
"Aku besok berangkat ke Nusa penida"
"Heem"
"Kamu minta oleh-oleh apa?"
"Kamu pakai lingerie merah" Sahut Satriya
"Ya nanti aku beliin..."
"Juga video call tiap 3 jam sekali dan pesan singkat tiap jam"
Maura melongo mendengar ucapan Satriya yang tidak masuk di akal nya, yang benar saja Vc tiap tiga jam sekali dan pesan tiap jam, apa dia waras atau sudah mulai gila"
"Yang benar saja Satriya...."
"Aku tidur dulu"
"Aku gak punya waktu sebanyak itu, lagi pula bagaimana kalau aku lagi mesra-mesraan sama Arka" protes nya.
"Aku tidur duluan, besok ada rapat kinerja"
Panggilan langsung di akhir begitu saja, masih terdengar jelas kalau Satriya malas menanggapi ucapan Maura.
Maura terkikik di dalam kamar nya buat nya menganggu Satriya sukses, kini laki-laki itu yang di buat badmood dan dia mendapatkan mood booster nya.
Ternyata Satriya masih kesal.
Dasar kancil licik.
...****************...
Maura menyesap kopi nya yang ada di hadapan nya, meeting nya tadi belum menghasilkan apa yang mereka inginkan, pihak investor masih maju mundur untuk mengiyakan proposal mereka.
Maura menatap bentangan pantai yang seperti tanpa ujung, dia berkeinginan untuk menikah di pantai nanti nya, atau sekedar jalan-jalan dengan anak dan juga suami nya di bibir pantai.
Tidak seperti saat ini, yang kemana pun bersama Arka atau Bagas dengan serangkaian tugas yang bertumpuk di depan nya.
Maura menatap kesal saat Arka kembali duduk di depan nya dengan menyesap kopi.
"Ini bagaimana?" desis Arka.
"Apa nya yang bagaimana?" tanya Maura dengan nada setengah kesal menanggapi Arka.
"Proyek belum deal, padahal ini salah satu yang paling di andalkan"
"Arka Kamandanu yang terhormat, kamu bukan ayah mu yang semua urusan bisa selesai dalam satu kali pertemuan" kesal Maura akhirnya.
"Eehh...iya, ya sudah lah"
"Kamu itu gugup karena ingin bertemu dengan Shinta dan juga ibu kamu kan?"
"Bisa diem gak...."
"Ya sudah sana temui, aku mau jalan-jalan di sekitar sini"
__ADS_1
Arka menghela nafas nya dia tidak sanggup dengan kenyataan yang akan dia terima sebenarnya.
Arka sedang bimbang saat ini, pikir Maura.
Sebelum nya dia tidak pernah setegang ini, dsn Maura baru pertama kali melihat Arka yang seperti ini.
"Butuh aku untuk menemani mu?" tawar Maura.
Arka menatap kearah luar hamparan lautan di depan nya yang ternyata sama sekali tidak mengalihkan perhatian nya pada sosok wanita bernama Shinta yang baru-baru ini dia ketahui kalau dia adalah adik nya, wanita yang selama kurang lebih sepuluh tahun bersama nya itu.
Maura menatap Arka di sana, laki-laki dengan tinggi ideal kulit putih dengan rahang tegas di sana dengan mata hazel yang menambah ketampanan nya, namun sama sekali tidak menarik Maura untuk memiliki nya.
Maura jadi memikirkan bagaimana saat Satriya muda dulu, apa juga setampan Arka, mungkin lebih macho dalam segala aspek nya, kalau di lihat dari cara mereka memandang seseorang jelas berbeda di mana Arka yang memandang lembut dan teduh pada semua orang, berbanding terbalik dengan Satriya yang memandang penuh telisik dan selidik yang begitu melekat pada ke dua sosok tersebut.
Maura menggeleng kepala, mengusir pemikiran aneh yang bersarang di kepalanya, bisa-bisanya dia membandingkan dia orang itu.
Arka dia tidak siap dengan kenyataan yang akan di terima nanti, semua ingatan tentang kebersamaan mereka menari indah di pelupuk nya, mulai pertemuan pertama hingga dia yang hampir saja meniduri adik tiri nya itu.
Dan untung nya alam masih berpihak pada nya hingga tidak terjadi kejadian yang akan membuat nya terhinakan.
Tak lama wanita yang tengah dia pikirkan itu datang seorang diri dengan wajah cantik dan penuh rasa kerinduan yang dalam, bahkan Shinta langsung memeluk nya meski hanya sekilas.
