
Selamat, membaca 🤗
☘️🍁🍁🍁☘️
Brian yang tidak mungkin jika harus meninggalkan Belle semalaman, karena gadis kecil itu sudah pasti akan terbangun di tengah malam dan selalu mencari Papahnya, memutuskan untuk pulang. Yang artinya dia harus meninggalkan Mikha sendiri di Rumah Sakit. Tentu Mikha tidak keberatan dengan pulangnya Brian karena dia sudah terbiasa sendiri jika sedang sakit.
Tapi Brian tidak asal pulang begitu saja, meskipun lelaki itu terkadang benci dan tidak menyukai Mikha. Tapi dia tetep bertanggung jawab dan memberikan perhatian dengan meminta Dokter serta Suster untuk memantau Mikha sepanjang malam sampai dia kembali esok hari.
"Selamat, malam Tuan. Terima kasih karena Anda sudah menolong dan membawaku ke Rumah Sakit ini."
Ucap Mikha pada lelaki yang sering dia sebut Tuan itu.
Seperti biasa, Brian tidak akan memperdulikan omongan Mikha, dan tanpa mengatakan apapun Lagi Brian pergi meninggalkannya.
***
Setelah kepergian Brian, Mikha menjadi sedikit lega, karena tidak harus merasa kaku.
TING! Notifikasi pesan masuk.
(Mikha, kau sedang apa? kenapa tidak mengabari aku? Apa kau terlalu sibuk hingga tidak sempat untuk mengirim pesan padaku?)Juna.
Mikha meremas kuat ponselnya, ketika dia melihat nama Juna di layar ponsel, dadanya langsung terasa sesak, mengingat jika cintanya pada Brian tidak akan pernah sampai.
(Aku di Rumah Sakit)
Balas Mikha dengan singkat. Namun sepertinya gadis ini tidak sadar dengan memberi tahu di mana dia sekarang. Karena keberadaannya saat ini membuat Juna panik.
(Apa! Rumah Sakit? Kenapa kau di sana? Apa kau sakit?)
"Astaga! kenapa aku mengatakan sedang di rumah sakit,"gumam Mikha menyesali pesan pertamanya tadi.
Namun, sudah kepalang tanggung. Gadis itu pun memberi tahu penyebab dia berada di RS tapi tidak dengan kejadian preman yang hampir menculiknya.
*
*
*
Obrolan pesan singkat pun selesai, dan Mikha menyimpan ponselnya ketika Dokter memasuki kamar nya untuk memastikan jika sebelum tidur kondisi Mika baik-baik saja.
"Terima kasih banyak dokter,"ucap Mikha setelah dokter selesai memeriksa dengan sangat-sangat teliti cedera di kakinya.
"Sama-sama Nona, jika Anda membutuhkan sesuatu tekan saja tombolnya."Balas dokter tersebut.
__ADS_1
Mikha mengangguk dan beberapa detik kemudian dokter keluar dari kamar rawatnya.
****
Di tempat lain.
Brian yang baru saja sampai di kediaman mewahnya disambut oleh Rayan yang berdiri tegak di depan pintu.
"Selamat datang, Tuan!"sapanya Seraya menundukkan kepala memberi hormat pada Tuannya.
"Apa, kau sudah melakukan apa yang aku tugaskan?"tanya Brian.
"Sudah Tuan, beberapa orang sudah meluncur ke TKP, dan Anda jangan khawatir karena mereka akan memberi pelajaran yang setimpal dengan apa yang sudah mereka perbuat kepada Nona Mikha,"jelas Rayan, dia memang segera melakukan tugasnya dengan sangat sempurna ketika Brian menghubunginya.
Brian mengangguk puas lalu ia kembali melangkahkan kakinya memasuki rumah dan langsung menuju ke lantai atas di mana kamar Putri tercintanya berada.
CKLEK..
Dengan sangat pelan Brian membuka pintu dan menapakkan kakinya tanpa menimbulkan suara mendekati ranjang Belle.
Brian merasa lega karena dia melihat Belle tertidur dengan tenang dengan wajah yang damai, Brian mengusap rambut putrinya lalu mengecup kening gadis kecil itu.
"Selamat tidur My Princess. Semoga mimpi indah,"ucapnya seraya membenahi selimut Belle yang tergeser sedikit.
