
Selamat membaca 🤗
☘️☘️☘️
Karena terus berdebat Perkara Motor. Mikha jadi membuang-buang waktunya hingga Brian melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya.
"Sekarang kau lihat, ini sudah jam berapa?"tanya Brian sambil menujuk Jam dinding tersebut.
Mikha melirik dan dia menjawab dalam hatinya.
"Jam 10."
"Jadi karena ini sudah jam 10, dan sebentar lagi memasuki waktu siang. Kau tidak di izinkan untuk keluar Rumah."Kata Brian.
"Kenapa bisa begitu?"protes Mikha.
"Tentu saja bisa, karena kau terlalu membuang-buang waktu untuk membela motor bututmu itu."
"Jangan sebut dia Motor butut!"Mikha tidak Terima.
"Baiklah, motor yang menawan dan memesona itu."Ralat Brian.
Lelaki keras kepala itu tentu tidak bisa di goyahkan. Mikha tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali motornya dengan cara seperti ini, dia harus menggunakan cara lain untuk mendapatkan Haknya.
Dan Gadis itu pun menyadari akan hal tersebut.
"Baiklah! Jika hari ini Anda tidak mau mengembalikan motor saya tidak apa-apa. Tapi saya akan tetap memperjuangkan hak motor tersebut. Hari ini saya akan pergi bersama dengan Pak sopir,"kata Mikha mengalah.
"Apa kau tidak dengar apa yang saya katakan tadi, ini sudah pukul 10.00 dan sudah memasuki waktu siang jadi kau tidak diizinkan untuk keluar rumah."Tegas Brian.
"Mana bisa seperti ini?"protes Mikha yang semakin tambah kesal dengan lelaki yang ada di hadapannya ini.
"Tentu saja bisa, karena di meja makan tadi kita sudah membuat kesepakatan bahwa kau akan kembali ke rumah sebelum siang."
"Itu memang benar, tapi aku belum keluar! Mana bisa ucapan itu dibenarkan."
"Tentu saja bisa, setiap kata-kata yang sudah diucapkan di hadapan Brian, akan selalu dibenarkan."
Mikha kesal sampai mengepalkan tangan dan mengangkatnya.
"Ada apa?"tanya Brian yang melihat reaksi Mikha.
"Tidak apa-apa."Jawab Mikha dengan ketus lalu menurunkan tangannya yang sudah terangkat.
"Sungguh sangat menjengkelkan, mana bisa orang seperti ini dilahirkan di dunia. Jika saja aku diberi kesempatan dan keberanian aku ingin sekali mencakar-cakar wajahnya."Gumam Mikha.
"Kau bicara apa? Jangan kau pikir saya tidak mendengarnya."Ujar Brian yang memang memiliki pendengaran yang tajam.
"Tidak!"sahut Mikha dengan kesal lalu dia melangkahkan kaki ingin pergi dari kamar Brian.
Namun, Brian langsung mencekal lengan gadis itu dan karena posisi Mikha tidak siap, dia terkejut dan langsung membalikkan badannya, dengan sedikit gerakan yang menarik dari Brian. Membuat tubuh kecil Mikha langsung terjerembah ke dalam pelukan Brian.
Mikha kaget! Begitu juga dengan Brian. Namun meskipun sudah sama-sama kaget tapi mereka tidak saling melepaskan diri.
Dan entah sadar atau hanya karena reflek saja, Brian malah melingkarkan tangannya di pinggang Mikha, sambil terus menatap mata gadis itu. Begitu juga dengan Mikha yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Brian. Mereka saling menatap satu sama lain dan saat itu juga jantung mereka berdegup lebih cepat dari biasanya.
Tik!
Tik!
Tik!
__ADS_1
Tik!
Deg! Deg! Deg! Deg!
Sunyi...
Tidak terdengar suara apapun di sana selain detik dari jarum Jam dinding dan suara hati kedua manusia yang semakin tenggelam pada pandangan masing-masing
Hingga...
CKLEK..
Suara pintu kamar terbuka dilanjutkan dengan suara panggilan.
"Pah!"
Mikha yang sadar lebih dulu segera melepaskan diri dari pelukan Brian, dan dia langsung menetralkan hati serta mengatur tempo nafasnya yang tidak beraturan.
Begitu juga dengan Brian, selain merasakan hal yang sama seperti Mikha. Lelaki ini juga menjadi canggung.
"Papah!"panggil Belle. Ya, gadis kecil inilah yang membuka pintu hingga menyadarkan Mikha dan Brian dari Cosplay menjadi patung.
"Iya sayang! Ada apa?"tanya Brian, dan langsung mendekati Belle yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku tadi mendengar suara tante Mikha, dan ternyata benar. Tante Mikha ada di sini."Kata Belle. Dan anak itu langsung berlari kecil menuju Mikha.
"Tante tidak jadi menemui teman Tante?"tanya Belle sambil meraih tangan Mikha, yang masih terlihat kaku.
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Tante Mikha Jangan sedih, jika Tante belum bisa bertemu dengan teman tante, bagaimana kalau Tante Mikha bermain denganku dulu,"ajak Belle
Untuk menghindari Brian tanpa pikir panjang Mikha langsung mengangguk.
"Baiklah!"
Belle tersenyum dan dia langsung menuntun Mikha menuju ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Brian.
**
Setelah pintu ditutup kembali tinggallah Brian seorang diri di kamar tersebut, lelaki itu langsung mengacak-ngacak rambutnya dan memukul kecil kepalanya sambil memaki.
