
Selamat membaca π€
βοΈβοΈβοΈ
"Nona Mikha, mulai dari besok dan seterusnya. Anda tidak diizinkan untuk bekerja,"kata Rayan dengan lantang.
"Apa! Kenapa?"kaget Mikha.
"Karena Anda sudah melakukan kesalahan, tidak berpamitan pada Tuan Brian dan ini sudah seringkali Anda lakukan."
"Tapi tidak bisa seperti ini, aku dihukum seperti biasanya saja. Tidak perlu sampai melarangku bekerja. Kau sudah berjanji untuk tidak mencampuri semua urusan pribadiku termasuk pekerjaanku."Ujar Mikha dengan kesal.
"Tapi saya juga sudah pernah mengingatkanmu, untuk tidak membuat malu keluarga Brian."Brian membuka suara.
"Membuat malu? Aku tidak melakukan pekerjaan yang memalukan!"
Brian bangun dari duduknya, dan mengibaskan tangan mengisyaratkan Rayan untuk pergi dari sana.
Rayan mengagguk dan pergi dari ruangan Brian setelah meletakkan Map yang tadi dia bawa, di atas meja.
Sepertinya Brian ingin menangani ini sendiri.
"Pekerjaanmu memang tidak membuat malu, tapi dengan kau bekerja seperti orang yang kekurangan uang, itu yang membuat seorang Brian malu."
Mikha semakin tercengang.
"Aku memang membutuhkan uang, jadi aku harus kerja."
"Apa uang bulanan yang saya berikan kurang?"tanya Brian.
Dan tentu saja gadis itu terkejut dengan pertanyaan Brian.
"Uang bulanan? Sejak kapan dia memberi aku uang bulanan?"gumam Mikha dalam hatinya.
"Ayo katakan! Apa uang yang saya berikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanmu selama satu Bulan? Jika tidak! Saya akan meminta Rayan untuk menambahkan nominalnya."
"Tunggu! Uang bulanan apa maksud Anda?"tanya Mikha.
"Ternyata, Rayan benar. Jika si bodoh ini tidak tau apa-apa."Gumam Brian.
"Apa! Si bodoh!"Mikha melotot, mendengar gumaman dari Brian.
"Kenapa?"tanya Brian seperti menantang Mikha.
"Ya Tuhan! Kenapa dia selalu membuatku kesal, kau harus sabar Mikha. Kau juga harus bisa mengambil hati lelaki aneh ini."
"Tuan, saya sungguh tidak tau jika Anda memberikan uang bulanan pada saya, karena sebelumnya Anda tidak pernah mengatakan hal ini."
Brian mendengus kesal.
"Saya buka suami yang tidak bertanggung jawab pada istrinya."
__ADS_1
"Apa dia selama ini menganggap aku istri!" batin Mikha.
Memang tidak pernah terpikirkan oleh Mikha, jika Brian bertanggung jawab atas kebutuhannya. Karena yang Mikha tau, dia menikah hanya untuk menggantikan Raline yang pergi dan Handoko terpaksa menyeretnya agar semua yang Brian berikan pada keluarganya tidak di ambil. Kurang lebih, Mikha menganggap jika dirinya sudah di tukar kemewahan oleh Handoko dan Marlina. Jadi dia tidak berhak menuntut tanggung jawab dari Brian.
"Maafkan saya, Tuan. Dan terima kasih atas kebaikan Anda. Tapi, meskipun begitu! tolong izinkan saya untuk tetep bekerja,"pinta Mikha.
"Tidak!"sahut Brian dengan tegas,"Seperti apa yang dikatakan Rayan, mulai besok saya tidak mau lagi melihatmu berangkat bekerja,"sambungnya.
"Lalu! Jika aku tidak bekerja apa yang akan aku lakukan di rumah ini. Selain ingin mendapatkan uang, aku pergi kerja karena ingin menghindari dia, jika seharian aku bersama Belle, aku juga takut di hukum karena pasti akan melakukan kesalahan."
Brian memperhatikan Mikha yang tengah termenung dan berdialog dengan hatinya.
"Apa kau mengerti?"tanya Brian menyadarkan.
Dengan terpaksa dan berat hati, Mikha mengagguk.
"Saya mengerti, Tuan. Tapi saya tidak bisa langsung berhenti dari Hotel begitu saya, karena....!"
"Rayan yang akan mengurus semuanya, kau cukup tidak lagi datang ke Hotel itu."Potong Brian.
