
Selamat membaca π€
βοΈβοΈβοΈ
"Aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir. Pukulan ini hanya menyisakan rasa nyeri yang seperti di gigit semut saja,"ujar Juna. Pada Mikha, tapi dengan maksud meledek pada Brian.
"Tidak apa-apa bagaimana! Kau sampai terluka seperti itu. Tuan Brian sungguh keterlaluan!"
"Tuan, kenapa Anda memukul Juna, apa salahnya?"tanya Mikha dengan nada tidak suka.
"Kau, kembalilah ke Kamar,"Brian malah menjawab dengan perintah.
Di rasa percuma bicara dengan Brian, Mikha memilih untuk berbicara kepada Juna.
"Juna, sebaiknya kau pulang sekarang. Dan jangan lupa untuk mengobati lukamu."
Mendengar kata-kata Mikha yang Brian anggap sebagai perhatian kepada Juna, membuat lelaki itu semakin naik pitam.
Dia langsung memanggil Pelayan yang diam-diam mengintip.
"Cepat! Bawa dia ke atas,"titah Brian.
"Baik, Tuan!"dengan sigap dua pelayan wanita yang salah satunya Luri, mengajak Mikha untuk kembali ke lantai atas.
Mikha yang mengkhawatirkan Juna, tentu saja tidak ingin pergi dari sana, dia harus memastikan bahwa Brian tidak lagi melakukan kekerasan kepada Juna.
"Biarkan aku di sini,"kata Mikha sambil menepis tangan kedua pelayan tersebut.
"Nona, tolong mengertilah. Jika Anda tidak patuh dan masih ingin tetap berada di sini, Tuan Brian pasti akan lebih marah dan melakukan sesuatu yang lebih kejam lagi kepada lelaki itu,"bisik Luri di telinga Mikha.
"Lebih kejam lagi? Apa yang bisa dia lakukan? Tapi dia memang lelaki kejam bahkan dia bisa menghukum seorang wanita." Batin Mikha.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah lagi pada Juna, Mikha memilih mendengarkan bisikan dari Luri, dengan perlahan dia menaiki anak tangga. Tapi matanya Masih sempat melirik Juna mengisyaratkan agar lelaki itu mengalah dan segera pergi dari sana.
Juna mengangguk pelan, tanda mengerti apa yang Mikha katakan lewat tatapan matanya.
**
"Brian, ternyata kau tidak sebaik omongan orang-orang di luar sana. Kau begitu kasar dan pemarah."Ujar Juna, sesaat setelah Mikha pergi dari sana.
"Diam kau!"marah Brian,"Tidak ada satu orang pun yang tahu seperti apa saya, jadi tutup mulutmu."Sambungannya.
Bukannya takut, Juna malah terkekeh mendengar kemarahan Brian, lelaki ini sungguh memiliki nyali besar. Dan Juna pun berani mengatakan sesuatu yang semakin membuat Brian murka hingga lelaki kembali memukul wajahnya.
"Aku adalah cinta pertama Mikha, dia sudah sangat mengagumi dan mencintai sejak beberapa tahun yang lalu. Jadi, jangan kau pikir dirimu menang hanya karena menikah Gadis itu. Dan lagi, aku tau alasan apa yang membuat kau dan Mikha sampai menikah."Inilah yang Juna katakan pada Brian. Sampai membuatnya kembali dia hajar. Brian memenag memiliki temperamental yang sangat buruk dia gampang sekali marah, jika ada seseorang yang mengganggu ketenangan dirinya dan keluarga.
Tapi kali ini Juna tidak mau diam saja, jika pertama kali dia pasrah dipukul oleh Brian, kali ini Juna membalasnya. Hingga pertarungan antara kedua lelaki ini pun tidak dapat terelakkan.
βPara pelayan panik! mereka tidak tahu harus berbuat apa selain memanggil para penjaga untuk melerai perkelahian Juna dan Brian.
"Cukup! Tuan!"pinta beberapa Penjaga yang berusaha memisahkan mereka berdua. Namun, telinga kedua pria itu bagai di sumpal batako, hingga halauan, teriakan, dari para pelayan dan penjaga tidak di dengarkan.
"Ada apa ini!"teriak Merry seraya berjalan cepat, kamarnya yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu membuat wanita itu mendengar kegaduhan yang diciptakan Brian dan Juna.
Dan, terikan dari Merry yang mampu menghentikan sejenak pertarungan antara Juna dan Brian.
__ADS_1
"Apa kalian ini anak kecil sampai berkelahi di dalam rumah? Apa yang kalian ributkan!"Merry melirik pada Juna,"Siapa kau?"
Juna yang masih ngos-ngosan mengusap keringat pada wajahnya yang terluka.
"Maaf jika sudah membuat keributan, saya Juna. Kekasih Mikha!"
DUUUAAR......!!!!
Bagai petir di siang bolong, pengakuan Juna menggemparkan telinga, hati, jantung, ginjal, dan jiwa setiap orang yang mendengarnya.
Begitu juga dengan Brian, yang wajahnya sudah seperti lahar panas yang mengalir dari Gunung Merapi.
