
Galaksi turung dari mobil, lalu berjalan mengitari mobil, kemudian berkata ke mamanya "Maaf, Mama minggir dulu, ya, Gala mau bantu Rora turun"
Mawar terpaksa minggir dari pintu mobil dan mendengus kesal.
Begitu Aurora turun, gadis itu langsung menggandeng tangan suami tampannya dan berkata ke mertuanya, "Tumben Mama ada di paviliunnya Mas Gala"
Mawar sontak tergagap kaget dan Bintang yang menyahut, "Mama pengen lihat cucunya. Karena kesibukan Mama, Mama belum sempat lihat cucunya"
"Benarkah?" Galaksi dan Aurora bertanya kaget
Aurora kemudian berkata, "Kalau Mama pengen lihat cucunya, apa Mama ingat sama nama cucunya?"
Galaksi menoleh kaget ke Aurora.
Mawar kembali tergagap kaget dan Bintang yang kembali menyahut, "Tentu saja ingat. Namanya Langit, kan?"
Aurora tersenyum tipis dan berkata, "Mas denger sendiri, kan, Mama dan Bintang tidak ingat nama anak kita"
Galaksi sontak melongo kaget dan mematung .
Mawar mendengus kesal dan mendorong dada Aurora sambil membentak, "Jaga bicara kamu! Siapa anak kamu, hah?! itu anaknya Gala dan Meda. Bukan anak kamu dan jangan manggil aku Mama! Aku bukan Mama kamu"
"Ma! Jangan dorong Istriku! Aku kecewa sama Mama dan Bintang. Kenapa kalian bisa lupa sama nama anakku? Keterlaluan kalian" Galaksi mendekap erat Aurora sambil mendelik ke mamanya.
Mawar hendak membuka suara kembali dan Bintang langsung menyahut, "Kita langsung masuk aja, yuk, Ma. Katanya pengen segera melihat cucu Mama"
__ADS_1
Mawar terpaksa menuruti Bintang dan Galaksi langsung mengajak Aurora mengekor langkah mama dan adik perempuannya dengan wajah kesal berselimut kecewa.
Mawar membayangkan skenario yang dia susun bersama Bintang dan tersenyum kecil di dalam langkahnya menuju ke kamar cucunya. Cucu yang sama sekali tidak pernah ingin dia temui sebenarnya karena anak itu lahir dari rahim wanita yang tidak ia sukai.
Mawar langsung masuk ke dalam kamarnya Awan dan berpura-pura melongok di box bayi untuk berpura-pura menyapa cucunya, "Hei, Tampan. Maaf Oma baru bisa nengok kamu Oma sangat sibu, Sayang"
Galaksi hendak mengeluarkan suara, namun tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi nyaring. Pria tampan itu akhirnya menghela napas panjang dan berkata ke semuanya, "Aku terima telepon dulu"
Aurora tersenyum tipis dan melangkah mendekati box bayi sambil berkata, "Oma kamu lupa sama nama kamu, Sayang. Kok, bisa-bisanya Oma kamu manggil kamu Sayang, ya? Mana ada orang sayang lupa sama nama orang yang ia sayangi. Benar, kan, Sayang"
Mawar menoleh tajam ke Aurora dan menggeram, "Diam kamu! Sebentar lagi kau tidak akan bisa berkutik di depan Gala"
"Oh, benarkah, Nyonya? Yang aku tahu, Mas Gala memercayaiku sekarang dan kami saling mencintai" Aurora tersenyum tipis ke Mawar.
Saat Galaksi masuk ke dalam kamar, Mawar yang sudah duduk di tepi ranjang di sebelahnya Aurora, langsung memulai aksinya. Wanita itu tiba-tiba jatuh pingsan di atas ranjang.
"Ma!" Galaksi sontak berlari mendekati ranjang saat ia melihat mamanya tiba-tiba jatuh pingsan.
Bintang sontak bangkit berdiri dan berpura-pura kaget. Bintang langsung membuka laci nakas sambil berkata, "Di mana minyak kayu putihnya?" Dengan wajah berpura-pura panik.
Galaksi sontak berlari ke lemari obat dan Aurora menatap Bintang dengan penuh kecurigaan karena Aurora melihat Bintang menyeringai aneh.
Galaksi menghentikan langkahnya saat ia melihat Bintang memegang dua lembar kertas dan menatap Galaksi untuk bertanya, "Ini apa, Kak?"
