Terpaksa Menikahi Kakak Ipar

Terpaksa Menikahi Kakak Ipar
Dia Berbeda


__ADS_3

"Minggir! Biarkan Putraku masuk untuk melihat Meda. Putraku sangat merindukan Istrinya!" Mawar melotot ke Aurora.


"Tidak boleh!" Pamannya Aurora langsung pasang badan.


"Kau siapa?! Berani benar menghalangi keluarga Zayyan, hah?!" Mawar meninggikan nada bicaranya dan semakin melotot.


"Ma, jangan kasar" Galaksi berkata lemas sambil menegakkan kembali badannya.


Pamannya Aurora tidak kalah melotot dan berteriak kencang, "Kau mau nama Jepangku atau nama Jawaku? Karena aku sekarang ada di Indonesia aku akan beritahu nama Jawaku. Namaku Hernowo Herlambang. Aku pamannya Meda dan Rora. Pergi kau pembunuh!"


Mamanya Galaksi refleks menampar pamannya Aurora.


Aurora yang melihat pamannya ditampar oleh wanita iblis itu langsung menampar mamanya Galaksi tanpa pikir panjang.


Galaksi mendelik kaget melihat Aurora menampar mamanya.


"Apa?! Kenapa kau memelototi aku, hah?! Mama kamu yang sudah kurang ajar menampar Pamannya! Aku tidak akan tinggal diam kalau ada orang berani menyakiti keluargaku!" Pekik Aurora dengan wajah merah padam penuh amarah.


"Kau!!!!!" Tangan Mawar terangkat hendak menampar Aurora dan Galaksi langsung menahan tangan mamanya dan berkata dengan wajah sangat lelah dan suara sangat lirih, "Ma! Jangan bertengkar di sini! Kasihan Meda. Kita duduk di luar saja. Aku nggak papa duduk di luar. Aku yakin Meda bisa melihatku saat ini. Ayo, Ma! Kita duduk di luar saja"


Mamanya Galaksi menuruti permintaan putra tercintanya.


Bintang melotot ke Aurora dan saat adik perempuannya Galaksi itu ingin menarik rambut pangannya Aurora yang dikucir dengan gaya ekor kuda, dengan sigap Aurora menghindar dan menjegal kaki Bintang.


Bintang jatuh tersungkur di atas lantai dan Aurora langsung pergi meninggalkan gadis itu.


"Kau!!!!! Kembali kau!!!!! Aku belum selesai berurusan dengan kamu!!!!!!" Bintang berdiri sambil berteriak cukup kencang.


Galaksi menoleh kaget ke arah suara dan pria tampan itu langsung meraup kasar wajah tampannya yang sangat lelah kemudian menghela napas panjang ketika ia melihat Bintang berteriak tidak jelas seperti itu.


Aurora menoleh ke Bintang dan gadis cantik itu menjulurkan lidahnya ke Bintang.


"Berani kau julurkan lidah kamu, hah!" Bintang semakin meradang penuh amarah melihat Aurora menjulurkan lidahnya. Dan di saat Bintang ingin melangkah lebar menyusul Aurora, Herman langsung mencekal lengan Bintang sambil berkata, "Lebih baik Anda duduk, Nona muda. Prosesi kremasi akan segera dimulai"

__ADS_1


Bintang kemudian duduk di samping mamanya dan langsung nyerocos, "Ma! Wanita itu, adiknya Kak Meda, menjegal kakiku! Kurang ajar banget dia! Kak Gala! Adiknya Kak Meda menjegal kakiku tadi!"


Salah satu pelayat yang duduk di bangku di depannya Bintang langsung menoleh ke belakang dan langsung menatap Bintang lalu berkata, "Saya lihat kejadian tadi. Kamu yang lebih dulu ingin menjambak rambutnya. Dia hanya menghindar tadi dan kamu jatuh sendiri"


Bintang sontak melotot ke orang itu dan berteriak kesal, "Hei! Siapa kamu, hah?! Kenapa kamu ikut campur urusanku dan........"


