Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian

Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian
Menjadi Lebih Dekat


__ADS_3

Selamat membaca πŸ€—


☘️☘️☘️☘️


Dari kata yang di ucapkan Juna, Brian sudah bisa menduga jika semalam Juna Datang mengunjungi Mikha. Dan pada detik itu juga tatapan mata Brian tertuju pada sang Dokter yang bertanggung jawab atas Mikha di RS tersebut.


Menyadari tatapan Brian yang penuh dengan aura negatif. Dokter langsung mengalihkan fokus mereka dengan membisikkan kata-kata di telinga Mikha.


"Nona, segeralah minta Tuan Brian mengajak Anda pulang. Tolong bantulah saya."


Mikha mengerutkan keningnya, dia tentu bingung dengan kata-kata dari Dokter itu. Si dokter mengangguk mengisyaratkan Mikha untuk memenuhi permintaannya.


Sementara Brian dan Juna kini saling melempar tatapan tidak suka.


"Aku ingin pulang sekarang!"kata Mikha yang langsung meyudahkan sesi saling tatap antara Brian dan Juna. Dengan kesal, Brian menarik kursi roda yang akan menjadi alat bantu Mikha untuk beraktivitas selama beberapa hari ke depan. Menghadapkannya ke arah wanita itu, dan dengan sigap agar semuanya cepat selesai Dokter dan perawat segera membawa Mikha untuk pindah ke Kursi Roda.


Juna yang peka, tentu tidak tinggal diam dengan kesulitan Mikha dia beranjak menghampiri Mikha ingin membantu gadis itu, namun dengan cepat. Brian Menahannya.


"Jangan ikut campur, lebih baik kau segera pergi dari sini."Ucap Brian dengan berbisik di telinga Juna.


Dengan kasar, Juna menepis kuat tangan Brian yang menghalaunya. Lalu lelaki itu menimpali ucapan Brian.


"Kenapa? Apa Anda takut?"


"Takut! Ciuh!"ejek Brian.


"Tuan Brian, lebih baik Anda segera bahwa Nona Mikha pulang agar beliau bisa segera beristirahat dengan baik. Usahakan untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu,"ucap Dokter itu yang tidak mau ada keributan di sana jadi dia harus mengeluarkan Brian dan Juna di sana.


🍁🍁🍁🍁


Di tempat lain.


Tika yang memutuskan untuk pergi ke lokasi di mana Raline terlihat , harus menelan kekecewaan, alamat yang dia tuju seratus persen akurat.


 Namun, dia tidak bertemu dengan Raline di sana. Rumah Mungil yang di klaim sebagai tempat tinggal Raline nyatanya kosong tidak berpenghuni.


Tapi, meskipun Tika tau jika Rumah itu kosong dia masih terus mengetuk pintu hingga menarik perhatian seseorang yang tinggal di sebelah Rumah mungil tersebut.


"Mbak cari siapa? Di Rumah itu tidak ada siapapun."Ujar seorang wanita, dengan nada sedikit membentak yang mungkin terganggu dengan suara gaduh yang di ciptakan Tika.


"Maaf Bu, jika saya mengganggu. Apa benar Rumah ini kosong?"tanya Tika memastikan.


"Iya, dua orang yang tinggal di Rumah itu malam tadi pindah, padahal mereka baru beberapa hari tinggal di sini."


"Pindah! Semalam!"kejut Tika, dia benar-benar kecolongan.


"Iya,"Sahut wanita yang sudah setengah abad itu sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa Ibu tahu mereka pindah di mana?"


"Tidak! karena saya juga tidak terlalu mengenal dengan dua orang yang tinggal di Rumah ini, jadi saya tidak tahu mereka pindah ke mana."Sahut wanita tersebut.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih banyak. Maaf sudah mengganggu istirahat Anda."Tika menundukkan kepalanya.


Karena tidak mendapatkan apapun di situ, Tika memutuskan untuk pergi dari sana dan dia harus menyampaikan kabar yang sungguh tidak mengenakkan ini kepada Mikha.


****


Di Rumah Brian.


"Horeee.....! Tante Mikha sudah pulang!"seru Belle ketika dia melihat Mikha memasuki Rumah.


Tapi seketika wajah anak itu langsung sedih,"Tante kenapa, apa kaki Tante sakit?"Tanya Belle yang melihat Mikha duduk di kursi roda.


