Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Hah?!


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Mamanya Galaksi menggenggam tangannya dan menoleh ke Bintang, "Adik perempuannya Meda itu sangat kurang ajar. Dia kurang didikan di Jepang. Dia benar-benar tidak memiliki tata Krama, cih!"


"Mama benar. Dia itu seperti Tarzan versi cewek. Benar-benar bar-bar dan tidak punya sopan santu. Lihat saja! Besok aku akan ke rumah pamannya dan akan bikin perhitungan sama dia karena dia sudah berani menjegal aku tadi" Bintang menggeram penuh amarah.


"Mama ikut. Mama juga pengen bikin perhitungan sama dia" Sahut Mawar.


Galaksi mengelus pelan pipi putranya dan menciumi wajah putranya yang tertidur pulas di dalam dekapan hangatnya. Pria tampan itu terus menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan Andromeda. Kerinduan dan kesedihan di hatinya sedikit berkurang saat ia menatap wajah mungil putra tampannya itu.


Aurora dan mbak Bun yang sudah berdiri di depan Galaksi sejak lima menit yang lalu, kemudian saling pandang. Hati kedua wanita itu tersentuh haru saat mereka berdua melihat Galaksi terus menatap Awan dan sesekali menciumi wajah Awan.


Aurora kemudian kembali menatap ke depan dan berdeham, "Ehem"


Galaksi tersentak kaget dan sontak mengangkat wajahnya. Pria tampan itu mengulas senyum di wajahnya yang tampak lemah dan lesu. Mata pria itu masih tampak sembab karena, terlalu banyak menangis.


"Kita perlu membicarakan sesuatu yang sangat penting di luar. Mbak Bun akan menjaga Awan"


Galaksi bangkit berdiri, lalu membiarkan mbak Bun merengkuh Awan dengan hati-hati.


"Ayo ikut aku!" Aurora mengayunkan tangannya sambil berbalik badan


Namun, saat Galaksi hendak melangkah, kepalanya tiba-tiba berdenyut dan terasa sangat nyeri. Pria gagah dan tampan itu pun tumbang dan jatuh tergelak di atas lantai.


Mbak Bun sontak berteriak, "Tuan muda!"


Aurora menoleh ke belakang dan langsung berteriak sekencang-kencangnya, "Kak Kibar! Tolong!"


Kibar dan Hernowo bergegas berlari masuk ke dalam kamar bertepatan dengan suara tangisannya Awan.


Mbak Bun langsung berlari keluar kamar sambil menimang Awan. Mbak Bun kemudian masuk ke kamar paling depan.


Kibar dan Hernowo langsung bekerja sama mengangkat Galaksi lalu merebahkan Galaksi di atas kasur dengan hati-hati.


Aurora kemudian duduk di tepi ranjang untuk memeriksa kondisinya Galaksi dan berkata, "Dia cuma kelelahan dan sepetinya dia belum makan. Perutnya kosong"


"Cih! Kenapa Meda bisa berkenalan dengan pria tak berguna seperti ini? Udah nggak pedulian, sering ninggalin Meda ke luar negri, dan lemah begini, cih" Pamannya Aurora langsung mencebikkan bibirnya.


"Paman! Jangan ngatain orang sembarangan! Kita belum tahu watak dia yang sebenarnya" Aurora mendelik ke pamannya.


Di saat pamannya Aurora hendak membuka mulutnya kembali, Kibar langsung menarik lengan ayah angkatnya itu sambil berkata, "Biar Rora mengurusnya. Kita keluar dulu, Yah"


Hernowo hanya bisa menghela napas panjang dan menuruti Kibar.


Aurora lalu menoleh, "Kak, Kibar! Tolong buatkan teh hangat dan bubur! Aku akan coba bangunkan kakak iparku ini"


"Siap" Sahut Kibar sambil melambaikan tangannya.


