
"Nggak! Aku nggak setuju dengan ide kamu. Aku nggak mungkin menikah dengan kamu. Kamu adik iparku. Kamu adiknya Meda" Galaksi berputar badan untuk menatap pemandangan alam di depan. Ada kolam ikan kecil dan tanaman bunga yang masih terawat rapi.
Meda memang gadis yang baik dan berbakti. Sejak Paman dan bIbi meninggal dunia, ia setiap hari menyempatkan diri ke sini untuk membersihkan rumah ini dan menata taman ini tetap cantik. Batin Galaksi.
Seolah tahu apa yang ditatap oleh kakak iparnya, Aurora langsung berkata, "Kak Meda suka bunga, suka hal-hal romantis, dia feminin dan lembut. Aku kebalikannya dan aku tidak suka bunga. Untuk itulah aku benci basa-basi dan aku tidak akan berpura-pura menyukaimu dan menyukai keluargamu. Aku benci kamu dan benci sama keluarga kamu"
Galaksi memasukkan kedua tangannya di saku celana panjang kainnya, lalu ia menoleh ke Aurora dan berkata, "Tapi, aku menyukai kamu dan menyukai keluarga kamu, Rora"
Aurora sontak berkacak pinggang dan mendelik, lalu menyemburkan, "Keluargaku tentu saja tidak bisa disamakan dengan keluarga kamu. Keluarga kamu penuh kemunafikan dan sombong karena kalian bergelimang harta sedangkan keluargaku jujur dan sederhana"
"Aku akan buktikan padamu kalau aku dan keluargaku tidak seperti yang kau kira. Meda akur dan rukun sama Mamaku dan Bintang selama ini. Aku akan buktikan tanpa harus menikahimu"
"Siapa Bintang?" Tanya Aurora.
"Bintang nama adik Perempuanku"
"Lalu, siapa Silvia?" Aurora masih berkacak pinggang di depan Galaksi.
Galaksi mengurai kacak pinggangnya Aurora dan berkata, "Maaf aku harus menyentuh kamu. Tapi, berkacak pinggang di depan orang tua yang lebih tua dari kamu, itu tidak sopan"
Aurora berkacak pinggang kembali dan sontak mendelik, "Suka-suka aku! Tangan-tanganku sendiri, weeekkkk!!!! Sekarang katakan siapa Silvia?!"
Galaksi menghela napas panjang, lalu ia balik bertanya, "Darimana kamu tahu nama Silvia?"
"Jawab saja! Sudah bener jadi orang. Tinggal jawab malah balik nanya, huh!" Aurora kemudian memutar badan ke samping dan bersedekap. Aurora ikut menatap kolam ikan dan taman bunga di sekeliling kolam itu.
__ADS_1
"Silvia itu anak dari partner bisnisku. Dan dia........"
"Calon Istri kamu yang dijodohkan oleh Mama kamu. Benar, kan?" Aurora menyahut cepat tanpa menoleh ke Galaksi
Galaksi yang masih menatap Aurora dari arah samping langsung menyahut, "Itu benar, tapi aku menolaknya dengan tegas dan aku memilih menikahi Meda. Hanya Meda satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini dan sekarang Meda sudah ada di Surga. Meninggalkan aku dan Awan" Air mata kembali menetes di pipinya dan Galaksi mengusap cepat air mata itu dengan punggung tangannya.
Aurora ikut meneteskan air mata dan gadis itu menoleh cepat ke samping sambil mengusap air matanya lalu berkata, "Dengar! Surat wasiat Kakakku kuat secara hukum Aku udah nanya ke pengacara dan kamu tidak bisa mengambil Awan dariku dengan cara apapun. Aku akan melindungi keponakanku dari nenek-nenek sihir yang ada di rumah kamu. Aku tidak akan biarkan keponakanku ada di rumah kamu tanpa aku. Aku juga tidak akan biarkan kamu menikah lagi dengan Silvia!! Aku tidak ingin keponakanku punya mama tiri jahat seperti Silvia"
"Nenek-nenek sihir?" Galaksi seketika menautkan kedua alisnya.
"Iya! Nenek-nenek sihir. Silvia, Mama kamu, dan Bintang" Sahut Aurora.
