Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Tanda Setuju


__ADS_3

Galaksi terbangun di jam empat pagi dan saat pria tampan itu hendak bangun untuk membuat susu, ia melihat Aurora tengah memberikan dot susu ke Awan dengan memangku bayi kecil nan tampan itu.


"Maaf Kakak capek banget dan telat bangun"


"Nggak papa, Kak. Kakak udah kasih Awan susu, kan, semalam" Sahut Aurora dengan senyum manisnya.


"Kok kamu bisa tahu?"


"Tuh, ada botol susu kosong. Jam berapa Awan bangun semalam? Jam dua, ya?"


Galaksi menganggukkan kepala, tersenyum, dan berkata, "Iya. Kamu hapal banget jam Awan bangun dan minta susu"


"Hapal, dong. Awan, kan, anakku"


Deg! Mendengar kata yang diucapkan oleh Aurora, membuat jantung Galaksi mendadak berdegup kencang dan pria itu tertegun menatap wajah cantik istri kecilnya itu.


Melihat Galaksi mematung dan menatapnya dengan sorot mata aneh, Aurora langsung berkata, "Ah! Maafkan aku, Kak. Awan adalah anak Kak Meda dan Kakak. Tapi, aku sudah menganggap Awan seperti anakku sendiri. Aku bahkan rela berkorban demi Awan"


"Terima kasih banyak kamu sudah bersedia mengorbankan banyak hal demi Awan" Galaksi tersenyum penuh rasa terima kasih yang sangat tulus.


"Sama-sama, Kak. Lagian nggak perlu berterima kasih. Aku melakukannya dengan senang hati, kok"


Galaksi membalas senyumannya Aurora dan langsung mengambil botol yang telah kosong dari tangan Aurora sambil berkata, "Aku akan mencuci dan mensterilkan semua botol yang sudah terpakai"


"Kalau begitu, aku akan memandikan Awan dan setelah itu, apa aku boleh mengajak Awan ke tempat peristirahatan terakhirnya Kak Meda?"


Galaksi menoleh kaget dan berkata, "Boleh. Aku akan antarkan kalian. Aku juga ingin mengunjungi Meda"


"Tapi, kau tidak kerja?"


"Aku pemilik hotel, kan, jadi masuknya bisa suka-suka aku dan kamu? Rio akan nyari asistennya nanti kalau kamu nggak masuk kerja*


"Aku Istri Bos, kan, jadi bisa masuk suka-suka aku juga, kan" Aurora meringis dan Galaksi sontak tertawa lepas dan berkata, "Oke, aku akan bilang ke Rio nanti kalau Istri Bos akan masuk suka-suka"

__ADS_1


Aurora tertawa lepas dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk memandikan Awan.


Saat Aurora keluar dari kama mandi untuk mendandani Awan, Galaksi langsung merengkuh Awan ke dalam pelukannya dan berkata, "Kamu mandi gih! Baju kamu basah, tuh"


Aurora menahan Awan sambil berkata, "Aku nggak papa. Udah biasa basah gini juga kalau habis mandiin Awan. Minggir!" Aurora mendorong bahu Galaksi dengan bahunya lalu ia berjalan melintas Galaksi dengan santainya.


Aurora lalu merebahkan Awan di atas kasur dengan perlahan dan Grab! Ia sontak menegakkan badannya saat Galaksi memeluk dirinya dari arah belakang dan berisik, "Kau yakin mau memperlihatkan semua itu ke aku? Baju dalam kamu sama sekali jelek untuk dilihat dan........."


Aurora langsung berbalik badan, mendorong keras dada Galaksi dan langsung berlari masuk ke kamar mandi sambil berteriak, "Aaaaaaa!!!!! Dasar mesum!!!!!!"


Galaksi berjongkok di depan kasur dengan tawa.lepas, "Buahahahaha" Lalu, pria itu berkata ke putra tampannya yang tengah menatapnya dengan sorot mata jernih, "Hei! Anak Papa yang tampan? Maaf kalau Papa ketawa keras dan bikin kamu kaget, ya. Soalnya Mama baru kamu itu lucu banget orangnya. Nah, sekarang Papa akan dandani kamu anak Papa yang cakep. Oke, siap, ya, Papa juga baru belajar nih dandani kamu, Sayang" Galaksi lalu menciumi wajah tampan putranya dengan gemas dan penuh cinta kasih.


Setelah selesai mendadani Awan, Galaksi menggendong putranya untuk ia rebahkan ke dalam box bayi. Kemudian pria tampan itu menyiapkan tas bayi untuk ia isi keperluannya Awan seperti, botol susu, tumbler berisi air panas, tumbler berisi air dingin, dan baju ganti serta handuk kecil.


Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar mandi, "Kak! Aku lupa bawa baju ganti! Kakak bisa tolong ambilkan?!"


"Sebentar!" Sahut Galaksi.


Tok, tok, tok! Galaksi mengetuk pintu kamar mandi sembari berteriak, "Buka pintunya! Aku sudah bawa satu set baju ganti lengkap untuk kamu"


Ceklek! Aurora keluar dengan jubah mandi dan dalam kondisi rambut basah.


Galaksi berdiri membeku di depan Aurora dengan bola mata bergerak pelan memindai gadis itu mulai dari pucuk kepala gadis itu sampai ke pinggang istri kecilnya itu.


Glek! Galaksi seketika kesulitan menelan air liurnya sendiri saya ia melihat pemandangan menggoda di depan matanya. Lalu, pria tampan itu bergegas menempelkan satu set baju ganti ke tangan Aurora dan gadis itu refleks mendekap satu set baju ganti itu dengan tatapan heran. Saat kedua bola matanya bersitatap dengan kedua bola mata lentiknya Aurora, pria tampan itu berbalik badan dengan cepat, lalu berlari pergi meninggalkan Aurora yang terbengong-bengong.


