Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Adiwana


__ADS_3

Satriya menatap pinggiran pantai yang di penuhi banyak orang, masih di kawasan Nusa penida, kesal bercampur emosi tertahan di sana, saat menatap laki-laki yang berani-beraninya menginjakkan kaki nya di daerah kekuasaan nya.


Bahkan dengan percaya dirinya laki-laki ternyata adalah suami dari mantan istrinya menawarinya perdamaian yang sejak lama berkibar di antara mereka, Satriya pun menerima perdamaian itu, meski dengan banyak pertimbangan di dalamnya.


Musuh tetap lah musuh, tidak akan benar-benar bisa seorang sahabat, seperti saat ini, Satriya sangat muak dengan pesta yang di gelar oleh Mr Bean.


"Ayolah Satriya, aku sampai membawa mereka jauh-jauh, namun kamu tidak ingin mencicipi hidangan ku" ajak Mr Bean yang saat ini tengah di kerubuti wanita-wanita yang siap memanjakannya.


"Aku tidak punya banyak waktu meladeni omongan tak bermutu itu, sekali lagi aku bertanya apa kah sudah selesai" kesal Satriya.


"Kenapa kamu menolak hidangan ku, banyak pengusaha lain yang sangat senang dengan apa yang aku suguhkan"


Satriya tidak bergeming, dia merasa semua itu tidak perlu, dia tidak lagi berhasrat pada wanita sejak dia merasakan sakit hati.


Dia sudah seperti mati rasa sejak Maura menghilang.


Dan kini saat mereka bertemu wanita itu bagaikan bayangan yang ada dan tiada, membuat nya tidak bisa mengambil keputusan yang harus dia ambil.


"Jangan terus membual, perjanjian sudah selesai kan" geram Satriya tertahan.


"Ayolah, aku merasa terhina dengan penolakan mu" paksa Mr Bean.


"Justru kau lah yang secara terang-terangan menghina ku dengan menyajikan hidangan rendahan seperti ini" dengus Satriya.


"Laki-laki suka wanita"


"Jadi kamu menganggap ku suka sesama jenis?"


"Kalau kamu mau, aku juga membawa beberapa pria tampan dari negaraku" tawar Mr Bean.


"Jangan memulai perseteruan antara kita Mr Bean, kita baru saja berbaikan" sungut Satriya yang kesabaran sudah di ambang batas.


Mr Bean tertawa sinis.


Dia berdiri dari duduk nya, menutupi kembali tubuh nya yang tadi sedang di terapi di area pribadi nya, dia berjalan menghampiri Satriya yang menatap nyalang pada nya


"Apa sih masalah mu?"


"Jangan membuat ku murka, atau aku benar-benar akan meluluh lantakkan semua perusahaan milik mu"


Mr Bean mendengus mendengar ancaman Satriya.


"Tidak ada seorang pun yang berani menolak sajian ku, mereka akan tahu akibatnya jika berani menyinggung ku"


"Kekuasaan mu sudah turun sejak dua puluh tahun yang lalu, asal kau tahu saat ini kau bukan lagi tandingan ku, semua perusahaan bahkan pemerintah berada di depan ku, mereka siap menghadang mu sebelum kamu berhasil mendekati ku" Satriya tertawa sinis.


"Aku anggap semua sudah selesai, pastikan uang nya kirim tepat waktu, atau kamu tidak akan mendapatkan apa pun meski telat beberapa detik saja"

__ADS_1


Satriya langsung pergi dari sana, dia bahkan menatap remeh pada pihak keamanan milik Mr Bean yang berjaga di sana, sort mata nya menyiratkan bahwa dia tidak perlu di jaga atau di ikuti kemanapun dia pergi.


"Bandara" desis nya.


Dia rasa sudah terlalu lama di sini, harus nya. dia tidak perlu menangani nya langsung, tapi dia yang tahu tabiat dari Mr Bean pun seakan dia ragu jika hanya Arka yang menangani nya, jadi terpaksa dia yang harus menekan orang-orang yang melakukan kerja sama dengan Arka.


Dia memberikan bantuan tanpa sepengetahuan Arka, semoga saja Maura tidak mengatakan ini pada Arka.