"Baiklah!"sahut Mikha dengan kecewa.
"Kau boleh pergi,"usir Brian.
Namun Mikha tidak jua melangkah pergi. Membuat Brian bertanya.
"Ada apa?"
βBrian menatap intens.
"Kabar apa yang kau pikir baik itu?"
Mikha menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Tuan, Raline sudah kembali."
Brian tentu tidak terkejut dengan kabar ini, karena dia sudah mengetahuinya dari Rayan.
"Lalu?"tanya Brian.
Mikha mendongak menatap Brian yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa reaksinya seperti ini? Diluar dugaanku."
Brian semakin mantap dalam Mikha. Dan Mikha langsung menunduk ketika melihat kedua bola mata hitam milik Brian yang menatapnya dengan tajam.
"Lalu...!"Mikha yang gugup mengulangi pertanyaan Brian.
"Eemm. Lalu apa dan kenapa, jika wanita itu sudah kembali?"tanya Brian kembali.
"Tuan, apa Anda tidak bahagia mendengar kabar ini?"Mikha balik bertanya.
__ADS_1
"Bahagia! Memangnya apa yang bisa membuat saya bahagia mendengar kabar yang tidak penting seperti ini."
"Apa Anda tidak mengharapkan kedatangan Raline?"
"Bukankah saya sudah punya istri, jadi untuk apa mengharapkan kehadiran wanita lain."
"Istri! kenapa dia selalu menyebut kata itu,"
"Ta... tapi, Tuan. Sa...!"
"Jangan berbelit-belit, cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan."Potong Brian, yang tau jika ada maksud tertentu dari Mikha dengan membawa kabar kembalinya Raline.
Mikha semakin gugup, melihat reaksi Brian yang seperti ini, Mikha menduga jika lelaki itu masih sangat marah kepada Raline. Jika dia mengatakan bahwa Raline ingin bertemu dengannya, Brian pasti marah.
Namun dia sudah berjanji kepada Raline akan membantu kakaknya itu untuk bersama Brian kembali, karena sesungguhnya mereka saling mencintai satu sama lain hanya sebuah kesalahpahaman yang membuat mereka berpisah sementara.
"Tuan, Raline sangat ingin bertemu dengan Anda. Ada sesuatu yang harus Raline jelaskan pada Anda, tentang kepergiannya di hari pernikahan itu."Kata Mikha.
"Kau menyuruh suamimu untuk menemui wanita lain?"tanya Brian. Dan Mikha tidak menyangka jika Brian bertanya seperti ini.
"Suamimu! apa selama ini dia memposisikan diri sebagai suamiku!" Batin Mikha. Tapi dia tidak menggubris pertanyaan Brian. Dan gadis itu malah benar-benar meminta Brian untuk menemui Raline.
"Tuan, tolong temui Raline. Anda tidak boleh membenci orang yang sesungguhnya sangat Anda cintai. Anda juga harus tahu alasan yang membuat Raline pergi saat itu."
Brian terlihat sangat kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Mikha. Bisa-bisanya gadis ini mengatakan bahwa dia mencintai wanita lain, pikir Brian.
"Baik, aku akan menemui wanita itu."Kata Brian yang mengabulkan permintaan Mikha.
Mikha kembali mengangkat wajahnya untuk melihat Brian, memastikan jika lelaki ini tidak sedang bergurau. Tapi entah kenapa saat melihat wajah Brian, terbesit di hati Mikha menyesali permintaannya tadi.
"Namun aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh menentang, karena semua ini bukan miliku."Batin Mikha.
"Terima kasih, tuan. Kalau begitu saya permisi."Dengan perasaan yang sulit dimengerti Mikha berjalan keluar dari ruangan Brian.
Sedangkan Brian terlihat sedang mengepalkan tangan dengan kuat-kuat, sungguh lelaki ini sedang menahan kesal dan marah di hatinya.
Apakah Brian kesal karena dia harus menemui Raline?
Ataukah Brian kesal karena Mikha yang memintanya untuk menemui gadis itu?
Fakta yang sesungguhnya, Brian sudah tidak pernah lagi memikirkan atau menghiraukan Raline, karena sungguh, tidak ada rasa cinta untuk gadis itu. Brian tidak pernah mencintai Raline. Dia meminang Raline hanya karena Belle menyukai gadis itu, tidak lebih!
Bersambung.
βοΈβοΈβοΈ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