
Selamat membaca 🤗
☘️☘️☘️
"Selamat Sore, Brian. Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu,"sapa Raline saat dia sudah tiba di meja Brian.
Brian melirik. Dan membalas sapaan itu hanya dengan ulasan senyum yang terpaksa.
Tampa ragu dan malu, Raline menarik kursi yang berhadapan dengan Brian. Dia duduk dengan begitu anggun dan percaya diri.
"Ada apa?"tanya Brian langsung. Sesaat setelah Raline mendudukkan dirinya.
Raline mengatur nafasnya, dan dia sudah mengumpulkan semua keberanian. Dengan tangan yang dia letakan di atas meja Raline berkata.
"Brian, tolong maafkan aku. Aku tau aku salah telah meninggal mu di hari pernikahan kita, dan aku juga sadar jika kesalahanku ini sangat besar hingga mungkin kau perlu waktu lama untuk memaafkannya. Tapi ada alasan tertentu yang membuatku pergi saat itu, sebuah alasan yang tidak bisa aku ceritakan kepada siapapun. Saat itu yang aku pikirkan hanya dirimu dan Belle, aku tidak tahu harus berbuat apa hingga aku memutuskan hal bodoh itu. Dan sekarang aku kembali, aku kembali untukmu dan Belle."
Raline bicara dengan wajah yang sendu dan penuh penyesalan, namun dalam hatinya sangat yakin jika Brian tidak mempermasalahkan semua itu.
Brian masih diam. Lelaki itu masih menunggu kata apalagi yang ingin diucapkan oleh Raline. Namun Raline sudah tidak mengucapkan apapun lagi karena Gadis itu sedang menunggu reaksi dari Brian.
***
"Apa sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan?"tanya Brian.
Raline menatap wajah Brian.
"Brian....!"
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau katakan, saya permisi."Potong Brian dan sudah bangkit dari duduknya.
"Tunggu, Brian!"cegah Raline, karena bukan seperti ini yang dia mau.
"Ada apa?"tanya Brian.
"Brian, kau sudah memaafkan aku kan?"
Brian tersenyum sinis.
"Tidak semudah membalikan telapak tangan untuk mendapatkan Maaf dari saya, tapi karena ini hal yang tidak penting ,jadi saya memilih untuk mengabaikannya."
"Kenapa seperti ini? apa Brian benar-benar sangat marah padaku?"
"Brian....!"
"Tuan Brian, kau tidak diizinkan dan mempunyai hak untuk menyebut nama saya tanpa, Tuan."Brian kembali memotong ucapan Raline yang ia rasa perlu di Ralat, karena sejak tadi Raline selalu memanggilnya tanpa sebutan Tuan.
"Maafkan aku, Tuan Brian."Sahut Raline dengan kaku. Dia tidak menyangka jika Brian akan bersikap dingin seperti ini. Sungguh diluar Ekspektasinya.
Brian tidak lagi menggubris ucapan Raline, dan lelaki itu benar-benar ingin segera pergi dari sana. Namun, lagi-lagi Raline menahan kepergian lelaki itu.
"Tuan Brian, kau belum meyakinkan aku apa kau sudah memaafkan aku?"tanya Raline.
__ADS_1
"Sudah saya bilang, jika ini tidak penting bagi saya. Jadi saya tidak harus mengatakan, apa lagi sampai meyakinkan bahwa saya memberimu maaf atau tidak! Lagipula, adikmu sudah menebus semua kesalahanmu. Jadi kau tetap bisa tenang dengan hidupmu."
Raline menggeleng"Tidak!" Dan dengan keberanian Full, Raline berkata,"Tuan Brian, aku ingin kembali padamu."
"Hahaha..." Brian tertawa mendengar keinginan Raline.
Dan Raline langsung ciut mendengar tawa yang malah terdengar menyeramkan itu.
BRAK!
Baru saja Raline tenang karena Brian menghentikan tawanya, dia kembali di kejutkan dengan gebrakan meja yang di lakukan Brian. Dan aksi ini tentu menarik perhatian beberapa pengunjung di Restoran tersebut.
Setelah mengebrak meja, Brian mencondongkan wajahnya di depan Raline.
"Apa kau tidak punya malu? Atau kau juga memiliki nyawa seperti seekor kucing? Dengan saya yang tidak melenyapkannya kau dari muka Bumi ini saja, seharusnya kau sudah bersyukur. Tapi kau malah berani meminta kembali pada saya!"Brian menggelengkan kepalanya,"Apa kau pikir, dulu saya sudi meminang mu? Tentu saja tidak! Raline, sepertinya kau terlalu polos atau mungkin bodoh hingga kau tidak tahu seperti apa saya sebenarnya, saya mampu melihat hal terkecil apapun yang di sembunyikan orang munafik sepertimu."Sambung Brian, dan dia mengatakan ini dengan nada suara yang pelan hanya terdengar oleh Raline seorang.
Setelah mengatakan kata-kata yang membuat Raline bergetar, Brian melenggang pergi dari sana, tanpa menawari Raline minum terlebih dahulu.
Tapi sepertinya Raline tidak membutuhkan minum, dia lebih membutuhkan tumpuhan untuk menopang badannya yang lemas seperti tanpa tulang.
"Apa maksud dari ucapannya? Kenapa aku menangkap sesuatu yang membahayakan? Apakah selama ini Brian tahu siapa aku, dan apa saja yang aku lakukan."Raline langsung memutar kembali memori yang dia simpan di otak, sebuah ingatan yang selama ini dia lakukan. Termasuk hari dimana dia menghilang.
