Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Banyak Kesamaan


__ADS_3

Di dalam perjalanan pulang, Galaksi tiba-tiba berkata, "Kamu suka pria yang seperti apa?"


Aurora menoleh kaget ke Galaksi. Lalu, gadis itu tersenyum dan berkata, "Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?"


Galaksi menoleh sekilas ke Aurora dan berkata, "Aku serius nanya dan benar aku bertanya-tanya soal ini sejak kamu meminta aku menikahi kamu"


"Kasih tahu nggak, ya?" Aurora mengulum bibir menahan geli.


"Please jawab, dong"


"Kamu sudah tahu. Kenapa harus aku jawab?"


"Mana bisa aku tahu kalau kamu tidak kasih tahu ke aku, Rora" Galaksi kembali menoleh sekilas ke Aurora.


"Kita sudah berciuman. Masak kamu masih nanya pria yang aku sukai itu seperti apa?" Aurora bergumam lirih sambil menunduk dan melihat ujung baju yang ia pakai di hari itu.


Ckiiiitttt! Galaksi sontak mengarahkan mobil ke pinggir jalan dan mengeremnya secara dadakan.


Aurora menoleh kaget ke Galaksi dan sontak menyemburkan, "Ada apa? Ban kempes, ya? Kok, ngerem dadakan?"


Klik! Galaksi membuka sabuk pengamannya dan mencondongkan tubuhnya ke Aurora untuk bertanya, "Berarti kamu juga menyukaiku?"


"A.....apa? Kapan aku bilang kalau aku menyukaimu?" Wajah Aurora sontak memerah malu.


"Aku dengar gumaman kamu. Nggak usah membohongi diri kamu sendiri lagi, Rora. Aku lihat wajah kamu merona malu, tuh" Sahut Galaksi dengan senyum bahagia.


Aurora sontak mengalihkan pandangannya ke jendela.mobil dan tersenyum malu-malu di depan kaca jendela.


Galaksi lalu memeluk Aurora dari arah belakang, mendaratkan ciuman di rambut Aurora dan berkata, "Aku akan membuatmu bahagia. Aku akan sering mengajakmu berkencan kalau kamu suka. Aku akan belajar lebih mengenal kamu dan belajar mencintai kamu"


Aurora tersenyum bahagia dan berkata, "Aku juga akan belajar mengenal kamu, Kak"


"Benarkah? Kau mau mengenal aku?" Galaksi melepaskan pelukannya.


Aurora menoleh ke Galaksi dan berkata, "Iya. Tapi, lajukan kembali mobilnya! Ini sudah larut malam dan kita harus segera pulang ke rumah"


"Ah! Iya, kamu benar" Galaksi kembali memasang sabuk pengamannya dan melajukan kembali mobilnya.


Aurora kembali menatap ke arah depan dan gadis itu kembali menoleh kaget ke Galaksi saat Galaksi berkata, "Aku orangnya nggak suka ribut dan lebih suka damai"

__ADS_1


"Maksudnya apa? Kenapa Kakak tiba-tiba ngomong begitu?"


Galaksi menoleh sekilas ke Aurora dan berkata, "Katanya pengen mengenaliku lebih dalam"


"Oooooo. Iya, hehehehe. Lalu, apalagi?" Tanya Aurora dengan senyum lebar.


"Aku pekerja keras dan penyayang Itu kata orang-orang yang ada di sekitarku. Kalau menurut kamu gimana?" Tanya Galaksi sambil melirik Aurora.


"Iya. Kakak pekerja keras, penyayang, berhati baik dan lembut. Tapi, naif dan sering nggak sadar kalau Kakak dimanfaatkan orang"


"Kalau kamu yang memanfaatkan aku, aku tidak keberatan. Manfaatkan aku sebanyak yang kamu mau dan aku tidak akan protes"


Aurora langsung menepuk bahu Galaksi dan berkata dengan senyum malu, "Apaan, sih"


Galaksi sontak terkekeh geli dan berkata, "Tapi, kalau kamu mau manfaatkan aku bawa kotak sepatu berisi snack dan minuman ke dalam bioskop, aku nggak mau"


Aurora sontak menggemakan tawa dan berkata di sela tawanya, "Iya. Aku juga malu jalan sama cowok yang bawa kotak sepatu, tapi isinya snack, hahahahaha"


Galaksi sontak menggemakan tawanya.


"Lalu, apa kesukaan Kakak?" Tanya Aurora setelah reda tawanya.


"Aku juga suka membaca" Sahut Aurora.


