
Mawar meletakkan cek bertuliskan dua ratus tiga puluh lima rupiah beserta kwitansi bermeterai bertuliskan telah menerima uang sebesar dua ratus tiga puluh lima juta rupiah untuk pembelian kalung berlian tipe XX, ke dalam laci di samping ranjang di saat Bintang membuat mbak Bun sibuk di dapur.
Mawar kemudian keluar dari dalam kamarnya Aurora tanpa melihat cucunya yang tertidur pulas di dalam box bayi.
Lalu, Mawar keluar dari paviliunnya Galaksi lewat balkon samping dan menuruni anak tangga yang ada di sana dengan cepat dan langsung melesat masuk ke dapur yang ada di rumah utama. Mawar kemudian melangkah menuju ke ruang makan dengan senyum puas.
Kibar kembali ke rumah ayahnya dengan wajah kecewa dan sambil memeluk boneka panda, ia bergumam, "Kenapa Aurora diam saja tadi? Apa yang Aurora pikiran? Apa aku salah paham selama ini? Apa aku terlalu salah mengartikan kalau Rora juga mencintaiku?"
"Gimana diterima nggak?" Tanya Hernowo sambil duduk di sebelahnya Kibar.
"Nggak tahu, Yah"
"Lho, kok, nggak tahu?"
"Rora diam saja , Yah"
"Kalau gitu, besok Ayah akan ajak ngobrol Rora. Ayah pengennya kamu dan Rora menikah setelah Rora bercerai dengan Galaksi brengsek itu"
Melihat Aurora sering menyelipkan rambut dan menyibak rambut yang menutupi wajah, membuat Galaksi gemas. Lalu, pria tampan itu bangkit berdiri.
Aurora tersentak kaget saat ia merasakan Galaksi tiba-tiba bersimpuh di belakangnya dan memegang rambutnya sambil berkata, "Kakak akan gelung rambut kamu biar jadi cepol kecil. Kakak risih lihat kamu terus menyelipkan dan menyibak rambut kamu. Nah! Gini, kan rapi" Galaksi kemudian bangkit berdiri dan berjalan kembali ke tempat duduknya semula dengan santai.
Aurora seketika berdeham dan menyesap es kelapa muda gula jawanya di saat jantungnya kembali berdegup abnormal dan hatinya berdesir hebat.
"Kamu lebih cantik dicepol kayak gitu. Lebih tampak dewasa juga" Galaksi masih mengamati rambut dan wajah Aurora.
Aurora meletakkan gelasnya dan langsung menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona malu di wajahnya sambil berucap, "Tapi, aku nggak bisa menyepol rambut kayak gini"
"Aku tidak keberatan kalau tiap hari harus menyepol rambut kamu" Sahut Galaksi dengan spontan dan tanpa ragu.
Aurora semakin menundukkan wajahnya yang terasa semakin panas dengan iringan degup jantung yang semakin kencang. Lalu, gadis cantik itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata, "Nggak usah!"
Seketika kecemasan Aurora lenyap, gadis itu juga merasa sangat bahagia bisa makan siang bersama Galaksi dan saking gembiranya, Aurora yang blak-blakan orangnya langsung berteriak spontan, "Besok kita makan siang bareng lagi, ya, Kak?!"
Galaksi yang tengah menyesap es kelapa muda gula jawanya langsung tersedak dan saat Aurora melihat Galaksi kewalahan meredakan tersedaknya itu, Aurora langsung bangkit berdiri, melompati meja begitu saja dan langsung berjongkok untuk menepuk-nepuk dan mengelus punggung Galaksi.
Kaum pria sangat menyukai sentuhan wanita, terutama ketika sentuhan ini berarti indikasi dari perlindungan. Termasuk Galaksi. Sentuhan hangat tangan Aurora di punggungnya, seketika membuat pria tampan itu merasa nyaman dan damai. Untuk itulah, di saat tersedaknya sudah reda, Galaksi masih berpura-pura terbatuk-batuk agar Aurora lebih lama menyentuh, menepuk pelan, dan mengusap punggungnya. Dan pria itu langsung menghela napas kecewa saat Aurora mengangkat tangan dari punggungnya dan berkata, "Kak, hujan!"
Galaksi yang terus memejamkan mata dan menikmati usapan tangan hangat Aurora di punggungnya, tidak menyadari kalau hujan turun dan semakin lama semakin deras.
"Duduklah di sampingku! Kita tunggu hujan agak reda dulu baru kita pulang" Galaksi berucap sembari membuka jasnya kemudian ia pakaikan jasnya itu ke tubuh Aurora.
__ADS_1
Aurora kembali menunduk malu dan Galaksi langsung mengalihkan pandangannya karena bagi dia, Ketika melihat seroang wanita mengenakan pakaiannya, wanita itu terlihat lebih menarik. Dan seketika hati Galaksi berdesir hangat. Desir yang sama yang ia rasakan saat ia pertama kali berjumpa dengan Andromeda.
Kenapa hatiku kembali berdesir seperti ini? Apa karena aku merindukan Andromeda? Atau jangan-jangan hatiku kembali berdesir karena Rora? Batin Galkasi.