Setelah membaringkan tanpa bantal dan memastikan kemudahan pernapasan Kakak iparnya, Aurora lalu mencoba untuk menyadarkan Galaksi. Ia menyadarkan Galaksi dengan cara menepuk pelan pipi pria itu dan memberikan sedikit guncangan pada tubuh Galaksi.


Pria tampan itu belum juga membuka mata. Lalu, Aurora membuka minyak kayu putih dan menggoyangkan botol minyak kayu putih di depan lubang hidung Galaksi. Namun, tetap saja belum berhasil.


"Sial! Aku cek kondisinya aman semua. Dia hanya pingsan sederhana. Tapi, kenapa aku belum berhasil membangunkannya?" Gumam Aurora.


Lalu, gadis cantik itu membuka semua kancing kemejanya Galaksi dan menempelkan telinganya di atas dada Galaksi. "Jantungnya berdegup normal.Dia sehat. Sangat sehat dan sangat normal. Tapi kenapa dia belum bisa aku bangunkan?"


"Apa yang kau lakukan?" Galaksi menunduk dan melihat Aurora menempelkan telinga di dadanya.


Aurora tersentak kaget dan langsung mengangkat kepalanya dari dada Galaksi.


Aurora dan Galaksi kemudian bersitatap canggung.

__ADS_1


"Kenapa kancing bajuku terbuka semua? Apa yang kau lakukan?" Galaksi melihat dadanya.


"Ah! Jangan salah paham!" Aurora langsung melambaikan kedua tangannya di depan Galaksi. Lalu, gadis cantik itu berkata kembali, "Kamu pingsan barusan dan aku memberikan pertolongan pertama agar kamu bangun"


Galaksi sontak menutup bibirnya dengan punggung tangannya lalu berucap, "Apa kamu juga memberikan napas buatan?"


"Sial!" Aurora refleks memukul dada Galaksi cukup keras sampai Galaksi mengaduh pelan.


"Kamu nggak tenggelam. Jadi, untuk apa aku kasih napas buatan?" Aurora mendelik dan bangkit berdiri.


Galaksi langsung mengelus dadanya yang masih polos sambil berucap, "Syukurlah kalau kamu tidak memberikan napas buatan. Kalau iya, maka aku akan pingsan lagi"


"Hei! Kalau aku berikan napas buatan ke kamu memangnya kenapa, hah?! Aku bukan monster yang mengerikan yang bisa membuatmu jatuh pingsan lagi, huh!" Aurora mendengus kesal.


Galaksi terkekeh geli dan sambil bangun ia berkata, "Bercanda. Terima kasih sudah memberikan pertolongan. pertama ke Kakak ipar kamu, Rora dan Kakak senang bisa berkenalan dengan kamu. Maaf kalau setiap kali kita bertemu, kamu harus menolongku"


Melihat dada bidang Galaksi yang sangat bagus, Aurora seketika berbalik badan dan mengumpat di dalam hatinya, hei! Kenapa wajahku terasa panas hanya melihat dadanya saja? Sial! Ada apa denganmu, Rora?


Galaksi tersenyum melihat Aurora berbalik badan, lalu pria tampan itu bergegas mengancingkan kembali semua kancing kemejanya sambil berkata, "Kau belum pernah melihat seorang pria bertelanjang dada, ya?"


Aurora mengabaikan pertanyaannya Galaksi dan memilih untuk melangkah lebar ke depan lalu berlari meninggalkan kamar.


Galaksi kembali terkekeh geli dan bergumam, "Dia sama lugunya dengan Meda. Cuma bedanya dia galak dan tomboy"


Saat Galaksi duduk di tepi ranjang, Kibar masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkuk bubur dan teh manis hangat. Kibar meletakan mangkuk yang berisi bubur buatannya dan gelas yang berisi teh manis hangat di atas nakas sambil berkata, "Makan dan minumlah! Perut kamu kosong kata Rora tadi. Setelah makan, temui Rora di teras belakang rumah. Kata Rora ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan kamu"


"Terima kasih banyak untuk bubur dan teh manisnya" Galaksi tersenyum ke Kibar dan Kibar membalas senyumannya Galaksi sambil berkata, "Sama-sama. Dan, emm, kamu bisa makan sendiri, kan?"