Semua Pelayan wanita saling pandang dan sedetik itu juga batin mereka mulai bergosip membicarakan Mikha.
"Kekasih!"Merry dengan terkejut dan tidak percaya mengulangi pengakuan Juna. Merry tau jika Mikha tidak mencintai Brian karena dia tengah berharap dengan sosok lain. Tapi Merry tidak menyangka jika Mikha berani menjalin hubungan dengan lelaki lain saat dia masih menjadi istri Brian.
"Benar, Nyonya. Saya kekasih Mikha."Dengan tegas, Juna kembali membuat pengakuan.
"DASAR BRENGSEK!"marah Brian yang langsung mencekik Juna.
"Brian! Hentikan!"pekik Merry.
BUG!
Uhuk! Uhuk!
Brian menghempaskan Juna sampai tersungkur di lantai mahalnya. Lelaki itu terbatuk-batuk seraya memegangi dadanya. Namun Juna seperti tidak merasakan sakit karena dia malah tersenyum.
"Juna, saya tidak tahu apa omongan kau bisa dipercaya atau tidak! Tapi yang harus kau ingat dan terima, Mikha sudah menikah dia sudah menjadi istri Brian."
Juna sudah tidak bisa mengontrol emosinya yang membuncah. Entah karena dia memang ingin membebaskan Mikha dari sana atau ada maksud lain.
Merry tidak seperti Brian yang gampang tersulut emosi, dia lebih bisa mengontrol kemarahan hingga tidak langsung mencaci Juna. Merry mencoba untuk mengerti perasaan lelaki itu.
"Pak!"panggil Merry pada salah satu penjaga yang masih Stay disana.
"Iya, Nyonya!"
"Tolong antarkan pemuda ini Pulang,"titah Merry.
"Baik, Nyonya."Dua Penjaga segera memapah Juna, namun Juna segera menepis kuat dua tangan kekar itu.
"Lepaskan! Saya bisa pulang sendiri."
Sebelum Juna pergi dari sana, sekali lagi dia berbicara pada Merry.
"Nyonya, saya memang belum mengenal Anda sebelum ini. Tapi saya sangat yakin jika Anda orang yang mempunyai hati nurani dan perasaan, tolong lepaskan Mikha, dia berhak Bahagia atas hidupnya."
Dan Merry hanya terdiam, tidak menggubris permintaan Juna.
***
Beberapa menit kemudian.
Dan saat ini Brian sedang duduk saling berhadapan dengan Merry.
__ADS_1
"Brian, kenapa kau sampai memukul lelaki itu?"
"Aku rasa Tante sudah tahu alasanku, tanpa aku harus mengatakannya."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Brian. Dari mata dan kesungguhannya, Tante tahu jika lelaki yang bernama Juna itu menyayangi Mikha, tapi Tante tidak yakin jika Mikha menjalin hubungan spesial dengannya."
"Kenapa Tante masih membela wanita itu? Sudah jelaskan apa yang di katakan lelaki Brengsek itu, jika wanita itu benar-benar kekasihnya."
"Brian!"
"Cukup, Tante. Aku tidak mau lagi mendengar Tante membelanya."
"Kau mau kemana Brian?"tanya Merry, yang sudah memasang wajah khawatir, melihat Brian yang bangun dengan gerakan kasar.
"Aku ingin membuktikan sendiri jika wanita itu benar-benar berkhianat."Dengan tergesa-gesa, Brian berjalan menuju kamar yang ada di lantai atas, karena di sanalah saat ini Mikha berada.
"Kau mau apa Brian? Jangan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal!"pekik Merry.
Seperti biasa, Brian yang sedang marah sudah pasti menjadi tuli, dia tidak akan mengindahkan peringatan dari siapapun.
"Astaga! Brian!"Panik Merry dan langsung ingin mengejar Brian, namun langkahnya terhenti berkat kehadiran Rayan.
"Tante, ada apa?"tanya Rayan yang melihat wajah cemas Merry.
"Rayan! Syukurlah kau sudah pulang, cepat kejar Brian. Jangan sampai dia melakukan yang tidak-tidak pada Istrinya."
"Tante tenang, sebenarnya ada apa ini?"tanya Rayan bingung.
***
***
Rayan menghela nafas berat setelah mendengar penjelasan dari Merry, sungguh dia kecolongan sampai tidak bisa mendeteksi kedatangan Juna di sana.
Tapi dengan santai, Rayan berkata.
"Tante Tenang, Tuan Brian tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan dan menyakiti Nona Mikha."
"Kenapa kau bisa bicara seperti ini? Rayan, kau sudah sangat lama mengenal Brian, dan kau pasti tau seperti apa Brian jika sudah marah."
"Justru karena saya sudah sangat mengenal Tuan Brian, aku tau seperti apa Tuan Brian. Dia tidak akan menyakiti Nona Mikha." Yakin Rayan.
"Kenapa kau terlihat sangat yakin?"tanya Merry.
Rayan mengulas senyum.
Bersambung..
βοΈβοΈβοΈ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