Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Menikah


__ADS_3

Aurora menunggu malam tiba dan suasana benar-benar hening barulah ia keluar dari dalam kamar untuk mencuci semua piring dan gelas.


Aurora yang suka adu jangkrik, tapi takut sama kecoa, tiba-tiba berteriak, "Aaaaaaaa!!!!!" Saat ia melihat ada kecoa di dalam wastafel.


Galaksi langsung menaruh dua bantal di sisi kanan dan kiri putra mungilnya, lalu ia berlari keluar kamar.


Aurora berlari kencang dari dalam dapur dan wajahnya langsung menubruk sesuatu yang lembab dan kenyal. Gadis itu refleks meraba sesuatu yang lembab dan kenyal itu dan saat ia mengangkat wajahnya, ia spontan melompat mundur sambil memejamkan mata dan berdetak, "Kyyaaaaaa!!!!! Kenapa kau muncul di sini tanpa memakai kaos?! Dasar mesum!!!!!"


"Sejak kapan tidak memakai kaos itu adalah sesuatu hal yang mesum?" Galaksi bertanya dengan wajah dan nada bicara sangat santai.


Aurora mengabaikan ucapannya Galaksi dan gadis itu langsung berlari ke belakang punggung Galaksi lalu berkata dengan nada ketakutan, "Ada kecoa di wastafel. Tolong usir kecoa itu. Aku takut"


Galaksi menoleh ke belakang, "Jagoan kayak kamu ternyata takut sama kecoa?"


"Diam kamu! Kalau nggak mau usir kecoanya maka cuci piring dan gelasku!" Teriak Aurora kesal.


Galaksi menghela napas panjang, lalu berkata, "Masuklah ke kamar sana! Biar aku yang ngusir kecoa dan mencuci perabot makan kamu"


"Terima kasih! Aku akan membalas budi baik kamu dengan benar besok. Bye!!!!!" Aurora langung berbalik badan dan berlari masuk ke dalam kamarnya


Galaksi terkekeh geli melihat tingkah Aurora dan dengan seringai penuh arti, pria tampan itu bergumam, "Aku akan menagihnya besok. Balas budi dari kamu, akan langsung aku tagih besok"


Keesokan harinya, Galaksi, Mbak, Bun, Herman, dan Aurora yang menggendong Awan, pergi ke kantor pencatatan sipil.


Beberapa jam setelah itu, paman dan Kibar saling pandang dan saling bertanya, "Mana Rora? Kenapa pintu rumah ini kosong?"


"Coba telpon dia"Hernowo langsung menepuk bahu Kibar.


"Iya. Ini aku mau nelpon Rora, Yah!" Kibar menoleh kesal ke ayahnya sambil mengelus bahunya.


Lima menit kemudian, Kibar memasukkan ponselnya ke dalam saku celana sambil berkata, "Ponsel Rora nggak aktif. Mbak Bun juga nggak ngangkat telepon"


"Oke. Kita tutup lagi rumah ini dan kembali ke rumah baru kita aja. Nanti kita coba telpon Rora lagi" Sahut Hernowo.


"Siap" Sahut Hernowo.


Saat kedua pria tampan itu berbalik badan, mereka langsung berhadapan dengan Mawar dan Bintang.


"Mau apa kalian kemari, hah?!" Hernowo langsung melangkah maju dengan wajah merah padam penuh amarah.


"Kalian tidak kerja, ya?! Pagi begini, kok, masih berkeliaran di luar, cih! Pria dewasa yang malas itu menjijikan, cih!" Mawar menyeringai mengejek.


"Kalau kau bukan wanita sudah aku pukul wajah Iblis kamu itu! Kamu juga wanita menjijikkan karena jam segini masih berkeliaran di luar dan muncul di sini. Mau ngapain, hah?!" Hernowo mengepalkan kedua tangannya dan melompat-lompat kesal di depan Mawar.


"Kalau kau berani memukul Mamaku, aku akan telpon polisi" Bintang memekik kesal ke Hernowo.