Galaksi tersenyum dan mengangguk pelan.


"Oke. Aku akan keluar mengecek Awan. Awan bersama Paman dan mbak Bun di ruang depan"


Saat Kibar tengah bercengkerama dengan Hernowo dan mbak Bun sambil memangku Awan, seorang pria memakai jas berdiri di depan pintu dan bertanya, "Apakah saya bisa bertemu dengan Kibar Herlambang?"


Kibar meletakkan Awan dengan hati-hati di atas pangkuan pamannya, lalu ia bangkit berdiri dan berkata, "Saya Kibar Herlambang"


"Anda bisa ikut saya sebentar? Keluarga Anda ingin bertemu dengan Anda" Sahut pria berjas itu.


Hernowo langsung meletakkan Awan di atas pangkuan mbak dan sambil bangkit berdiri dia bertanya, "Siapa kamu? Kenapa anakku harus ikut denganmu?"


"Apakah Anda Bapak Hernowo Herlambang?"


"Iya, benar"


"Kalau begitu, Anda juga harus ikut dengan kami. Tuan besar kami ingin bertemu dengan Anda"


Hernowo langsung menoleh ke mbak Bun, "Aku sama Kibar keluar sebentar. Bilang sama Rora kalau kami akan segera kembali"


"Baik, Pak" Sahut mbak Bun sambil menimang-nimang Awan.


Setelah menyelesaikan makannya, Galaksi membawa piring dan gelas sambil melangkah keluar dari dalam kamar. Lalu, Galaksi menuju ke dapur untuk mencuci piring dan gelas itu.


Setelah mengelap tangannya, Galaksi berbalik badan dan langsung belok ke kanan setelah ia keluar dari dapur. Dia melihat Aurora tengah duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu.


Galaksi melihat Aurora duduk di ujung bangku panjang itu dan pria tampan itu memutuskan untuk duduk di ujung yang lain. Aurora menoleh ke kiri dan dia melihat Galaksi duduk di ujung bangku.


Galaksi dan Aurora saling pandang dari jarak duduk yang cukup panjang. Lalu, Galaksi bertanya, "Apa yang ingin kamu sampaikan?"


Kibar dan Hernowo ternganga lebar di depan pria tua dengan outfit mahal.

__ADS_1


"Kibar memang cucuku. Dia mengalami kecelakaan saat ia dan anakku juga menantuku pergi ke Jepang. Aku bersyukur sebelum aku sakit-sakitan dan mati, aku bisa menemukan cucuku kembali" Sahut orang tua itu.


"Kamu punya gelang tangan bertuliskan Kibar, kan? Lalu, kamu punya tanda lahir di pantat kamu. Golongan darah kamu A plus dan kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Mama kamu. Ini foto kecil kamu dan kedua orang tua kamu sebelum kalian terbang ke Jepang"


"I.......iya benar. Ini kamu" Hernowo menatap Kibar. Papa, eh, Ayah temukan kamu dengan gelang tangan bertuliskan Kibar makanya Papa langsung memanggilmu Kibar"


Kibar masih tertegun melihat foto masa kecilnya.


"Maafkan Kakek. Kakek butuh waktu yang sangat lama untuk menemukan kamu" Sahut pria tua itu.


Kibar lalu terisak menangis dan memeluk oris tua itu sambil berkata, "Aku ingat sama Kakek. Terima kasih Kakek terus berupaya mencari selama ini"


"Huhuhuhuhu" Hernowo langsung menangis tergugu karena terharu.