Setelah memastikan sang putri baik-baik saja,
"Ada apa?"tanya Brian yang menyadari jika ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh asisten pribadinya itu.
"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Anda, Tuan?'
"Apa ini soal pekerjaan?"
"Bukan Tuan, tapi ini soal calon pengantin Anda yang melarikan diri."
Seketika mata Brian menatap Rayan tajam.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Gadis itu, jadi jangan pernah menyebut namanya apalagi membicarakan dia di hadapanku."ujar Brian dengan mengeraskan rahangnya.
"Maaf Tuan, tapi saya rasa Anda perlu mengetahui alasan Nona Raline pergi di hari pernikahan. Tapi jika Anda memang tidak mau mendengar alasannya saya tidak akan mengatakannya kepada Anda."
"Jangan katakan!"sahut Brian yang memang benar-benar sudah tidak lagi memperdulikan dengan alasan Raline yang pergi tepat di hari pernikahannya hingga membuat Mikha yang harus menggantikan posisi gadis itu.
Mendengar keputusan mutlak dari Brian, Rayan menundukkan kepalanya.
"Baik Tuan, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?"
__ADS_1
"Apa lagi?"
"Fi mana Nona Mikha, kenapa tidak ikut pulang bersama Anda?"
"Gadis bodoh itu berada di Rumah Sakit."Sahut Brian seraya melangkah menuju ke kamarnya.
"Rumah Sakit! Kenapa Nona Mikha bisa sampai di Rumah Sakit?"tanya Rayan yang terlihat khawatir.
"Tentu saja bisa, karena aku yang mengantarnya ke sana."
"Maksud saya, apa yang menyebabkan Nona Mikha masuk Rumah Sakit, apakah dia terluka?"
Brian mengangguk.
"Lalu, saat ini dengan siapa Nona Mikha di Rumah Sakit?apakah sakitnya parah sampai membuat dia harus dirawat di sana?"Panik Rayan.
Dan kepanikan yang nampak dari kata-kata dan raut wajah Rayan seketika membuat Brian memicingkan mata menatap lekat lelaki yang saat ini tengah mengikutinya sampai masuk ke dalam kamar.
"Maaf Tuan, saya tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya ingin memastikan jika keadaan Nona Mikha baik-baik saja, karena jika Nona Mikha masuk sakit atau terjadi sesuatu padanya sudah pasti itu akan membuat Nona Belle bersedih."
"Maksudmu?"
"Tuan, sepertinya Nona Belle sangat menyukai Nona Mikha dan dia merasa nyaman dengan kehadiran Gadis itu di rumah ini, sebelum tidur tadi Nona Belle bercerita banyak tentang gadis yang bernama Mikha itu, dan Belle mengutarakan rasa suka dan sayangnya kepada Nona Mika."Jelas Rayan.
"Kau Jangan bergurau Rayan, mana mungkin Belle bisa akrab dengan gadis ceroboh seperti itu."Elak Brian.
"Tapi itulah faktanya, Tuan."
"Sudahlah, aku mau istirahat. Besok kosongkan semua jadwal ku,"ujar Brian memberi perintah.
"Kosongkan! Tuan, besok pagi jam 09 : 00 ada pertemuan penting dengan Mister Kona. Apa Anda ingin membatalkan pertemuan penting ini?"tanya Rayan memastikan. Jika Brian benar-benar sadar dengan apa yang dia perintahkan.
"Iya,"sahut Brian dengan gampangnya. Tanpa memikirkan resiko apa yang akan terjadi jika dia membatalkan pertemuan yang sangat penting dan sudah lama di rencanakan oleh Rayan.
Rayan hanya bisa menghela nafas panjang nan berat. Lelaki itu tengah menghitung berapa banyak kerugian yang akan Perusahaan mereka alami jika membatalkan kerja sama dengan Mister yang bernama Kona. Dan otaknya pun tengah berfikir keras, untuk menyediakan alasan Brian membatalkan pertemuan ini pada Misteri Kona.
Tapi yang membuat Rayan penasaran, apa yang menyebabkan Brian membatalkan pertemuannya dengan Mister Kona.
Bersambung...
🍁☘️☘️☘️☘️🍁
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️