"Aku bisa maju ke pengadilan. Kamu belum bekerja. Jadi, kamu tidak bisa menjadi Ibu asuhnya Awan. Awan akan kembali padaku lewat pengadilan. Maaf kalau aku ambil cara ini. Aku terpaksa. Karena, aku tidak ingin berpisah dengan Awan. Dia anakku dan Meda. Dan asal kamu tahu, aku tidak akan menikah lagi baik dengan Silvia ataupun wanita lain. Itulah kenapa aku tidak mau menikah dengan kamu. Kamu adalah adik iparku, Rora" Galaksi lalu menghela napas panjang dan menatap Aurora dengan sorot mata sendu.
Galaksi langsung diam membisu. Dia paham betul kalau dia tidak akan pernah bisa mengambil Awan dari Aurora karena Aurora punya surat wasiat dari Andormeda dan Aurora sudah bekerja. Aurora juga punya tempat tinggal yang layak huni yakni rumah peninggalan Paman dan bIbinya Aurora ini.
Aurora kembali berkacak pinggang di depan Galaksi dan berkata, "Oke. Kalau kamu tidak mau menerima tawaranku. Aku akan ........"
"Tunggu! Aku bersedia menerima tawaran kamu. Aku bersedia menikah denganmu besok. Tapi, dengan surat perjanjian yang menyatakan kalau dalam waktu tiga bulan kamu tidak bisa membuktikan semua perkataan kamu soal Mama dan adik Perempuanku, maka kita akan bercerai dan hak asuh Awan jatuh di tanganku" Sahut Galaksi.
"Kita akan bercerai kalau aku tidak bisa membuktikan kebusukan Mama dan adik kamu. Tapi, hak asuh Awan tetap jatuh di tanganku"
Galaksi sontak mendelik dan menyemburkan, "Kau tidak bisa seperti itu! Awan itu anakku!"
"Itu wasiat dari Kak Meda. Aku tidak berani melawan wasiatnya Kak Meda. Kak Meda tidak ingin Awan berada di rumah kamu tanpa aku. Kalau nanti kita bercerai, maka aku akan membawa Awan pulang ke sini" Aurora tidak kalah mendelik.
__ADS_1
Galaksi kemudian menyerah kalah dan berkata, "Baiklah. Aku akan turuti wasiatnya Meda. Tapi, setelah kita bercerai tolong ijinkan aku menemui Awan sesuka hatiku" Galaksi menatap Aurora dengan sorot mata memohon.
Cukup lama Aurora menatap Galaksi sambil berpikir, "Baiklah"
"Dan satu lagi, malam ini ijinkan aku menginap di sini. Ijinkan aku tidur di kamarnya Meda. Aku sangat merindukan Meda dan aku masih ingin menggendong Awan"
"Baiklah. Kamu bisa menginap di sini sekalian kita bikin surat perjanjian dan langsung kita tandatangani malam ini juga lalu besok kita menikah" Sahut Aurora sambil berjalan pelan meninggalkan Galaksi.
Galaksi sontak berteiak, "Terima kasih, Rora! Aku tahu kalau kamu sebenarnya berhati baik sama seperti Kakak kamu!"
"Aku bukan orang yang baik hati. Kau akan tahu nanti" Balas Aurora dengan teriakan tanpa menoleh ke belakang.
Galaksi langsung mengulas senyum lebar di wajah tampannya dan sambil menelepon Herman, ia mengikuti langkah Aurora.
"Paman, aku sudah telepon Rora dan bilang kalau kita akan pulang besok pagi. Kasihan Rora kalau kita kasih kejutan lagi malam ini. Biarkan dia tenang dulu" Ucap Kibar sambil menikmati buah anggur di ruang tengah istana miliki Grup Brown.
"Oke Aku setuju. Wah! Aku nggak nyangka kamu ternyata orang kaya raya nggak kaya aku, hehehehe" Sahut Hernowo.
"Paman juga kaya raya sekwrang. Berkata kejujuran, kebaikan, dan ketulusan hati Paman, Paman orang kaya sekarang ini"
Hernowo menggaruk kepalanya dan langsung meringis di depan Kibar lalu berkata, "Aku nggak punya pengalaman jadi orang kaya raya. Nanti ajari aku, ya"
"Lho, aku, kan, juga sama kayak Paman. Aku juga nggak punya pengalaman jadi orang kaya. Aku udah lupa masa kecilku dulu seperti apa" Sahut Hernowo.
Lalu, kedua pria itu saling manggut-manggut dan tidak lama kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak sambil berangkulan.
__ADS_1