"Kamu adalah Kibar Brown. Kamu pewaris satu-satunya Grup Brown Mulai hari ini kamu, Paman kamu, dan sepupu kamu yang cantik itu harus tinggal di mansion milik Grup Brown dan mulai besok, kamu harus mulai belajar bisnis"


"Hah?!" Hernowo dan Kibar ternganga secara bersamaan.


"Saya juga berikan lahan kopi untuk Anda kelola dan rumah mewah lengkap dengan isinya termasuk mobil mewah untuk Anda, Pak Hernowo. Karena Anda, sudah menyelamatkan dan merawat Kibar dengan sangat baik selama ini"


"Wah! Tidak perlu. Saya melakukannya dengan tulus. Saya menyayangi Kibar seperti Anak saya sendiri" Sahut Hernowo


"Saya memaksa Anda untuk menerimanya. Itu tabungan untuk masa tua Anda nanti. Jangan khawatir! Grup Brown tidak akan jatuh miskin. Grup Brown menguasai bisnis Internasional dan saat ini berada di peringkat satu"


"Lalu, Grup Zayyan?" Tanya Hernowo secara refleks.


"Grup Zayyan hanya bergerak di bidang perhotelan, resor, dan posisi Grup Zayyan berada jauh di bawah Grup Brown. Kenapa Anda menanyakan Grup Zayyan?"


"Keponakanku menikah dengan Presdir Grup Zayyan dan dia meninggal dunia karena itu. Saya curiga kalau kematian keponakan saya dan kematian adik saya juga Istrinya ada kaitannya dengan Nyonya besar Grup Zayyan" Sahut Hernowo.


"Saya akan membantu Anda menyelidiki semuanya kalau Anda, Kibar, dan Aurora bersedia tinggal di mansion" Sahut Kakeknya Kibar.


"Baiklah. Saya setuju. Terima kasih banyak Tuan William Brown"


"Baiklah. Saya yang seharusnya berterima kasih pada Anda. Saya akan utus orang saya untuk menjemput keponakan Anda"


"Terima kasih, Kek" Kibar Kemabli memeluk kakeknya.


Galaksi ternganga lebar dan langsung menoleh tajam ke Aurora untuk bertanya setelah ia membaca surat wasiatnya Andromeda, "Kenapa Meda menulis surat wasiat sepert ini?"


"Itu karena Kak Meda sering ditindas sama mama dan adik perempuan kamu tanpa sepengetahuan kamu" Aurora berucap sambil mengambil surat wasiat kakaknya dari tangan Galaksi


"Nggak mungkin! Mama, Bintang, dan Meda hidup rukun selama ini. Mereka saling menyayangi"


"Itu karena Kak Meda sangat mencintai kamu dan dia menjadi bodoh karena dia menyembunyikan perlakuan jahat mama dan adik perempuan kamu demi menjaga hati kamu" Aurora bangkit berdiri dan langsung nyerocos tanpa jeda.


"Tapi, aku tak percaya semua itu" Galaksi menyeringai tipis.


"Mama kamu juga yang menyebabkan Kak Meda pendarahan, dilarikan ke rumah sakit, lalu melahirkan prematur, dan meninggal dunia. Mama kamu pembunuhnya!" Aurora mendelik dan melompat kesal karena Galaksi tidak memercayai ucapannya.


"Nggak mungkin. Mamaku bukan orang jahat. Dia baik. Dia bahkan menjadi donatur banyak panti asuhan selama ini" Ucap Galaksi tidak kalah mendelik.


"Baiklah! Aku akan buktikan semuanya. Aku akan buktikan kalau semua ucapanku benar"


"Baiklah! Buktikan!" Tantang Galaksi


"Maka menikahlah denganku besok. Kita menikah selama tiga bulan dan aku akan buktikan semua perkataanku benar! Setalah aku buktikan semuanya, kita bercerai" Aurora melotot ke Galaksi dengan wajah merah padam karena kesal.


"Hah?!" Galaksi sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.

__ADS_1


__ADS_2