
Selamat membaca 🤗
☘️☘️☘️
Satu Minggu kemudian.
Kondisi Mikha sudah semakin membaik setelah satu Minggu itu dia beristirahat dan tidak melakukan kegiatan apapun. Dan diamnya Mikha selama satu Minggu itu membawanya kedalam hubungan yang semakin dekat dengan Belle. Karena anak itu sepanjang hari menemani Mikha.
"Aku senang Tante Mikha sudah sembuh,"ucap Belle yang melihat Mikha bisa kembali berjalan dengan normal.
"Terima kasih, karena Belle selalu menemani Tante, dan membuat Tante jadi cepat sembuh."
"Tante tidak lupa kan untuk mengajakku ke Taman?"
"Tentu saja Tante tidak lupa, tapi kau harus minta izin dulu pada Papahmu. Setelah mendapatkan izin, besok kita ke Taman."
Belle mengangguk senang, dia sudah bertekad akan Membujuk Brian agar mengijinkannya pergi bersama Mikha.
"Sekarang Tante mau kemana?"tanya Belle yang baru menyadari jika Mikha sudah berpakaian rapi menadahkan jika dia ingin keluar Rumah.
"Tante ingin bertemu dengan teman Tante sebentar, setelah itu Tante akan segera pulang."
"Tante Mikha punya teman?"tanya Belle kembali.
"Punya. Namanya Tika."
"Bagaimana rasanya punya teman?"
Mikha tertegun mendengar pertanyaan yang seharusnya tidak di tanya oleh anak seusia Belle, karena pada umumnya anak-anak pasti memiliki teman.
Mikha berjongkok mengimbangi gadis kecil itu.
"Kenapa Belle bertanya seperti ini?"
"Karena aku tidak punya teman Tante. Aku tidak di ijinkan keluar oleh Papah jadi aku tidak miliki teman."
"Kenapa Papah tidak mengijinkan Belle keluar Rumah?"
"Papah bilang, di luar sana sangat berbahaya aku tidak boleh bermain dengan orang sembarangan, aku hanya boleh bermain dengan Papah, Nenek Merry dan Om Rayan saja, tapi Papah dan Om Rayan selalu bekerja jadi tidak bisa sering-sering bermain denganku dan Nenek Merry jarang datang ke sini. Aku ingin punya teman seperti Tante Mikha yang juga punya teman."Jelas Belle.
Mikha mengusap rambut Belle.
"Bagaimana kalau sekarang tante Mikha yang menjadi teman Belle?"
"Tapi, Tante Mikha kan Mamah ku."
Mikha terdiam.
__ADS_1
"Apa selama ini Belle menganggapku sebagai ibunya?"
"Tidak apa-apa, dulu waktu Tante masih kecil, tante juga berteman dengan Mama Tante, kalau Belle mau berteman dengan Tante, nanti Tante Mikha akan mengenalkan Belle pada Tante Tika, bagaimana?"
Seketika wajah Belle berbinar, dan mengangguk dengan sangat berantusias.
"Aku mau Tante, aku mau memiliki banyak teman."
"Baiklah. Kalau begitu, Tante pergi dulu ya, Belle baik-baik di rumah."
"Iya tante, tante juga berhati-hati dan cepat pulang."
***
Setelah berpamitan dengan Belle Mikha keluar rumah dan di sana dia berpapasan dengan Rayan.
"Rayan!"panggil Mikha.
"Ada apa Nona?"
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apakah pertanyaan itu penting?"
"Tentu saja, jika tidak! aku tidak akan bertanya padamu. Ini soal Belle?"Ujar Mikha.
Rayan merapikan posisi berdirinya dan menghadap tegak kepada Mikha.
"Apa selama ini beli tidak bersekolah?"
"Sekolah,"jawab Rayan singkat.
"Lalu, kenapa aku tidak pernah melihatnya berangkat ke sekolah?"
"Homeschooling."Sahut Rayan kembali dengan singkat.
"Apa, Home Schooling! Kenapa harus Home Schooling?"
"Karena itu sudah menjadi keputusan Tuan Brian."
Mikha menghela nafas berat.
"Tapi, bukankah akan lebih baik jika Belle Bersekolah seperti anak-anak pada umumnya, dengan begitu Belle akan lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anak seusianya."
