
Selamat membaca 🤗
☘️☘️☘️
Marlina yang sepertinya tidak sabar dan tidak mau berbaik-baik dengan Mikha segera membuka suaranya.
"Mikha, apa kau ingin membuat Raline kembali bersedih dengan mengingat semua yang sudah dia lakukan demi Tuan Brian dan anaknya itu? kau sungguh tega! bukankah seharusnya kau memang mengalah karena pada awalnya Brian milik Raline, kau hanya seseorang yang ditakdirkan sebagai pengganti Raline sementara. Sedangkan Raline yang berkorban untuk semua ini."
"Maafkan aku, Mah. Aku hanya ingin memastikannya saja, aku tidak akan menghalangi Raline untuk kembali kepada Brian."
"Memang kau harus melakukan itu, kau harus mengembalikan sesuatu yang bukan milikmu kepada pemilik aslinya."Sentak Marlina.
"Sudah Mah, Mama tidak boleh bicara sekuat itu kepada Mikha. Aku justru sangat berterima kasih kepada Mikha, karena dia sudah mau menggantikan posisiku sementara waktu."Raline langsung memposisikan dirinya sebagai Tameng untuk Mikha dari kekejaman Marlina.
Handoko yang sejak tadi hanya diam ikut membuka suara.
"Mikha, jika kau sudah merelakan suamimu kembali kepada kakakmu. Papah minta, bicaralah kepada Brian untuk menemui Raline dan Mamah."
"Kenapa harus aku? Bukankah Raline bisa langsung menemui Tuan Brian. Aku sangat yakin jika Tuan Brian akan senang hati bertemu dengan wanita yang dia cintai."
Semua terdiam mendengar ucapan dari Mikha, memang benar apa yang dikatakan Mikha, kenapa harus melibatkan Mikha jika memang Brian mencintai Raline sudah pasti dia akan senang hati bertemu dengan gadis itu.
"Mikha, saat ini Brian sedang marah padaku. Dia pasti mengira dan berpikir buruk tentangku, dia marah hingga tidak mau menemui aku, dengan bantuan darimu aku yakin jika Brian pasti bersedia untuk menemuiku."Kata Raline dengan wajah sedu berharap jika adiknya itu mengerti.
Mikha tentu mengerti posisi Raline dan Brian saat ini. Tanpa sadar, jika yang dilakukan ini salah atau benar, Mikha hanya mengangguk bersedia membantu Raline untuk bertemu dengan Brian.
"Terima kasih Mikha."Ujar Raline dan langsung memeluk adiknya itu.
**
"Kalau begitu aku permisi dulu karena aku harus kembali ke Hotel."Kata Mikha.
Raline mengangguk dan berpesan kepada adiknya.
"Jangan lupa untuk berbicara pada Tuan Brian tentangku yang ingin bertemu dengannya."
Mikha mengangguk.
"Aku akan mencobanya."
***
Karena jam istirahat sudah usai, Mikha mengurungkan niatnya yang ingin menemui Tika karena dia harus langsung kembali ke Hotel untuk melanjutkan pekerjaannya.
Dengan perasaan dan pikiran yang tidak tenang, Mikha kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia terus saja mengingat kata-kata Raline di rumah Handoko tadi, Mikha ingin sekali mempertemukan Raline dan Brian agar dia terlepas dari ikatan lelaki itu. Tapi entah kenapa di saat waktunya tiba, Mikha malah merasakan sesuatu yang tidak biasa di hatinya, entah apa itu karena Mikha sendiri belum menyadarinya.
***
Hingga sore hari dia pun harus segera kembali ke kediaman Brian.
__ADS_1
"Mika! Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?sejak tadi aku melihatmu termenung,"tanya Juna yang sangat peka kepada gadis itu.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa sedikit pusing saja, kau tidak perlu merasa khawatir."sahut Mikha.
"Apa kau tidak enak badan? Biar aku yang mengantarmu pulang, tidak baik jika kau mengendarai motor dalam keadaan seperti ini."Tawar Juna yang merasa khawatir dengan gadis itu.
"Tidak Juna, terima kasih. Aku bisa sendiri dan aku akan baik-baik saja."Tolak Mikha, entah apa yang terjadi kepada Gadis itu, bukankah dia seharusnya senang karena sebentar lagi akan lepas dari Brian dan mungkin saja dia bisa bersama Juna, lelaki idamannya. Tapi kenapa dia malah murung dan selalu menghindari Juna!
"Baiklah!"sahut Juna dengan pasrah, karena dia tidak bisa memaksa Mikha untuk pulang bersamanya.
**
Tapi, diam-diam Juna mengikuti Mikha dari belakang. Bukan bermaksud ingin menjadi penguntit, tetapi lelaki itu hanya ingin memastikan gadis idamannya sampai dengan selamat tanpa terjadi apapun selama dalam perjalanan.
