Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian

Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian
Seharian Bersama


__ADS_3

Selamat membaca 🤗


☘️☘️


Orang yang memiliki pasang mata itu adalah Raline. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan di Taman, padahal Marlina sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak pergi ke manapun. Tapi saat ini Raline malah berada di taman dan secara tidak sengaja bertemu dengan Brian dan Mikha.


"Mikha! Apa yang sedang kau lakukan! aku tidak bisa membiarkan ini semua, Brian adalah milikku dari dulu dia milikku dan akan tetap menjadi milikku." Raline mengepal kuat-kuat tangannya sambil terus menatap Belle dan Mikha.


Semakin menatap, hatinya semakin panas dan cemburu. Dalam hati kecil Raline menyesali semua tindakannya yang telah lari dari pernikahan hingga membuat Mikha menggantikan posisinya. Tapi Sekarang dia sudah kembali, dan Raline berjanji akan mengembalikan keadaan seperti semula.


**


"Papah, aku haus!"ujar Belle setelah hampir satu jam anak itu berputar-putar mengelilingi dan mencoba setiap wahana yang ada di sana.


Brian meraih botol yang berisi air mineral dan memberikannya kepada gadis itu. Di saat Belle sedang menenggak minum tiba-tiba matanya melihat sosok Raline di balik kerumunan orang-orang yang ada di Taman tersebut.


Belle menurunkan botol minum yang sedikit mengganggu pandangannya lalu anak itu memutar kepalanya mencari sosok yang baru saja dia lihat.


"Ada apa sayang?"tanya Brian.


"Pah, aku tadi melihat tante Raline di sana."Sahut Belle sambil menunjuk tempat dimana dia melihat sosok Raline.


Mata Brian langsung tertuju pada tempat yang di tunjukkan Belle, namun dia tidak melihat siapapun di sana selain kumpulan orang-orang yang sedang bercengkrama dan bermain.


"Raline!" Mikha yang mendengar Belle menyebut nama kakaknya langsung fokus, menatap dan memperhatikan setiap orang yang ada di sana. Meskipun dia tidak bisa meneliti semuanya tapi Mikha tetep melakukan itu berharap jika apa yang Belle lihat nyata, dengan begitu dia sudah tidak perlu lagi repot-repot untuk mencari Raline.


Semakin mencari sosok Raline, Mikha semakin kesulitan. Dia sama sekali tidak melihat Raline. Apa mungkin itu hanya halusinasi dari Belle saja karena dia merindukan wanita itu. Pikir Mikha.


"Sayang, tidak ada siapapun di sana."Kata Brian pada Belle yang masih mencari-cari Raline menggunakan dua bola matanya.


"Tapi aku tadi benar-benar melihat tante Raline Pah, aku tidak salah. Tadi aku melihat Tante Raline berdiri di sana."Yakin Belle.


Brian mengusap rambut Belle dan dia kembali berbicara dengan nada lembut memberi pengertian pada Belle bahwa tidak ada Raline di sana.


"Tante Mikha, tante melihat di sana ada tante Raline kan?"Belle yang mencari dukungan agar Papahnya percaya dengan apa yang dia katakan.


"Maaf Belle, tapi Tante juga tidak melihat ada tante Raline di sini, tapi sepertinya yang kau katakan benar dan biarkan Tante yang akan mencarinya di sekitar sini."Kata Mikha dan sudah akan melangkah menuju tempat yang sebelumnya ditunjuk oleh Belle.


"Tidak perlu!"cegah Brian yang langsung menghentikan langkah kaki Mikha.


"Kenapa? aku hanya ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan Belle benar, Belle benar-benar melihat Raline di sini."Sahut Mikha.


"Aku bilang tidak perlu, jika Belle benar-benar melihat wanita itu untuk apa?"tanya Brian lalu ia beralih kepada Belle.


"Sayang, jika Belle datang ke sini untuk bermain lupakan apa yang baru saja Belle lihat, tapi jika memang Belle ingin mencari Tante Raline, Papah akan mencarinya dan kita sudahi bermain di tempat ini."