"Dan itulah yang tidak diinginkan oleh Tuan Brian."
Mikha semakin tidak percaya mendengar jawaban dari Rayan.
__ADS_1
"Apa kalian tidak merasa sedih karena Belle tidak memiliki teman? sepanjang hari dia kesepian dan terkurung di rumah ini, bahkan kalian pun melarang para pelayan dan penjaga di rumah ini untuk berinteraksi dengan Belle, apakah itu tidak keterlaluan?"
"Maaf Nona, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan Tuan Brian bersifat mutlak dan tidak bisa di rubah oleh siapapun. Tapi jika Anda mau, Anda bisa membicarakan hal ini kepada Tuan Brian, semoga saja beliau mendengarkan saran dari Anda. Tapi Anda juga harus tahu, semua ini Tuan Brian lakukan semata-mata hanya untuk menjaga Nona Belle, dan sekalipun Nona Belle melakukan Homeschooling, Tuan Brian tetap memberikan yang terbaik."
"Bagaimana bisa aku bicara dengan orang keras kepala seperti dia."
"Baiklah aku tau itu, tapi selama aku tinggal di sini aku tidak pernah melihat Guuru yang datang ke sini?"
"Guru yang dipilih oleh Tuan Brian sedang cuti karena beliau melahirkan."
"Masih ada Guru yang lain kan?"
"Tidak ada, karena itulah satu-satunya Guru yang Tuan Brian percaya."
Mikha menggelengkan kepalanya.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Brian, memang Brian melakukan segala yang terbaik untuk Belle dan menjaganya sebisa mungkin, tapi tidak harus seperti ini kan caranya! ketika mengetahui kenyataan ini, Mikha jadi kembali berpikir untuk membandingkan jika hidup Belle jauh lebih baik darinya, karena meskipun Mikha tidak mendapatkan kasih sayang yang penuh dan tulus dari ayahnya tapi dia memiliki sedikit kebebasan untuk berteman dengan siapapun.
"Baiklah, terserah kalian saja. Aku hanya mengingatkan,"kata Mikha yang tidak mau lagi ikut campur dengan urusan keluarga Brian.
"Anda mau pergi ke mana nona?"tanya Rayan di saat Mikha melenggang dari hadapannya.
"Aku ingin bertemu dengan temanku, meskipun hidupku sulit dan selalu dipaksa, tapi aku memiliki kebebasan untuk berteman dengan siapapun,"sahut Mikha dengan maksud menyindir.
"Apa Anda tidak ingin meminta izin terlebih dahulu kepada tuan Brian?"
"Dia tidak perlu permintaan izin dariku, itu yang dia katakan saat aku meminta izin ingin pergi."Sahut Mikha tanpa melihat dan dia langsung pergi dari sana tanpa ingin lagi berbicara dengan Rayan.
"Baiklah, semoga saja Anda tidak mendapat masalah karena tidak meminta izin kepada tuan Brian,"gumam Rayan dan dia pun kembali masuk ke dalam rumah.
***
Saat ini Mikha ingin menemui Tika. Dan ini ada hubungannya dengan Raline, karena beberapa hari lalu Tika baru mengabari bahwa dia gagal menemukan Raline. Dan Mikha kembali bertekad akan mencari kakaknya itu secara langsung.
***
Sementara di tempat lain. Orang yang sedang dicari-cari oleh Mikha ternyata sudah kembali di kediaman Handoko dan Marlina. Tapi kedua Orang Tua itu tidak memberitahu siapapun atas kembalinya Raline. Marlina, yang meminta Handoko untuk diam sementara waktu.
Handoko, lelaki ini tentu saja merasa kesal dengan Putri sulungnya itu, karena ulah Raline dia hampir saja berurusan dengan Brian dan kehilangan semuanya. Tapi, Marlina selalu menjadi tameng terbaik untuk putrinya itu, hingga Handoko tidak bisa berlarut-larut kesal, apalagi sampai marah dan memaki anak kesayangan Marlina, karena jika sampai Handoko melakukan itu. Di saat itu juga Marlina akan merubah wujudnya menjadi serigala dan siap mencengkram balik suaminya.
Bersambung..
☘️☘️☘️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️