
Selamat! Membaca 🤗
🌿🌿🌿🌿🌿
"Halo! Halooo. Apa kau mendengarkan ku?"
Teriak Mikha di ponselnya, karena sang penelepon tidak kunjung bersuara menyahuti permintaan tolongnya.
Suara keras Mikha memancing si pria yang tengah mencari-cari dirinya, dan senyum terukir di kedua sudut si cabul ketika mendengar suara Mikha dari balik semak-semak.
Ia mengendap-endap menuju tempat persembunyian Mikha.
Dan.
GREB.
Ia menangkap Mikha yang tengah berjongkok, dari belakang.
"Haha. Hahaha... Mau lari kemana kau cantik, sudah saya bilang tempat ini jauh dari pemukiman, tidak akan ada yang mendengar pertolonganmu, bahkan makhluk halus sekalipun. Lebih baik ikut saya dan kita bersenang-senang."
"Lepaskan!"Mikha masih berusaha melepaskan diri dari bekapan pria tersebut.
Di tempat lain.
Brian yang masih belum menutup sambungan telepon. Di liputi rasa penasaran, ia juga ingin bertanya kemana gadis itu di jam seperti ini belum pulang.
Brian menempelkan ponselnya di telinga. Ketika ia akan membuka mulut untuk bertanya dengan nada tinggi, indra pendengarannya menangkap suara gaduh dan teriakan Mikha yang meminta tolong dan kata lepaskan.
"Hei, kau di mana? Jangan main-main. Apa yang terjadi?"teriak Brian.
Namun tidak ada yang menyahuti, Brian semakin mendengar teriakkan Mikha. Ia menajamkan pendengarannya, mendengar setiap kata yang Mikha ucapkan dari sambung telpon.
__ADS_1
(Haha... Haha. Kita akan berpesta, sayang. Teman-teman saya sedang menuju kemari, jadi kita tidak hanya berdua. Bukankah itu sangat menyenangkan!)
Suara seorang pria dengan kata-kata menjijikkan terdengar jelas di telinga Brian. Dan di sambung suara Mikha yang berteriak meminta pertolongan.
"Sial!"Umpat Brian, yang menyadari jika Istrinya dalam bahaya.
Iya bergegas keluar ruangan dan menuju kamar Rayan.
"Ada apa tuan?"Tanya Rayan, yang menyadari terjadi sesuatu pada tuannya itu.
"Cepat! cari tau, lokasi wanita itu dimana."Titah Brian.
"Maksud Anda, Nona Mikha?"
"Siapa lagi, cepat! Rayan, lacak lokasinya saat ini."
Tanpa bertanya lagi, karena Rayan tau jika ini sangat penting. Dia segera melakukan apa yang Brian perintahkan, meskipun Rayan belum tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Tuan, menurut GPS dari ponsel Nona Mikha, beliau ada di pinggiran kota. Tidak terlalu jauh dari sini, tepatnya di jalan Melati. Di sana kawasan yang tidak di tinggali penduduk. Apa perlu saya menjemput Nona Mikha sekarang?"Ujar Rayan.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang ke sana, kau jangan kemana-mana, tetap di rumah dan jaga Belle sebaik mungkin. Jika dia bangun dan bertanya, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?"
Rayan mengangguk.
"Tentu Tuan, berhati-hatilah. Jika terjadi sesuatu yang darurat, Anda bisa menghubungi saya dan saya akan segera mengirimkan bantuan ke lokasi tersebut."
.
Brian mengangguk dan ia segera pergi dari sana, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di lokasi yang sudah dijelaskan oleh Rayan.
☘️☘️☘️☘️
Sedangkan, Mikha. Masih terus berusaha melepaskan diri dari pria yang menyeretnya dengan gerakan kasar. Paling tidak, ia bisa mengulur waktu sampai bantuan datang. Karena Mikha sangat yakin, seseorang yang menghubunginya tadi mendengar teriakannya.
__ADS_1
"Kenapa susah sekali, ayo cepat ikut saya. Jika kau tidak mau saya berbuat."Ancam pria itu.
Namun Mikha tidak perduli dengan ancaman Pria itu, ia malah melawan dengan menendang perut pria itu sampai terjungkal.
"Sepertinya saya benar-benar harus berbuat kasar kepadamu."Pria itu sudah marah dan ia bangkit kembali sambil menarik kuat tangan Mikha.
Di saat pria itu tersungkur, Mikha tidak bisa langsung berlari karena masalah dalam kakinya yang terkilir.
Dan sialnya lagi beberapa rekan pria jahat itu tiba ke lokasi.
"Apa Ini barang bagus yang kau maksud?"tanya salah satu dari ketiga orang yang baru saja datang.
"Benar, bagaimana? Apa kalian setuju jika aku mengatakan kalau ini adalah barang bagus?"
"Hahaha, tentu saja kau tidak salah, karena ini benar-benar sangat menakjubkan. Bahkan kita sebelumnya tidak pernah mendapatkan mangsa seperti ini." Sahut salah satu dari mereka.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat kita eksekusi saja, aku sudah sangat tidak sabar."Sambung satu rekannya lagi dengan menatap Mikha dengan tatapan yang nakal.
keempat orang itu mengelilingi Mikha.
Dan Mikha semakin ketakutan, jika saja kakinya tidak terkilir, tentu Mikha masih bisa kabur, tapi cedera di kaki membuat Mikha tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa mengharap bantuan datang.
Bersambung.
☘️☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1