"Tidak Pah, aku ingin tetap bermain di sini bersama Tante Mikha, mungkin Papah benar jika aku salah melihat,"kata Belle yang ternyata lebih memilih bermain bersama Mikha dan papanya daripada harus mencari Raline.


"Baiklah, lalu apa lagi yang ingin Belle coba di sini?"tanya Brian kembali mencairkan suasana.


"Itu Pah! Aku ingin naik itu tapi kita naiknya bersama ya?"seru Belle yang meminta papahnya ikut serta, karena sejak tadi Brian hanya duduk memperhatikan Belle dan Mikha.


"Ayunan! Bukankah sejak tadi Belle bermain itu?"tanya Brian, heran karena lagi-lagi anaknya menunjuk permainan ayunan. Sepertinya gadis kecil itu memang sangat menyukai yang namanya ayunan.


"Benar Pah, tapi itu berbeda. Itu memiliki kursi yang lebar bisa ditempati oleh kita bertiga sedangkan yang aku mainkan tadi hanya bisa ditempati aku sendiri, ayolah Pah kita main ayunan di sana bersama Tante Mikha,"ajak Belle sambil menarik-narik lengan Brian.


Brian melirik ke arah Mikha, dan Gadis itu malah mengedipkan mata kepada Brian yang sontak saja membuat Brian terkejut dengan aksi gadis itu, sepertinya Mikha masih ingin membuktikan jika Brian benar-benar tidak tertarik dengan lawan jenis hingga dia lebih berani menggoda lelaki itu.


"Ayo, Pah!"Belle kembali menarik tangan Brian. Dan karena lelaki itu sedang salting karena kedipan mata yang Mikha berikan membuat Brian menurut saat Belle menariknya.


**


Mereka bertiga duduk di ayunan yang memiliki kursi berwarna putih dengan ukuran yang lumayan panjang dengan posisi Belle di antara Mikha dan Brian.


"Bagaimana! Papah suka kan!"Seru Belle.

__ADS_1


Brian hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Bagaimana kalau kita abadikan momen ini."Ujar Mikha dan tanpa mengharapkan jawaban dari siapapun, Mikha mengeluarkan ponselnya.


"Kau jangan sembarangan mengambil foto saya,"marah Brian saat Mikha mengarahkan kamera pada mereka.


"Baiklah, jika Anda tidak mau di foto biar aku dan Belle saja,"sahut Mikha lalu dia meminta persetujuan dari Belle,"Bagaimana? Apa Belle bersedia berfoto bersama Tante?"


"Tentu saja aku bersedia!"sahut Belle dengan penuh semangat.


CKREK! CKREK! CKREK!


Suara kamera ponsel terus berdentum di telinga Brian, Belle dan Mikha masih belum selesai meskipun mereka sudah mencoba beberapa gaya di foto Selfinya.


"Papah! Ayo foto dan tersenyum,"kata Belle sambil mengguncang lengan Brian.


"Tidak sayang, Papah tidak suka di foto."Tolak Brian dengan lembut.


"Hanya satu kali saja Pah, pliiis..!"pinta Belle.


Brian pasti akan luluh jika anaknya sudah seperti ini.


"Baiklah, ayo cepat arahkan fotonya."Kata Brian.


Dan dengan semangat Mikha mengarahkan kamera dengan posisi pas agar mereka bertiga di abadikan oleh kamera tersebut.


CKREEK!


Dan akhirnya keluarga kecil yang dipersatukan secara tidak senaja ini bisa berfoto bersama.


**


"Apa Belle lapar?"tanya Mikha.


"Ayo kita makan di sana."Mikha menunjuk restoran yang berada di sekitaran taman dan langsung disambut dengan anggukan antusias oleh Belle.


Brian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 dan memang sudah memasuki waktu makan siang sehingga Brian menyetujui ajakan Mikha untuk singgah di Restoran.


***


"Belle mau makan apa?"tanya Mikha, setelah mereka bertiga duduk yang menghadap ke taman langsung.


"Aku mau makan makanan yang sama dengan tante Mikha,"jawab Belle.


