Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian

Terpaksa Menjadi Pengantin Pengganti Tuan Brian
Pukul 02:00


__ADS_3

Selamat membaca 🤗


☘️☘️


"Sudah, lupakan saja. Sekarang, apa yang membawa mu kesini?"tanya Brian sambil berjalan menuju lemari besar yang berisi beberapa kostumnya.


Rayan mengikuti langkah kaki Brian, sambil menjelaskan apa yang harus dia jelaskan karena kedatangan Rayan ke kamar Brian tentu bukan hanya sekedar merasa khawatir dengan lelaki itu yang mandi dengan durasi lama.


"Tuan, Nyonya Marlina ingin bertemu dengan Anda,"kata Rayan.


Brian menghentikan sejenak aktivitasnya yang sedang memilih kostum tidur.


"Bertemu denganku, untuk apa?"tanya Brian dan kembali mengobrak-abrik isi lemari.


"Saya tidak tau, Tuan. Tapi Nyonya Marlina bilang, jika ada sesuatu yang sangat penting yang harus dia sampaikan pada Anda secara langsung."


"Tidak ada urusan yang penting antara aku dan Wanita gila harta itu, katakan itu padanya."


"Baik, saya akan menyampaikan. Tapi, tuan. Boleh saya bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kalau boleh tau, alasan apa yang membuat Anda Kepanasan. Sungguh saya sangat penasaran Tuan."Ujar Rayan.


Brian yang sedang memakai piyama tidur, melirik Rayan.


"Apa kau benar-benar ingin tau?"


Rayan langsung mengangguk dengan sangat antusias.


"Tentu Tuan, saya sangat ingin tau."


Brian tidak langsung menimpali ucapan Rayan, karena dia sedang menuntaskan pemakaian kostum tidur di badannya.


Rayan masih berharap menunggu jawaban dari Brian.


"Rayan!"panggil Brian yang sudah selesai dengan urusan pakaiannya.


"Iya Tuan?"jawab Rayan cepat.


"Yang membuatku panas adalah!"Brian kembali mengantungkan ucapannya. Semakin membuat Rayan diliputi rasa penasaran yang menggebu.


"Adalah!"Sahut Rayan dengan harap-harap cemas.


"Adalah kau, yang tiba-tiba masuk ke kamar ku. Hingga membuat suhu di kamar mandi meningkat,"lanjut Brian dengan nada Suara nyaring. Lalu ia berjalan melewati Rayan menuju ke ranjangnya.


"Saya! kenapa saya yang menjadi alasan Anda? Bukankah sudah biasa jika saya masuk ke dalam Anda?"


"Memang iya, tapi itulah yang menjadi alasanku."

__ADS_1


Meskipun terdengar aneh dan tidak masuk akal. Namun Rayan tetep mengangguk.


"Baiklah,"meskipun berkata demikian tapi otak Rayan tidak percaya dan terima dengan alasan tersebut.


"Sekarang kembalilah ke kamarmu dan beristirahat dengan baik."Ujar Brian.


"Baik Tuan, terima kasih. Selamat malam dan selamat beristirahat untuk Anda."


Rayan menundukkan kepalanya dan pergi dari kamar Brian.


Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Rayan masih kepikiran dengan ucapan Brian yang seharusnya tidak penting untuk dia pikirkan.


****


Kembali lagi pada Brian.


Pukul 02:00 dini hari.


Lelaki itu berusaha keras untuk memejamkan matanya di bawah selimut tebal, namun kelopak mata serasa ditarik kuat keatas sehingga dia tidak bisa memejamkan matanya seperti biasa.


"Aaarrgghh...!"teriak Brian dengan kesal, karena tidak dapat tidur,"Kenapa sulit sekali."


Brian menyingkap selimut dan dia di beranjak dari sana.


***


CKLEK..


"My Princess. Kau tidur sungguh sangat tenang,"ucapnya seraya mengusap lembut rambut Belle. Brian juga memeriksa setiap sudut kamar putrinya untuk memastikan jika Belle benar-benar aman di sana.


"Selamat, malam sayang. Papah yakin jika saat ini kau sedang bermimpi indah."Ucap Brian. Lalu keluar dari kamar itu.


Brian tidak langsung kembali masuk ke dalam kamarnya karena dia lebih memilih untuk turun ke lantai bawah.


Di saat Brian menuruni anak tangga, matanya menangkap sinar cahaya dari sebuah ruangan yang diperuntukkan para pelayan.