"Tante tidak apa-apa, hanya terkilir sedikit saja sebentar lagi juga akan sembuh."Sahut Mikha.


"Cepat! antarkan dia ke dalam kamar,"kita Brian kepada pelayan yang memang sejak tadi berdiri di sana.


"Baik Tuan,"sahut pelayan, yang ternyata Luri dan dengan segera, dia mendorong kursi roda Mikha menuju ke kamarnya.


Entah kenapa sajak pulang dari Rumah Sakit, wajah Brian ditekuk, ia terlihat seperti sedang kesal dan menahan marah.


"Tuan, apa terjadi sesuatu?"tanya Rayan menyadari kekacauan dari raut wajah tuannya.


"Hari ini jadwal Anda tidak terlalu padat, tapi hari ini Anda harus mengambil keputusan, Hotel mana yang akan menjadi tempat acara perusahaan."


Mendengar nama Hotel, seketika Brian mendengus kesal karena pada detik itu juga ia mengingat Juna.


"Terserah kau saja!"sahut Brian dengan ketus.


"Apa Anda yakin terserah saya? Apa Anda tidak ingin memilih Hotel di mana tempat Nona Mikha bekerja?"


Brian mengangkat wajahnya, menata wajah Rayan yang tengah berdiri di hadapannya. Dan seketika ia mengerutkan kening seperti sedang memikirkan sesuatu di otaknya.


"Sepertinya itu tidak buruk!"ujarnya Brian setelah beberapa saat terdiam.


"Baik, Anda sudah mengambil keputusan dan saya akan mempersiapkan semuanya."Ujar Rayan.


"Lakukan saja, tapi sore nanti aku ingin bertemu dengan Tante Merry."Pinta Brian.


Rayan mengagguk.


"Baik Tuan, saya akan segera menghubungi Nyonya Merry."


Setelah semuanya selesai. Rayan berpamitan untuk melakukan apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


***


"Pah, aku ingin melihat Tante Mikha,"pinta Belle.


"Lain kali Sayang, karena kau harus beristirahat,"tolak Brian.


"Istirahat! Aku belum lama bangun dari tidur Pah, kenapa Papah memintaku untuk beristirahat lagi?"Protes Belle, dan anak itu Protes bukan hanya dengan ucapannya saja. Dia beranjak dari Pangkuan Brian menandakan jika bocah kecil dan imut itu tengah merajuk pada Ayahnya.


"Apa My Princess, marah pada Papah?"tanya Brian seraya mengulas senyum.


"Iya, aku marah pada Papah. Dan aku tidak mau bicara dengan Papah sampai besok."Belle berkata sambil melipat kedua tangannya di dada.


Dan hal itu semakin membuat Brian tersenyum senang.


"Lalu,apa yang harus Papah lakukan akan Princess tidak marah lagi?"


"Papah harus selalu. Mengizinkan aku ke Kamar Tante Mikha?"


Demi mengembalikan senyum di bibir putrinya, tentu saja Brian mengagguk mengiyakan permintaan Belle.


"Horeee... Papah Baik, terima kasih!"Belle langsung menghamburkan dirinya di pelukan Brian.


**


Dengan bersemangat Belle berlari kecil menuju kamar Mikha.


Dan anak itu tidak sendiri karena Brian, ikut serta di belakangnya.


***


Belle menghampiri Mikha, kali ini Belle memiliki keberanian lebih untuk mendekati Mikha dan bertanya banyak dengan gadis itu, mungkin karena ada Brian di belakangnya yang sedang menjadi pengawas, hingga Belle memiliki keberanian eksta dan tidak akan menyuruhnya untuk menjauh.


Ini untuk pertama kalinya, Mikha bercengkrama dengan durasi yang cukup lama bersama Belle. Dan Mikha sendiri tidak menyangka jika dia bisa bicara akrab seperti ini dengan anak-anak.


"Tante janji ya, jika sembuh nanti akan mengajakku ke taman Bermain?"Belle mengacungkan jari kelingking. Gadis kecil ini ingin memastikan jika Mikha tidak akan mengingkari janjinya yang ingin mengajak Belle ke Taman Bermain.


Bersambung.


☘️☘️☘️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya πŸ€—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini πŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2