Mereka akhirnya menggunakan payung pemberian si mbak pramusaji restoran tersebut untuk berjalan ke parkiran mobil.
Momen dirinya sepayung berdua dengan Galaksi, membuat Aurora terus menunduk malu dan berdoa semoga Galaksi tidak mendengar detak jantungnya yang sangat keras apalagi di saat Galaksi merangkul bahunya dan memeluknya erat agar Arora tidak terkena air hujan.
Momen tersebut langsung diabadikan Aurora di benaknya karena bagi Aurora, meskipun tak sepenuhnya terlindungi dari percikan air hujan, tapi momen itu terasa begitu mahal bagi Aurora.
Saat mereka berdua masuk ke dalam mobil dan payung sudah Galaksi kembalikan ke tukang parkir, Galaksi menyalakan pemanas mobil dan mengambil handuk kering yang selalu ada di alam tas yang ia taruh di jok belakang mobil yang ia pakai di hari itu. Karena mobilnya itu biasanya ia pakai untuk pergi bermain golf dengan klien nanti sore jam lima dan biasanya supir yang menjemputnya ke rumah memakai mobil itu dan mengantarnya ke lapangan golf.
Lalu, Galaksi mengelap rambut basah Aurora dengan handuk itu sambil berkata, "Kalau tidak segera dikeringkan, kamu bisa terserang flu dan bisa menulari Awan"
Yeeaahhhh, itu alasan dia berbuat baik padaku. Agar aku tidak terkena flu dan Awan tidak tertular. Jadi, jangan baper Rora! Batin Aurora.
Galaksi terus menatap mata Aurora saat hadis itu bercerita tentang kehidupannya saat di Jepang. Dan pria tampan itu mencondongkan tubuhnya ke arah Aurora untuk menunjukkan perhatian dan ketertarikan akan cerita kehidupan Aurora sewaktu gadis itu tinggal di Jepang.
Untuk mencari tahu lebih jauh tentang kehidupan, hobi, atau isi kepalanya Aurora, Galaksi berkata, "Katakan apa hobi kamu dan olahraga apa yang kau sukai!" Galaksi mulai menunjukan ketertarikannya pada Aurora
Setelah mendengar semua cerita kehidupannya Aurora, Galaksi berkata, "Kamu sangat mandiri, berani, dan tangguh. Pantas saja Kak Meda kamu selalu saja memuji-muji dirimu di depanku. Ternyata kamu memang sangat luar biasa"
Aurora seketika tersenyum, merona malu, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil untuk melihat hujan yang masih sangat deras.
Aurora sontak memutar kepalanya untuk menatap Galaksi dan tersenyum lalu gadis cantik itu menganggukkan kepala dengan penuh semangat.
Respons positif yang ditunjukkan oleh Aurora secara spontan membuat Galaksi tersenyum bahagia.
Kemudian Aurora dan Galaksi mengobrol santai sambil menunggu hujan benar-benar reda. Galaksi dan Aurora menjadi semakin akrab dan seketika mereka lupa akan permasalahan yang ada di antara mereka.
Aurora dan Galaksi saling melempar candaan, tertawa bareng, dan saling menepuk bahu untuk meminta perhatian dengan santai lalu sesekali saling menyenggolkan lengan. Bahkan mereka berdua meletakkan tangan berdekatan di saat mereka mulai merasa sangat nyaman mengobrol berdua.
Dia ternyata lebih enak diajak ngobrol daripada Meda. Meda pendiam orangnya dan aku yang harus lebih ceriwis. Tapi, beda banget pas ngobrol sama Rora. Rora asyik banget diajak ngobrol dan aku nggak nyangka kalau selera humor aku dan Rora sama. Batin Galaksi.
Kak Gala ternyata lebih kocak daripada Kak Kibar. Kak Gala ternyata asyik juga diajak bercanda dan ngobrol. Batin Aurora.
Kenyamanan itu membuat Galaksi nekat merangkul lalu memeluk Aurora saat petir menggelegar sangat keras dan gadis cantik itu terlonjak kaget sambil berteriak ketakutan.
Galaksi mengusap punggung Aurora dengan lembut sambil berkata, "Jangan takut itu cuma petir dan kita ada di dalam mobil sekarang ini. Ada aku, jangan takut!"
Namun, alih-alih merasa tenang, Aurora justru menangis terisak-isak karena gadis cantik itu benar-benar trauma akan petir. Karena mama, papa, dan dirinya mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawa mama dan papanya itu, di tengah hujan deras dan petir menyambar-nyambar. Saat ia merasakan tubuh Aurora bergetar dan terdengar isak tangis, Galaksi nekat mencium keningnya Aurora. Lalu, menghapus air mata di pipi Aurora dengan bibirnya.
__ADS_1
Galaksi kemudian menyusuri wajah Aurora saat ia merasakan tubuh Aruroa tidak lagi gemetar dan tidak terdengar isak tangis.
Aurora merasa nyaman dan damai hingga tanpa ia sadari, ia memejamkan kedua matanya dan merekahkan bibirnya.
