
Selamat membaca 🤗
🍁☘️☘️☘️🍁
Keesokan harinya.
Mikha terbangun karena suara derap kaki dokter dan beberapa suster yang memasuki kamarnya.
"Selamat pagi nona Mikha, apakah tidur Anda nyenyak? kami datang untuk memeriksa kondisi Anda,"ucap seorang dokter yang merawatnya .
"Pagi Dok, tidurku sangat baik. Dok aku boleh pulang hari ini kan?"tanya Mikha memastikan.
Karena sebelum tidur gadis ini mengingat jika dia memiliki janji dengan Tika yang akan pergi ke lokasi di mana Raline berada.
"Benar, dan Tuan Brian akan segera menjemput Anda untuk pulang,"sahut Dokter tersebut sambil memeriksa cidera di kaki Mikha.
Di jemput Brian, jika lelaki itu menjemputnya pulang sudah pasti Brian akan membawanya ke rumah besar itu . Sedangkan saat ini Mikha menginginkan pergi ke lokasi di mana Raline berada. Pikir Mikha.
"Dok, aku pulang sendiri saja tidak perlu menunggu Tuan Brian, dia sangat sibuk sudah pasti dia tidak akan bisa menjemput ku pulang,"ujar Mikha.
"Anda tenang saja nona, meskipun Tuan Brian sangat sibuk sudah pasti dia akan menyempatkan diri untuk menjemput istrinya. Jadi Anda tidak perlu khawatir, Tuan Brian pasti akan datang."Dokter meyakinkan Mikha.
Mikha yang tidak mau melewatkan kesempatannya untuk bertemu dengan Raline akan tetap nekat untuk pergi di mana Kakak tirinya itu berada. Sambil menunggu Brian datang menjemputnya Mikha menghubungi Tika.
Namun, sahabatnya itu panik setengah mati ketika mendengar temannya berada di rumah sakit, dan sempat di ganggu beberapa preman saat dalam perjalanan pulang. Tika juga meminta dan menegaskan Mikha untuk tidak dulu mengunjungi Raline, karena Tika meminta sahabatnya itu untuk fokus pada kesembuhan kakinya terlebih dahulu.
("Kau beristirahatlah dengan baik sampai kakimu benar-benar pulih seperti sedia kala, kau jangan khawatir biar aku yang akan datang ke lokasi di mana Raline diduga berada. Dan Apa kau akan lama dirawat di rumah sakit? aku akan ke sana untuk menemanimu?")ujar Tika di sebrang sana.
"Tidak, kau tidak perlu datang ke sini untuk menemaniku, pagi ini aku akan segera pulang. Tapi Tika, benarkah kau akan ke lokasi di mana Raline berada?"tanya Mikha memastikan.
("Iya, kau tenang saja aku akan membantumu untuk menemukan di mana Raline berada.")
"Terima kasih, Tika. Kau memang satu-satunya teman yang bisa aku andalkan dan selalu membantuku di saat aku membutuhkan pertolongan."
__ADS_1
("Tidak perlu berterima kasih seperti ini kita memang harus saling tolong-menolong kan. Sudah lebih baik sekarang kau beristirahat, pagi ini juga aku akan melakukan perjalanan dimana Raline berada dan aku akan segera mengabari mu jika aku sudah sampai di sana dan bertemu dengan Raline.")
Setelah melakukan panggilan dengan Tika, dan sahabatnya itu bersedia meluncur ke tempat Raline, membuat Mikha menjadi lega karena meskipun dia tidak bisa pergi di sana tapi ada Tika yang akan memastikan sendiri jika Raline benar-benar ada di lokasi yang disebut.
****
10 menit kemudian.
Seperti yang dikatakan dokter, Brian benar-benar datang menjemput Mikha untuk pulang.
"Bagaimana dengan kakinya?"tanya Bryan sebelum memasuki ruangan Mikha pada Dokter yang bertanggung jawab atas istrinya.
"Baik tuan, nona Mikha hanya perlu beristirahat total sampai beberapa hari kedepan, dan selama beberapa minggu ke depan nona Mikha tidak boleh melakukan aktivitas yang berat,"ujar dokter memberi penjelasan.
