
Selamat Membaca.
☘️☘️☘️☘️
''Belle, ayo kembali ke kamarmu,''titah Brian karena dia merasa Belle sudah terlalu lama berbicara dengang Mikha.
Untuk pertama kalinya Belle tidak langsung mengiyakan apa yang di titahkan Papahnya.
''Pah, aku masih ingin di sini, aku ingin menemani tante Mikha. Tante Mikha pasti akan kesulitan jika ingin ke kamar mandi.''
''Belle, itu bukan menjadi tugas mu, kau tidak perlu melakukan apapun, banyak pelayan yang akan membantu Tante Mikha,''ujar Brian.
''Tolong ijinkan aku untuk merawat Tante Mikha Pah,''pinta Belle dengan wajah memelas agar Papahnya mengiyakan keinginannya.
''Tidak, kau harus kembali ke kamar mu,''dan Brian tetap menolak keinginan Putrinya.
Tapi Belle tidak menyerah begitu saja, dia tetep membujuk Brian dan mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan, bukan hanya bagi Brian tapi juga untuk Mikha. Karena anak itu mengatakan.
''Pah, aku pernah menonton sebuah Video, dan di Video itu menjelaskan jika kita harus berbakti pada orang tua kita, menyayangi dan membantu. Jadi aku ingin melakukan itu aku akan merawat Tante Mikha.''
Brian terpancing dan ia sudah siap membuka mulutnya ingin mengatakan, jika Mikha bukan ibunya, jadi Belle tentu tidak harus berbakti pada wanita itu.
Namun ketika melihat wajah bahagia Belle Brian tak sampai hati untuk mengatakan hal itu.
''Baiklah, Papah mengijinkan mu, tapi kau harus tetap kembali ke kamarmu di waktu tidur nanati.''Dan akhirnya inilah yang di katakan Brian. Dia pasti akan luluh jika sudah menyangkut Belle.
''Terima kasih Papa.''Karena senang telah mendapatkan ijin dari Brian, Belle langsung berhambur memeluk Brian.
Mikha yang masih tertegun karena tidak menyangka jika Belle bisa mengatakan itu masih terdiam dengan pikirannya sendiri.
"Apa selama ini Belle menganggap aku sebagai ibunya?"
Eheemm..
Brian berdehem, dan suara itu menyadarkan diamnya Mikha.
''Ingat, jangan lakukan apapun yang membahayakan anakku,''ucap Brian penuh dengan peringatan tepat di telinga Mikha.
Mikha mendelik dan menatap tajam Brian. Dalam hatinya berkata.
''Dasar gila! melihat kondisiku seperti ini saja dia masih bisa mencurigai aku, memangnya aku bisa apa! untuk jalan saja aku kesusahan.''
Brian tentu tidak mendengar suara umpatan hati Mikha, tapi lelaki itu sudah tau jika gadis itu tengah mengumpatnya.
Brian keluar dari kamar Mikha meninggalkan putrinya bersama istrinya.
***
''Tuan, Nyonya Merry tengah sibuk dengan pembukaan Butik barunya, jadi beliau belum bisa menemui Anda,''kata Rayan.
__ADS_1
''Tidak masalah, aku bisa bertemu dengannya besok.''Sahut Brian.
''Tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Anda, dan ini soal Nona Raline.''
''Sudah aku bilang, aku tidak perduli dan tidak mau tau soal wanita itu,''kesal Brian, karena ini yang kedua kalinya Rayan menyinggung soal Raline.
''Tapi Tuan, Anda harus tetep mengetahi ini, agar kedepannya Anda tau harus melakukan apa di saat dia datang kembali.''
Brian menatap Rayan, dan Rayan membalas tatapan itu dengan senyuman penuh arti, Brian tau jika Rayan mengetahui sesuatu, dan ia bisa memperediksi apa yang akan di lakukan Raline di kemudian hari.
''Baiklah, ikut aku.''Ajak Brian yang sudah melangkah terlebih dahulu menuju ruang kerjanya.
*****
''Jadi, Papah yang menolong Tante Mikha?''tanya Belle penuh dengan antusias ketika Mikha menceritakan jika dia di ganggu orang jahat dan Brian lah yang menyelamatkannya.
''Iya, Papah mu yang menyelamatkan Tante.''
''Waaaahh... Papah hebat sekali, seperti pahlawan. Papah hebat!''seru Belle.
Mikha mengulas senyum ketika melihat kegembiraan dari wajah Belle, anak itu terus saja membangga-banggakan Papahnya.
