Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Gerah


__ADS_3

Kibar langsung pamit keluar untuk membeli boneka panda dan cokelat almond kesukaannya Aurora untuk dia kasih ke Aurora besok sekalian ia akan menembak Aurora.


"Aku yakin kalau Rora akan menerima cintaku" Ucap Kibar yakin.


Galaksi memberikan bukan sekadar kecupan. Entah apa yang merasuki pria tampan itu sehingga ia nekat mencium Aurora dengan melibatkan lidah dan mulut terbuka. Pria tampan itu memulainya dengan ujung lidah. Ketika sudah berhubungan dengan lidah, ia kemudian mengajak lidah Aurora berdansa dengan irama Tango yang lincah dan menghentak.


Aurora yang belum pernah merasakan ciuman yang seperti itu, seketika merasa jantungnya terus berdegup kencang meliar yang membuat ia sesak napas, ia pun melemas sehingga tanpa ia sadari ia berjinjit dan menggelungkan kedua lengannya di leher kokoh suaminya untuk mencari pegangan agar dia tidak jatuh, dan kepalanya pun tiba-tiba terasa pening.


Kemudian, di saat Galaksi menemukan dan merasakan Aurora mau mengimbangi permainan ciumannya dengan ritme alami, pria tampan itu semakin lupa diri, tidak kuasa menahan diri, dan menggila.


Kedua tangan Gakaksi mulai bergerak secara alami. Tangan kanan menangkup rahang istri mungilnya dengan lembut dan tangan kiri merangkul pinggang sembari menariknya sehingga tubuh ramping Aurora menempel lekat di tubuhnya.


Galaksi mendorong pelan Aurora untuk berbisik di telinga gadis itu dengan suara serak menahan gairah dan napas terngah-engah, "Pernapasan kamu luar biasa"


Aurora menjawab dengan napas yang terengah-engah, "Itu karena aku sangat pandai berenang. Aku pernah memenangkan lomba berenang tingkat kota waktu aku masih SMP"


Di saat Galaksi hendak mencium kembali bibir Aurora, gadis itu langsung menutup mulut Galaksi dengan telapak tangannya dan mendorongnya sambil berkata, "Mata-mata itu sudah nggak ada. Kita sudah aman dan tidak perlu bersandiwara lagi"


Galaksi diam mematung di tempat ia berdiri dan menatap Aurora dengan bergumam di dalam hatinya, aku rasa aku mencium kamu barusan dengan bersungguh-sungguh dan bukan sandiwara. Gila! Kenapa aku bisa mencium kamu sehebat itu, Rora. Aku hampir saja membopong kamu ke kamarku tadi. Ke......ke.....kenapa?


Aurora kemudian menarik tangannya dari mulut Galaksi dan langsung berkata, "Mana hair dryer-nya?" Aurora berkata dengan wajah dingin dan datar.


"Ah, iya!" Galaksi mengelus tengkuknya untuk mengusir rasa canggungnya. Lalu, pria tampan itu bergegas melangkah melintasi Aurora dan langsung masuk ke kamarnya.


Melihat Galaksi sudah masuk ke dalam kamar, Aurora langsung melesat kabur ke kamarnya. Aurora langsung melompat ke ranjang dan menyusupkan wajahnya yang memerah malu ke bantal.


Mbak Bun terkejut melihat Aurora dan langsung bertanya, "Ada apa, Non?"


Aurora yang masih menyembunyikan wajahnya di atas bantal langsung menggelengkan kepalanya.


Mbak Bun kemudian berkata, "Karena Non sudah balik, Mbak Bun kembali ke kamar, ya, Non. Sekalian mencuci semua botol susu dan mensterilkannya"


Aurora menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sementara itu, Galaksi tertegun di depan pintu kamar dan dengan mendekap kotak berisi hair dryer, pria tampan itu bergumam, "Ke mana dia? Kok menghilang? Apa dia masuk ke dalam kamarnya?"


Mbak Bun keluar dari dalam kamarnya Aureoa dan saat ia berjalan melintas di depan Galaksi, pria itu langsung bertanya, "Rora ada di kamar?"


Mbak Bun mengentikan langkahnya dan menghadap tuannya untuk berkata, "Iya, Tuan"


"Baiklah. Emm, kalau Mbak Bun sudah longgar, tolong bawa semua dot, kotak susu dan termos air ke kamarnya Rora biar nggak usah bolak-balik turun pas bikin susu. Saya yang akan bikin susunya nanti"


"Baik, Tuan"


"Terima kasih, Mbak"


"Baik, Tuan"


Galaksi kemudian membawa kembali kardus berisi hair dryer ke kamar sambil bergumam, "Rasa bibir Rora manis sekali seperti es buah. Dia dingin tapi manis dan membuat diriku ingin terus menyesap dan menikmatinya. Sial! Pikiran macam apa ini! Maafkan aku, Meda. Untuk sejenak aku melupakan kamu, tadi" Galaksi kemudian duduk di tepi rajang dan menatap foto almarhum istrinya dengan helaan napas panjang.


Alhasil Galaksi tidak ada niat untuk merebahkan diri dan tidur malam itu. Pria tampan itu kemudian memutuskan untuk keluar dari dalam kamar dan melanjutkan langkahnya ke teras depan untuk menghirup udara segar.


