
Galaksi terus menangis di dalam perjalanan pulang. Herman hanya bisa diam karena dia pun masih syok mendengar kabar bahwa nyonya muda yang beberapa jam yang lalu masih segar bugar dan baik-baik saja tiba-tiba dikabarkan telah meninggal dunia.
Dari mamanya, Galaksi mengetahui kalau Andomeda berhasil melahirkan putranya. Putranya terlahir prematur dan masih berada di inkubator dan adik perempuannya Andromeda terus menjaga anaknya Andormeda di rumah sakit.
"Kenapa Aurora tidak mau mengangkat telepon dariku? Padahal aku ingin sekali mengetahui kondisi Putraku"
"Saya yakin Putra Anda baik-baik saja, Tuan" Sahut Herman berusaha untuk menenangkan tuannya.
"Tapi, aku ingin memastikannya. Oh! Astaga! Cobaan ini kenapa berat sekali? Aku kehilangan Andormeda di saat aku tidak ada di sampingnya dan aku membiarkan Meda melahirkan sendiri tanpa ada aku di sampingnya Suami macam apa aku ini, sial!" Galaksi menangis histeris dan memukul dashboard mobilnya. Kemudian pria tampan itu menunduk dan menangis tergugu.
Herman ikut meneteskan air mata dan hanya bisa berdiam diri.
Beberapa jam setelah tenang, Galaksi berkata, "Kita ke rumah sakit saja dulu. Aku ingin mengetahui kondisi Putraku dan kalau putraku sudah boleh dibawa pulang aku akan langsung membawanya pulang. Aku akan rawat anak kita dengan sangat baik, Meda. Aku akan besarkan anak kita menjadi anak yang baik seperti kamu" Galaksi kembali terisak menangis dan menutup wajah tampannya dengan telapak tangan.
Herman hanya bisa menghela napas panjang dan berucap, "Jangan menangis terus, Tuan. Nyonya muda pasti tidak suka melihat Anda menangis terus seperti ini"
Namun, Galaksi mengabaikan Herman dan dia terus menangis sejadi-jadinya.
Saat Aurora sudah menemukan sosok wanita yang dia cari, ia langsung melangkah lebar dengan mengepalkan kedua tinjunya untuk berhadapan dengan wanita berhati iblis itu. Namun, tiba-tiba bahunya ditarik oleh seseorang
Aurora menoleh kaget dan langsung memeluk orang itu sambil memekik kegirangan, "Kak Kibar!"
"Iya. Ini aku" kibar mengelus rambut Aurora.
Aurora kemudian melepaskan pelukannya untuk menatap wajah ganteng kakak sepupunya, "Kenapa Kakak ada di sini"
"Aku mengikuti kamu terus karena wajah dan gerak-gerik kamu mencurigakan. aku mengikuti kamu sejak kamu keluar dari pintu gerbang rumah duka. Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu tidak menunggu Meda di rumah duka?"
"Aku tadi dari rumah duka Lalu aku ingat semua cerita tentang wanita iblis itu. Dia sudah menindas Kak Meda selama ini. Aku ingin mendamprat mama mertua Kak Meda yang jahat itu. Aku sangat ingin menghancurkan wajahnya saat ini" Aurora menjulurkan kepalanya ke depan ke arah wanita paruh baya yang tengah bercanda ria dengan wanita paruh baya yang lainnya. Aurora menggeram penuh amarah dan kedua tinjunya semakin mengepal kuat.
"Kau hanya akan mempermalukan diri kamu sendiri. Ayo kita kembali ke rumah duka!" Kibar menggenggam tangan Aurora dan menariknya pelan.
"Tapi, aku harus memberinya pelajaran. Dia tidak pernah datang ke rumah sakit padahal Kak Meda masuk ke rumah sakit gara-gara dia Dia sudah membunuh Kak Meda, Kak"
__ADS_1
"Kau punya buktinya?" Kibar menatap Aurora dengan sorot mata serius.
"Tidak. Tapi, dia yang sudah membunuh Kak Meda. Dia bahkan tidak meminta maaf dan tak datang ke rumah peristirahatan terakhir Kak Meda. Dia malah mengadakan pesta ulang tahun di sini" Aurora menahan tangan Kibar.
Kibar menarik tangan Aurora kembali sambil berkata, "Kalau ingin memberinya pelajaran jangan di sini! Kalau ingin menghukumnya kamu harus punya bukti Kalau tidak, Kamu yang akan dipermalukan. Ayo kembali ke rumah duka!"
Aurora akhirnya menuruti permintaannya Kibar. Saat mereka berdua sudsh berada di dalam taksi online, gadis cantik itu menoleh ke Kibar, "Kita ke rumah sakit dulu menjemput Awan. Awan sudah boleh dibawa pulang hari ini"
"Awan itu keponakan kita? Anaknya Meda?"
"Hmm" Sahut Aurora dengan senyum lebar.