Setelah motor yang dikendarai Mikha memasuki halaman rumah Brian, Juna merasa sedikit tenang karena Mikha sampai dengan selamat. Dan dengan berat hati, lelaki itu pun pergi dari sana. Berharap jika suatu saat nanti Mikha akan pulang ke rumahnya.
***
Sesampainya di Rumah, Mikha disambut oleh Rayan yang berdiri menjulang di depan pintu masuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ada apa?"tanya Mikha dengan bingung, melihat ekspresi Rayan yang sudah seperti penjaga level 30.
"Tuan Brian, sudah menunggu Anda di ruangannya."Sahut Rayan dengan ekspresi wajah datar.
"Apa dia sudah pulang?"tanya Mikha.
"Aah, iya. Seharusnya aku tidak perlu bertanya lagi, karena sudah melihatmu di sini. Baiklah! aku akan bertemu dengan Tuan Brian, aku ingin tahu kesalahan apalagi yang sudah aku lakukan."Ujar Mikha yang langsung melenggang memasuki rumah melewati Rayan begitu saja.
**
Tok! Tok! Tok!
"Tuan, ini saya. Apakah saya boleh masuk? Rayan bilang ada ingin bertemu dengan saya!"Panggil Mikha setelah tiga kali mengetuk pintu kamar Brian, karena ruangan pribadi Brian memang berada di dalam sana.
"MASUK!"sahutan dari dalam dengan berteriak kuat.
Dan tanpa ragu-ragu dan rasa takut, Mikha segera mendorong pintu kamar tersebut lalu masuk menghampiri Brian yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku.
"Tuan, ada apa?"tanya Mikha langsung.
Brian langsung menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja lalu dia beranjak dan berjalan memasuki ruang pribadinya.
"Semoga saja dia tidak meminta hal yang aneh-aneh di dalam sana, seperti menyusun buku dan yang lainnya,"gumam Mikha dalam hatinya, sambil mengikuti langkah kaki Brian.
Setelah sampai di dalam, Brian langsung duduk di kursi kebesarannya sedangkan Mikha berdiri di hadapannya yang hanya terhalang oleh meja.
"Apa kau tahu kesalahan apa yang sudah kau lakukan hari ini?"tanya Brian.
"Tidak tuan, tapi saya tahu jika saya memang melakukan kesalahan hingga Anda memanggil saya ke sini."sahut Mikha dengan sadar diri.
__ADS_1
Brian terkekeh mendengar balasan dari gadis itu.
"Kau sudah sering melakukan kesalahan ini tapi kau lupa, sungguh sangat menggelitik."
"Maafkan saya tuan,"Mikha menundukkan kepalanya.
"Kau tahu bukan, jika sudah melakukan kesalahan kata maaf saja tidak cukup bagi saya."Kata Brian, mengingatkan betapa kejamnya dia.
Mikha mengangguk tanda mengerti.
"Lalu Apa hukuman untuk saya, tuan?"
"Biar Rayan, yang akan menjelaskannya kepadamu."
Tidak lama kemudian, nama yang Brian sebutkan tadi muncul secara tiba-tiba. Sudah seperti jaelangkung saja.
Rayan memasuki ruangan dengan membawa Map besar di tangannya. Dan Mikha sangat tahu, Map apa yang ada di tangan lelaki itu, karena sebelum ini Mikha sudah pernah melihatnya.
"Apa Anda sudah siap, Nona Mikha?"tanya Rayan sambil menggerakkan tangannya siap untuk membuka isi Map tersebut.
"Apa-apaan mereka ini! ingin menghukum orang saja harus membuat Drama dulu, sungguh aneh."
"Iya aku sudah sangat siap!"Sahut Mikha dengan yakin dan tidak sabar, karena dia ingin semua ini segera berakhir dan dia bisa langsung bicara pada Brian tentang Raline yang sudah kembali. Padahal Brian sudah tau jika Raline kembali.
"Baiklah, saya akan menyampaikan hukuman apa yang harus Anda terima karena sudah melakukan kesalahan yang sering kali Anda ulangi."
Mikha memasang dan menajamkan pendengarannya.
Agar setiap kata yang di ucapkan Rayan tidak terlewa sedikitpun.
"Nona Mikha, Anda kembali melakukan kesalahan dengan tidak berpamitan pada Tuan Brian, saat ingin berangkat kerja."
"Apa! Hanya itu? Bolehkah aku menbela diri? dia selalu berkata, ucapan pamitmu tidak penting bagi saya! dan inilah alasanku malas untuk meminta ijin."
Rayan kembali melanjutkan ucapannya setelah terdiam beberapa detik.
"Karena sudah melakukan kesalahan, dan ini kesalahan yang sering Anda lakukan, jadi Tuan Brian bersikap tegas untuk memberikan hukuman yang layak kepada Anda."
Bersambung...
☘️☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️ ❤️❤️❤️
__ADS_1