aku membelakanginya dan tampak dari sudut pandang Mamaku kalau aku sedang mencium kamu"


"Kau memang menciumku mau tampak dari sudut pandang manapun, huh!" Aurora menggeram kesal.


"Iya. Maaf. Aku sudah minta maaf dan sudah dimaafkan, kan, soal ciuman tadi" Ucap Galaksi dengan sorot mata dan wajah memelas.


Aurora dan Galaksi kemudian saling pandang. Galaksi kemudian memberikan senyum terbaiknya ke Aurora agar gadis itu menjadi ramah padanya dan tidak marah-marah lagi baik kepadanya maupun kepada Mama dan adik perempuannya.


"Kenapa senyum kayak gitu? Senyum kamu nggak mempan meredakan kemarahan dan kebencianku pada kamu, Mama kamu, dan adik perempuan kamu. Kalau kamu masih merasa Mama dan adik perempuan kamu itu baik, maka sebentar lagi kau akan kecewa dan gigit jari. Dasar bodoh!" Aurora melotot ke Galaksi kemudian dia berputar badan meninggalkan Galaksi begitu saja.


Galaksi menghela napas panjang dan sambil terus menatap punggung Aurora yang semakin menjauh, pria tampan itu bergumam, "Meda, susah banget mendidik dan memberikan pengertian ke adik kamu. Bantu aku dari atas sana, ya, Meda. Bantu aku merukunkan keluarga kita"


Galaksi kemudian menutup pintu kamarnya dan melangkah menuju ke ruang kerjanya. Di sana dia menghubungi temannya yang memiliki bisnis pemasangan CCTV. "Besok jam sepuluh pagi, datanglah ke rumahku! Pasang CCTV di setiap sudut rumahku. Aku akan kirimkan sketsa gambarnya"


"Baik" Sahut temannya Galaksi.


Setelah selesai membahas soal CCTV, Galaksi kemudian bekerja. Hari ini dia memilih untuk bekerja di rumah. Membereskan semuanya karena lusa, dia akan pergi berdinas ke Thailand mengurus resortnya yang ada di Thailand.


Sementara itu, di kamarnya, Aurora tengah menerima telepon dari Kibar dan gadis itu langsung berkata, "Iya. Aku sekarang ada di rumahnya Galaksi Zayyan. Kalian ke sini saja dan akan aku jelaskan semuanya ke kalian nanti" Sahut Aurora di telepon genggamnya.


Beberapa jam kemudian, saat Aurora tengah asyik mengobrol dengan Awan, mbak Bun masuk ke dalam kamarnya Aurora yang pintunya masih terbuka lebar. Mbak Bun langsung berkata, "Non, Paman Non dan Kakak sepupunya Non, ada di ruang tamu"


"Ah! Iya. Makasih Mbak. Emm, tolong jaga Awan, ya, Mbak"


"Baik, Non"


Lima menit kemudian, Aurora duduk di depan paman dan kakak sepupunya dengan wajah cerah ceria.


"Kenapa kamu terus meringis kayak gitu? Buruan kasih tahu Paman! Kenapa kamu bisa berada di rumah ini? Padahal Paman dan Kibar mau ajak kamu kamu pindah ke rumah baru kita" Ucap pamannya Aurora.


"Iya. Itu benar" Sahut Kibar.

__ADS_1


"Rumah barunya Kak Kibar? Kak Kibar punya rumah di sini? Kak Kibar habis menang taruhan ya? Jangkrik Kakak yang namanya apa yang menang adu jangkrik kali ini, sampai bisa memenangkan sebuah rumah?"


Pletak! Sentilan jari dari pamannya Aurora mendarat cukup keras di keningnya Aurora.


"Aduh! Kok malah disentil? Sakit!" Aurora melotot ke pamannya.


"Salah sendiri ngawur!" Hernowo mendelik ke Aurora.


Kibar tertawa geli lalu berucap, "Kakak nggak menang adu jangkrik, Rora. Tapi, keluarga Kakak menemukan Kakak"l


"Dan keluarga Kakak sepupu kamu ini sangat kaya. Paman bahkan diberi hadiah rumah dan dihadiahi tanah juga dan dihadiahi banyak mobil. Keluarga Kak Kibar kamu bahkan lebih kaya dari keluarga Zayyan" Sahut Hernowo.


"Benarkah?" Aurora melotot kaget ke Kibar.


Kibar tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu pemuda berambut gondrong dan berwajah ganteng itu berkata, "Sekarang katakan kenapa kamu bisa ada di sini?"


Aurora menghela napas panjang dan bangkit berdiri untuk pindah tempat duduk karena dia takut kena jitak, sentilan, atau pukulan dari pamannya kalau pamannya kaget mengetahui kenyataan bahwa ia telah menjadi istri sahnya Galaksi Zayyan.


"Hei! Kenapa kamu pindah tempat duduk?" Hernowo mengerutkan keningnya.


"Cari aman, dong, hehehehe" Sahut Aurora sambil duduk di sebelahnya Kibar.


Kibar menoleh ke samping kiri dan bertanya, "Ada apa? Kesalahan besar apa yang sudah kau lakukan kali ini?"


Aurora langsung meringis lalu berkata, "Kalian jangan marah dulu! Tunggu sampai aku selesai ngomong! Aku janji akan ngomong dalam satu tarikan napas saja"


"Iya! Buruan ngomong! Lama amat!" Hernowo mendelik ke Aurora.


Aurora langung menarik napas lalu menyemburkan, "Aku sudah menikah resmi dengan Galaksi Zayyan demi menyelidiki kematian Kakak dan kematian Paman Herboyo juga Istrinya"


"Hah?!" Kibar dan Herbowo sontak melongo berjamaah.

__ADS_1


"Kau gila, ya?! Kenapa nggak bilang sama Paman dulu, hah?! Kenapa nggak minta restu sama Paman dulu?! Kau tahu kalau Paman tidak menyukai keluarga Zayyan, tapi kenapa kau, kau, kau ........sini kau! Paman akan jewer kuping kamu. Sini kau!" Hernowo berteriak dengan napas terngah-engah dan wajah merah padam penuh amarah.


"Ayah, sabar! Kita dengarkan dulu Rora!" Sahut Kibar sambil menepuk-nepuk paha ayah angkatnya.


__ADS_2