Galaksi menengadahkan wajah tampannya ke atas dan melihat bintang-bintang yang tampak nyata di langit malam itu. Dia tersenyum dan bergumam, "Apa kau bisa melihatku di sini sari atas sana, Meda? Aku kacau balau saat ini, Meda. Perasaanku kacau balau dan rasanya diriku ingin meledak. Kalau tidak ingat akan anak kita, mungkin aku sudah meminum racun dan menyusulmu. Aku sangat merindukanmu, Sayang"


"Hah?!" Aurora langsung membuka kedua kelopak matanya lalu duduk tegap di atas kasur dengan napas terengah-engah dan langsung mengelus-elus dadanya, "Huffftttt! Untung cuma mimpi. Sial! Kenapa aku bermimpi seperti itu barusan? Sial! Aku bilang kalau aku tidak akan baper soal ciuman tadi, tapi kenapa aku bermimpi yang bikin badanku terasa panas semua? Hadeeeehhhh! Kenapa tiba-tiba gerah hangat padahal AC-nya udah nyala dan suhunya udah pas" Gumam Aurora sembari mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya di depan wajah sambil terus bergumam, "Hadeehhhh! Gerah banget!"


Melihat Aurora bangun dan duduk tegak di atas kasur dengan wajah kebingungan dan tampak kegerahan, Galaksi yang tengah duduk di sofa yang berhadapan dengan ranjang, langsung berkata, "Kamu mimpi apa? Kenapa sampai berkeringat seperti itu?"


"Aaaaaaaa!!!!!!!!! Kenapa kau bisa keluar dari mimpiku dan ada di sana sekarang?!" Aurora sontak berteriak kencang melihat Galaksi duduk di sofa.


Teriakannya Aurora menguat Awan melepas dot susu dan menangis kencang karena kaget.


Aurora kemudian meraup kasar wajahnya dan langsung melompat dari atas ranjang untuk mendekati Galaksi dan mengelus dada Awan sambil berkata, "Cup,cup, cup, Sayang. Maafkan Tante, ya. Tante nggak sengaja teriak keras banget tadi. Tante akan nyanyikan lagu Nina Bobo untuk kamu" Aurora yang berdiri duduk di samping Galaksi masih terus mengelus dada Awan dan menyanyikan lagu Nina Bobo sementara Galaksi langsung mengalihkan pandangannya ke Awan dan kembali menyusui Awan lewat dot susu.


Galaksi terus menatap wajah putra tampannya dan tidak berani menoleh sedikit pun karena ia tahu, kalau dia menoleh ia akan mencium rambut wangi dan indahnya Aurora yang masih tergerai.


Galaksi langsung bangkit berdiri untuk membawa Awan ke box bayi. Pria tampan itu kemudian memasukkan Awan ke dalam box bayi dengan penuh kelembutan. Setelah mencium wajah tampan putranya, ia menegakkan badannya dan berdiri tegak untuk terus menatap wajah tampan putranya.

__ADS_1


Tiba-tiba, plak! Aurora menepuk bahu Galaksi cukup keras.


Galaksi mengelus bahunya dan menoleh ke samping untuk bertanya dengan nada lirih, "Kenapa kau memukulku?"


"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa permisi, hah?!" Aurora menyemburkan protesnya dengan suara lirih.


Galaksi lalu berputar badan ke samping dan bersedekap kemudian berkata, "Itu karena kamu tidur seperti orang mabuk. Kamu nggak dengar Awan menangis kencang. Aku lalu masuk dan membuatkan susu untuk Awan. Aku menyuruh Mbak Bun meletakkan semua dot bersih dan steril berikut kotak susu dan semua peralatan bayi lainnya ke sini, biar tidak usah bolak-balik turun pas bikin susu"


"Tapi, kenapa kamu? Kenapa bukan Mbak Bun yang ke sini?"


"Lalu, kenapa kalau aku? Aku Papanya Awan dan aku adalah Suami kamu. Nggak masalah, kan, kalau aku masuk ke sini"


"Iya, sih, ta......ta.....tapi, i......itu ........."


"Kamu mimpi apa? Kamu memimpikan aku, ya?"


Aurora sontak mendelik dan dengan wajah merona dia langsung menyemburkan, "Siapa yang memimpikan kamu, jangan kepedean!"


"Aku nggak kepedean. Tapi, aku tadi mendengar kamu berkata, kenapa kamu bisa keluar dari mimpiku, gitu, kan, kamu teriak begitu tadi"


"Nggak! Kamu salah dengar! Sekarang keluar!" Aurora berucap sambil menarik tangan Galaksi.


"Kalau nggak, kenapa wajah kamu merah seperti itu? Kuping kamu juga merah. Aku benar, kan? Kamu memimpikan aku? Hayo mimpi apa kamu? Tapi, ngomong-ngomong suara kamu sangat merdu, tadi"


"Diam!" Aurora menggeram kesal. Gadis itu kemudian mendorong Galaksi keluar dari kamarnya dan langsung menutup pintu tanpa menjawab pertanyannya Galaksi. Setalah mengunci pintu kamar, Aurora bersandar di daun pintu dan langsung menangkup Keuda wajahnya sambil bergumam, "Kenapa wajahku terasa panas? Ah, sial! Ada apa dengan diriku?"


Galaksi menatap daun pintu kamarnya Aurora dengan mengulum bibir menahan geli.


Galaksi terkejut dan sontak berputar badan saat ia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang.


Galaksi langsung memekik riang saat ia melihat Rio sahabatnya tersenyum lebar di depannya. Galaksi langsung memeluk Rio dan berkata, "Terima kasih kau pulang"


"Maaf kalau terlambat dan tidak bisa menghadiri pemakaman Kakak ipar"

__ADS_1


"Nggak papa. Kehadiran kamu sungguh berarti bagiku" Sahut Galaksi.


__ADS_2