
Selamat membaca 🤗
🍁🍁🍁
Brian memijit, pelipisnya karena tiba-tiba merasa pusing setelah melihat pakaian yang di kenakan Mikha, sementara Mikha masih terlihat santai karena dia pikir Brian tidak akan tergoda sekalipun dia tidak berbusana di depan lelaki itu.
"Akhirnya selesai juga,"gamam Mikha yang baru saja mengangkat panci dan menuangkan nasi goreng ke dalam piring.
"Tuan, apa Anda mau?"dengan berbaik hati, Mikha menawarkan nasi goreng buatannya.
"Saya tidak berselera meskipun itu terlihat menggoda,"sahut Brian datar.
Mikha mengerutkan kening mendengar ucapan Brian yang menurutnya terlalu berlebih, padahal dia hanya menawarkan Nasi Goreng saja. Padahal kata-kata yang Brian ucapakan tadi bukan untuk Nasi Goreng.
"Ya sudah kalau Anda tidak mau, kebetulan sekali, karena saya hanya membuat untuk satu porsi saja."
Brian masih berdiri di tempat, ingin sekali dia melayangkan protes pada gadis itu. Tapi protes seperti apa yang akan Brian layangkan. Karena lelaki itu sendiri pun bingung harus mengatakan apa.
"Saya permisi Tuan, ingin kembali ke Kamar."Pamit Mikha dengan membawa piring dan botol minum di tangannya.
"Tunggu!"cegah Brian.
Dan Mikha langsung menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?"
"Apa kau tidak bisa lebih sopan sedikit?"tanya Brian, dengan ekspresi datar namun hatinya tidak tenang.
"Lebih sopan sedikit? Maksud Anda?"Bingung Mikha, padahal dia merasa sudah bersikap sopan kepada lelaki itu.
Brian mendengus kesal.
"Apa kau tidak sadar dengan pakaian yang kau pakai saat ini?"
Mikha meneliti dirinya sendiri.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pakaian saya?"
Mendengar pertanyaan Mikha, Brian semakin mendengus kesal.
"Apa kau terbiasa dengan menggunakan kostum seperti ini di tempat umum?"
"Tempat umum? Tentu saja tidak! Lagipula ini bukan tempat umum kan? Tidak ada siapapun di sini."Ujar Mikha membela diri.
"Rumah ini memang bukan tempat umum, tapi area ini bisa di datangi dengan siapapun."
"Tapi sekarang sedang tidak ada orang lain. Saya juga tidak akan berani jika di sini banyak orang, hanya ada Anda saja yang kebutuhan bangun dan datang k sini. Apakah Anda...!"
"Tentu saja tidak!"potong Brian dengan cepat, padahal dia tidak tahu apa yang ingin Mikha katakan selanjutnya,"Saya tidak mungkin tergoda denganmu. Hanya saja mata saya sakit melihat pakaianmu."Sambungannya.
__ADS_1
"Apa yang dia bicarakan! Sungguh membuat bingung."
"Baiklah, saya minta maaf. Anda jangan khawatir, saya akan segera pergi dari hadapan Anda."Ucap Mikha sambil menundukkan kepalanya dan dia benar-benar berlalu meninggalkan Brian yang masih mematung di tempat.
"Apa-apaan ini, dia pergi begitu saja sebelum aku mengizinkannya pergi,"kesal Brian, dan lelaki itu sudah ingin melangkahkan kakinya mengikuti langkah Mikha namun seketika otaknya bekerja.
"Brian, apa yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin mengikuti gadis itu, untuk apa? Dia pasti akan berpikir yang tidak tidak tentang dirimu. Ais! Dasar bodoh!"umpat Brian pada dirinya sendiri.
***
Sementara di dalam kamar, Mikha juga tengah mengumpat pada lelaki itu.
"Dasar aneh, apa sebenarnya yang ada di pikiran lelaki itu? sungguh lelaki tidak normal sulit dimengerti, aku juga tahu tidak baik berpakaian seperti ini di hadapan lelaki, tapi aku juga tahu juga kalau Tuan Brian tidak akan mungkin tertarik bahkan melihat wanita super seksi pun dia tidak akan mungkin tergoda. Kasian sekali."
☘️☘️
Keesokan harinya.
Marlina yang mendapatkan kabar dari Rayan, jika Brian tidak ingin menemuinya seketika murka dan marah-marah kepada suaminya.
"Kenapa Mama marah-marah pada Papah, jika Tuan Brian tidak ingin menemumu, memang apa salahnya? lagi pula Tuan Brian, sudah memberikan apa yang sempat dia ambil, bukankah itu sudah bagus jadi jangan lagi mengganggu atau mengusik keluarga mereka."Ujar Handoko.
"Tapi tidak bisa seperti ini Pah, bagaimana kita bisa membiarkan begitu saja, apa Papah tidak memikirkan nasib Raline?"
"Nasib Raline, memangnya kenapa dengan nasib Raline? tentu saja dia akan memiliki nasib yang bagus karena sekarang kita sudah memiliki banyak uang kan?"sahut Handoko.