"Apakah mereka belum tidur,"batin Brian menerka, biasanya di jam seperti ini para pelayan sudah diharuskan beristirahat karena mereka akan bangun di pagi hari.


Brian melangkahkan kakinya menuju ruangan yang terang itu. Dan pusat dari cahaya lampu ternyata dari dapur. Bukan hanya lampu yang menyala di sana tapi Brian juga mendengar suara aktifitas memasak.


Tapi siapa yang masak di tengah malam seperti ini? Begitulah kira-kira yang jadi pertanyaan Brian saat telinganya mendengar suara dentuman panci.


Brian semakin membawa langkah kakinya untuk mendekati dapur. Matanya seketika memicing ketika melihat punggung seorang wanita yang tengah bergerak-gerak.


Wanita, dengan hanya mengenakan TankTop berwarna hitam serta rambut yang diikat tinggi-tinggi tentu saja menarik perhatian Brian, karena tidak mungkin jika pelayan berpakaian seperti itu di dapur karena mereka sudah diberi seragam khusus saat bekerja.


"Ehem..!"Brian berdehem untuk menarik perhatian wanita tersebut. Namun dehem yang seperti gumaman itu tentu saja tidak terdengar oleh si wanita yang sedang fokus memasak.


"Apa yang sedang kau lakukan?"akhirnya Brian lebih memilih untuk bertanya langsung daripada kembali berdehem.

__ADS_1


"Aauuww! Panas!"pekik wanita tersebut, karena terkejut dia tidak senaja menyentuh panci yang masih berada di atas kompor yang menyala.


Mikha, dialah yang sedang memasak di pukul 02.00 dini hari.


Mikha membalik badannya untuk melihat Siapa orang yang mengejutkannya.


"Tuan, kenapa Anda bisa ada di sini? bukan kan seharusnya di jam segini Anda sudah tidur?"tanya Mikha dengan sedikit kesal sambil mengibas tangannya yang masih terasa panas.


Brian menggeleng tidak percaya.


"Bukankah seharusnya pertanyaan itu tertuju untukmu?"


Mikha diam sejenak, sambil menatap Brian tidak suka. Lalu di menyahut dengan santai.


"Aku sedang memasak, apa Anda tidak lihat."


"Memasak, apa kau ingin berganti profesi menjadi pelayan di sini?"


"Memang apa bedanya aku dengan pelayan di sini. Sama saja kan! yang membedakan hanya, para pelayan mendapatkan Gaji bulanan sedangkan aku tidak,"gumam Mikha, dan gumaman itu terdengar Brian yang memang memiliki pendengaran super tajam.


"Kau sedang menggerutu?"


"Tidak! Aku sedang memasak,"Sahut Mikha dan dia kembali berbalik melanjutkan aktivitas yang hampir selesai namun tertunda karena kehadiran Brian.


"Hentikan! Kau membuat kebisingan di tengah malam seperti ini, kau tahu, karena berisik dari aktivitasmu ini saya sampai tidak bisa tidur."Ujar Brian.


"Kamar Anda sangat jauh dari dapur Tuan, mana mungkin suara ini sampai ke kamar Anda."Elak Mikha.


"Kau!"Brian yang sudah kesal, bukan kesal karena Gadis itu mengelak tapi dia kesal karena Mikha bicara tanpa melihatnya.


"Tunggu sebentar lagi Tuan, setelah aku menyelesaikan nasi goreng ini aku akan segera ke kamar dan membuat situasi malam kembali tenang seperti semula."


Brian yang tambah kesal karena lagi-lagi Mikha bicara tanpa melihatnya, berniat ingin berhadapan langsung dengan Gadis itu.


Tapi seketika langkah kaki Brian terhenti, di saat dia memutari penghalang yang berbentuk seperti meja, penghalang yang menutupi sebagian pandangnya dari tubuh Mikha.


Brian mematung tidak bergerak, namun bola matanya bergerak menatap Mikha dari belakang dari ujung kaki yang sebelumnya tidak terlihat sampai puncak kepala gadis itu.


"Apa-apaan dia. Berpakaian seperti ini di tempat yang berpotensi di lalui banyak orang!"Geram Brian, yang mendapati bahwa Mikha bukan hanya menggunakan Tanktop saja, tapi dia juga menggunakan celana yang hanya sebatas paha.


Bersambung..


☘️☘️☘️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Mohon dukungannya 🤗


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2