"Aku suka film action"


"Sama" Pekik Aurora dengan mata membulat senang.


Galaksi menoleh sekilas ke Aurora dan tersenyum lebar, kemudian pria tampan itu kembali berkata, "Aku suka makanan gurih dan asam daripada manis"


"Sama lagi, Kak! Wah, ternyata kita memiliki banyak kesamaan, ya Kak. Kalau Kak Meda, kan, suka makanan manis"


"Iya, Meda suka yang manis dan aku lebih memilih mengikuti selera Meda selama ini" Sahut Galaksi. "Dan dengan kamu, aku bisa mengikuti seleraku karena selera aku dan kamu sama"


"Hu um" Sahut Aurora dengan senyum bahagia.


"Apa Kakak suka main catur?" Tanya Aurora.


Galaksi menoleh sekilas ke Aurora dan bertanya dengan ekspresi kaget, "Aku suka banget main catur. Lalu, kamu juga suka main catur?"

__ADS_1


"Suka banget. Kapan-kapan kita main catur, ya, Kak?"


"Siap delapan enam Nyonya Galaksi Zayyan"


"Siap Nyonya Galaksi Zayyan?" Aurora bertanya dengan ekspresi kaget.


Galaksi sontak terkekeh geli dan kemudian berkata, "Kamu, dong. Kamu itu Nyonya Galaksi Zayyan. Kita, kan, sudah menikah"


"Ah, iya, hehehehe. Maaf lupa, hehehehe"


Galaksi mengusap lembut pucuk kepala Aurora dengan senyum geli.


Walaupun pernikahan kita hanya untuk sementara, aku tetaplah Nyunya Galaksi Zayyan. Batin Aurora.


Seketika Aurora teringat akan kakaknya dan refleks bergumam di dalam hatinya, apa Kakak rela kalau aku ini Nyonya Galaksi Zayyan sekarang ini? Aku saja bisa cemburu sama Kakak. Apa Kakak juga tengah cemburu sama aku? Aku akan ke tempat abunya Kakak besok untuk mengobrol dengan Kakak dan minta maaf sama Kak Meda karena aku sudah lancang menyukai suaminya Kak Meda.


Karena Galaksi dan Aurora memiliki banyak kesamaan, obrolan merek berdua menjadi panjang dan sangat mengasyikan bagi berdua hingga tanpa terasa, mobil Galaksi telah sampai di depan paviliun A, paviliun yang ditempati oleh Galaksi. Aurora, Awan, dan Mbak Bun.


Galaksi dan Aurora masuk ke dalam paviliun dengan. masih melanjutkan obrolan mereka mengenai buku cerita detektif yang pernah Galaksi dan Aurora baca.


Hingga tanpa mereka berdua sadari, Galaksi mengantarkan Aurora sampai di depan pintu kamar gadis itu.


Aurora tersenyum di depan Galaksi dan berkata, "Terima kasih untuk semuanya, Kak. Selamat malam dan selamat beristirahat" Gadis itu kemudian membuka pintu kamar dan di saat gadis itu hendak melangkah masuk ke dalam, Galaksi cepat-cepat berkata, "Tunggu!"


Aurora berbalik badan dan dengan masih memegang handle pintu, ia bertanya, "Ada apa?"


Galaksi yang masih merasa enggan berpisah dengan Aurora mencoba mengulur waktu dengan berkata, "Emm, itu, emm, anu, itu....." Di saat ia masih belum menemukan alasan yang tepat.


"Apa emm, emm, itu, itu? Mas mau melihat Awan?"


"Ah, iya! itu" Galaksi sontak membeliak senang.


"Masuklah, Kak! Awan biasanya jam segini bangun. Aku mau cuci tangan dulu dan membuatkan susu. Biar Mbak Bun bisa istirahat" Sahut Aurora sambil membuka lebar-lebar pintu kamar.


Saat sudah sampai di dalam kamar, Aurora berkata ke mbak Bun, "Mbak, makasih udah menjaga Awan. Mbak bisa ke kamar Mbak dan istirahat"


"Baik Non. Saya permisi, Tuan"


"Iya, Mbak. Makasih" Sahut Galaksi.

__ADS_1


Setelah mbak Bun keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan, Galaksi melangkah ke box bayi, menunduk untuk menggendong Awan yang tiba-tiba membuka mara. Pria tampan itu kemudian duduk di tepi ranjang dan sambil terus menatap wajah tampan putranya ia bergumam lirih, "Papa suka sama cewek lagi, Sayang. Restui hubungan Papa dan Tante kamu, ya"


__ADS_2