
Mawar bangun dari tidurnya dan langsung keluar dari dalam keluar untuk mencari putra tampannya sambil merapikan dress dan rambutnya.
Brak! Pintu ruang kerjanya Galaksi terbuka lebar dan Aurora melangkah masuk dengan langkah tegap dan wajah garang.
Galaksi yang tengah asyik melamun dan berpikir, terkejut dan refleks pria tampan itu bangkit berdiri, lalu berkata, "Kenapa kamu kasar banget bukan pintunya? Kenapa nggak ketuk pintu dulu?"
"Terlalu lama" Ucap Aurora sambil mengunyah gigitan terakhir sandwich yang ada di dalam mulutnya.
Galaksi menggelengkan kepala sambil mengambil segelas teh yang ada di atas mejanya, lalu ia mengitari meja dan menyodorkan segelas teh hangat itu ke Aurora, "Kunyah dengan benar dan minum ini! Kalau mengunyah sambil ngomong, nanti kamu tersedak"
Aurora menerima segala teh hangat itu dan langsung meminumnya sampai habis. Gelas yang sudah kosong, ia letakkan begitu saja di atas mejanya Galaksi, lalu ia mencekal pergelangan tangan galaksi sambil berkata, "Ayo ikut aku!"
Galaksi sontak mengerutkan keningnya, menahan tangannya, dan berkata, "Ke mana?"
"Kau akan tahu" Aurora berucap sembari menarik paksa Galaksi.
Pria tampan itu akhirnya mengalah dan membiarkan Aurora terus menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya.
Galaksi menunduk untuk melihat tangan Aurora yang masih menggenggam pergelangan tangannya padahal mereka sudah masuk ke dalam lift dan pintu lift sudah menutup sempurna.
Pria tampan itu kemudian tersenyum dan berkata di dalam hatinya, dia seperti takut kehilangan aku saat ini. Dia terus menggenggam pergelangan tanganku seperti ini. Ah! Kenapa dia tampak sangat menggemaskan saat ini. Meda bahkan belum pernah berinisiatif menggenggam pergelangan tanganku seperti ini. Selalu aku yang berinisiatif menggenggam tangan Meda atau pergelangan tangan Meda. Tanpa Galaksi sadari, ia terus mengulas senyum di wajah tampannya.
Ting! Pintu lift terbuka dan Aurora kembali menarik Galaksi dengan langkah lebar. Galaksi terus tersenyum lebar dan sambil terus menatap pergelangan tangannya yang ada di dalam genggaman tangan Aurora, pria tampan itu berjalan santai.
Ruang CCTV? Untuk apa dia mengajakku ke ruang CCTV? Batin Galaksi.
__ADS_1
"Tolong putarkan rekaman di tiga puluh lima menit yang lalu, di Selasar C lantai satu, Pak" Pinta Aurora ke petugas yang berjaga di ruang CCTV siang itu.
Petugas itu menoleh ke Galaksi sang pemilik hotel dan Galaksi mengangguk pelan ke petugas itu.
"Lihat! Kau lihat, kan? Bintang membuat perkara padaku terlebih dulu. Dia juga berkata kalau dia dulu memperlakukan Kak Meda seperti itu dan Kak Meda tidak berani melawannya. Aku sebenarnya berani, tapi aku ingin menunjukkan rekaman ini ke kamu, jadi aku terus menahan diri tadi"
Alih-alih memperhatikan layar monitor dan mendengarkan ocehannya Aurora, Galaksi justru terus menatap pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh Aurora.
Aurora menoleh ke Galaksi, "Kok diam saja? Ucapanku benar, kan, selama ini. Mama dan adik perempuan kamu menindas Kak Meda selama ini"
Galaksi yang masih syok dengan kebenaran yang ia dengar dan lihat dengan mata kepalanya sendiri kalau adiknya selalu menindas Meda, justru bertanya, "Kau yakin kalau kau tidak memprovokasi Bintang sebelumnya?"
Aurora langsung menghempaskan tangan Galaksi dengan kasar, lalu ia memutar badan ke samping untuk berdiri berhadapan dengan Galaksi. Kemudian, gadis cantik itu menggeram, "Kau sudah tahu kebenarannya dan kau masih meragukan aku?"