"Diam! Ini upacara pemakamannya Meda. Hormati Kakak ipar kamu!" Galaksi mendelik ke Bintang dan Bintang langung menutup mulutnya lalu menundukkan wajah cantiknya yang judes dengan mengerucutkan bibirnya.


Mamanya Galaksi berbisik ke Galaksi, "Mana anak kamu? Kenapa mereka tidak membawa anak kamu ke sini?"


Galaksi berbisik ke mamanya, "Gala justru bersyukur anak Gala tidak membawa ke sini. Anak Gala terlahir prematur dan akan sangat riskan kalau anak Gala dibawa ke tempat umum seperti ini, Ma"


Setelah acara kremasi selesai, Aurora, mbak Bun, dan Hernowo Herlambang melangkah keluar menuju ke ruang penyimpanan abu jenazah.


Galaksi langsung bangkit berdiri dan berteriak, "Tunggu!"


Mamanya Galaksi, Bintang, dan Herman langsung berdiri di belakangnya Galaksi saat Galaksi berdiri di depannya Aurora.


"Ijinkan Kakak membawa abu jenazah Kakak kamu. Kakak mohon. Kakak sangat merindukan Meda. Kakak mohon" Gala kemudian bersimpuh di depan Aurora dan tertunduk menangis.


Saat pamannya Aurora ingin maju, Aurora menahan bahu pamannya dan langsung berkata, "Biarkan saja, Paman. Kak Meda pasti juga ingin suaminya yang membawa abunya"


Pamannya Aurora kembali mundur dan menghela napas panjang.


Galaksi bangkit berdiri dengan bantuannya Herman dan dengan wajah penuh air mata ia menerima abu jenazah itu dan pria tampan itu langsung mendekap wadah abu jenazah istrinya dengan menangis tergugu.


Galaksi sangat merindukan Andromeda dan dia sangat sedih kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Kenyataan bahwa dia tidak bisa melihat senyum Andromeda membuatnya merasakan sesak napas yang sangat hebat dan berharap air matanya bisa mengurangi sesak napas yang ia rasakan itu.


Semua pelayan yang menyaksikan Galaksi ikutan menangis terharu. Begitu juga Aurora, mbak Bun, dan pamannya Aurora.


Pamannya Aurora langsung menempelkan wajahnya ke punggung Aurora dan menangis tergugu di sana.


Mamanya Galaksi dan Bintang sama sekali tidak menangis. mereka mengalihkan pandangan mereka sambil berpura-pura mengelap mata mereka dengan sapu tangan. Seolah mereka menangis. Padahal tidak. Sama sekali tidak.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, setelah meletakkan wadah abu jenazah istrinya di tempat yang semestinya, Galaksi memberikan penghormatan terakhir, lalu ia berdiri sangat lama untuk terus menatap wadah abu jenazah dan foto istrinya yang dipasang di samping wadah abu jenazah. Di dalam foto itu, Andromeda tampak tersenyum sangat bahagia. Galaksi kembali menangis tergugu saat ia kembali teringat pada kenyataan yang sangat memilukan yakni, dia tidak bisa lagi melihat senyum cantiknya Andromeda itu untuk selamanya-lamanya."Maafkan aku, Meda. Maafkan aku, Sayang! A....aku tidak bisa melihat senyum cantik kamu lagi, Sayang dan hatiku terasa sangat sakit saat ini. Kenapa kau tega meninggalkan aku secepat ini? Kenapa Meda?" Galaksi merintih pilu.


