
"Kamu, biar diantar sama Mira ke rumah duka. Biar aku yang jaga Awan. Kasihan Paman menunggu sendirian terlalu lama di rumah duka. Sekalian belikan Paman nasi uduk dan es teh. Paman belum makan" Sahut Kibar sambil merengkuh Awan ke dalam dekapannya.
"Kakak yakin bisa?" Tanya Aurora
Mira semakin kagum melihat Kibar dengan luwesnya menggendong Awan dan rasa cintanya seketika semakin dalam. Namun, pengacara muda itu hanya bisa mencintai Kibar dalam diam.
"Bisa. Kasihan Awan kalau harus dibawa ke rumah duka. Banyak orang berdatangan dan kita tidak tahu kesehatan mereka. Awan bisa kenapa-kenapa nanti. Sudah cepat pergi ke rumah duka sana" Ucap Kibar sambil mendorong bahu Aurora.
"Iya" Aurora mendengus kesal.
"Jangan lupa beli nasi uduk dan es teh untuk Paman!" Teriak Kibar.
"Iya!" Pekik Aurora tanpa menoleh ke belakang.
"Kau jagoan yang kuat. Paman akan didik kamu menjadi pria kuat dan Paman akan ajarkan. semua jurus bela diri yang Kanan kuasai. Jadi cowok, tuh, harus kuat" Ucap Kibar sambil menimang-nimang tubuh mungilnya Awan.
Begitu sampai di rumah duka, Aurora langsung membagikan nasi uduk dan es teh untuk mbak Bun dan pamannya. "Makan dulu, Paman! Maaf kalau Aurora perginya terlalu lama. Rora tadi ke rumah sakit untuk menjemput anaknya Kak Meda"
"Lho, mana anaknya Meda dan mana Kibar? Paman pengen lihat cucu Paman. Pasti dia tampan seperti Paman"
"Anaknya Kak Meda lahir prematur. Dia tidak boleh dibawa ke tempat umum dulu. Jadi, Kak Kibar yang menjaganya di rumah" Sahut Aurora.
__ADS_1
"Oh! Oke, oke. Paman makan dulu, ya. Ayo mbak Bun kita makan"
"Mari, Pak" Sahut mbak Bun sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.
Setelah menyelesaikan makannya, mbak Bun menawarkan diri untuk menuang semua sampah di tempat sampah. dan saat ia berbalik badan setelah membuang sampah, mbak Bun tertegun di tempatnya berdiri. Dia melihat punggung dua pria yang sangat ia kenali. Yakni, punggung Galaksi Zayyan dan Herman.
"Kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Kau gadis Jepang yang telah menolongku waktu itu, kan?" Galaksi tertegun menatap wajah Aurora.
Pamannya Aurora langsung menarik Aurora ke belakang dan menutupi Aurora dengan badannya. Lalu, pamannya Aurora mendelik ke Galaksi, "Kau siapa? Berani benar kau memelototi keponakanku, hah?!"
"Anda siapa?" Galaksi bertanya dengan wajah kebingungan.
"Saya suaminya Meda, Paman. Selamat datang di sini. Maaf kalau saya tidak menyambut kedatangan Paman dengan layak" Galaksi meraih tangan pamannya Andromeda untuk ia cium punggung tangan itu, namun pamannya Andromeda dan Aurora langsung menarik kasar tangannya dari genggaman tangan Galaksi sambil berteriak, "Jangan sentuh aku! Ke mana saja kau?! Kenapa baru datang, hah?! Bahkan saat Istri kamu bertaruh nyawa melahirkan anak kamu, kamu tidak menemaninya. Astaga! Malang sekali Meda. Kenapa dia bisa menikah dengan pria tidak berguna ini, hah?!"
Galaksi langsung sujud bersimpuh di depan kaki pamannya Andromeda dan Aurora itu, lalu berkata, "Maafkan saya, Paman. Saya memang tidak berguna. Maafkan saya"
"Tuan bukannya tidak berguna, Pak. Tuan baru pulang dari perjalanan dinas" Sahut Herman. Sebagai asisten pribadinya Galaksi yang sangat setia, ia tidak terima tuannya dibentak-bentak dan dituduh tidak berguna.
"Kamu siapa, hah?! Papanya anak ini?" Pamannya Andromeda dan Aurora mendelik ke Herman.
"Dia asisten pribadi saya, Paman. Maafkan dia" Sahut Galaksi masih dengan bersimpuh dan menundukkan kepala..
__ADS_1
"Berdiri! Cepat berdiri! Karena kamu sudah datang, berarti prosesi kremasi sudah bisa dimulai"
Galaksi bangkit berdiri dengan bantuan Herman. Galaksi hampir saja terhuyung jatuh. Kesediaan yang begitu dalam dan terlalu banyak menangis membuat Galaksi merasa pusing dan tubuhnya lemas.
Galaksi lalu bertanya, "Apakah gadis yang aku jumpai tadi adalah Aurora? Adiknya Meda?"
Aurora langung muncul dari balik punggung pamannya dan menyahut, "Iya! Aku Arora adiknya Kak Meda. kenapa?"
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu adalah gadis yang menolongku waktu di Jepang. Aku nggak nyangka kita akan bertemu lagi seperti ini. Tapi, bagaimana pun juga aku ingin mengucapkan terima kasih untuk pertolonganmu di Jepang. Terima kasih sudah menolongku" Sahut Galaksi dengan wajah kusut dan suara lemas.
"Lupakan saja!"
Galaksi kemudian melangkah maju dan pamannya Andromeda langsung mencekal lengan Galaksi sambil menggeram, "Kau dilarang masuk ke dalam! Kau dan seluruh keluarga kamu, Om larang masuk ke dalam dan Om tidak akan biarkan kamu melihat jenazah Meda"
"Tapi, kenapa Om? Saya suaminya. Saya ingin melihat Istri saya untuk yang terakhir kalinya" Galaksi menatap pria yang mencekal lengannya dengan memohon.
"Karena kamu sudah meninggalkan Kak Meda sendirian. Lalu, mana Mama dan adik kamu? Padahal Mama kamu yang sudah membunuh Kak Meda. Tapi, mana dia sekarang?!" Aurora mendelik ke Galaksi.
"I.....itu tidak benar. Mama tidak mungkin membunuh Meda. Kata Mama, Meda masuk ke rumah sakit karena kecelakaan. Mamaku sayang sama Meda. Mamaku........" Galaksi terhuyung ke belakang dan Mawar langsung memeluk tubuh Galaksi sambil berkata, "Aku di sini sekarang. Kenapa kalian menindas Putraku, hah?! Berani benar kalian menindas Putraku!" Mawar melotot ke Aurora kemudian ke pamannya Aurora.
Aurora dan pamannya seketika mengepalkan. kedua tinju mereka secara serempak dan menghunus tatapan tajam mereka ke wanita yang berdiri angkuh di depan mereka.
__ADS_1