
Maura melangkahkan kaki nya memasuki restoran tersebut, semua orang menatap nya penuh kekaguman pada sosok nya yang terlihat sangat ramah pada siapa saja yang melempar senyum pada nya.
Langkah nya terhenti saat ada beberapa orang yang menghalang jalan nya dan berusaha menanyainya, sekedar basa basi namun Maura menanggapi nya dengan senyum indah di bibir nya.
Lalu pertanyaan yang meluncur begitu saja saat dari mulut salah satu orang yang berada di antara mereka.
Apakah sudah menikah,
Sudah, itu jawaban yang selalu dia katakan saat ada orang yang menanyakan tentang status pernikahan, dan lagi jika di tanya siapa suaminya, dia selalu menjawab bahwa dia adalah pemilik kamandanu group.
Terdengar pekikan dari semua orang yang ada di sana, mereka bahkan mengatakan mall terbesar di Bali juga milik kamandanu group, siapa yang tidak berbangga hati saat bisa menjadi bagian dari keluarga kamandanu yang memiliki aset di berbagai negara.
Maura mengangguk sambil tersenyum jahil di sana, biar saja pikirnya tentang apa yang di pikiran oleh semua orang, dia berharap kalau dia baik semua orang akan menjadi kenyataan.
Maura menatap Arka dari kejauhan, pria itu masih duduk di tempat nya tadi, bersama dengan dua orang wanita di depan nya, Maura menghampiri ketiga nya saat merasa Arka tidak lagi nyaman dengan pembicaraan mereka.
"Kaa...."
Atensi ke tiga nya beralih pada sosok wanita cantik yang berdiri di belakang Arka.
"Kenalkan Ra, dia ibu dan Shinta"
"Aku sudah mengatakan kalau kamu adalah calon istri ku"
Maura mengulurkan tangan nya pada sosok wanita yang berada di depan Arka yang dia sebut sebagai ibu nya, juga pada wanita yang terlihat sembab di sana.
"Aku mencintaimu sungguh, tapi apa boleh buat kalau kita memang satu rahim" Isak Shinta dengan menyeka air matanya.
"Aku juga tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua itu dari mu, aku benar-benar tidak tahu"
Arka sama sekali tidak menatap wanita yang telah menjadi kekasih nya sejak lama itu, dia masih tidak bisa menerima jika mereka adalah satu rahim dari wanita yang tidak pernah merawat nya itu.
Sekalian saja Arka mencecar ibu nya yang tidak pernah mengenalkan diri nya pada keluarga besar nya, sebegitu aibkah dan tidak di inginkan kah ia sampai-sampai dia tidak mengetahui kalau dia punya adik yang selama ini dekat dengan nya, bukan hanya dekat tapi juga menjadi wanita yang bertahta di hati nya.
Pantas saja Ayah nya selalu menentang keras hubungan mereka berdua, ternyata ada alasan kuat di balik nya, sementara ibu nya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Arka, entah lah dia tidak punya keberanian untuk membawa Arka menemui keluarganya.
"Sekarang katakan Bu, apa aku semenjijikan itu sampai ibu tidak mau mengakui ku" cecar Arka yang tidak mendapatkan apa pun dari ibu nya, sementara dua wanita itu hanya bisa terdiam tanpa mengungkapkan sepatah kata.
"Jawab Bu, bagaimana kalau aku tanpa sengaja meniduri aku ku sendiri"
"Itu karena aku membenci ayah mu, laki-laki yang menghancurkan hidup ku, hingga aku tidak bisa bersama kekasih ku, dulu"
Brak.
__ADS_1
Arka menggebrak meja di sana, dia tidak terima dengan jawaban yang keluar dari mulut ibu nya, hanya karena cinta, jadi masalah ini karena cinta orang tuanya yang menjadi dia korban dari keegoisan masing-masing.
Dia pergi dari sana meninggalkan mereka semua, dia tidak bisa menerima semua nya terjadi, Maura menatap canggung kearah mereka sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana.
"Tolong yakin kan Arka bahwa apa pun yang aku lakukan juga untuk kebaikan nya, dan ayah nya juga tahu tentang ini, hanya saja ayah nya tidak tahu kalau aku menikah lagi"
Maura mengangguk, dia akan memberikan pengertian pada Arka mengenai itu, meski seharusnya dia tidak terlibat dalam urusan yang jauh lebih dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Shinta tenangkan diri mu dulu, setelah itu kita bicarakan ini lagi"
"Saya permisi Bu" pamit Maura saat mereka sudah sampai di hotel tempat mereka menginap.
"Tolong berikan ini pada kak Arda, aku juga punya"
"Aku akan mencari waktu untuk memberikan nya"
Maura beranjak dari sana, dia memikirkan kalau Arka tidak adil terhadap Shinta yang juga sebenarnya tidak tahu apa pun.
Maura mencari ponsel nya, dia harus menghubungi Satriya.
"Aku yakin kamu memasang Alat pelacak atau sejenisnya di sekitar ku dan juga Arka"
"Itu pasti"
"Kamu di mana?" kesal nya pada pria berambut putih itu.
"Di kantor cabang, mau kesini? aku di suguhi banyak hidangan di sini....." ucap Satriya yang menekan kata hidangan di sana.
"Apa mereka hanya memakai kain yang sejengkal tangan?" sindir Maura yang semakin kesal di buat nya.
Apa lagi dia mendengar kekehan dari mulut Satriya.
"Sayang nya aku tidak pernah tertarik"
"Satriya"
"Apa"
"Coba panggil aku Sayang " pinta nya.
__ADS_1
"Kenapa, jadi melow terbawa suasana kah" sindir Satriya kini.
Dan Maura dia mendesah kecewa.
Satriya tidak mau memanggil nya sayang, seakan pria itu sengaja membangun tembok pembatas di antara mereka.
"Kamu tahu bagaimana kalau itu benar-benar terjadi di antara mereka, mereka masih sedarah Satriya"
"Kamu tidak perlu tahu tentang itu, tugas mu hanya menyingkirkan mereka dari keluarga ku"
Kedua nya sama-sama terdiam, terdengar Maura menarik nafas nya.
Dia menengadahkan ke atas menatap biru nya langit Bali yang begitu tinggi.
"Kenapa kalian para pria sekali menempatkan kami para wanita di posisi yang tidak bisa memilih , tidak kah kalian mengerti perasaan kamu, kalian selalu menyalahkan kami padahal kalian lah sumbernya"
Hening tidak ada yang berbicara di sana.
"Maura"
"aku harap kamu selesai masalah tentang masa lalu kalian, jangan mengorbankan anak....."
"Tidak"
"Apa mau mu"
"Buat apa ku mengungkit......."
"Mereka tidak bersalah Satriya, yang salah itu kamu dan mantan istri mu, jangan libatkan Arka dalam keegoisan kalian"
"Itu bukan......"
"Hei kancil tua licik, harus sedalam apa kamu ingin menyakiti Arka, harus berapa lagi kesakitan yang dia dapatkan apa tidak bisa kalau berdamai dengan masa lalu, bukan saling menyalahkan satu sama lain" Teriak Maura.
Tidak ada jawaban yang dari seberang hanya ada suara Maura yang tengah emosi di sana.
"Aku akan meluruskan semua nya"
"Terima kasih" ucap Maura.
"Aku sungguh sangat menyesal telah mengenal mu dulu....tahu begitu aku gadaikan apa yang ku punya saat itu, dan memilih pekerjaan dengan gaji yang lebih masuk akal.
Maura menutup panggilan dan berlalu dari sana.
__ADS_1