"Oke. Kita ke rumah sakit dulu untuk menjemput jagoan baru di keluarga kita. Semoga dia menyukai Om gondrong kayak aku, ya? Tapi, kalau dia takut sama om berambut gondrong, aku tidak keberatan memotong rambut kebanggaanku ini, hehehehe" Sahut Kibar dengan penuh antusias dan meringis di depan Aurora.
Aurora langung terkekeh geli melihat tingkah polosnya Kibar.
Aurora sangat bersyukur akhirnya Kibar dan pamannya memutuskan balik ke Indonesia. Dia tidak sendirian sekarang. Dia lega dan bahagia.
"Terima kasih sudah mau datang ke sini. Aku sudah tidak punya siapa-siapa di sini kalau Paman dan Kak Kibar tidak datang ke sini" Aurora meneteskan air mata dan Kibar langsung memeluk Aurora lalu berkata, "Kakak dan Paman akan menetap di sini. Kakak dan Paman akan menemani kamu tinggal di rumah Paman yang ada di sini. Kamu tidak sendirian. Kamu masih punya aku dan Paman"
Beberapa jam kemudian, Aurora dan Kibar sampai di rumah Paman dan Bibi mereka yang sudah meninggal dunia. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah tersebut terlebih dahulu karena mereka membawa Awan Zayyan, putranya Andromeda dengan Galaksi Zayyan.
Paman mereka yang berjaga di rumah duka bersama.mbak Bun.
"Dia sangat tampan. Dia mirip banget dengan Kak Meda, kan, Kak?" Aurora memandangi wajah tampan anaknya Andormeda yang berada di dalam dekapannya.
"Iya. Dia sangat tampan. Tapi, hei! Kenapa rambutnya agak ikal seperti kamu? Wah! Jangan sampai dia mewarisi watak keras kepala kamu, ya karena biasanya orang berkabut ikal itu keras kepala. Kayak kamu" Sahut Kibar.
Aurora langsung menendang kaki Kibar dan mendengus kesal.
"Hahahahaha! Maaf! Bercanda. Gitu aja marah" Kibar menoel pucuk hidungnya Aurora.
Tiba-tiba datang seorang wanita muda yang manis dengan memakai setelan blazer warna hijau daun. Wanita itu mengetuk daun pintu yang terbuka lebar, "Permisi, saya bisa bertemu dengan .........."
__ADS_1
Aurora mendonggakkan wajahnya dan gadis cantik itu langsung memekik senang, "Mira! Masuklah! Ayo masuk dan duduk sini! Maaf aku nggak bisa berdiri menyambut kamu. Aku sedang memberikan susu ke keponakanku"
Kibar menoleh ke Aurora saat wanita yang bernama Mira melangkah masuk lalu duduk di sebelahnya.
Aurora menoleh ke Kibar lalu menoleh ke Mira sambil berkata, "Mira adalah teman mainku waktu masih kecil. Dia sekarang adalah seorang pengacara. Dan Mira, emm, ini kakak sepupuku. Namanya Kibar"
Mira dan Kibar berjabat tangan singkat dan saling melempar senyum. Mita seketika jatuh hati pada pandangan pertama melihat sosok Kibar yang keren, berambut gondrong tapi sopan dan pemuda yang bernama Kibar itu berwajah sangat ganteng.
Tipe aku banget, nih. Batin Mira.
Kenapa wanita ini memandangiku terus? Batin Kibar sambil mengalihkan pandangannya ke samping dengan canggung.
Galaksi tesentak kaget dan sontak terhenyak lemas di kursi yang ada di depan ruang PICU saat ia mendengar kalau putranya sudah dibawa pulang oleh gadis yang bernama Aurora. Dia kecewa. Dia berlari kencang masuk ke rumah sakit dengan harapan bisa segera melihat wajah putranya dan diijinkan memeluk putranya, namun ternyata putranya sudah dibawa pulang oleh Aurora.
"Tidak ada di kediaman, Tuan. Nona Aurora tidak membawa putra Anda ke rumah Anda, Tuan"
"Apa?!" Galaksi sontak bangkit berdiri dengan wajah lelah, frustasi, sedih, dan kaget.
"Sepertinya Nona Aurora membawa putra Anda ke........."
Galaksi langsung berlari meninggalkan Herman begitu saja.
.
"Tuan, tunggu!" Herman sontak berlari kencang untun menyusul laju lari tuannya.
"Kita ke rumah duka sekarang juga! Aku ingin melihat wajah cantik Istriku, Man. Aku sangat merindukan Meda! Bawa aku ke rumah duka sekarang juga! Aku yakin di sana nanti aku juga akan berjumpa dengan putraku untuk pertama kalinya" Galaksi kembali menangis sesenggukkan.
"Surat wasiat Kakak kamu kuat. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat bahkan Papa langsung anak ini tidak bisa mengambil anak ini dari kamu, Ra" Sahut Mira.
"Syukurlah" Sahut Aurora.
"Aku akan membantu kamu merawat anak tampan ini" Sahut Kibar sambil memainkan kaki mungil anaknya Andromeda.
__ADS_1