Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian

Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian
Mikha Bertemu Raline


__ADS_3

Selamat membaca 🤗


☘️☘️☘️


"Baiklah, kita gunakan dekorasi seperti ini. Aku rasa ini sangat cocok dengan karakter seorang Tuan Brian,"ujar Juna setelah melihat hasil gambar yang sempurna untuk dekorasi pesta perusahaan Brian.


Semua tersenyum puas. Perusahaan milik Brian adalah perusahaan besar yang terkenal dengan kemajuannya, tentu saja mereka tidak boleh gegabah dan harus memberikan sesuatu yang spektakuler agar nama Hotel Lesmana bisa ikut populer.


"Kalau begitu, Mari kita makan siang bersama. Aku yang akan mentraktir kalian."Kata Juna yang terlihat begitu senang hari ini.


"Waaaah... benarkah!"seru salah satu rekannya.


"Tentu saja, kalian tinggal pilih di Resto mana kita makan,"sahut Juna.


Semua langsung berdiskusi menentukan Resto yang paling terkenal dengan masakannya yang enak.


"Maaf, tapi aku tidak bisa ikut."Ujar Mikha tiba-tiba dan tentu saja ucapannya ini membuat semua terkejut.


"Kenapa?"tanya Juna yang nampak kecewa.


"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, jadi mohon maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian."


"Apa kau tidak bisa menundany?"Tanya teman Mikha.


"Maaf, aku tidak bisa. Karena ini sangat penting, aku pamit, usai jam makan siang aku akan segera kembali lagi ke Hotel."Kata Mikha, dan tanpa menunggu persetujuan dari rekan-rekannya Gadis itu segera pergi dari Hotel Lesmana.


Juna, yang tadi bersemangat kini menjadi layu seperti mawar yang terkena panas.


"Juna, apa kita akan tetap pergi?"tanya rekannya dengan ragu-ragu karena melihat dari ekspresi Juna, lelaki itu sudah kehilangan semangat.


"Tentu saja, kita akan tetap pergi,"sahur Juna yang tidak ingin membuat rekan-rekannya kecewa.


Dan mereka pun bergegas menuju restoran terdekat.


***


Sementara Mikha, dia memanfaatkan waktu istirahat ini untuk pergi ke tempat kerja Tika yang memang lokasinya tidak jauh dari Hotel Lesmana.


Namun, saat dalam perjalanan ponselnya berdering berulang-ulang kali membuat Mikha menepikan motornya untuk menjawab panggilan dari benda pipih tersebut.


"Papah!"gumam Mikha setelah melihat foto profil dari seseorang yang menghubunginya, dan ternyata adalah Handoko.


Mikha yang sudah merasa, pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh ayahnya itu sudah siap siaga. Karena tidak mungkin Handoko menghubunginya jika tidak ada sesuatu yang dia inginkan dan penting bagi dia dan istrinya.


"Halo, Pah!"ucap Mikha setelah dia menggeser tombol berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


("Mikha, apa kau sedang berada di rumah Brian?") tanya Handoko tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Tidak! Aku sedang bekerja."Sahut Mikha.


("Cepat datang ke rumah Papah sekarang, ada sesuatu yang ingin Papah bicarakan padamu, dan ini sangat penting") Setelah mengatakan itu Handoko langsung menutup panggilannya.


Mikha menghela nafas berat sambil menatap layar ponsel.


"Apa dia tidak ingin bertanya, apakah aku baik-baik saja,"gumam Mikha.


Meskipun merasa sedikit kecewa dengan Handoko, Mikha tetep menuruti perintah dari pria itu. Dia segera menyalakan mesin motornya dan merubah arah dari Kantor tempat Tika bekerja, menuju Rumah baru Handoko.


***


"Raline!"Mikha terkejut setengah mati, setelah kedua bola matanya menangkap sosok yang dia cari-cari selama ini.


Susah payah Mikha mencari Raline, dan pada akhirnya dia berhasil menemukan kakaknya itu berada di rumah orang tuanya.


Rasa terkejut bercampur senang membuat Mikha jadi kalap. Dia segera menghampiri kakaknya itu dan memberondong Raline dengan beberapa pertanyaan.


"Raline, kau dari mana saja? Kenapa kau pergi disaat pernikahanmu dengan Tuan Brian? Kenapa kau sampai meninggalkan lelaki itu di hari pernikahan kalian? bukankah kau sangat menyayangi anak dari tuan Brian? Apa kau tahu sesedih apa dia saat kau pergi meninggalkannya, Raline cepatlah kembali, mereka semua sudah sangat mengharapkan kedatanganmu. Begitu juga denganku."


"Mikha!"sentak Marlina dan langsung membuat Gadis itu diam.


"Maaf, Mah! aku hanya terlalu bersemangat karena merasa senang melihat Raline kembali pulang."Kata Mikha.


"Apa benar kau merasa senang dengan kembalinya Raline? Kau tidak sedang berpura-pura kan untuk menarik simpati dari kami."