"Ok! Kalau Anda mau makan apa, tuan?"Sahut Mikha, dan dia langsung bertanya pada Brian.


Brian tidak menjawab.


"Baiklah, kalau begitu Anda pilih sendiri saja menu mana yang ingin Anda makan siang ini."Mikha menyodorkan buku menu di hadapan Brian. Lelaki itu meraihnya dengan malas, namun dia tidak memesan makanan apapun, Brian hanya meminta segelas air putih pada pelayanan Restoran yang melayani mereka.


"Mohon tunggu sebentar, pesanan Anda akan segera datang."Ucap pelayan perempuan itu sambil menundukkan kepalanya dan segera berlalu dari meja Brian dan Mikha.


"Tuan, kenapa Anda hanya memesan air putih saja, apa Anda tidak mau makan?"tanya Mikha dengan hati-hati takut jika lelaki itu menyemprotnya dengan kata-kata pedas.


"Tidak."Jawab Brian sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? bukankah Ini sudah memasuki makan siang, apa Anda tidak lapar?"tanya Mikha kembali.


Lagi-lagi Brian hanya diam.


Dan untuk menghormati pertanyaan dari Mikha, Belle yang menjawabnya.


"Tante, jika siang hari, Papah tidak pernah makan. Papah hanya makan di pagi dan malam hari saja."


"Aa.. Seperti itu, baiklah."Kata Mikha mengerti.

__ADS_1


**


Setelah beberapa menit, menu yang mereka pesan sudah siap dihidangkan.


Belle dan Mikha yang memang merasa lapar, langsung menyantap makanan yang tertata di atas meja.


Sedangkan Brian hanya menyeruput air putih dingin yang dia minta sebelumnya.


Lagi-lagi Brian terperangah melihat Belle yang tidak seperti biasanya, sejak tadi anak itu menebar senyum bahagia di wajahnya, senyum yang tidak pernah Brian lihat selama ini, dan saat ini Belle makan tidak seperti biasanya yang hanya diam dan menunduk.


Apakah ini semua karena dia yang telah mengajak Belle keluar untuk jalan-jalan?


ataukah semua ini karena kehadiran Mikha yang menemaninya sehari ini?


kurang lebih, seperti itulah yang ada di pikiran Brian saat ini.


"Mikha!"


Suara seorang pria memanggil nama Mikha dan langsung memudarkan renungan Brian.


Mikha dan Belle sama-sama menoleh ke sumber suara, dan mereka melihat Juna tengah berdiri dengan senyum mengembang tepat di belakang Brian.


"Juna,"sapa Mikha, yang nampak terkejut karena tidak menyangka akan bertemu Juna di tempat ini.


Juna mendekat ke arah Mikha dan Belle.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,"ujarnya dan Juna beralih menyapa Belle yang terlihat penasaran dengannya.


"Hai anak manis, perkenalkan. Nama Om, Juna. Dan bolehkah Om tau siapa namamu?"


Juna mengulurkan tangannya.


Belle melirik Brian, Sudah menjadi kebiasaan anak itu jika ada orang asing yang mengajak perkenalan harus mendapatkan izin dari Brian.


Namun, karena Brian memang tidak suka dengan Juna, lelaki itu hanya diam.


Belle tidak berani membalas uluran tangan dari Juna, karena ia takut jika papanya tidak suka.


"Belle, Om Juna teman Tante."Kata Mikha yang mencairkan kecanggungan antara 3 orang yang ada di sana.


Belle hanya mengangguk tanpa menjabat tangan Juna tapi dia tetap menyapa lelaki itu.


"Hai Om, namaku Belle."


Juna mengulas senyum.


"Waaaah, namamu cantik sekali, persis seperti wajahnya."


"Terima kasih Om."


"Belle, Om bukan hanya teman dari Tante Mikha tapi Om juga teman dari papamu,"Juna melirik Brian yang masih diam di kursinya,"Benarkan, Brian?"


Brian langsung menatapnya dengan tajam. Tatapan marah dan tidak suka, karena berani-beraninya lelaki ini mengaku sebagai temannya.


Bersambung..


☘️☘️☘️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Mohon dukungannya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2