Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian

Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian
Pengakuan Cinta Juna.


__ADS_3

Selamat membaca 🤗


☘️☘️☘️☘️


"Papah, bolehkah aku pergi ke Taman bersama Tante Mikha?"pinta Belle.


"No!"sahut Brian.


"Kenapa?"tanya Belle dengan wajah sedih.


"Kau tidak boleh pergi dengan sembarang orang."


Belle tentu tidak terima dengan alasan Brian, dan anak itupun langsung melayangkan protes.


"Tante Mikha, bukan orang sembarangan Pah, Tante Mikha Mamahku."


"Selain Papah, Om Rayan dan Nenek Merry, mereka orang asing, sayang."


"Bagaimana kalau pergi ke Taman bersama Papah dan Tante Mikha!"ajak Belle, dengan sedikit membujuk.


"Sayang...!"


"Ayolah Pah. Aku sungguh ingin main ke Taman bersama Tante Mikha dan Papah."


"Baiklah!"dan pada akhirnya Brian mengalah. Mengalahnya Brian tentu membuat Belle senang bukan main, gadis itu berjingkrak dan menghampiri Rayan yang sejak tadi memperhatikan Belle membujuk Brian.


"Apa Om Rayan, mau ikut?"


"Tentu saja mau, tapi jika Om di ajak."


"Tentu saja aku akan mengajak Om."


Belle dan Rayan sama-sama tertawa karena senang. Mereka kembali membayangkan saat bermain di taman beberapa waktu yang lalu dan hal itu sangat menyenangkan bagi Rayan dan Belle.


"Om, tolong pinjaman kan aku Ponsel, aku ingin menghubungi Tante Mikha, ingin memberi tahu jika Papah mengijinkan kita pergi ke Taman."Pinta Belle pada Rayan.


Dan saat itu juga Brian langsung menatap Rayan, dari tatapan lelaki itu seolah mempertanyakan keberadaan Mikha, sampai membuat Belle harus menghubunginya. Karena yang Brian tau, Mikha ada di Rumah.


Rayan memberikan ponselnya pada Belle dan membiarkan anak itu berbicara dengan Mikha. Di saat Belle fokus pada panggilannya Rayan menghampiri Brian.


"Nona Mikha, pergi menemui temannya."


"Pergi! Dan dia tidak meminta izin padaku?"protes Brian.


"Nona Mikha bilang, jika Anda tidak membutuhkan permintaan izin darinya."


Brian terkekeh!


"Apa-apa ini. Rayan, apa kau sudah membacakan peraturan dari perjanjian yang kita buat dengan Handoko, pada wanita itu?"


Rayan menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa?"kesal Brian.


"Agar Anda memiliki alasan untuk menghukum Nona Mikha, bukankah sudah lama Anda tidak menghukumnya karena akhir-akhir ini Nona Mikha berusaha untuk patuh."


Brian terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk setelah menatap lekat Rayan yang tersenyum simpul menimpali tatapan Brian.


"Dadah! Tante Mikha,"suara Belle yang mengakhiri panggilannya terdengar di telinga Brian.


"Terima kasih, Om!"Belle menyerahkan kembali ponselnya pada Rayan.


"Belle, sekarang beristirahatlah di Kamar. Kau tidak boleh lelah jika besok ingin pergi ke Taman,"ujar Brian.


"Baik Pah!"sahut Belle dengan penuh semangat.


***


"Rayan, suruh wanita itu pulang sekarang!"titah Brian.


"Baik Tuan."Dan Rayan langsung menghubungi Mikha.


("Tidak bisa, aku sedang banyak urusan. Aku akan pulang sore, aku juga sudah mengatakan ini pada Belle.") ujar Mikha, dan penolakannya itu di dengar langsung oleh Brian.


"Biarkan saja dia."Kata Brian. Dan Rayan langsung memutuskan panggilannya.


***


Sementara di luar sana, Mikha yang sedang berada di Rumah Tika, bertemu Juna yang secara kebetulan ingin bertemu dengan Tika untuk mempertanyakan soal Mikha.


"Kenapa kau tidak jujur padaku jika lelaki itu yang menjadi suamimu?"tanya Juna dengan penuh kecewa.


Juna tersenyum, tapi wajahnya sedih.


"Kau tidak perlu meminta maaf, ini bukan salahmu. Ini semua murni kesalahanku yang tidak bertindak lebih cepat dari lelaki itu."


Mikha tersentak mendengar kata-kata Juna, yang Mikha artikan sebuah pernyataan yang mengandung penyesalan.


"Maksudmu?"tanya Mikha.


"Mikha, aku menyesal karena tidak mengatakan perasaanku padamu sebelum kau menikah. Tapi, jika kau menikah dengan Brian karena rasa cinta, aku rasa pernyataan ku tidaklah ada gunanya. Tapi entah kenapa aku merasa jika kau tidak mencintai Lelaki itu. Mikha, tolong katakan padaku, alasan kau menikah dengannya?"