"Bukan hanya sekedar uang Pah, tapi Raline menginginkan apa yang seharusnya menjadi miliknya,"Ujar Marlina, dan ucapannya ini belum bisa membuat Handoko mengerti.
"Brian, Raline menginginkan Brian."
"Apa! Brian sudah menjadi suami Mikha, mana mungkin dia menginginkan suami dari Adiknya sendiri,"Handoko yang protes.
"Suami sementara Pah, Mikha hanya istri sementara bagi Brian karena sesungguhnya yang akan menikah dengan Brian adalah Raline. Dan sekarang Raline sudah kembali sudah seharusnya Mikha mengembalikan Brian kepada Raline."
"Astaga! apa yang kau bicarakan ini mah!"Handoko sungguh tidak percaya dengan kata-kata istrinya, memang benar Mikha hanyalah pengganti, tapi bukan berarti Raline bisa mengambil sesuatu yang sudah dia lepas dan saat ini sudah di miliki orang lain.
"Kenapa Papah berekspresi seperti ini? apa Papah tidak terima?"tanya Marlina dengan memicingkan matanya.
"Bukan seperti itu Mah, tapi apakah kalian tidak berpikir, apa yang dikatakan orang-orang nanti jika Raline merebut suami dari Adiknya sendiri."
"Raline tidak merebut Pah! Raline hanya mengambil miliknya tidak ada kata merebut di sini. dan satu yang harus Paaph ingat, Mikha hanyalah adik tiri Raline."
"Tapi Mah!"
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya sekarang Papah hubungi Mikha dan katakan kepada anakmu itu untuk mengizinkan Brian bertemu dengan Mama, karena mama yakin Brian menolak untuk menemui Mama pasti karena ulah Dari anakmu itu yang menghasut Brian."
Handoko terdiam, sebenarnya dia tidak setuju dengan rencana Marlina yang ingin mengembalikan Brian pada Raline. Tapi apa boleh buat! lelaki ini tentu tidak bisa menentang setiap keinginan dari istrinya.
"Kenapa kau diam Pah , Pah ingat! kau sudah berjanji akan menuruti apapun yang aku katakan, dan kau juga sudah berjanji akan lebih mengutamakan kepentingan Raline daripada Mikha."
__ADS_1
Handoko tidak bisa menjawab apapun dari ucapan istrinya itu, Karena di masa lalu Handoko memang pernah berjanji demikian dan dia tidak bisa dan tidak diperkenankan untuk menentang.
"Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan Mikha."Ujar Handoko pasrah.
"Bagus, pokoknya aku tidak mau tahu, aku dan Raline harus bisa bertemu dengan Tuan Brian apapun alasannya dan aku yakin jika mereka bisa melakukannya."
Handoko mengangguk pasrah.
Dan Marlina pun segera berlalu dari hadapan suaminya dengan merasa puas hati, karena Marlina sangat yakin jika sudah Handoko yang berbicara kepada Mika Gadis itu tidak akan bisa menolak dan berkutik dia pasti akan mengiyakan dan melaksanakan setiap Apa yang diucapkan dan diperintahkan oleh Handoko.
***
Di tempat lain.
Mikha Tengah bersiap ingat ingin menuju ke hotel tempatnya bekerja. Perusahaan Brian sudah memilih Hotel Lesmana sebagai tempat bersejarah perusahaannya, dan acara itu akan dilaksanakan satu minggu lagi, tentu saja hal ini membuat Mikha dan rekan bekerjanya lebih sibuk mendekorasi hotel sesuai apa yang diinginkan oleh Brian.
"Aku pergi dulu,"ucap Mikha kepada Luri.
"Nona, Apa tidak sebaiknya Anda menunggu tuan Brian turun terlebih dahulu?"ucap Luri, yang mencoba menghentikan langkah kaki Mikha.
"Aku rasa tidak perlu, aku sudah mengirim pesan kepada Rayan dan dia yang akan menyampaikannya kepada Tuan Brian. Aku harus pergi karena aku sudah ditunggu oleh temanku, Oya! Luri, Aku titip Belle ya, jaga dan tolong awasi dia baik-baik."Ucap Mikha sebelum berlalu dari sana
"Baik Nona, tanpa Anda minta pun saya akan mengawasi dan menjaga Nona Belle sebisa saya."
"Terima kasih!"
Mikha pergi menuju hotel Lesmana menggunakan motornya. Dia harus cepat sampai karena Juna dan beberapa rekannya sudah menunggu.
***
"Dimana Tante Mikha?"tanya Belle yang menghampiri para pelayan yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Nonya Mikha, sudah berangkat bekerja, Nona Belle."
"Bekerja?"
"Iya, Nona."
Belle tidak bertanya apapun lagi. Gadis itu berlalu menghampiri Brian yang sedang berbicara serius dengan Rayan di Ruang keluarga.
Bersambung..
☘️☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️