Melihat Belle yang begitu bahagia ketika sedang menceritakan Papahnya, tiba-tiba Mikha membandingkan dirinya dan Belle yang mempunya nasib yang sebernya jauh berbeda dari yang dia kira. Belle memang tidak pernah dan merasakan kasih sayang dari seorang Ibu sejak lahir, tapi Belle mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dan sempurna dari Papahya, Brian. Sedangkan dirinya, semenjak di tinggal sang Ibu, Mikha sudah tidak pernah lagi merasakan dan mendapatkan kasih sayang yang tulus. Karena satu-satunya orang yang menyayanginya harus menghadap Tuhan terlebih dahulu, dan seseorang yang harusnya menjadi penopang, pelindung dan yang menyayangi Mikha, tidak pernah memberikan itu semua.
Handoko dan Brian, sama-sama menjadi seorang ayah, tapi mereka sangat jauh berbeda dalam memperlakukan putrinya, seandainya Handoko bisa seperti Brian mungkin Mikha akan selalu bahahagi seperti Belle, itulah yang saat ini sedang Mikha pikiran.
*****
Brian yang mendapati anaknya belum kembali ke kamar menjadi sedikit emosi, mengira jika Mikha melakukan sesuatu pada putrinya. Dengan langkah panjang Brian menuju kamar Mikha dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lelaki itu langsung mendorong pintu kamar Mikha dengan sangat kuat.
Brian sudah ingin berteriak, namun dia langsung tertegun ketika melihat Belle yang tengah tertidur sambil memeluk Mikha. Untuk sejenak Brian tidak melakukan apapun karena dia masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini, Belle begitu terlihat nyaman berada di pelukan Mikha.
Dengan langkah kaki yang pelan nyaris tidak menimbulkan suara, Brian mendengkati ranjang Mikha. Dia kembali terdiam ketika melihat wajah Mikha dengan mata yang terpejam.
"Apakah dia tidak seburuk yang aku pikir selama ini."gumam Brian.
Setelah beberapa saat terdiam sambil terus memandangi wajah dua wanita berbeda generasi yang sedang tidur lelap. Brian menggerakkan tangannya.
Bukan untuk apa, tapi lelaki itu hanya ingin membenahi selimut yang tergeser. Meskipun Brian bergerak dengan begitu hati-hati dan pelan, tapi Mikha menyadari jika ada seseorang.
GREEB!
Dengan cepat, Mikha menahan tangan Brian yang sedang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Tuan, apa yang Anda lakukan di sini! Anda tidak berniat macam-macam dengan saya kan?"kata Mikha, yang terkejut dengan kehadiran lelaki itu di kamarnya.
Brian mendengus kesal, dan dia segera menyingkirkan tangan Mikha yang menyentuh lengannya.
"Macam-macam! Apa kau pikir aku mempunyai selera untuk macam-macam denganmu."Setelah mengatakan itu, Brian kembali berdiri tegak.
__ADS_1
"Lalu, untuk apa Anda datang ke kamar saya?"
Brian melirik ke arah Belle.
"Sepertinya, kau senaja membuat Belle tertidur di sini."
"Tidak!"sahut Mikha dengan cepat.
"Lalu, kenapa Belle bisa tidur di sini?"Brian yang tidak mau terima.
"Aku sudah meminta Belle untuk kembali ke Kamarnya, tapi dia tidak mau dan aku juga tidak sadar jika dia malah tidur di sini,"jelas Mikha apa adanya. Karena dia sendiri juga tidak menyadari jika Belle tidur di sampingnya, karena yang Mikha ingat, dia sedang bercerita dengan Belle. Tapi kenapa bisa berakhir dengan tertidur saling berpelukan.
Lagi-lagi Brian mendengus.
Dan itu semakin membuat Mikha kesal, karena dia pikir Brian tidak akan mempercayai omongannya.
"Anda mau apa!"tanya Mikha, ketika melihat Brian menarik selimut Belle.
"Apa lagi, tentu saja harus memindahkannya."
Entah apa yang ada di otak Brian, padahal beberapa menit yang lalu dia seperti berniat membiarkan Belle tidur di sana bahkan dia ingin membenahi selimut. Tapi sekarang! Dia kumat lagi.
"Tuan, tidak bisakah Anda membiarkan Belle, tidur hanya untuk sutu malam di sini? Belle sedang tertidur nyenyak, apa Anda tega mengganggunya. Dia pasti akan terbangun jika Anda memaksa memindahkannya."Ujar Mikha, yang tidak sampai hati jika harus mengganggu tidur Belle.
Yang di katakan Mikha ada benarnya, dan Brian pun mengiyakannya.
Mikha menatap bingung Brian.
"Ada apa?"tanya Brian dengan ketus.
"Anda membiarkan Belle untuk tidur di sini kan?"sahut Mikha.
"Iya."
"Lalu, kenapa Anda masih ada di sini?"
"Aku akan mengawasi Belle di sini."
"Apa!"kejut Mikha.
"Kenapa?"
Bersambung..
☘️☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️