Galaksi mengangkat kedua bahunya dengan wajah datar
Galaksi yang masih mengangkat kaki kanan dan mengelus tukang keringnya yang berdenyut nyeri setelah ditendang oleh Aurora, hanya bisa menghela napas panjang sambil terus menatap laju larinya Aurora.
"Bos, kenapa nggak dikejar?" Tanya petugas i ruang CCTV itu.
Galaksi menoleh kesal ke petugas itu Dena berkata, "Kejar pakai apa? Kakiku sakit, nih. Kau lihat sendiri, kan, tadi. Dia menendang kakiku sangat keras"
"Iya, Bos, saya lihat tadi. Wanita cantik memang biasanya sangat galak dan kasar, Bos" Sahut petugas di ruang CCTV itu.
Galaksi kembali menghela napas panjang lalu berkata dengan wajah lesu, "Iya, kau benar. Wanita cantik memang seperti itu. Kecuali almarhum Istriku. Meda sangat cantik, tapi dia sama sekali tidak galak dan tidak pernah kasar sama aku"
__ADS_1
Aurora berpapasan dengan Rio dan gadis cantik itu langsung bertanya, "Apa kau tahu mobilnya Bintang biasanya diparkir di mana?"
"Kenapa kau tanya soal mobilnya Bintang diparkir di mana? Kenapa memangnya?" Rio sontak mengerutkan keningnya.
"Jawab atau mau aku tendang kaki kamu?!" Aurora mendelik ke Rio.
Rio masih menatap Aurora dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kalau nggak tahu, ya, sudah. Aku akan tanya sama satpam di basement parkir" Aurora kembali melangkah melintasi Rio dan Dia sontak mencekal pergelangan tangannya Aurora sambil berkata, "Eits! Tunggu Dulu!"
Aurora mendelik ke Rio dan menggeram, "Lepaskan tanganku!"
Rio langsung melepaskan pergelangan tangannya Aurora sambil berkata, "Kalau belum berubah, mobil sedan berwarna kuning dengan hiasan Hello Kitty di atas dashboard, diparkir oleh Bintang di lorong B lima dan........"
"Terima kasih" Aurora langung melesat berlari meninggalkan Rio sambil berteriak, "Terima kasih!"
Rio melongo melihat tingkahnya Aureoa dan pria tampan berprofesi chef itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, laku melangkah kembali menuju ke ruang kerjanya Galaksi.
Rio membuka pintu dan langung bertanya pada dirinya sendiri, "Lho, Gala, kok, nggak ada di ruangannya? Tidak biasanya dia keluar dari ruangannya. Ke mana dia?"
Aurora membawa kantong plastik berisi tepung ke lorong parkir D lima dan gadis cantik itu berdiri di depan mobil sedan berwarna merah. "Kok merah?" Gumam Aurora. "Rio pasti salah ingat. Ya! Maksud dia pasti sedan merah bukan kuning" Setelah bergumam, dengan tanpa ketahuan sedikit pu Aureoa langsung menumpahkan semua tepung di kap mobil yang ia yakini adalah mobilnya Bintang. Nggak hanya berhenti di situ, Aurora kemudian menggambar babi di atas kap mobil berwarna merah itu sambil kembali bergumam, Aku akan balas perbuatan kamu tadi, bintang. Kamu sudah mengotori rambutku tadi maka sekarang aku kotori mobil kesayangan kamu yang super mahal ini" Setelah selesai menggambar babi, Aurora melempari mobil sedan berwarna merah itu dengan telur busuk sambil berteriak, "Rasakan! Rasakan susahnya membersihkan mobil kesayangan kamu ini seperti tadi aku membersihkan rambutku, cih! Rasakan!"
Galaksi melangkah pelan mendekati Aurora dengan kerutan di kening dan pria tampan itu menghentikan langkahnya di samping Aureoa untuk bertanya, "Rora, apa yang kau lakukan? Kenapa aku lempari mobilku dengan telur dan kau tumpahkan tepung di kap mobilku?"
Rora sontak menoleh ke samping kanan dan terlonjak kaget saat ia melihat Galaksi berdiri di sampingnya dengan terus menatap mobil sedan merah yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Kenapa kau buat mobilku sekotor itu, Rora?" Galaksi menggeram tanpa menoleh ke Aurora.
Glek! Aurora sontak kesulitan menelan air liurnya sendiri dan membeku di tempat ia berdiri.