"Ardaa"
Panggil Shinta yang sejak dulu memanggil Arka dengan sebutan Arda mungkin karena tidak ingin ada yang menyamai dia saat memanggil Arka, bahkan tatapan wajah nya menatap penuh binar pada Arka seolah Arka adalah dunia nya Shinta.
Arka terpanah saat menatap Shinta yang tampak begitu cantik dan manis di sana.
"kamu baru sampai, kenapa tidak bilang, kan aku bisa tunggu kamu di bandara" ucap Shinta dalam bahasa Inggris.
"Hanya tidak ingin membuat mu capek, kamu bagaimana, apa kamu baik-baik saja?" tanya arka sambil menyisihkan rambut Shinta Yeng sedikit menutupi mata nya.
"Aku baik, aku juga akan berlibur di sini selama satu minggu" Arka terdiam mendengar nya dia bingung harus menjawab apa.
"Kamu tidak suka ya" ucap Shinta yang menyadari perubahan dari kekasihnya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu sama kamu" ucap Arka yang merogoh ponsel di saku celana nya, dia menyodorkan hasil dari penyelidikan ayah nya yang di kirim ke Maura.
"Katakan siapa mereka?" pertanyaan sederhana yang meluncur dari mulut Arka membuat Shinta mengerutkan keningnya.
"Mereka....."
...----------------...
Maura berjalan di tepian pantai sendirian, dia memberikan waktu kepada Arka dan juga Shinta menyelesaikan masalah percintaan mereka.
Di tangan nya ada satu cone ice cream rasa mangga, dia menatap sekelilingnya yang tidak ada siapapun di sana.
Dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana, lalu menghubungi Satriya.
"Heem"
"Temani aku, tega sekali membiarkan aku sendirian jalan-jalan di pantai" rajuk nya pada Satriya.
"Makanya kerja jangan jalan-jalan terus" sindir Satriya yang tengah berjalan menuju salah satu tempat.
__ADS_1
"Meeting deal nya masih besok pak, jadi kami memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran di depan hotel" ucap muara dengan bahasa resmi saat Satriya menyindir nya, namun decakan kesal masih terdengar dari mulut Maura.
Maura terkejut saat tiba-tiba ada yang mengecup pipi nya, dan itu adalah Satriya, dia juga mencicipi es krim yang ada di tangan Maura dengan menggunakan bibir nya.
"Enak?" tanya Maura.
"Gak juga"
"Iiihhh...." kesal Maura yang membersihkan es krim di sudut bibirnya Satriya.
"Bagaimana, sudah ketemu jawabannya"
Satriya duduk di samping Maura dengan mengelus pipi nya, merayu.
"Nanti malam ke kamar hotel ku ya" pinta Satriya.
"Aku mau renang air panas sama Arka"
"Ya sudah, aku mau ke oyyo saja"
"Ngapain" pekik nya
Satriya tidak menjawab dia malah menatap deretan pohon kepala yang melambai-lambai.
"Satriya.....Aku hanya menjalan apa yang kamu inginkan kan?" ucap muara sambil menggenggam tangan Satriya.
"Heem"
"Arka sedang frustasi di sana, kamu tahu kan bagaimana ekspresi Shinta tadi"
"Iya"
"Iya apa?" desak Maura.
"Setelah urusan selesai, kabari aku" desis Satriya yang berdiri dari duduk nya.
"kamu mau pulang"
"kerja"
"Dimana?"
"Aku sudah tidak ada urusan di sini"
"Maksud ku di mana, di Bali apa pulang ke Surabaya"
"Nanti juga tahu" ucap nya sambil mencubit hidung Maura.
Satriya lalu pergi dari sana di ikuti oleh beberapa pengawal nya, mereka menghilang di balik bangunan yang ada di belakang tempat duduk nya.
Maura menghela nafas nya, dia merasa seperti kekanak-kanakan saat bersama Satriya.
Dia memutuskan untuk kembali ke restoran berharap urusan Arka dan juga Shinta sudah selesai, dia ingin kembali bekerja sebelum ke hotel tempat nya menginap.
Maura berharap tidak lagi ada Arka di sekitar nya meski berada dalam satu hotel nya sama, namun dia juga membutuhkan Arka.
__ADS_1
Seperti biasa Maura menyukai wajah cemburu dari Satriya saat dia bermesraan dengan anak nya sendiri.
Dia kini memikirkan bagaimana kembali membuat laki-laki itu kelabakan dengan sendirinya.