Melihat Aurora memejamkan kedua mata dengan pelan dan merekahkan bibir membuat Galaksi seketika kesulitan menelan air liurnya sendiri.
Kemudian, Galaksi bergumam lirih, "Bolehkah aku mencium bibir kamu yang indah ini" dan sebenarnya gumaman itu ia tujukan ke dirinya sendiri dan ia tidak mengharapkan respons dari Aurora. Namun, Galaksi tersentak kaget saat ia melihat Aurora menganggukan kepala dan mengangkat wajah.
Galaksi kemudian menatap Aurora sebentar, menangkup tahan gadis itu dan ibu jarinya mengusap lembut bibir istri kecilnya itu, lalu tangannya bergerak ke belakang untuk mengelus tengkuk Aurora dan tanpa menunggu detik berikutnya, pria tampan itu menarik tengkuk istri kecilnya dan langsung memagut bibir ranum yang sedari tadi ia pandangi dan ia kagumi.
Aurora tanpa sadar merangkulkan kedua tangannya di leher kokohnya Galaksi dan semakin merekahkan bibirnya.
Galaksi kemudian menggigit bibir bawah Aurora dengan pelan agar gadis cantik itu membuka bibir lebih lebar sehingga dengan mudahnya Galaksi menyusupkan lidahnya.
Lidah pria itu langsung menari-nari lincah menjelajahi mulut istri kecilnya. Kedua suami istri itu kemudian saling memagut dengan penuh gairah.
Kemudian dengan pelan-pelan Galaksi merebahkan jok mobil dan dengan terpaksa Galaksi melepas ciumannya. Setelah jok mobil dirasa pas, Galaksi menatap wajah Aurora yang terpejam dan kedua tangan Aurora masih menangkup leher kokohnya Galaksi.
Pria tampan itu kemudian tersenyum dan menunduk untuk mencium kedua kelopak mata indahnya Aurora. Kemudian bibir Galaksi bergerak ke telinga gadis itu sambil memposisikan tubuhnya di atas tubuh Aurora.
Galaksi membisikkan kata, "Kamu sangat manis sekaligus cantik. Kamu perpaduan sempurna antara liar dan seksi" Setelah membisikkan kata-kata itu, Galaksi menciumi telinga Aurora hingga membuat Aurora mengerang pelan sambil membelai rambut suami tampannya.
Lalu, Aurora bertanya, "Siapa yang Kakak maksud liar dan seksi?"
"Kamu" Sahut Galaksi dengan suara serak. Galaksi hanya menyebut kata kamu dan tidak menyebutkan nama Aurora. Di saat Aurora hendak menyemburkan protes, Galaksi dengan cepat mengarahkan bibirnya ke leher Aurora dan menciumi leher putih dan wangi itu dengan penuh gairah.
Bibir pria tampan itu kemudian berhenti di belakang telinga Aurora. Galaksi menggigit cuping telinga Aurora dengan pelan kemudian memainkan bibirnya dengan asyiknya di telinga Aurora. Dia memilih bermain asyik di telinga Aurora karena jika ia bermain asyik di atas kulit leher Aurora ia tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak meninggalkan tanda kepemilikan. Belum saatnya meninggalkan tanda kepemilikan, begitu pikir Galaksi kala itu.
Aurora mengerang dan merintih lirih yang membuat Galaksi kembali mencari bibir Aurora.
Pria tampan itu kemudian mencium bibir Aurora, memagut, dan menciumnya kembali dengan penuh gairah. Galaksi belum berani membuka kancing bajunya Aurora dan beku. berani menyusupkan tangannya ke dalam blusnya Aurora, namun pria tampan itu nekat meremas pinggang Aurora dengan pelan dan tanpa Galaksi sadari ia bergumam, "Meda, aku merindukanmu"
"Kak!" Aurora sontak melepas ciumannya, mendorong Galaksi cukup keras saat ia mendengar Galaksi menggumamkan nama Meda.
Galaksi menatap lekat kedua bola mata Aurora dan bertanya, "Ada apa?"
Aurora menegakkan jok mobil kembali dan membuat Galaksi terdorong ke jok belakang kemudi. Lalu, Aurora memasang sabuk pengaman, memandang kaca jendela mobil sambil berkata, "Hujan sudah reda. Tolong jalankan mobilnya, Kak!"
Galaksi meraup kasar wajah tampannya untuk meredakan gairah dan degup jantungnya. Kemudian pria tampan itu bertanya, "Kenapa kamu tiba-tiba mendorongku dan mengalihkan pandangan kamu dariku? Apa salahku, Rora?"
Aurora menoleh tajam ke Galaksi dengan wajah penuh air mata.
__ADS_1
"Hei! Kenapa kamu menangis lagi?" Galaksi ingin mengusap air mata di pipi Aurora, namun Aurora langsung menepis tangan Galaksi sambil menggeram, "Jangan sentuh aku!"
"Ada apa? Apa salahku?" Galaksi menatap Aurora dengan wajah penuh tanda tanya.