"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan tadi, dan apa yang kau pikirkan tadi kenapa kau sampai memeluk gadis munafik itu? Tidak! Bukan aku yang memeluknya, tapi Gadis itu sendiri yang datang ke dalam pelukanku, aaaah ... Sial-sial!"Racau Brian.
***
Di dalam kamar Belle, sama seperti Brian, Mikha juga mengumpat dirinya sendiri yang malah terdiam dan mematung saat lelaki itu memeluknya.
"Apa yang kau pikirkan saat itu dasar bodoh! Kenapa tidak memberontak atau akan lebih baik jika kau memukul wajahnya,"umpat Mikha dalam hatinya.
***
Sore hari.
Brian yang sudah berjanji ingin bertemu dengan Raline tengah bersiap-siap menuju ke restoran Cempaka. Dia datang seorang diri tidak ditemani oleh Rayan, karena lelaki itu sedang sibuk mengurusi semua pekerjaan yang sudah sangat menumpuk di kantor.
Sebelum pergi Brian berpamitan kepada putri kesayangannya dan dengan senang Belle berkata.
"Berhati-hatilah di jalan Papah, dan jika Papah sudah bertemu dengan tante Raline, cepat bawa tante Raline ke sini."
__ADS_1
Brian hanya mengangguk, dan sebelum dia benar-benar pergi dari sana, Brian sempat melirik Mikha yang seperti terlihat menghindarinya. Mungkin karena kejadian siang tadi Gadis itu merasa malu berhadapan dengan Brian.
**
"Tante kenapa?"tanya Belle yang melihat wajah Mikha termenung.
"Tidak apa-apa, tante hanya sedikit mengantuk. Mungkin karena semalam tante kurang tidur jadi gampang mengantuk."Ujar Mikha.
"Kalau begitu, Tante beristirahat aja."
Mikha mengagguk, karena memang dia merasa sangat lelah bukan karena fisiknya yang lelah tapi hatinya yang merasa tidak bersemangat tapi entah karena apa.
Mikha yang masih berada di kamar Belle tertidur di sana. Dan Belle langsung menyelimutinya lalu dia pun tertidur dengan lelap di sisi Mikha.
☘️☘️☘️
Di kediaman Handoko dan Marlina, tiga orang sedang sibuk dan berdebat kecil karena Marlina ingin ikut dengan Raline untuk menemui Brian.
Namun Raline menentangnya, meminta agar Marlina tidak ikut bersamanya, karena Raline pikir wanita itu akan mengacaukan sesuatu yang sudah dia rencanakan dan susun baik-baik.
"Apa kau yakin bisa menghadapi Brian seorang diri? Bagaimana jika dia mencecarmu dengan beberapa pertanyaan yang tidak bisa kau jawab. Jika Mamah ikut denganmu, Mamah sudah pasti bisa memberikan alasan yang tepat dan akurat, pada Brian,"kata Marlina yang tetap ingin ikut bersama putrinya menemui Brian dan meyakinkan lelaki itu.
"Tidak perlu mah, aku bisa bertemu dengannya sendiri. Dan aku tahu apa yang harus aku lakukan jadi Mamah tidak perlu khawatir, Mamah dan Papah tetaplah berada di rumah."Yakin Raline.
"Apa yang dikatakan Raline ada benarnya mah kita harus mempercayakan semua ini kepada putri kita, Papah yakin Raline pasti bisa melakukan yang terbaik,"sahut Handoko.
Marlina terdiam sejenak lalu dia pun mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh putri dan suaminya.
**
"Kalau begitu kau pergilah dan ingat apa yang harus kau katakan, jangan sampai membuat Brian marah, dan ingat! selalu gunakan nama Belle untuk menarik kembali perhatian Brian."Pesan Marlina sebelum anaknya pergi dari sana.
Ralin mengangguk dan dia pun bergegas menuju ke restoran Cempaka yang sudah disebutkan oleh Brian melalui Rayan.
**
Untuk bertemu dengan Brian tentu saja Raline merias dirinya dengan semaksimal mungkin, dia harus terlihat cantik dan menarik di depan lelaki itu agar Brian kembali tergoda padanya, lalu memaafkan kesalahannya yang telah minggat di hari pernikahan.
"Kau pasti bisa Raline, Brian sangat menyukaimu apalagi Bella yang tidak bisa kehilanganmu, kau pasti bisa mengembalikan keadaan seperti semula dan kau pasti bisa merebut dan menyandang gelar sebagai Nyonya Brian."Raline meyakinkan dirinya sendiri.
***
Taksi online yang dipesan Raline melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke restoran yang di mana Brian sudah menunggu di sana.
Sesampainya di sana, Raline langsung turun.
Dengan langkah kaki yang sangat percaya diri dan senyum seperti mentari pagi, Raline memasuki restoran dan mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Brian yang sudah sangat dia damba-dambakan sejak beberapa hari yang lalu. Dan Raline mengulas senyum ketika dia menangkap sosok tampan dan menawan yang sedang duduk di kursi persis sebelah kaca yang menghadap ke jalanan utama.
"Sudah ku duga, dia pasti sangat mengharapkan pertemuan ini. Terbukti dengan dia yang datang terlebih dahulu di tempat ini, untuk menungguku."Gumam Raline. Dan dia langsung melangkah menuju meja Brian.
Bersambung...
☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1