Aurora tersentak kaget dan sontak bertanya, "Kenapa ada kertas itu di dalam laci? Aku tidak pernah melihat kertas itu sebelumnya"
__ADS_1
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Ini laci kamu, kan? Kenapa nanya ke aku?" Tanya Bintang dengan wajah sok polos.
Mawar yang berpura-pura pingsan di atas ranjang sontak mengumpat kesal, Sial! Kenapa Bintang nggak langsung ngomong kalau itu kwitansi dan cek untuk pembelian kalung berlian milik mendiang istrinya Gala? Dasar Bintang bodoh!
Padahal Bintang memang mencari aman karena dia sudah memiliki benih cinta untuk Kibar dan dia tidak mau membuat Aurora membencinya.
Galaksi menoleh ke Aurora dan bertanya, "Kenapa ada kwitansi dan cek. Ini transaksi pembelian kalung berlian yang pernah aku kasih ke Meda, Kakak kamu? Apa Kakak kamu memberikan kalung berliannya ke kamu dan kamu menjualnya? Lalu, kenapa Meda membohongi aku waktu itu. Kenapa Meda mengatakan kalau kalungnya hilang" Galaksi kemudian memasukkan kwitansi dan cek tersebut ke dalam saku kemejanya, lalu bergegas melangkah keluar meninggalkan kamar sebelum Aurora mengeluarkan suara.
Aurora menatap punggung suaminya dengan menitikkan air mata. Dia sedih karena ternyata suaminya tidak memercayainya.
Padahal, tanpa sepengetahuannya Aurora, Galaksi yang sudah mengetahui perihal surat itu karena ia selalu mengecek CCTV yang ia pasang secara tersembunyi di setiap ruangan paviliunnya itu, berdiri di balik daun pintu yang tertutup. Dia ingin melihat drama apa yang selanjutnya akan mamanya mainkan.
Mawar kemudian membuka kedua kelopak matanya dan bangun dengan senyum mengejek, lalu wanita cantik paruh baya itu berkata ke Aurora, "Makan kesombongan kamu, cih! Kau bilang kalau Gala memercayai kamu, hah?! Kau bilang kalau Gala mencintai kamu, cih! Makan, tuh, fantasi kamu! Kamu, tuh, sama seperti Kaka kamu. Cinderella yang bermimpi menjadi seorang permaisuri, cih! Dasar memalukan. Makhluk rendahan yang melakukan"
Aurora menghapus air matanya dan berkata, "Kau yang menjijikkan. Kau yang telah mengambil kalung berlian Kak Meda, kan?!"
"Iya, itu benar! Kenapa, hah?! Kau mau apa kalau itu benar? Gala bahkan meninggalkan kamu dan tidak percaya sama kamu" Mawar tersenyum mengejek.
"Karena kau sudah melakukan ini semua, maka aku dengan sangat terpaksa akan membongkar soal jamu yang kau berikan ke Kak Meda. Jamu itu membuat ari-ari Kak Meda lengket dan bisa menyebabkan Kak Meda sewaktu-waktu bisa mengalami keguguran. Aku punya buktinya. Sidik jari kamu ada di plastik jamu, ada juga struk pembelian jamu itu atas nama kamu, dan kandungan jamu itu sudah terbukti berbahaya jika dikonsumsi oleh wanita hamil. Kau paksa Kak Meda meminumnya, kan? Aku sebenarnya tidak akan membeberkan sila jamu itu karena aku tidak ingin Mas Gala sedih dan kecewa sama Mamanya. Tapi, karena kamu sudah sejauh ini melawanku, maka jangan salahkan aku kalau aku membalas perbuatan kamu ini, wanita Iblis!" Aurora melotot dan berkata dengan napas terengah-engah penuh emosi.
Bintang hanya diam seribu bahasa.
"Iya. Aku memaksa Meda meminumnya! Lalu, kenapa, hah?! Gala tidak akan percaya sama kamu. Gala menyayangiku dan hanya akan percaya sama Mamanya bukan sama monyet liar seperti kamu" Mawar kembali tersenyum mengejek.
Tiba-tiba terdengar suara dalam yang menggema di dalam kamar, "Aku kecewa berat sama Mama. Aku sangat kecewa, Ma"
__ADS_1