__ADS_1


"Diam kamu anak kurang ajar!" Hernowo menunjukkan jari telunjuk di depan mukanya Bintang dan Bintang langsung menepis kasar jari telunjuknya Hernowo dengan menggeram kesal.


"Jangan membentak anakku! Berani benar kamu membentak anakku!" Mawar melotot ke Hernowo.


"Jawab aku! Kalian mau apa datang ke sini, hah?!"


Mawar hanya menyeringai dan diam membisu.


Hernowo maju ke depan selangkah dan Kibar langsung berkata, "Ayah, biarkan saja mereka! Ayo kita pergi!" Kibar lalu menggandeng lengan Hernowo dan menarik lengan ayahnya ke tempat di mana mobil mereka diparkirkan dengan sangat manis.


Bintang langsung memekik, "Lha, kalian nyuri darimana mobil sport mewah itu, hah?! Kenapa kalian bisa naik mobil semewah itu, hah?! Dasar pencuri menjijikkan, cih!"


Hernowo meradang dan hendak keluar dari dalam mobil. Kibar langsung menahan lengan ayahnya sambil mulai melajukan mobil dan berkata, "Jangan ladeni mereka, Ayah! Kita bisa ikutan gila dan bodoh kalau meladeni mereka"


"Mereka pasti mau mencelakai Rora, aku udah foto mereka dan akan aku kasih lihat foto ini ke Rora dan Galaksi. Untung saja Rora tidak ada di rumah" Sahut Hernowo.


Sang fotografer berteriak sambil terus menatap lensa kameranya, "Kenapa duduknya berjauhan kayak gitu?! Kalian Suami Istri harus duduk berdekatan dan tersenyum penuh cinta"


Galaksi sontak menggeser pantatnya mendekati Aurora dan Aurora sontak menggeser pantatnya menjauhi Galaksi dan sambil menunjukkan jari telunjuk di depan mukanya Galaksi, ia menggeram, "Jangan dekati aku!"


Galaksi refleks mengerem pantatnya.


Sang fotografer kembali berteriak, "Buruan mendekat! Masih banyak antrean di luar!"


Melihat tingkah Aurora dan mendengar kalimatnya Aurora, Sang fotografer sontak menarik wajahnya dari lensa kamera dan menatap Aurora dengan menautkan kedua alisnya sementara Herman menepuk kesal jidatnya sendiri.


"Kalian sudah menikah, kan? Tinggal difoto, kok, tiba-tiba Anda bilang tidak menyukai Suami Anda? Lalu, kenapa Anda menikah kalau begitu? Aneh!" Sang fotografer semakin menautkan kedua alisnya.


Tuh, kena sama omongan Anda sendiri, kan, Nona. Nggak bisa jawab, kan, Anda. Batin Herman sambil menghunus tatapan kesal ke Aurora.


Aurora terpaksa menggeser pelan-pelan pantatnya mendekati Galaksi, lalu ia berteriak kesal ke fotografer, "Segini aman, kan?"


Galaksi terus menatap ke depan dengan mengulum bibir menahan geli. Pria tampan itu tidak berani menoleh ke Aurora karena ia tidak ingin membuat adik iparnya itu marah-marah dan kesal lagi.


"Kurang dekat lagi. Bahu kalian harus menempel" Teriak Sang fotografer dari tempat ia berdiri sambil menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya sebagai kode agar Aurora kembali bergeser ke kanan dan menempelkan bahu Aurora ke Galaksi.


Setelah merasakan bahunya menempel di bahu Galaksi, Aurora langsung berteriak ke fotografer itu, "Sudah! Buruan jepret!"


Galaksi menghela napas panjang.


"Oke! Senyumnya mana?!" Teriak Sang fotografer.


Galaksi dan Aurora langsung mengulas senyum mereka.


Fotografer itu tersenyum kemudian berteriak, "Satu.........dua.......tiga........yes! Sudah selesai. Terima kasih atas kerja samanya"

__ADS_1


Aurora langsung bangkit berdiri meninggalkan Galaksi begitu saja. Galaksi menyusul Aurora dengan langkah santai dan mengulum bibir menahan geli.