"Tidak Mah, Aku sungguh senang melihat Raline pulang."Jawab Mikha dengan cepat.


"Lalu, kenapa kau sampai menghalangi Brian untuk menemui saya dan Raline?"tanya Marlina dan tentu saja pertanyaan ini membuat Mikha bingung, karena dia tidak pernah mengatakan apapun pada Brian, justru dialah orang pertama yang ingin mempertemukan Raline dan Brian.


"Tidak, aku tidak pernah melarang Tuan Brian untuk bertemu dengan Mamah, apalagi Raline. Bahkan aku tidak tahu jika Raline sudah kembali."


Marlina menelesik Putri tirinya itu, dia mencari-cari dusta dari raut wajah dan ucapan Mikha. Tapi tidak berhasil menemukannya, karena Mikha bicara dengan sangat jujur.


Raline, sejak tadi dia memperhatikan ekspresi Mikha yang sangat bahagia melihat kehadirannya. Membuat Raline menyadari sesuatu tentang adiknya itu.


"Mikha!"Panggil Raline dengan nada yang sangat lembut, bagai seorang kakak yang benar-benar menyayangi adiknya dengan tulus.


Tapi, mendengar Raline memanggil Mikha selembut sutra, membuat Marlina mengasah matanya sampai tajam. Namun, dengan cepat Raline mengedipkan matanya memberi kode kepada Marlina untuk menahan diri.


Dengan senyum seperti mentari pagi Raline menyentuh pundak adiknya.


"Mikha, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku yang sudah melibatkanmu dalam masalah pribadiku, sungguh aku tidak bermaksud untuk menarikmu masuk ke dalam hubungan aku dan Tuan Brian."Raline langsung memeluk adiknya.

__ADS_1


Mikha, yang sempat ingin protes dengan Raline, seketika menjadi luluh karena pelukan hangat yang diberikan Raline meskipun itu palsu.


Setelah beberapa detik memeluk adiknya Raline menguraikan pelukannya. Dan dia langsung bertanya kepada Mikha.


"Mikha, apa kau benar-benar senang karena aku Kembali?"


Mikha mengangguk dengan sangat yakin.


"Iya, aku senang kau kembali."


"Karena dengan kembalinya kau aku bisa terbebas dari lelaki gila itu."


Raline kembali mengulas senyum dan berucap.


"Apa yang membuatmu senang karena aku kembali. Apa kau tidak takut jika Tuan Brian akan berpaling darimu, karena sesungguhnya. Tuan Brian sangat mencintaiku dan tidak akan pernah bisa melupakanku begitu saja."


Mendengar ucapan Raline yang demikian hati Mikha jadi merasa sedikit berdenyut. Tapi, apa yang dikatakan Raline benar adanya, Brian memang tidak akan bisa melupakan wanita yang dia cintai begitu saja.


"Aku tidak takut, dan aku senang karena kau kembali."Kata Mikha, namun kali ini dia berucap dengan nada yang sedikit melemah karena merasakan sesuatu yang lain di hatinya.


"Apa ini artinya kau mengizinkan aku untuk kembali kepada Brian?"tanya Raline memastikan apa yang dia duga.


Sejenak Mikha berperang dengan hatinya dan otaknya, yang tidak sependapat.


"Mikha, jawab pertanyaanku. Apa kau mengijinkan aku untuk kembali kepada Tuan Brian? kau tahu kan jika aku dan Tuan Brian sama-sama saling mencintai. Dia tidak akan pernah bisa mencintaimu meskipun saat ini kau sebagai istri sahnya."


Hati Mikha semakin dipatahkan oleh ucapan Raline. Dia merasa jika kakaknya ini terlalu kejam membeberkan fakta jika suaminya tidaklah mencintaimu.


"Raline, jika kau benar-benar mencintai Tuan Brian, kenapa kau meninggalkannya pada hari pernikahan?"Tanya Mikha, dia yang tadinya bersemangat ingin menyatukan kembali Raline dan Brian tiba-tiba menjadi down.


Raline terdiam. Dia harus menggunakan cara halus untuk membujuk Mikha.


"Mikha, aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada hari itu. Sekalipun aku menjelaskannya padamu kau tidak akan pernah bisa mengerti posisiku, yang jelas saat itu aku benar-benar putus asa dan tidak tahu harus melakukan apa, hingga aku berpikir pendek dengan memutuskan lari dari pernikahan itu, yang terpenting bagiku saat itu. Tuan Brian dan Belle baik-baik saja dan selamat."


Mikha tersentak mendengar alasan Raline (yang terpenting bagiku, Tuan Brian dan Belle baik-baik saja dan Selamat) kata-kata ini seolah menegaskan bahwa Gadis itu sedang mengorbankan perasaannya demi keselamatan Belle dan Brian.


Bersambung..


☘️☘️☘️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Mohon dukungannya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2