Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Vampir cantik


__ADS_3

Ardi tertegun saat mendapati bos nya itu kembali ada di kantor dengan wajah tak bersahabat nya, apa dia akan pergi lagi setelah ini atau bagaimana?


"Siang Pak" sapa Ardi ramah


"Password ruangan saya ganti, yang tahu kamu, petugas kebersihan kepercayaan dan juga Bu Maura"


"Bu Maura juga pak" tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Satriya, Ardi mengerutkan keningnya saat rangkaian yang di pakai Satriya, dia ingin menanyakan tapi urung saat mengingat apa bahwa bos nya tidak ingin di ganggu.


25071993


"Ingat luar kepala"


Satriya langsung masuk begitu saja setelah memberitahukan pesan pada Ardi, dia masuk ke dalam ruang kerja nya menuju tempat di mana kotak p3k tersimpan.


Di bawa nya kotak obat tersebut, dia mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya, membuka jas dan menyingkap lengan kemeja nya, rasa perih menjalar saat ini.


Luka yang ditinggal oleh Maura tidak sebanding dengan rasa sakit hati nya selama delapan tahun ini, bayangan setiap malam selalu menjadi pengantar tidur nya.


Satriya mengobati luka nya gigitan dari vampir manis yang mengoyakkan hatinya, dia membalut luka nya di lengan nya itu sampai suara intercom berbunyi.


"Ada kiriman dari Bu maura pak" suara Arman terdengar di sana.


"Bawa masuk"


Satriya berucap, meski dia tidak tahu apa isi dari kiriman yang di kirim oleh Maura, Ardi masuk ke dalam sambil membawa paperbag di sana, lagi-lagi Ardi tertegun dengan apa yang di lihat nya, bos nya itu terluka.


"Anda kenapa pak?"


"Di gigit vampir" jawab nya kesal.


"Perlu ke klinik, atau ruang sakit"

__ADS_1


"Saya bukan bayi, keluar sana, kerja yang bener"


Ardi menggerutu sambil berjalan keluar dari tempat nya berdiri, di gigit vampir kok bisa berdarah bukan kah vampir menghisap darah, dia semakin tidak mengerti dengan bos besar nya itu, yang terkadang berbuat konyol untuk urusan yang dia sendiri tidak tahu apa.


Satriya kembali mengingat apa saja yang di lakukan beberapa hari ini sampai dia merasa kelelahan seperti ini, bagaimana tidak lelah tidur nya kurang, makan tak teratur di tambah lagi bolak-balik Surabaya-New York membuat stamina menurun.


Selepas mengobati luka nya dia merapikan kembali anti septik dan juga kapas yang berserakan dia meja kerja nya, membuang nya di tempat sampah, lalu mengembalikan kotak obat pada tempat nya.


Dia meraih paperbag yang tadi di bawa oleh Ardi, dia membuka nya lalu mengeluarkan isi nya.


Gaun cantik yang pernah di pakai Maura ada di dalam nya, beserta sepatu dan apa itu?.


Dia mengenal benda itu dulu, tapi kini dia coba melupakan semua nya tidak ada yang harus di ingat tentang bentuk dan isi nya.


Astaga, Maura.


Satriya mengutuk Maura yang secara sengaja mengirim barang itu untuk nya, untuk apa coba mengirimkan benda penutup aset bawah nya saat mereka sedang perang dingin seperti ini.


Satriya menghela nafas nya, dia harus ekstra sabar menghadapi Maura dengan segala jenis kejahilan nya, dia tidak boleh menyerah, ada yang lebih penting dari apa yang dia inginkan.


Lebih baik menyimpan semua itu dalam lemari dan mengembalikan pada pemilik nya nanti, selembar kertas terselip di sana, ada tulisan tangan dari Maura yang membuat nya kembali mendecak kesal.


'Aku titip satu set baju, siapa tahu nanti aku memerlukan nya, jangan sampai hilang'


'Terserahmu lah Maura' batin nya kesal


Paperbag berserta isi nya kini sudah berada di lemari nya dia duduk kembali, sambil mengingat apa saja yang dia lakukan selama ini, kenapa juga dia rela bolak-balik Surabaya-New York hanya untuk wanita yang bukan milik nya, wanita calon menantu nya itu selalu saja menganggu pikiran nya.


Maura terlalu manja untuk ukuran calon menantu pada mertua nya, tapi dia juga tidak keberatan dengan apa yang di lakukan Maura malah dia merasa bisa memilih calon menantu nya sampai pernikahan mereka.


Pernah satu malam saat dia tertidur, dia memimpikan tentang pernikahan Arka dan juga Maura, saat mereka bertukar cincin dan Arka yang mencium kening Maura, sungguh itu adalah mimpi terburuk nya sepanjang masa.

__ADS_1


Dia hanya perlu menyiapkan hati nya saat itu benar-benar terjadi di depan nya, tidak kah Satriya ingin egois?.


Jelas ada keinginan seperti itu, tapi ada yang lebih penting dari sekedar hati nya, jika anak nya itu menikah dengan Shinta pacar nya yang sebenarnya itu akan membuat nya di hadapannya pada kehancuran yang nyata.


Karena yang dia tahu Shinta tidak benar-benar mencintai Arka, dia hanya ingin menguasai harta nya dan mungkin akan mencampakkan Arka saat seluruh harta nya berhasil di kuasai oleh nya.


Itu alasan yang cukup kuat untuk memisahkan mereka berdua, meski dia harus mengorbankan hati nya, dia kan lakukan itu.


Satriya memutuskan untuk pulang saja, dia butuh istirahat dan juga memulihkan tenaga nya, dia perlu tidur.


Tapi langkah kaki nya bukan menuju ke arah pintu keluar dia kaki nya itu malah membuat nya menghampiri lemari tempat nya menaruh paperbag dari Maura tadi.


Di bolak-balik nya kain segitiga itu melipat nya lalu memasukkan nya ke dalam saku jas nya, entah untuk apa.


Finally dia keluar dari sana, dia berhenti di depan meja kerja asisten nya yang tampak serius dengan komputer nya.


"Katakan pada sandi aku pulang"


"Ehh.....baik pak" jawab Ardi saat bos nya itu sudah berlalu dari sana.


Satriya menuju rumah besar nya sendiri tanpa di temani supir, dia ingin mengalihkan isi kepalanya dari bayangan nakal Maura yang memenuhi otak nya, dia tidak bisa terus menerus terbelenggu seperti ini.


Sampai di rumah nya dia masuk kedalam kamar nya melepaskan jas yang melekat di tubuhnya, membuka kancing kemeja nya, duduk di tepian ranjang.


Sekali lagi apa saja yang dia lakukan, semua yang dia lakukan saat ini berpusat pada Maura wanita cantik yang selalu menggoda nya meminta untuk di sayang dan seolah merindukan kasih sayang dan belaian manja dari nya, tapi sedikit saja dia lengah wanita itu akan menggigit dan menghisap darah nya sampai habis tak tersisa.


Tubuhnya lelah dia perlu istirahat, Satriya pun merebahkan tubuhnya dia butuh tidur.


...****************...


Maura yang sampai di kantor nya, dia masih saja menjadi pusat perhatian dari karyawan laki-laki yang ada di sana, seakan mereka tidak bosan dengan Maura meski setiap hari mereka bertemu.

__ADS_1


"Kamu belum makan siang?"


__ADS_2