"Kenapa dia seperti ketakutan melihatku?" Gumam Aurora sembari membawa masuk satu baju ganti yang masih ia dekap ke dalam kamar mandi.


Galaksi sampai di kamarnya dan langsung bersandar di pintu sembari mengelus-elus dadanya dan bergumam, "Sial! Dia memiliki lekuk tubuh yang sangat indah dan terlihat sangat cantik dengan rambut basahnya. Sial! Kenapa tiba-tiba aku merasa kepanasan seperti ini?"


Akhirnya Galaksi berlari ke kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin setelah ia bermain solo. Dan pria tampan itu bermain solo dengan membayangkan Aurora bukannya Andromeda.


Untuk sejenak, Galaksi termenung di depan kaca setelah ia selesai memakai semua bajunya. Kemudian pria tampan itu bergumam sambil merapikan dasinya, "Kenapa aku tadi membayangkan Rora bukannya Meda. Tapi, wajar, kan, kalau aku membayangkan Rora? Dia Istriku sekarang ini"

__ADS_1


Kemudian Galaksi kembali masuk ke kamarnya Aurora dan saat ia menemukan Aurora tengah memangku Awan, pria tampan itu langsung mengambil tas yang sudah ia siapkan, ia cangklong tas itu dan berkata, "Ayo kita berangkat sekarang saja! Kita sarapan di jalan. Mbak Bun sudah siap di depan"


"Hmm" Sahut Aurora sambil bangkit berdiri dan mendekap tubuh mungilnya Awan.


Di dalam mobil, Aurora berucap, "Kakak pinter juga mendandani Awan. Awan keren banget hari ini"


"Makasih" Sahut Galaksi sambil menoleh sekilas ke Aurora untuk memberikan senyum tampannya.


Mbak Bun menyahut dari jok belakang, "Iya! Tuan muda Awan cakep banget hari ini. Ternyata yang mendadani Papanya sendiri, to"


"Makasih Mbak Bun" Sahut Galaksi sambil terus fokus menyetir dan menatap ke depan.


Sementara itu Mawar dan Bintang yang masuk ke dalam paviliunnya Galaksi, saling pandang karena mereka menemukan paviliunnya Galaksi tampak sepi. Mawar kemudian bertanya ke pelayan yang bertugas membersihkan paviliunnya Galaksi, "Kok, sepi? Masih pada tidur, ya? Apa mereka nggak pergi kerja hari ini?"


"Maaf, Nyonya besar. Tuan muda, Nyonya muda, Tuan muda, dan Mbak Bun pergi keluar pagi tadi" Sahut pelayan itu.


"Ke mana mereka pergi?" Tanya Mawar kemudian.


"Maafkan saya, Nyonya besar. Saya tidak tahu" Sahut pelayan itu.


Mawar dan Bintang saling pandang lagi dan Bintang langsung berbalik badan sambil berkata, "Zonk lagi, Ma! Nanti malam aja kita eksekusi rencana kita"


Sesampainya di rumah peristirahatan terakhirnya Andromeda, Aurora meletakkan bunga mawar putih kesukaannya Andromeda di samping wadah abunya Andromeda. Kemudian ia berkata di dalam hatinya, "Kak, maafkan aku kalau aku mengambil tindakan mendadak menikahi Kakak ipar. Aku menikahi Kakak ipar karena terpaksa. Karena itu satu-satunya cara agar aku bisa masuk ke rumah keluarga Zayyan untuk membalas dendam. Namun, Kak, maafkan aku juga kalau pada akhirnya aku baper dan menyukai Kakak ipar. Apa Kakak menyetujui kalau aku suka sama kakak ipar?"


Sementara itu, Galaksi meletakkan kuncup bunga Queen of night atau lebih dikenal dengan sebutan bunga Wijaya Kusuma di samping wadah abunya Andromeda karena ia tahu kalau Andromeda menyukai bunga Wijaya Kusuma kala bunga itu mekar di malam hari. Kemudian pria tampan itu bergumam lirih, "Aku bawakan bunga Wijaya Kusuma untuk teman kamu di malam hari" Lalu, Galaksi berkata di dalam hatinya, "Meda maafkan aku kalau aku menyukai Rora. Kamu tetap menjadi cinta di hatiku. Namun, hatiku saat ini menyukai Rora. Apakah kamu setuju, Meda? Berikan satu petunjuk kalau kamu setuju aku menyukai Rora dan aku akan belajar mencintai Rora. Aku sudah menikahi Rora dan nggak akan menceritakannya. Apa kamu setuju dengan keputusanku ini, Meda? Tolong berikan petunjuk"


Tiba-tiba kuncup bunga Wijaya Kusuma mekar dengan perlahan dan menimbulkan keharuman yang sangat luar biasa.


Tubuh pria tampan itu mendadak merinding saat ia melihat bunga Wijaya Kusuma yang biasanya hanya mekar di kala hari, bisa mekar di pagi hari dan menimbulkan wangi yang sangat kuat biasa.


Aurora juga merasakan hal yang sama. Sekujur tubuh gadis itu juga merinding.


Galaksi lalu menoleh ke Aurora dan ia langsung bersitatap dengan Aurora. Kemudian, pria tampan itu menitikkan air mata haru dan berkata, "Meda menyetujui hubungan kita. Dia sudah memberikan tanda untuk kita, Rora"

__ADS_1


__ADS_2