
"Aku membawa kan lebih cepat, karena kamu sedang tidak enak badan, nanti Jumat ada lagi" kata Satriya sambil memberikan paperbag nya.
Maura menerima nya, dia mengintip sedikit ke dalam paper bag itu, ada satu kotak kecil yang menarik perhatian nya, di raih nya kotak tersebut, dia keluar kan dari kotak nya lalu membuka nya.
"Cantik" kagum Maura sambil mengenakan jam tangan mahal tersebut di tangan nya, itu terlihat sangat cantik dan dia menyukai nya.
Apa lagi dengan senyum yang begitu tulus sama seperti senyum yang bisa dia tunjukkan pada Arka, Satriya membeku saat melihat senyum Maura kali ini, jika hanya dengan satu jam tangan saja dia bisa melihat senyum yang begitu tulus keluar dari bibir Maura dia akan terus memberikan apa pun yang dia bisa untuk membahagiakan wanita nya.
"Seperti pemakai nya bukan?"
"Kamu selalu seperti itu?" tanya Maura yang kini mengalihkan pandangan nya pada Satriya.
"Apa?"
"Suka merayu pada setiap wanita?" tuduh Maura secara terang-terangan.
"Menurut mu?" tanya Satriya menaikkan sebelah alisnya.
"Semoga saja hanya aku yang kamu rayu seperti itu"
"Aku tidak suka banyak omong, jadi kalau cantik aku akan mengatakan nya" jujur nya pada Maura, dia tidak ingin terlihat buruk di mata wanita itu.
"Yang tadi apa?"
"Mengatakan apa yang aku lihat dan rasakan, tapi aku tidak akan mengulangi nya jika kamu keberatan" putus Satriya.
"Aku tidak keberatan asal itu kamu, tapi jangan salahkan aku jika aku kembali berharap sama kamu" tukas Maura.
Terdengar helaan nafas di sana dan Satriya lah pelaku nya.
"Kita tidak mungkin bisa bersama, perbedaan di antara kita terbentang luas, dan kamu tahu itu" desis Satriya.
"Apa cinta ku bertepuk sebelah tangan?" tanya Maura dengan raut yang berbeda, ada sedikit nyeri yang dia rasakan di lubuk hati nya.
__ADS_1
"Kamu tahu perasaan ku" sanggah Satriya.
"Lalu berbedaan seperti apa, kedudukan, pangkat atau harta, buka kan kamu sendiri tahu kalau cinta itu buta" tegas Maura yang tidak mau kalah dari Satriya.
Satriya dia saat Maura mencecarnya, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut nya.
"Apa kamu peduli dengan pendapat masyarakat, yang kamu bisa beli?"
"Tidak semua itu" desis nya setelah lama terdiam.
"Kamu bisa meminta wartawan untuk tidak menampilkan berita nya, supaya terhindar dari kontroversi"
"Lagi pula, aku sudah membayar cicilan dan uang muka nya, jadi semua harus tetap berjalan"
"Jadi seperti itu"
"Cukup mahal harga yang di bayar untuk sebuah rasa" ucap nya dengan nada getir.
Maura terlihat lebih pucat dari saat tadi masuk ke dalam ruangan itu, lipstik nya tidak bisa menyamarkan apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak lagi bisa menahan laju air mata nya yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
Pria itu berdiri, dia ingin mendekat ke arah Maura tapi tertahan saat pintu di ketuk dari luar dan masuk lah pelayan yang mengantarkan makanan nya.
Satu persatu piring di letakkan di sana, cukup lamban dan itu membuat Satriya geram, dia pun membentak pelayan itu agar segera keluar dari sana, ada banyak hal yang harus dia bahas dengan Maura di sana.
Pelayan itu menatap ke arah Maura yang tersenyum tipis pada nya, mungkin ada yang terjadi di antara mereka berdua, dan lagi-lagi bentakan dari Satriya membuyarkan lamunan pelayan itu, yang langsung keluar begitu saja dari sana.
"Kamu kenapa, tidak usah basa basi" ucap nya sambil memegangi kedua bahu Maura agar menatap ke arah nya.
"Aku...." desis Maura lirih sambil menunduk kepalanya.
Melihat itu Satriya meraih dagu nya agar wanita itu mau menatap ke arah nya.
"Boleh peluk?" pinta Maura penuh harap.
__ADS_1
Mendengar itu Satriya membeku di sana, bukan dia tidak ingin tapi dia membentengi hatinya agar tidak jatuh pada pesona wanita yang terlihat lebih matang saat ini.
Satriya tidak menyangka Maura akan mengatakan sesuatu yang tabu menurut nya meski dia juga ingin melakukan nya saat pertama bertemu kemarin.
Sesuatu yang sangat ingin dia lakukan tapi dia tahan karena keegoisan nya sendiri, dan kini wanita itu dengan lancar nya meminta hal itu, harus kah dia mengambil kesempatan itu, sesuatu yang melanggar aturan nya yang dia buat sendiri.
Senyum kecut terlihat di bibir Maura, saat melihat reaksi yang di berikan oleh Satriya.
"Maaf.....lupakan saja, anggap aku ngehalu karena sedang sakit" ucap nya lalu menjauh kan diri nya dari Satriya.
Dia mengalihkan perhatian pada makan nya ada di meja, tapi sebuah tarikan di tangan nya membuat tubuh nya terhempas dalam pelukan hangat seorang Satriya yang kini memeluk nya dengan sangat erat.
Bukan hanya kali ini saja Satriya melanggar apa yang dia tetapkan, dan semua itu karena Maura, dia merasa bahwa dia tidak lagi seperti dirinya yang dulu yang bisa teguh pendirian nya.
Tapi sekarang lihat lah.
Seorang Satriya Kamandanu melanggar aturan nya sendiri, apa dia bisa jika seperti ini terus, apa dia harus menghentikan diri nya yang semakin keluar dari jalur nya.
Sekeras apa pun dia menaham diri nya untuk tidak memeluk Maura, nyatanya dia kalah dengan hati nya, hati nya tidak keras itu untuk membiarkan wanita itu menangis sendirian saat dia ada di depan nya.
Dia takut jatuh dalam pesona Maura tapi sekuat tenaga dia mengendalikan dirinya untuk tidak terlalu dalam, wanita yang kini ada di pelukan nya itu adalah wanita paling berbahaya untuk nya.
Berbahaya bagi nya dan juga hati nya.
Hati nya yang dulu sekeras karang perlahan terkikis oleh deburan ombak cinta yang di bawa oleh Maura, Satriya menyadari bahwa baru kali ini dia tergila-gila pada lawan jenis nya, yang sial nya itu adalah calon menantunya sendiri.
Satriya masih tetap memeluk tubuh wanita yang tidak jauh berbeda dari yang dulu, tubuh kurus nan ringkih itu kini ada di pelukan nya, dia tidak bisa memeluk nya dengan erat, dia takut menyakiti nya.
Tapi bagaimana?
Kini dia menyerahkan, hati nya tidak sekuat itu untuk tidak menjatuhkan wajah nya di ceruk leher Maura, dia menyesap wangi dari wanita itu, lekukan pinggang nya dia usap perlahan dengan harapan apa yang dia lakukan bisa menenangkan wanita yang masih menangis dalam pelukan nya yang terasa lebih menyesakkan hati nya.
Siapa?
__ADS_1
Siapa yang sudah berani menyakiti pujaan hati nya itu, dia akan membalaskan rasa sakit yang saat ini di terima oleh Maura.
"Aku......"