Maura.


Perlukah dia menghubungi vampir manis nya itu.


...****************...


Maura tertegun saat mendengar cerita kehidupan Dhika yang begitu kuat memperjuangkan cinta mereka, meski harus melewati ujian yang tak bisa di bilang mudah, cinta mereka sungguh luar biasa, apa lagi istri nya yang seorang ningrat itu mau hidup susah dengan Dhika yang saat itu tidak memiliki pekerjaan.


Mereka tetap bersatu meski perbedaan dan aral melintang yang bisa kapan saja memisahkan mereka berdua, lalu bagaimana dia dengan Satriya, akan kah cinta nya akan benar-benar berpisah dan dia menjadi menantu dari laki-laki yang dia cintai.


Begitu banyak yang mengganjal pikiran nya, terutama tentang Arka dan juga Shinta, dia mungkin akan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Shinta.


Agak nya wanita itu sangat terpuruk dengan kenyataan bahwa mereka bersua masih saudara atau mungkin karena hal lain.


Meski Shinta terlihat kuat dari sisi luar, tapi hati wanita itu tidak bisa dia tebak, bagaimana hancur nya hati yang telah bertahan lebih dari sepuluh tahun.


Maura ingin mengambil alih tugas Arka untuk menguatkan shinta agar bisa menerima kenyataan yang begitu menyakitkan bagi mereka.


Satriya lagi dan lagi dia merogoh ponsel nya, bukan sekali dua kali dia mengecek ponsel nya, namun hasil nya tetep sama.


kosong.


Tanpa ada pesan atau pun panggilan dari Maura.


Gengsi nya terlalu tinggi untuk memulai senja nya lebih dulu.


Sejak dulu, kenapa wanita susah di mengerti....


Keluh nya.


Dia memahami satu hal, kalau mereka terikat satu perjanjian yang harus mereka taati, lagi pula kenapa Maura harus ikut campur, kenapa tidak bisa bersikap profesional, tinggal lakukan pekerjaan sesuai prosedur nya.


Selesai.


Tidak perlu menceburkan diri dalam permasalahan orang lain.


Dan dia sudah setuju.


Tidak perlu marah-marah seperti itu.

__ADS_1


Gunanya apa coba.


Dan ini lagi.


Kenapa sejak satu jam yang lalu posisi Maura tidak bergerak dari satu sudut yang ada di salah satu tempat yang cukup jauh dari hotel nya.


Dan itu tempat apa, bukan restoran atau kafe di sana, apa jangan-jangan Maura, pikiran buruk langsung memenuhi benak nya yang berkecamuk memikirkan apa yang terjadi.


"Ke adiwana ya"


"Tidak jadi ke bandara pak?"


"Tidak"


Mobil yang di tumpangi Satriya berbalik arah menuju tempat yang baru saja di sebutkan oleh Satriya.


"Muara"


"Eh"


Suara itu.


Suara yang dia rindukan juga dia hindari apa lagi saat ini, tangan nya sedangkan menggenggam tangan Dhika karena simpati nya pada kehidupan rumah tangga nya.


Maura mengalihkan pandangan pada sosok yang sangat dia rindukan.


"Satriya" ucap Maura


"Big bos" desis Dhika


Kedua orang itu saling menatap satu sama lain dengan kaget, lalu menoleh ke arah Satriya yang menatap datar mereka berdua, berganti antara wajah dan tangan mereka yang saling menggenggam.


"Kamu kenal dia Nana?"


"kenal dia kamu Dhika?"


Tanya mereka berbarengan.


"Andhika Pratama" sapa Satriya dengan yang memicing tajam ke arah Dhika.


Dhika yang merasa ada yang salah pun langsung melepaskan tangannya dari genggaman Maura.


"Dia Bos ku, aku pulang dulu, maaf sudah menganggu waktu mu" ucap Dhika langsung berdiri, dia juga membungkuk hormat pada Satriya dan pergi begitu saja dari sana.


Besok temui saya jam satu siang, ucapan selamat tinggal jika kamu terlambat.


send.

__ADS_1


__ADS_2