"Juna, perasaan seperti apa yang ingin kau katakan padaku?"tanya Mikha dengan dada yang berdebar.


Juna, meraih tangan Mikha.


"Mikha, selama ini aku menutupi perasaanku padamu, bukan aku tidak mau mengatakannya tapi aku ingin menunggu waktu yang tepat. Tapi karena kebodohanku yang terlalu lama mengulur waktu, hingga semua jadi seperti ini,"Juna menarik nafasnya dalam-dalam dan dia semakin mempererat genggamannya di tangan Mikha,"Mikha, aku mencintaimu dan aku sangat menyayangimu. Sudah lama aku memendam rasa cinta ini bahkan semenjak kita pertama kali bertemu, aku pikir itu hanya cinta sesaat tapi ternyata tidak! Semakin hari rasa cinta itu semakin tumbuh dan aku benar-benar tidak bisa menahannya."


DEG!


Dada Mikha seperti terhantam batu besar mendengar ungkapan cinta dari lelaki yang selama ini dia cintai secara diam-diam.


Pengakuan cinta yang sangat Mikha dambakan di siang dan malamnya. Pernyataan Cinta dari Juna yang selalu Mikha tunggu-tunggu dan harap setiap kali bertemu dengan lelaki itu.

__ADS_1


Tapi entah kenapa, di saat Juna mengakui perasaannya hati Mikha justru terasa sakit mendengar kata cinta itu. Hatinya sakit bukan karena dia kecewa dengan lelaki itu, tapi karena Mikha sadar dengan situasi saat ini yang tidak memungkinkan di mengatakan bahwa dia juga mencintai Juna.


Mikha menarik tangannya dari genggaman Juna.


"Terima kasih Juna, karena kau bersedia mencintai orang sepertiku."


"Tidak! Aku tidak membutuhkan kata terima kasih darimu, aku hanya membutuhkan jawaban. Mikha, apa kau mencintaiku?"


Mikha semakin dikejutkan dengan pertanyaan Juna. Hati dan Otaknya saling beradu, menghasut Mikha agar mengucapkan apa yang ada di Otak dan hatinya, dan kedua tempat itu memiliki jawaban yang berbeda.


"Juna, untuk apa kau mempertanyakan ini? Kau tau bukan jika semuanya sudah tidak mungkin,"dan kata inilah, yang Mikha pilih.


"Untuk meyakinkan hatiku, aku tahu posisimu saat ini tapi aku sangat yakin jika kau tidak mencintai Brian, dan jika kau memiliki perasaan yang sama denganku, kita bersama-sama berjuang dan aku akan bicara pada Brian."


"Tidak Juna. Aku sudah memiliki suami, jadi sangat tidak mungkin Jika aku mencintai lelaki lain."Ucap Mikha, yang tidak ingin Juna melakukan apa yang baru saja lelaki itu utarakan.


Tapi meskipun Mikha bicara seperti itu, Juna tentu bisa merasakan jika Mika berbohong.


"Juna, aku minta tolong pergi dari sini, dan di lain waktu tolong jangan pernah mengatakan hal seperti ini lagi."


Juna tersenyum miris.


"Mikha, apa kau tidak mencintaiku?"


"Maaf Juna, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Jika kau tidak ingin pergi, biar aku yang pergi."Sahut Mikha yang sudah berdiri dari duduknya.


"Aku akan pergi,"ucap Juna cepat.


lelaki itu bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Mikha.


"Mikha, apapun yang terjadi aku akan tetap mencintai dan menunggumu, aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan kepadaku. Selama hatiku yakin jika kau mencintaiku aku akan tetap berjuang."Ucap Juna, sebelum dia pergi dari sana.


**


Dengan mata yang berkaca-kaca. Mikha menatap kepergian Juna, dadanya semakin sakit dan sesak karena dia tidak bisa mengatakan cinta kepada lelaki yang sesungguhnya sangat dicintainya.


"Mikha!"Tika datang dan langsung memeluk sahabatnya itu, Tika tentu tahu perasaan yang sedang dirasakan Mika saat ini karena Tika lah yang tahu seberapa besar Mikha mendambakan Juna dan berharap bisa hidup bersama lelaki itu.


"Bersabarlah."Ucap Tika sambil mengusap punggung Mikha.


"Kenapa semua menjadi seperti ini, kenapa Juna baru mau mengatakan cintanya di saat seperti ini."


"Mikha, jika kau benar-benar mencintai Juna, itu tentu tidak salah. Dan jika kau mau kau bisa mengatakannya kepada Juna. Aku yakin kau pasti tau mana yang terbaik dan apa yang harus kau lakukan."Ucap Tika.


Bersambung..


☘️☘️☘️☘️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Mohon dukungannya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2