Aurora yang berdiri di samping Galaksi bisa mendengar rintihan pilu itu dan seketika Aurora bergumam di dalam hatinya tanpa menoleh ke Galaksi, dia pria baik dan sangat mencintai Kak Meda. Tapi, dia sudah membiarkan Kak Meda melahirkan sendiri dan dia sangat memercayai Mama dan adiknya yang jahat itu. Maka aku juga akan bikin perhitungan denganmu. Tenang, Kak Meda, adik kamu yang pemberani ini akan menuntut balas pada mereka semua yang sudah lancang menyakiti Kakak selama ini. Aurora berucap sambil terus menatap foto kakaknya yang tengah tersenyum sangat cantik.


Sementara itu pamannya Aurora yang menunggu di depan ruang penyimpanan abu jenazah bersama dengan mbak Bun, Bintang, dan Mawar, terus mendelik ke mertua dan adik iparnya Andromeda.


Lama kelamaan Mawar jengah juga dengan tatapan tidak suka yang dihunus oleh pamannya Andromeda dan Aurora secara terang-terangan. Kemudian Mawar menghardik pamannya Andromeda dan Aurora, "Turunkan mata kamu itu! Dasar tua bangka!"


"Hei! Siapa yang kau sebut tua bangka, hah?!" Pamannya Andromeda dan Aurora langung melompat maju dan melotot ke Mawar.


Mawar sontak melangkah mundur dan berteriak, "Berani benar kau mendekati aku dan melotot padaku! Dasar tua bangka nggak tahu sopan santun"


"Itu karena kamu itu wanita Iblis. Rora curiga kalau kamu telah membunuh Meda. Maka untuk apa aku bersopan santun sama kamu, cih! Dasar Iblis!"Hernowo membuang lidah di depan Mawar dan di saat Mawar mengangkat tangan ingin menampar Hernowo, Galaksi langsung menahan tangan mamanya sambil berkata, "Ma! Beliau besan Mama. Jangan menampar beliau, Ma!"


Mawar langsung menoleh tajam ke Galaksi, "Tapi, dia telah........"


"Herman"


"Iya, Tuan" Herman maju dan berdiri di samping tuannya.


"Antarkan Mama dan Bintang pulang"


"Lalu, kamu mau ke mana?"


Galaksi menoleh ke Aurora, "Apa aku boleh melihat Putraku? Putraku ada di rumah Pamannya dan Bibinya Meda, kan?"


"Boleh. Ayo ikut aku! Kebetulan ada yang ingin aku katakan"


Aurora berjalan mendahului Galaksi dan berhenti sejenak di samping mamanya Galaksi untuk berbisik, "Anda harus sangat berhati-hati dengan saya, Nyonya besar! karena saya tidak akan berhenti sampai saya melihat Anda jatuh dan menyerah kalah" Setelah membisikkan kata-kata itu, Aurora melangkah lebar meninggalkan mamanya Galaksi.


Mamanya Galaksi refleks berputar badan lalu menatap punggung Aurora yang sudah jauh dengan mengepalkan tangannya dan bergumam, "Kau yang harus berhati-hati denganku. Dasar gadis kurang ajar"


Pamannya Aurora, mbak Bun, Galaksi dan Aurora masuk ke dalam mobil sportnya Galaksi yang dikemudikan oleh supir pribadinya Galaksi karena Herman ditugaskan oleh Galaksi mengantarkan mama dan adik perempuannya pulang.

__ADS_1


Di dalam mobil, pamannya Aurora langsung berkata, "Aku tidak suka basa-basi. Aku tidak menyukai kamu dan keluarga kamu"


Galaksi hanya diam seribu bahasa dan memilih untuk tidak merespons ucapan yang keluar dari mulut pamannya Aurora. Namun, sesekali Galaksi melirik Aurora dan seketika pria tampan itu bergumam di dalam hatinya, dia sangat berbeda dengan Meda. Dia tomboy, kasar, dan ceplas-ceplos orangnya. Tapi, aku yakin kalau dia orang baik. Dia pernah menolongku dan dia adalah adiknya Meda. Maka aku akan baik padanya.


__ADS_2