
Apa Maura saja yang salah mengartikan apa yang di katakan oleh Satriya 'kita tahu jawabannya bukan', dia galau lagi dengan apa yang di putuskan, tapi dia tidak mungkin mundur kan, dia sudah berdandan secantik ini akan sayang bukan, jika dia tidak jadi pergi menemui pujaan hatinya itu.
Duh Gusti .
Apa tidak lagi ada panggilan yang cocok untuk nya selain itu, dia tidak ingin mundur, jadi dia memutuskan untuk tetap pergi dari sana, dia mengambil perlengkapan nya lalu berjalan turun menuju lantai dasar, dan langsung menyambar kunci mobil nya.
"Mau kemana?"
"Ke kantor" jawab nya sambil mengambil roti yang sudah di olesi selai coklat di piring ayah nya.
"Untuk ku ya Ayah" izin nya tapi roti sudah ada di mulut nya.
"Kamu ini...."
"Sudah, sudah biarkan saja, buatkan lagi untuk ku"
"Ada acara apa dia kantor, sampai kamu dandan secantik itu, kamu tidak sedang berencana menggoda atasan mu kan?"
"Mama jangan aneh-aneh deh"
"Terus?" cecar Dewi Mama nya.
"Ada meeting penting dengan orang penting?"
"Siapa?"
"Aku tidak tahu, aku hanya di minta untuk mendampingi saja"
"Kamu jangan aneh-aneh, baru saja kamu bercerai tapi sudah mau menggoda laki-laki lain"
"Mama ini aku mau meeting bukan cari pengantin"
Dia pun meneguk susu hangat nya lalu beranjak dari sana menuju kantor pusat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam berlalu.
Dia sampai di sana dan memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, di jejerkan dengan mobil-mobil mahal yang bisa membeli mobil miliknya sejumlah lima puluh buah.
Tidak ada tulisan parkiran khusus pemilik jadi dia bisa saja memarkirkan mobilnya di sana lalu melenggang masuk ke dalam lobi yang menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
Dia berpikir kalau Satriya ada di sana karena mobil-mobil mewah itu sudah pasti milik si rambut putih itu, dia menghampiri resepsionis di sana yang langsung di sambut hangat.
"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis bernama Sekar itu dengan ramah
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan pak Satriya," jawab nya sambil menunjuk id card nya di kantor cabang.
"Belum"
"Silahkan tunggu Nona, saya akan mengkonfirmasi kan ini dengan sekretaris beliau"
"Baik mbak"
"Maaf Nona Maura, pak Satriya sedang tidak ada di kantor" jawab nya pada Maura yang menyenderkan tubuhnya di meja pembatas.
"Maura"
"Sandi"
"Ada apa kamu kemari, bos mu saja ogah ke sini"
"Lah kenapa"
"Bosan mungkin atau sekedar terapi mental"
"Iya setiap hari dia sudah di terapi mental di rumah, iya kali di kantor juga mau lagi, bisa gumoh nanti"
"Jadi apa yang kamu lakukan di sini,tidak mungkin kan kamu kesini tanpa alasan, apa lagi jika hanya merindukan saya saja"
"Saya ingin bertemu dengan atasan mu"
"Saya akan menikahi dengan Arka, dan pak Satriya meminta saya menemui nya, tapi sudah hampir satu Minggu, tidak ada lagi kejelasan dari nya"
Sandi memucat, dia akan membeku saat mendengar ucapan tentang pernikahan kembali Maura yang sama sekali tidak ingin dia dengar dari siapapun itu.
"Menikah dengan Arka? yang benar saja?"
"Iya tinggal menentukan tanggal nya saja" ucap Maura yang terkesan membumbui nya dengan sedikit garam yang entah apa tujuan nya.
"Jangan bercanda, tidak lucu, kamu batu saja bercerai"
"Aku serius"
"Memang kamu mau sama Arka, apa hanya karena dia calon pewaris tunggal legenda bisnis jadi kamu mau?" ucap nya dengan emosi di sana.
"Tidak ada yang salah, kita saling mengenal satu sama lain" desis nya lagi.
"Kalau hanya bermodal itu, kenapa tidak dengan ku saja, kita juga sudah lama mengenal" ucap nya yang kental dengan emosi yang membuat Maura Menaik sebelah alis nya.
Kenapa dia marah, bukan kah tidka ada yang spesial di antara kedua nya, lalu apa salah nya dia menikah dengan Arka, apa jangan-jangan......
__ADS_1
Dia cemburu, bahkan deru nafas nya terlihat begitu memburu di sana, kecemburuan yang terlihat jelas di sana, bahkan di saksikan beberapa orang yang sedang melintas di sana.
Dia menyambar air putih yang di bawah oleh sah satu OB yang melintas di hadapan nya, emosi nya mengalahkan akal sehat nya, bagaimana bisa dia lepak kendali seperti itu, dan penyebabnya adalah Maura, dia sempat berpikir pikir dua kali untuk mendekati Maura yang masih dalam fase masa Iddah, tapi rupanya dia terlalu lamban mengambil langkah hingga dia kembali kalah sebelum berjuang.
"Pak Sat tidak ada di kantor, dia baru saja berangkat ke new York untuk perjalanan bisnis nya di sana"
Jadi itu alasan dia tidak ada kabar enam hari ini, jadi usaha nya kali ini sia-sia, tapi tak apa lah yang pasti dia sudah absen di sini.
Satu fakta yang di ketahui tentang sandi yang ternyata menyimpan rasa pada nya yang sama sekali tidak dia ketahui sebelumnya, karena yang ada di ingatan nya hanya Satriya dsn tidak ada yang lain lagi.
"Bisa kamu hubungi dia Sandi, setidak nya saya sudah ada di sini untuk absen"
"Kenapa tidak kamu hubungi sendiri saja, jangan bilang kalau kamu tidak memiliki nomor nya, paling tidak kamu bisa minta sama arka"
"Entah" jawab nya enteng sambil mengangkat bahu nya.
"Mungkin pak Sat belum berkenan memberikan nomor pribadi nya dengan saya"
"Cepet hubungi dia Sandi"
Sandi tidak langsung menghubungi Satriya seperti keinginan Maura, dia masih menimbang nya, apa lagi di sana masih sangat pagi, di sini saja baru jam delapan, berati di sana masih empat subuh, dia masih menyayangi nyawa nya untuk menganggu Satriya di waktu istirahat nya.
"Astaga Ra, ini masih sangat pagi untuk menghubungi nya" ucap nya sambil menempelkan ponsel nya di telinga nya.
"Apa, tidak ada waktu lain untuk menghubungi ku, ini masih jam empat pagi dan kamu sudah mengganggu saya"
"Apa perang Ukraina di hentikan sekarang atau ada kabar dari Elon Mark pinda ke mars sekarang juga, atau apa?" geram nya saat waktu istirahat nya terganggu.
"Lebih dari itu pak, ini Maura ada di sini!"
"Katakan sekali lagi"
"Maura calon menantu bapak ada di sini di depan saya"
"Di mana?"
"Kamandanu crop pusat"
"Jangan bercanda"
"Katanya bapak sendiri yang mengundang nya kemari"
'Sial'
Dia melupakan janji temu nya dengan wanita itu.
__ADS_1
"Bapak Satriya"
Blaaaaaam