Aurora duduk di pojokan dan langsung merengkuh Awan yang digendong oleh mbak Bun.


Galaksi mendekati Aurora dan saat pria itu ingin duduk di dekat Aurora, gadis itu langsung mendelik, "Duduk sana! Jangan dekat-dekat sama aku!"


"Aku nggak ingin dekat-dekat sama kamu. Aku hanya ingin melihat anakku. Mana biar aku yang gendong Awan"


"Nggak! Aku masih ingin menggendongnya. Sana duduk di sana! Kalau kamu masih berdiri di depanku, aku akan tendang kaki kamu!" Aurora mulai menggeram kesal.


Galaksi menghela napas panjang dan berbalik badan untuk duduk di bangku yang ada di depannya Aurora. Saat ia menoleh ke belakang ingin melihat Awan, Aurora mendekap Awan dan kembali menggeram, "Lihat ke depan! Kalau noleh ke belakang aku akan........."


"iya, baiklah. Aku akan melihat ke depan" Sahut Galaksi kembali mengalah demi almarhum Istrinya. Dia bertekad akan menjaga dan melindungi Aurora karena gadis itu, adalah adik perempuan kesayangannya Andromeda.


Aku akan terus bersabar menghadapi sikap kekanak-kanakan kamu, Rora. Aku juga akan bersabar menghadapi kemarahan kamu pada keluargaku. Aku akan tunjukkan ke kamu dengan perlahan kalau keluargaku tidak seperti yang kamu tuduhkan. Batin Galaksi.


Setelah menerima buku nikah. Galaksi langsung berkata ke mbak Bun dan Herman, Kalian tunggu dulu di mobil. Ada yang ingin aku bicarakan berdua dengan Aurora"


Mbak Bun langsung merengkuh Awan ke dal pelukannya dan mengikuti langkah Herman menuju ke mobil.


"Ada apa?" Tanya Aurora.


"Aku akan menagih balas budi kamu sekarang" Galaksi menyeringai penuh arti.


"Balas budi apa?" Aurora sontak mengerutkan keningnya.


"Semalam aku udah usir kecoa dan mencuci piring. Katanya kamu akan balas budi dengan benar. Sekarang aku akan menagihnya" Galaksi menatap Aurora dengan wajah serius.


"Oke! Aku ingat soal itu sekarang. Oke! Kamu mau minta apa akan aku kabulkan" Aurora berkata sambil mencubit pucuk hidungnya sendiri.


"Aku cuma pengen kamu memanggilku Kakak mulai detik ini. Lagipula aku ini Suami kamu, masak kamu akan terus memanggilku, kau, kau dan hei, hei! Lalu, cium punggung tanganku mulai detik ini sampai seterusnya"


"Kau! Melakukan satu perbuatan baik saja, kok, mintanya banyak banget?"


"Satu? Aku lakukan dua kebaikan semalam dan saat ini aku minta dua hal ke kamu, impas, kan?"


"Tapi, permintaan kamu harus dilakukan seterusnya" Aurora mulai meninggikan nada suara dan mendelik ke Galaksi.


"Aku juga bersedia mengisi kecoa dan mencuci piring untuk seterusnya" Sahut Galaksi dengan wajah sangat serius.


Aurora meraup wajahnya dengan sangat kesal. Lalu, dengan ogah-ogahan, ia mencium punggung tangan Galaksi sambil berkata, "Sudah, Kak. Sudah puas sekarang, Kak?"


Galaksi menatap serius wajah Aurora dan menyahut singkat, "Hmm" Padahal di dalam hati dia tersenyum penuh antusias. Galaksi bahkan ingin melompat kegirangan saat ini, namun pria tampan itu berhasil menahan diri dan bersikap tenang seperti biasanya.


Aku sudah berhasil membuat kamu menyerah kali ini. Maka selanjutnya aku pun akan berhasil membuat kamu menyerah. Aku akan melindungi kamu dan mendidik kamu dengan benar karena kamu adalah adik kesayangannya Meda, Batin Galaksi.

__ADS_1


__ADS_2