Tangan Raline kembali bergetar, hatinya cemas dan takut! Raline terduduk dengan lesu dan pasrah.
"Kalau itu benar, Brian mengetahui semuanya. Apa yang harus aku lakukan! Sudah tidak ada kesempatan lagi untukku."
**
☘️☘️
"Apa! Brian mengatakan itu padamu! Sudah mamah bilang, jika tidak semudah yang kau bayangkan untuk kembali merebut hati Brian,"Marlina tengah murka kepada putrinya yang gagal meyakinkan Brian, bukan hanya gagal tapi sepertinya lelaki itu mengetahui rahasia besar Raline. Namun Raline tidak cukup berani mengatakan itu kepada ibunya, karena dia sangat tahu jika Marlina pasti akan lebih murka kepadanya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan Mah? Apa sebaiknya aku menyerah saja dan merelakan Brian, bersama Mikha?"tanya Raline, yang ingin menyerah.
"Dasar Bodoh! Apa yang kau bicarakan ini! tentu saja kak harus tetap maju dan tidak boleh kalah dari anak haram itu."Maki Marlina.
"Tapi Mah, sepertinya Brian sudah sangat marah padaku, aku melihat sudah tidak ada kesempatan untuk kembali padanya."
"Itu karena kau yang Bodoh, Raline. Kau tidak bisa memahami situasi dan selalu menganggap semua enteng."
"Kenapa Mamah malah marah padaku?"kesal Raline.
"Lalu, apa Mamah harus bangga dengan kegagalanmu ini."Balas Marlina yang tidak kalah kesal.
Raline terdiam, Marlina yang keras kepala dan tidak bisa di tentang. Itulah yang Raline tau, jadi dia tidak akan bisa menang jika berdebat dengan ibunya.
"Sekarang, Mamah yang akan mengatur semuanya, kau hanya harus berperan dengan baik."Kata Marlina setelah dia bisa mengontrol emosinya.
Raline yang tidak ada pilihan lain mengangguk. Dia akan membiarkan dan menyerahkan semuanya pada Marlina. Entah cara apa yang akan dilakukan Marlina, Raline hanya bisa mengikutinya saja.
☘️☘️
__ADS_1
"Brian, kau dari mana?"tanya Tante Merry yang menyambutnya di ambang pintu.
"Tante Merry! Kapan Tante datang?"tanya Brian yang terkejut dengan kehadiran tantenya itu.
"Belum lama, lalu darimana kau?"
"Aku hanya keluar sebentar, ada sesuatu yang harus aku bereskan. Bagaimana dengan Tante? Akhir-akhir ini Tante Merry sangat sibuk hingga aku sulit untuk menemui Tante."
Merry mengusap wajah Brian.
"Maafkan Tante, pekerjaan yang menumpuk yang membuat Tante seperti ini. Tapi jangan khawatir, sekalipun Tante sibuk, Tante tidak pernah lupa untuk mengingat dan mendoakan mu, juga Belle."
"Terima kasih, Tante."
Brian langsung mengajak Merry masuk ke dalam. Dan dia melihat suasana rumah yang sepi. Bukankah ada Mikha di Rumah, jika wanita itu ada di Rumah sudah pasti Belle akan terus berceloteh. Tapi saat ini Brian tidak mendengar suara anak itu.
"Anak dan istrimu sedang tidur, mereka terlihat sangat akrab. Tante senang melihatnya."Ujar Merry.
"Tidur! Di sore hari seperti ini?"
Merry Mengangguk.
"Iya, memangnya kenapa! kau sampai terkejut seperti ini. Brian, sudah saatnya kau membuka hati. Kau lihatlah, Mikha terlihat sangat menyayangi Belle, begitu juga sebaliknya. Belle terlihat menyayangi istrimu dan Tante melihat, Belle sangat nyaman berada di pelukan Mikha."
Brian mendudukkan dirinya di sofa.
"Tapi dia sangat ceroboh!"ucapannya.
Merry ikut duduk di sebelah Brian. Dia sudah mendengar semua Drama di Rumah ini semenjak kehadiran Mikha.
"Brian, kau ini lebih dewasa dari Mikha, kau harus bisa memaklumi dan mengimbanginya. Dia gadis yang masih sangat muda dan belum siap untuk menikah apalagi mempunyai anak. Tapi secara tiba-tiba dia harus menikah dan menjadi Ibu. Jika Tante ada di posisi Mikha pasti sangat berat dan memilih untuk pergi. Tapi Mikha bertahan, terlepas dari apa isi perjanjian yang kau sepakati dengan Handoko, Mikha tetep bertanggung jawab pada anakmu. Dia korban, dari keserakahan orang tuanya, kau tidak seharusnya bersikap kasar pada Istrimu."
"Tante membelanya?"
"Tidak! Tante hanya ingin menyadarkan mu, Mikha hanya ingin bertanggung jawab dan melindungi anakmu. Kau Jangan menghukumnya selalu hanya karena dia mendekati Belle."
Brian terdiam mendengar setiap ucapan dari Merry. Dan wanita yang sudah seperti ibu bagi Brian, mendekatinya.
"Brian, biarkan Belle dekat dan selalu bersama Mikha. Karena itu akan membuat anakmu bahagia."
Bersambung..
☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1