
Satriya menarik tangan Maura dsn mengangkat nya, di kecup nya punggung tangan Maura, dia menyesap wangi harum yang keluar dari sana.
"Andai kamu benar-benar menjadi milik ku, aku pasti akan berhenti dari semua kegiatan ku, dari semua yang aku kejar selama ini, dan menghabiskan masa tua bersama kamu" desis Satriya.
Mata menatap lekat pada Satriya dengan perasaan yang entah harus bagaimana dia menggambarkan nya.
Raut wajah Satriya tidak seperti biasa nya dia terlihat lebih tua dan itu membuat nya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
"Mungkin menyepi dari keramaian, di mana di sana hanya ada kita berdua, mungkin dengan beberapa Satriya kecil di sana"
Maura tertegun, dari pada senang dia lebih terlihat sedih.
"Satriya" Isak nya yang merasa tidak ingin berpisah dengan kancil licik nya.
"Tahu kah kamu, dunia ku langsung menghitam saat kamu pergi dan mengganti nomor kamu, aku mencintai sejak dulu" Satriya menatap tangan Maura yang ada di genggaman nya seakan dia takut wanita itu pergi lagi dari sisinya, meski dia pun tahu kalau itu pasti akan terjadi nanti nya.
"Dan saat kita bertemu, lagi-lagi aku harus merelakan kamu menjadi milik orang lain, andai saja kamu bukan calon menantu ku pasti aku akan membawa mu pergi dari semua orang yang mengenalmu"
"Aku lelah sekali" Desis nya putus asa.
Jika saja kekasih sesungguhnya Arka bukan Shinta pasti akan Satriya restui, Shinta bukan lah wanita baik untuk Arka.
"Satriya kalau ada wanita lain yang bisa membuat Arka meninggalkan Shinta"
"Aku akan meraih mu, tapi sepertinya tidak ada yang bisa membuat nya jatuh cinta selain kamu"
Kalau begitu dia kan mencarikan wanita lain untuk Arka yang bisa membuat Arka melupakan Shinta.
Dia juga harus menanyakan pada Shinta perihal siapa laki-laki sebaya dengan Satriya yang sering bergandengan mesra dengan nya itu.
Maura mendekati Satriya tangan nya terulur membelai rahang tegas nya.
"Untuk kali ini bersikap lah egois, untuk kamu, untuk kita juga"
"Aku tidak mungkin merebut calon istri anak ku sendiri" Satriya menunduk.
"Aku tidak ingin di benci hanya karena wanita" pasrah nya sekali lagi.
"Jadi kamu lebih memilih mengorbankan perasaan kamu sendiri dan mengorbankan aku juga"
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Satriya
Pandangan mereka bertemu, Maura merasakan ada penyesalan di sana, dan juga kegundahan hati yang coba di sembunyikan oleh Satriya.
Dada Maura terasa sesak.
Hati nya merasakan perih yang tidak bisa sembuh hanya dalam hitungan bulan.
Satriya menarik nya dalam pelukan nya, pria itu juga menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Maura.
"Izinkan aku memilih kamu meski hanya sampai pernikahan kalian" pinta nya yang membuat Maura seakan di hantam kesakitan yang nyata.
Maura menghelakan nafas, kisah cinta nya yang selalu tragis, dia mencoba mengingat kembali semua nya, semua yang berakar pada dirinya sendiri yang tidak bisa melupakan seorang Satriya yang ada dalam hatinya, selama dia masih mencintai laki-laki ini, maka dengan siapapun dia menikah pasti akhirnya dari semua nya akan sama, yaitu perceraian.
"Aku membencimu, kamu yang dengan seenaknya memutarbalikkan dunia ku dan kamu juga memiliki hati ku, tapi kamu malah mempermainkan aku seperti ini" ucap Maura sambil mengalungkan tangannya di leher Satriya.
Satriya tersenyum,
menampilkan guratan keriput di sana, namun tetap saja tidak bisa menutupi wajah garang nya.
"Aku juga mencintaimu, yang dengan berani nya masuk dan pergi begitu saja, kamu membawa hati ku pergi, membuat ku seakan tidak lagi bisa hidup tanpa mu, kamu menyihir ku dengan pesona mu yang membuat aku gila..." bisik Satriya di telinga Maura.
"Iya.....kamu memang gila" getir Maura.
Satriya mengeryit, mengerti akan kode yang di berikan Maura, di tambah lagi hasrat nya yang tidak lagi bisa terbendung itu membuat nya berani mengambil langkah untuk.....
Maura merasa pinggang nya di tarik lebih dekat ke arah Satriya dan bibirnya dipanggut mesra oleh Satriya.
Astaga rasa ini.
Rasa yang selama ini selalu dia bayangkan setiap malam nya, dan kini dia kembali merasakan nya, candu ini yang membuat nya enggan berpaling dari rasa yang di ciptakan oleh Satriya.
Masih ingat betul dalam ingatan nya bagaimana cara Satriya menguasai lidah nya yang menari indah dalam rongga nya.
Maura tidak percaya jika momen itu kembali terulang.
Maura mendesah kecewa saat Satriya melepaskan pagutan mereka.
"Sayang....." Desah nya
__ADS_1
Satriya kembali menyatu bibir mereka, sebelum Maura mengeluarkan suara protes nya.
Ciuman mereka kali ini terjadi lebih intim dan dalam, bahkan tangan Satriya sudah bergerak mencari sesuatu milik nya.
"Ayah"
"Ayah di dalam" teriak Arka yang membuyarkan kegiatan dua orang beda usia itu.
Maura menahan nafas nya saat mendengar suara Arka di luar pintu besar itu, mereka saling menatap satu sama lain.
'Kenapa Arka ada di sini, bukan kah dia seharusnya meeting dengan kolega bisnis nya' batin Maura terpekik.
Namun pria tua ini, dia malah tersenyum penuh kelicikan di sana yang membuat Maura mengerutkan keningnya.
"Mau apa?" teriak Satriya tanpa beranjak sedikitpun dari atas tubuh Maura.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ayah"
"Ayah sibuk" desisi Satriya sambil menyesap leher Maura bahkan tangan Satriya kini sudah berada di atas bukit nya dengan sedikit remasan di sana.
Maura memukul punggung tangan Satriya yang untuk menghentikan kegilaan Satriya, terdengar kekehan dari mulut Satriya yang terdengar sangat menyebalkan.
Satriya lebih gila lagi, dia menarik tangan Maura ke atas kepala, memudahkan dia yang ingin menyesap lagi dan lagi leher Maura.
"Ini tentang Sekar"
"Kalau tidak mau hubungi Faris, tolak sendiri" jawab Satriya.
"Sesibuk apa ayah di dalam sampai tidak mau menemui ku"
"Sesibuk apa kamu hingga tidak menjawab panggilan dari ayah"
Satriya meremas bokong Maura yang membuat pemilik nya terpekik tertahan, bagaimana bisa Satriya melakukan itu di saat ada putra nya di sana.
Maura melotot mata nya, sedangkan Satriya terkikik melihat reaksi dari Maura.
"Itu kan karena......iya aku minta maaf" ucap Arka yang baru menyadari jika dia tidak akan bisa melawan ayah nya yang ada urusan nya bertambah panjang dan tidak ada habisnya.
"Ya sudah, sana pergi" perintah Satriya pada Arka yang menganggu kegiatan nya.
__ADS_1
"Ayah ngusir aku, padahal aku mau ngajak ayah makan malam nanti"
Ceklek