Brian Mengangguk dan diapun segera memasuki kamar rawat Mikha.
Setelah membereskan semuanya, Brian membatu Mikha berkemas untuk pulang ke rumahnya. Namun di saat yang bersamaan dan tanpa Mikha duga sebelumnya.
"Mikha!"Panggil Juna ketika dia mendorong pintu kamar rawat Mikha tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Juna! Kau di sini?"Mikha yang terkejut dengan kehadiran lelaki itu. Memang sebelumnya Juna bilang bahwa dia akan datang kembali ke rumah sakit itu esok hari tapi Mikha tidak tahu jika Juna akan datang sepagi ini, dan dia belum sempat memberitahu jika pagi ini dia pulang.
Tapi, yang lebih terkejut di sini adalah Juna. Matanya menatap tajam dan lekat ke arah Brian yang tengah membantu Mikha turun dari ranjangnya.
Dalam benak lelaki itu tentu saja bertanya? apa yang sedang Brian lakukan di sini kenapa dia bisa sedekat itu dengan Mikha? ada hubungan apa antara mereka berdua?
Tentu saja pertanyaan yang menumpuk di otak Juna disadari oleh Mikha, iya memang belum memberitahu bahwa Brian suaminya.
Dan sama seperti Juna, Brian pun menatap tajam ke arah lelaki yang tengah mematung dalam kebingungan tersebut. Mata Brian tertuju pada Paper Bag yang ada di tangan Juna, lalu dia mengulas senyum, tapi bukan senyum senang atau ucapan selamat datang yang dia ukir di sudut bibirnya namun senyum sebuah ketidaksukaannya terhadap Juna yang nyelonong masuk tanpa permisi.
"Sepertinya, Anda sangat perhatian pada rekan kerja Anda, sampai datang sepagi ini untuk menjenguknya."Ucap Brian menyindir Juna.
Namun Juna tidak peduli dengan sindiran yang dilontarkan oleh Brian dan laki-laki itu malah bertanya. "Apa yang Anda lakukan di sini?"
__ADS_1
Brian semakin mengulas senyum paksa, mendengar pertanyaan yang di ajukan Juna.
Namun, sebelum Brian menjawab pertanyaan Juna dokter datang menghampiri Brian seraya menyerahkan selembar kertas sambil berucap. "Tuan Brian, ini resep obat yang harus Anda tebus untuk istri Anda. Semoga Nona Mikha lekas sehat, dan 3 hari lagi Nona Mikha harus melakukan kontrol."Ucapan dokter itu tentu saja membuat Juna serasa disambar halilintar, karena dari kata-kata sang dokter Juna sudah bisa menyimpulkan siapa Brian sebenarnya.
Tiba-tiba sekujur tubuh Juna mengeras ketika mendapati fakta bahwa Brian suami dari Mikhayla, gadis yang ia sukai dan cintai secara diam-diam tanpa pernah mengutarakan perasaannya selama bertahun-tahun bersama.
"Sepertinya, Anda sudah taukan Apa alasan saya berada di sini, Juna!"ucap Brian.
Juna yang masih belum bisa menerima ini tidak bisa mengontrol hatinya, perasaan campur aduk memenuhi hatinya dia juga sedikit kecewa dengan Mikha yang tidak berterus terang kalau Brian adalah suaminya.
"Juna!"panggil Mikha lirih, karena dia melihat raut kekecewaan dari wajah lelaki itu.
Namun Juna segera menepisnya, dia tidak mau menunjukkan kekecewaannya kepada Mikha.
"Mikha, bagaimana dengan keadaan mu?"tanya Juna, mencoba bersikap seperti biasanya pada Mikha tapi harinya sungguh tengah hancur dan kecewa.
"Aku baik, terima kasih sudah datang menjenguk ku,"sahut Mikha.
Juna mengulas senyum. "Aku senang mendengarnya, aku hanya ingin menepati janjiku semalam yang mengatakan akan datang kembali untukmu."
Ucapan Juna, sukses membuat kedua mata berlian terbelalak.
Bersambung.
☘️☘️☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1